Merindukan Kartini

Wesiati Setyaningsih

 

Seorang teman menulis status Fesbuk mempertanyakan esensi dari fashion show yang diadakan dalam rangka hari Kartini. Menurut dia dan beberapa orang, kegiatan itu sungguh jauh panggang dari api. Mereka benar. Apa hubungannya memakai baju adat dengan peringatan Hari Kartini? Semua itu sudah seperti kegiatan latah dari tahun ke tahun.

Seingat saya, ketika saya TK Ibu saya sibuk memakaikan mencari kain untuk dibuat baju bodo dan sarung. Waktu itu orang tua saya tergolong miskin jadi tidak ada uang untuk sewa baju. Beruntung Ibu saya pandai menjahit. Jadi saya bisa ikut bangga mengenakan baju adat.

Ketika sampai sekolah, ternyata tidak semua teman saya memakai baju adat. Tapi saya bangga karena mereka yang memakai baju adat difoto bersama di depan ruang guru bersama dua orang guru TK kami, Bu Cicik dan Bu Tari. Kenangan yang indah.

Ketika SD, saya sempat memakai kebaya dan berkonde ketika kelas dua. Setelah itu saya tidak memakai baju adat lagi, demikian juga ketika SMP dan SMA. Namun begitu, meski tidak lagi memakai baju adat, tetap diadakan lomba-lomba dalam rangka hari Kartini, paling tidak upacara.

***

Pagi ini, saya berangkat ke kantor dengan seragam hari Senin, mengantar Izza lebih dulu ke sekolah. Sampai di sekolah Izza saya berpapasan dengan guru Izza yang berseragam Korpri. Saya melanjutkan perjalanan dengan bertanya-tanya, kok pake Korpri, sih?

Tiba-tiba saya teringat hari ini hari Kartini!

Sampai di sekolah saya berharap akan ada upacara, tapi harapan saya sia-sia. Apalagi memang dari hari Sabtu tidak ada pengumuman bahwa akan ada upacara hari Senin ini. Kabarnya upacara akan dilaksanakan tanggal 20 Mei memperingati Pertempuran Lima Hari Kota Semarang. Bahkan hari Pendidikan pun mungkin akan dilewatkan.

Entah kenapa saya rindu pada suasana Kartinian. Saya rindu bersibuk-sibuk mencari baju adat dan memakaikan pada anak-anak. Seingat saya anak-anak memakai baju adat juga hanya waktu di TK saja. Ketika Dila TK, dia sekolah TK di umur tiga tahun di TK dekat rumah. Di hari Kartini itu dia memakai baju adat dan bersama teman-temannya berbaris lalu pawai di gang-gang sekitar kompleks. Sederhana, tapi lucu semua gembira termasuk orang tua. Soalnya orang tua termasuk saya, ikut jalan di samping kanan kiri barisan, keliling kampung.

Satu tahun di situ Dila saya pindahkan ke TK lain yang lebih besar. Di TK ini anak-anak sudah dibagi baju adat untuk dipakai, besoknya masing-masing sudah cantik dan ganteng mengenakan baju adat masing-masing, lantas difoto satu-satu oleh fotografer yang sudah disewa.

Ketika adiknya, Izza, masuk TK, dia juga mengalami hal yang sama. Memakai baju adat dan berfoto. Sepertinya hal ini hanya dilakukan anak-anak ketika TK karena ketika masuk SD mereka tidak melakukan hal ini lagi.

Teman kantor saya tadi pagi heboh bercerita bahwa anak perempuannya yang sudah bekerja di bank juga berdandan pagi-pagi memakai kebaya di salon. Di kantor, dengan pakaian yang lain dari biasanya, mereka melayani nasabah.

Di sekolah saya, tidak ada acara apa-apa. Semua berjalan seperti hari-hari biasa seolah hari itu tidak ada momen apapun yang layak dikenang dan direnungkan. Bahkan meski hari ini hari Senin, tidak ada upacara sama sekali. Sementara di SD-nya Izza, upacara hari Senin kali ini dilaksanakan lain dari biasanya, petugasnya dari para guru perempuan yang berseragam Korpri.

Sebenarnya, entah berapa orang yang paham siapa Kartini. Seorang perempuan yang berpikiran maju namun tetap tak mampu lepas dari kungkungan tradisi yang demikian kuat dan, di mata saya, mengerikan. Bayangkan ketika seorang yang berpikiran sekritis Kartini harus mau dipoligami. Seorang perempuan yang berpikir jauh di depan perempuan-perempuan sekarang yang semakin terjebak dalam materialisme, hanya mampu menjadikan pena sebagai sarana untuk menjabarkan pikirannya pada dunia tanpa bisa melawan norma.

Ketika sebagian besar perempuan sekarang berteriak tentang kebebasan berpikir namun mereka masih mau dijerat dalam kotak-kotak agama, Kartini sudah meyakini bahwa agama harusnya menyatukan umat manusia karena semua agama meyakini Tuhan yang sama meski dengan cara yang berbeda. Dan Kartini yang hidup hampir satu setengah abad lalu seolah sudah meramalkan bahwa suatu ketika akhirnya agama menjadi kotak-kotak yang transparan yang memisahkan dengan tegas kaumnya.

