Televisi yang Hilang di Pos Ronda

Toha Adog

 

Kata para orang tua, dulu jalanan tempat saya tinggal ini sangat aman. Kita bisa memarkir sepeda atau menaruh barang atau melenggang dengan bebas sambil bersiul-siul tanpa perlu merasa kuatir. Tapi kini, bahkan ember bekaspun lenyap.

Banyak lingkungan, dengan kecepatan yang mencengangkan, telah serta merta berubah. Dan bagi saya, yang seringkali terasa hilang untuk pertamakalinya adalah kenyamanan dan keamanan, selain anak-anak kecil yang berlarian telanjang.

Beberapa saat lalu, sepasang suami isteri berusia lebih dari enam puluh tahun, setelah pulang dari terapi kesehatan, terjambret tasnya persis di kelokan di depan rumah saya di dalam kampung kami. Jalanan di kampung kami sangat kecil, hanya cukup untuk satu mobil. Tapi jambret tetaplah jambret. Copet tetaplah copet. Ia memacu sepeda motornya kencang sambil meliuk-liuk dan berhasil lolos.

Kata para orang tua, itu adalah penjambretan pertama yang terjadi di dalam kampung kami.

Jadi jambret itu, selain membawa lari tas itu, juga membawa pergi rasa aman kami.

Dan kami pun punya pos ronda. Jauh lebih kukuh dari sebelumnya. Tapi pada suatu subuh, entah di hari nahas yang mana, kami mendapati teve 21 inchi di dalam pos ronda kami lenyap diangkut maling.

***

Sartre, kalian neraka.

Orang lain adalah neraka, kata Sartre. Dengan penduduk dunia yang berjumlah miliaran, tentunya Sartre bukanlah orang yang berbahagia. Neraka ada di mana-mana.

Di dalam gang sumpek di perkampungan padat, para neraka yang telah beranak pinak itu bahkan harus berbagi kamar dengan keluarga neraka yang lain.

Begitupula di gedung-gedung. Para neraka berlindung di udara ber-AC dan berpakaian necis.

Saya tidak benar-benar membaca Sartre. Tapi menurut Eric Weiner, penulis The Geography of Bliss, tentunya Sartre telah bergaul dengan orang-orang yang salah.

***

Kata seorang teman, ada dua hal yang akan tumbuh subur di negara yang kere, runyam dan bobrok. Apakah itu?

Jamur, jawab saya. Bukan, sanggah teman saya.

Kusta? Cacar air? Bukan, sanggah teman saya lagi.

Yang pertama adalah pelaku kriminalitas dan yang kedua adalah penganut agama, jawab teman saya.

Ah. Saya telah sering mendengar spekulasi ini.

Kenapa agama bisa tumbuh subur di sistem yang runyam? Karena konon ia bisa menjadi tempat bersandar yang nyaman. Ia bisa menjadi pelindung yang teduh. Ia mampu menawarkan pelukan yang menenangkan.

Tapi, seperti yang kita tahu, di sini, pada akhir-akhir ini, agama, melalui beberapa orang dan gerombolan, secara paradoks, telah kawin dengan kriminalitas melalui cara-cara yang vulgar dan jitu.

Agama dipergunakan sebagai pedang bagi hati yang bengis, kerdil, tamak dan egois.

***

Beberapa bulan setelah TV di pos ronda kami hilang, kami mendapat kabar bahwa si pencuri sial itu telah tertangkap (ini sangat jarang terjadi). Si pencuri itu berjumlah dua orang dan memang mempunyai spesialisasi sebagai penggasak barang-barang pos ronda. (Ironi khas Indonesia!)

Ia tertangkap basah ketika sedang beraksi di pos ronda di sebuah kampung, entah di mana, juga pada subuh hari.

Akibatnya, beberapa orang di kampung kami pun harus rela bolak-balik ke kantor polisi dan pengadilan sebagai saksi. Sungguh melelahkan.

Dan sekitar enam bulan kemudian, ketika proses di pengadilan benar-benar kelar, kami pun akhirnya merasa lega dan siap menerima teve itu kembali.

Tapi sial, perhatikan ini, kami tetap harus membayar untuk itu. Kami tetap harus mengeluarkan uang untuk mendapatkan teve kami sendiri.

Waktu teve kami hilang dicuri kami memang merasa jengkel. Tapi kini kami merasa jauh lebih jengkel lagi.

pos-ronda2

bergaya di depan pos ronda

Wahai sahabat dan kerabat, apakah Sartre pernah kongkow di Pos Ronda?

Wahai sahabat dan kerabat, negara yang runyam dan birokrasi yang korup dan penegak hukum yang serampangan itulah neraka yang sesungguhnya.

toha adog

july 2012

 

8 Comments to "Televisi yang Hilang di Pos Ronda"

  1. J C  25 April, 2014 at 06:50

    Jadi ingat berpuluh tahun lalu ketika kecil. Sering Papa ikutan ronda di kampung tempat tinggal kami. Keakraban, kerukunan dan kehangatan suasana ketika itu, entahlah sekarang masih ada atau tidak ya…

  2. Alvina VB  24 April, 2014 at 08:22

    Jaman dulu kl org ngeronda itu dikasih kopi dan makanan oleh penduduk setempat. Saya masih inget kl org yg ngeronda lewat rumah, si mami suruh si Bibi kasih makanan kecil/minuman. Besoknya ya gantian tetangga sebelah atau yg di seberang jln, spt ada aturan yg tdk tertulis spt itu. Biasanya lingkungan aman2 saja, gak pernah ada maling. Nah pas org2 ngeronda itu diganti sama para hansip yg pake seragam (entah siapa yg punya usul dulu itu), mulai banyak rumah yg justru dimalingin, biasanya hansipnya dpt masukan dari para pembantu kapan org2 gak ada di rumah. Kacau dah stl itu.

  3. James  23 April, 2014 at 10:28

    mbak Lani, yo ora ono Kopi ya Bobo lah

  4. James  23 April, 2014 at 10:27

    Sepatu dan Sandal yang Hilang Di Mesjid

  5. Dj. 813  22 April, 2014 at 22:38

    Bung Toha Adog….
    Aneh tapi nyata….
    Baru saja selesai melihat di TV, siaran berita tentang kerminalitas di kota-kota besar di Eropa.
    Terutama di Paris, dimana seseorang sedang ambil uang di ATM, langsung diserbu 5 orang dan merampas uang yang baru diambil dari ATM. Kebanyakan mereka dari Eropa Timur.
    Sekarang di Paris, orang-orang Eropa timur tidak boleh berada ditengah kota.
    Untung di Mainz, masih termasuk aman, walau tidak seperti 10 tahun yang lalu…
    Dulu sebelum punya garasi, sering mobil diluar tanpa dikunci, bahkan kaca mobil terbuka.
    Pagi semua masih ada, hanya sial kemasukan salju saja…
    Hahahahahahahaha….
    Salam Sejahtera dari Mainz….

  6. Lani  22 April, 2014 at 12:29

    JAMES : hahaha……..itu kamu ya, katanya ronda tp malah ditinggal ngorok…….

  7. James  22 April, 2014 at 12:20

    2…..ronda sembari bobo

  8. Lani  22 April, 2014 at 11:56

    1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.