Obrigado Socrates, Por Voce Ter Vivido

Tatang Mahardika

 

(Untuk Socrates, The Last Great Romantics on the Pitch)

“Pertandinganberakhir setelah 90 menit, tapi hidup jalan terus.”

Socrates

 

SUDAH 22 tahun berlalu, tapi Corinthians masih menyimpan dengan bangga kenangan akan revolusi yang dilakukan para pemain mereka. Foto, kutipan, dan penggalan kisah keberanian skuad klub berjuluk Timao itu pada 1982 menguasai memorial hall. Di ruangan sebelah, jersey bertuliskan Democracia bergantung di salah satu sudut merchandise store.

“Dokter Socrates, tak akan ada lagi pemain seperti dia,” kata David Moreira, salah seorang staf memorial hall Corinthians, sembari memandang salah satu foto wajah pria berewok itu yang tengah tertawa lebar.

brazil-team

Socrates adalah otak di belakang aksi revolusioner para pemain Corinthians pada 1982 yang kemudian dikenang sebagai Democracia Corintiana. Mantan kapten Brasil itu memimpin rekan-rekannya mengubah kebijakan klub yang dijalankan secara otoriter di masa di mana Brasil tengah berada dalam cengkeraman rezim militer.

Intinya, segala kebijakan terkait klub, para pemain harus terlibat lewat pemungutan suara yang dilakukan dengan sederhana: mengacungkan tangan. Mulai hal yang sepele seperti kapan makan siang mesti disiapkan sampai kebijakan perekrutan pemain. Keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak.

Inilah perlawanan mikroskopis terhadap rezim militer yang anti demokrasi. Socrates yang seorang dokter dan sangat menggemari filsafat serta politik itu tak lupa memanfaatkan tiap laga kandang untuk menyampaikan pesan politis kepada para suporter Corinthians, klub pertama di Brasil yang didirikan oleh kelas pekerja.

Biasanya sebuah banner dia bawa beserta rekan setim ke tengah lapangan yang berbunyi, “Kalah atau Menang bersama Demokrasi.” Di punggung jersey mereka pada 1982 itu, tulisan Democracia juga terpampang.

Corinthians adalah satu-satunya klub di dunia yang pernah “dikuasai” pemain untuk agenda politik seperti itu. Rezim militer Brasil memang akhirnya tumbang. Demokrasi dan pemerintahan sipil yang kemudian berkuasa. Tapi, tak lantas kekritisan Socrates telah sampai di garis finis. Sebelum akhir hidupnya pada Desember 2011, melalui berbagai tulisan dan wawancara, pemain bernama lengkap Socrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieirade Oliveira itu termasuk yang paling keras mengkritik Piala Dunia 2014.

Socrates kecewa sekali dengan pemerintahan Dilma Rousseff yang berasal dari aliansi kiri karena mengorbankan dana publik untuk merevovasi dan membangun stadion baru. “PialaDunia 2014 seharusnya tak diadakan di Brasil,” tulis gelandang elegan yang memimpin Brasil di Piala Dunia 1982 dan 1986 itu dalam salah satu artikelnya.

Nicolau Bakker, mantan anggota parlemen Sao Paulo dan juga pernah mencalonkan diri sebagai walikota dari partai yang sama dengan Dilma, mengatakan, kekecewaan serupa juga dirasakan publik secara luas sampai saat ini. “Karena itu sekarang lahir gerakan meminta plebisit untuk mengubah bab politik dalam konstitusi kami. Inti plebisit itu, kami tidak mau wakil kami di legislatif dan eksekutif hanya bekerja untuk orang-orang kaya yang mendanai mereka,” kata Nicolau yang juga seorang pastor itu kepada Jawa Pos.

Penolakan Socrates kepada Piala Dunia 2014 itu seperti mendapatkan justifikasi jika melihat amburadulnya persiapan Brasil. Tak ada penambahan moda transportasi untuk mengantisipasi perpindahan antar kota ratusan ribu suporter dari berbagai penjuru dunia. Selain itu, di saat Stadion Arena Corinthians di Sao Paulo, mesti kembali diundur penyelesaiannya, Arena Pantanal di Cuiaba bahkan dipastikan belum akan selesai pada Mei.