Ketika bahkan saya tertatih memahami kekinian, Kartini sudah memahaminya di masanya. Semua motivasi kehidupan yang banyak didengungkan sekarang sudah ditulisnya dalam surat-suratnya di usianya yang masih sangat muda di masa itu. Betapa sebuah pencapaian jiwa yang luar biasa telah dialaminya.

Entah kenapa saya tiba-tiba rindu dengan semua acara seremonial yang mungkin buat orang lain hanya sebuah basa-basi. Saya ingin mengenang Kartini dengan cara apapun. Sekonyol berbaju adat sekalipun, karena bahkan baju adat kita saat ini juga sudah mulai berubah karena dilengkapi atribut keagamaan.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

28 Comments to "Merindukan Kartini"

  1. wesiati  25 April, 2014 at 10:09

    begitulah mbak Lani…

  2. Lani  25 April, 2014 at 09:00

    mbak Lani, biasa lah. nek deket kan bosen. kalo jauh jadi kangen. tapi jauh dan makin benci juga ada, sih. hehehe….
    +++++++++++++++++++++++++++

    WESIATI : klu pepatah mengatakan “jauh dimata dekat dihati” pd umumnya kan begitu, tp klu kamu mengatakan “ tapi jauh dan makin benci juga ada” aku jg ora maido, krn tergantung orgnya, dan konteks kejadiannya/pengalaman dr org ybs…….

    Nek aku netral wae, tp utk urusan budaya apalagi baju tradisional, aku mmg seneng banget, krn itu salah satu warisan leluhur, klu tdk di uri2 sendri, trs sapa meneh? Mengko nek diakui oleh neg lain baru mencak2, rak aneh to????

  3. wesiati  25 April, 2014 at 07:04

    bukan cuma bahwa yang pake bangga, karena bakal masuk surga, tapi juga bahwa yang tidak pake takut masuk neraka… hahahah….
    tapi aku sudah tidak masuk yang mana2. biarpun pake jilbab isi otak saya sudah berubah, cuma nggak berani buka aja.

  4. wesiati  25 April, 2014 at 07:02

    ketoke ngene, wong ada acara Kartinian aja kita masih gagal menangkap esensinya, apalagi nggak ada sama sekali… (ndak iyo ngono?)

  5. J C  25 April, 2014 at 07:02

    Inti dan pemikiran tulisan ini adalah di alinea terakhir yang aku 1000% setuju. Sekarang lebih bangga beratribut agama, serasa tiket dan kavling surga sudah di tangan.

  6. J C  25 April, 2014 at 06:54

    Untuk masalah ini saya setuju pendapat Wesi dan Alvina, walaupun untuk aku tidak ada kerinduan khusus perayaan Hari Kartini ketika jaman SD atau SMP. Memang meriah sih, banyak sekali yang pakai baju adat. Aku sendiri kayaknya cuma 1-2 kali saja, karena memang aku tidak betah dan tidak suka pakai pakaian model begitu…

  7. wesiati  24 April, 2014 at 09:34

    itu maksud saya. Lha wong cuma kegiatan fashion-an kaya gitu aja juga sekarang sudah luntur kok. Baju adat aja sudah berubah jadi baju muslim. Jarang yang pake baju adat daerah yang asli. Nggak mau kondean mending kerudungan. Gimana coba? Saya nggak muluk-muluk ngomongin esensi Kartini, karena itu terlalu jauh. Menjadi salah satu suku asli dari negeri ini aja susah bertahan. Lha apalagi kalo nggak ada apa-apa, makin jauh lagi dari esensi. Jadi kalo menurut saya, meski kelihatannya cuma dapat permukaannya, tapi fashion2an itu masih mending deh daripada nggak ada apa2 sama sekali. itu menurut saya lho ya…. pasti orang lain beda lagi…

  8. Alvina VB  24 April, 2014 at 08:00

    Mbak Westi, kok sama ya..saya suka mengenang pas perayaan Kartinian jadul. Kl jamannya saya dulu ada pelajaran ketrampilan wanita. Saat Kartinian, bukan disuruh pake kain kebaya dan nyanggul, ttp pas hari Kartini itu ada perlombaan masak-memasak, lomba menjahit pakaian kebaya, lomba pakai kebaya beserta sanggulnya dan lomba menggambar foto R.A. Kartini (yg menang ya yg paling mirip sama fotonya R.A. Kartini). Anehnya… dulu itu yg memprakarsai acara ini ibu guru yg asalnya dari Yogya (maaf buat org2 Yogya ya…bukan mau mendeskriditkan org Yogya). Jadi yg ikut perlombaan itu musti ada keturunan org Jawa, aneh banget yo…lebih aneh lagi gak ada yg protest saat itu, ya..kita nunut ajalah… lah wong bukan org jawa, jadi cuma nonton aja krn tidak masuk itungan, he..he….ttp seneng2 aja kok.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.