Mengapa mesti malu memberikan apresiasi terhadap keyakinan lain?

Marhento Wintolo

 

Begitu banyak orang yang membanggakan bahwa yang terakhir adalah paling baik dan sempurna. Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa hal tersebut adalah suatu hal yang wajar? Mengapa tidak? Saat saya menuliskan sesuatu, saya mengambil referensi dari kitab lain yang sudah ada sebelumnya. Bukankah Nabi Sulaiman juga pernah berkata bahwa: ’Nothing is new under the sun’.

kedamaianpluralismeagama

Tidak ada suatu yang baru di bawah langit. Semuanya hanya pengulangan. Mungkin orang berpendapat: ‘Jika demikian, mengapa kita tidak mempelajari dan meyakini yang terakhir saja? Setuju dengan pendapat ini. Tetapi mungkinkah kita bisa mengambil semua isi kitab yang digunakan sebagai referensi? Tentulah tidak. Hanya sebagian kecil saja yang akan diambil…

Ketika saya membaca tulisan seseorang, dalam tulisan tersebut disebutkan sumbernya. Karena saya tidak puas dengan uraian pendek dalam tulisan tersebut, saya kemudian mencari sumbernya untuk mempelajari lebih dalam lagi. Sesungguhnya, si penulis pertama menghargai atau mengapresiasi sumber yang diambilnya. Dengan menuliskan sumbernya, si penulis mengakui bahwa yang dituliskannya bukanlah hasil galiannya sendiri.

Repotnya adalah jika di kemudian hari, orang tidak memahami maksud tulisannya. Yang berat adalah jika kemudian orang sangat mengagumi tulisan pertama, kemudian menganggap bahwa yang disampaikan oleh penulis tersebut adalah yang paling baik. Mengapa? Karena setelah ribuan tahun kemudian, orang tidak faham bahwa si penulis awal juga belajar dari banyak informasi sebelumnya.

Fanatisme bahwa seakan kitab lain lebih buruk dari kitab terakhir justru menutup perkembangan diri dari si pembaca. Pengkondisian ini yang akhirnya menjebak. Tanpa disadarinya, ia telah memutuskan diri untuk tidak berkembang.

Pertemuan dengan seseorang yang sudah memiliki pandangan yang luas adalah berkah dalam kehidupan saat ini. Keterbukaan diri untuk mendengar atau menerima yang disampaikan orang tersebut bisa meningkatkan kesadaran secara kuantum. Karena energi orang yang telah memiliki cakrawala kehidupan lebih luas sejalan dengan pola evolusi.

Alam terus berkembang. Perhatian planet yang terus tumbuh. Saat ini baru beberapa galaksi. Tidak ada seorangpun bisa tahu, berapa ratus lagi galaksi di alam semesta. Dengan menutup diri bahwa yang diyakninya paling baik, tidak bakal terjadi kesadaran kuantum. Semakin mengkerut adalah keniscayaan.

Karena terjebak dalam anggapan pribadi, kita tidak bakal bisa menembus batas ciptaan manusia sendiri. Ketika bertemu dengan seseorang yang memiliki cakrawala pandangan luas, pikiran kita langsung menolak. Ahhh…dia bukan dari aliran yang sama dengan yang kuyakini. Anggapan ini telah memblokade diri. Hasil akhirnya sangat mudah di tebak. Penutupan diri terhadap perkembangan. Ia melawan evolusi alam yang terus berkembang.

Jebakan dari Tuhan selalu terjadi. Dia tidak bakal mempertemukan dengan orang yang memilki keyakinan yang sejenis. Tidak ada gunanya. Selalu saja dikirimkan dari keyakinan yang berbeda? Mengapa?

Dengan mengirimkan utusan yang sejenis, ego kita semakin membengkak. Makin mengeras hati kita. Makin arogan. Dia sudah tahu sifat dan atitude manusia. Ego bahwa tiada yang lebih baik dari keyakinannya.

 

8 Comments to "Mengapa mesti malu memberikan apresiasi terhadap keyakinan lain?"

  1. J C  25 April, 2014 at 07:07

    Indahnya jika lebih banyak lagi yang berpikir seperti ini. Indonesia memang unik dan memiliki 2 sisi. Satu sisi semakin banyak yang sadar pluralisme, di sisi lain semakin buanyaaaakkk yang radikal dan garis keras untuk pemahaman dan tafsir agamanya. Semua yang berbeda dianggap salah, murtad, kafir, neraka, haram dan kudu dimusuhi…

  2. Alvina VB  24 April, 2014 at 06:29

    Tulisan yg mengelitik, background kel. saya beragam, ada yg Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Islam dan aliran2 kepercayaan dunia yg baru, ttp aneh tapi nyata dalam kurun waktu 25 thnan belakangan ini semua berbaur dgn indah dan percaya dgn Isa Almasih. Semua berawal dari perbedaan…

  3. Dj. 813  24 April, 2014 at 02:36

    Dj. dibesarkan dalam keluarga yang memiliki perbedaan.
    Jadi bukan satu yang aneh lagi….
    Terimakasih dan salam,

  4. TM  23 April, 2014 at 23:52

    Setuju dengan artikel ini.. Paragraf penutup yang bagus untuk renungan. Thanks.

  5. Linda Cheang  23 April, 2014 at 22:46

    aku sendiri memerlukan waktu cukup lama sampai untuk bisa memberi apresiasi atas perbedaan keyakinan. semuanya bermula dari salah kaprah dan kurangnya pemahaman yang benar…

    begitulah….

  6. Kornelya  23 April, 2014 at 20:36

    Ego diuji, sa’at kita berinteraksi dengan orang yg berbeda keyakinan , karakter dan life style dgn kita.

  7. James  23 April, 2014 at 15:45

    2……malu

  8. Lani  23 April, 2014 at 12:20

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.