Bayangkan, padahal pesta sepak bola terakbar sejagat itu sudah akan dimulai 12 Juni. Di saat yang sama, pemerintah justru menaikkan tiket bus dan tetap mengalokasikan dana pertanian yang lebih jumbo kepada para juragan besar, bukan petani kecil. Gelandangan yang memenuhi banyak area publik seperti yang disaksikan Jawa Pos selama di Rio de Janeiro dan Sao Paulo juga tak mendapatkan penanganan berarti.

Untuk orang seperti Socrates, menghabiskan dana publik begitu besar di saat masih sangat banyak rakyat yang membutuhkan akses yang lebih besar ke kesehatan dan pendidikan yang layak adalah sebuah absurditas.

Socrates-Empics

Kesia-siaan yang tak masuk akal. Bagi pengidola Antonio Gramsci itu, hidup jauh lebih penting ketimbang sepak bola. “Hidup di Eropa terlalu terorganisasi. Padahal, ada masa ketika saya malas latihan dan hanya ingin bersantai minum bir bersama teman. Ada hal-hal yang lebih penting dari sepak bola,” ujar Socrates dalam sebuah wawancara saat menjelaskan mengapa dia hanya betah semusim merumput di Eropa.

Ketika Socrates meninggal, Dilma Rousseff menyebutnya sebagai sebuah kehilangan besar bagi Brasil. Tapi, Socrates yang menghabiskan hidupnya untuk membaca, berdiskusi, dan nongkrong di bar itu pasti tak butuh eulogi tersebut. Yang dia harapkan sedari awal, sahabatnya itu mendengar apa yang dia suarakan terhadap Piala Dunia 2014.

Kini di saat Brasil kalang kabut menyiapkan perjamuan besar empat tahunan tersebut, suara Socrates hanya tersimpan di sudut memorial hall Corinthians. David Moreira mungkin benar, tak akan lahir lagi pemain dengan kepedulian begitu tinggi terhadap kondisi sosial dan politik serta tidak pernah takut untuk turut memperjuangkan.

Socrates datang sekali, berarti, dan sesudah itu mati. Tapi, kalau boleh menyitir apa yang tertera di nisan legenda Brasil lainya, Garrincha, untuk semua yang pernah dia lakukan selama 57 tahun hidupnya, semua mestinya sepakat untuk berkhidmat: Obrigado Socrates, por voce ter vivido. Terima kasih Socrates, karena sudah pernah hidup!

 

About Tatang Mahardika

Seorang 'juru tulis berita' alias wartawan salah satu harian besar di Jawa Timur ini gemar melanglang buana melihat keindahan dunia dan membagi foto-foto dan tulisan perjalanannya melalui BALTYRA.com

Arsip Artikel

4 Comments to "Obrigado Socrates, Por Voce Ter Vivido"

  1. Dewi Aichi  26 April, 2014 at 05:57

    Ulasan yang menarik sekali pak Tatang….benar, jika Socrates bisa dan berani protes menentang kebijakan pemerintah, lain halnya dengan Ronaldo Fenomeno yang tidak suka dengan manifestasi yang muncul akhir2 ini , Akhirnya Ronaldo di cela dan di caci maki…oleh pihak yang kontra piala dunia.

  2. J C  25 April, 2014 at 06:59

    Ikut baca saja…ora mudheng soalnya…

  3. Linda Cheang  23 April, 2014 at 11:45

    Bisa jadi yang nanti ada di pembukaan piala dunia 2014 di Sao Paulo, bukan stadium arena Corinthian yang megah tapi ini :

    pardais, baratas, ratos na Rota de São Paulo

    Kemeganan Arena Corinthian yangf aku lihat, baru sebatas gambar artis…

  4. Linda Cheang  23 April, 2014 at 11:44

    Bisa jadi yang nanti ada di pembukaan piala dunia 2014 di Sao Oaulo, bukan stadium arena Corinthian yang megah tapi ini :

    pardais, baratas, ratos na Rota de São Paulo

    Kemeganan Arena Corinthian yangf aku lihat, baru sebatas gambar artis…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.