Terjepit

Bayu Amde Winata

 

Dalam kurun waktu delapan tahun, 1.600 Ha sawah di Yogyakarta telah berubah fungsi. Menurut data 2006, Yogyakarta masih memiliki lahan sawah seluas 57.661 Ha dan pada 2013 hanya tinggal 56.061 Ha saja. Padahal, Yogyakarta adalah salah satu provinsi di Indonesia yang menempatkan pertanian sebagai salah satu pilar ekonomi.

TJ 1

TJ 2

Berkurangnya jumlah sawah ini terjadi karena bisnis properti mengalami pertumbuhan yang pesat. Pada tahun 2012 saja, penduduk Yogyakarta tercatat lebih dari 3.5 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.04 persen per tahun. Akibat pertumbuhan penduduk yang besar, tata ruang Yogyakarta pun berubah. Lahan pertanian berupa sawah mulai terjepit oleh bangunan- bangunan beton.
Tidak hanya soal ekonomi, berkurangnya lahan sawah juga sangat berpengaruh dengan persediaan air. Sebab, sawah merupakan kawasan resapan air. Akibatnya, saat musim hujan, daerah-daerah seperti Seturan, Depok, Pogung Rejo, dan kawasan-kawasan yang dahulunya adalah daerah persawahan kini mengalami banjir dan saat musim kemarau mengalami kekeringan. Tiap tahun sumur-sumur warga harus di bor semakin dalam, bahkan hingga lima meter.

TJ 3

TJ 4

TJ 5

Berdasarkan keterangan petani-petani penggarap sawah-sawah terjepit ini, sawah-sawah tersebut merupakan lahan produktif yang berada di dalam alokasi tanah kas desa. Para pengembang tidak dizinkan untuk menggarap lahan-lahan produktif ini. Hal ini sesuai dengan Undang Undang no 41 tahun tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B). Dalam UU ini disebutkan, setiap orang yang melakukan alih fungsi lahan pertanian pangan berkelanjutan dipidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp. 1 miliar. Sedangkan pejabat pemerintah yang menerbitkan izin pengalihfungsian lahan pertanian pangan berkelanjutan, dipidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp5 miliar. Namun, pada praktiknya, jauh panggang dari api. Jika hal ini di biarkan terus-menerus. Yogyakarta tidak berhati nyaman lagi. Banjir dan kekeringan akan jamak menyapa kota ini.

TJ 6

TJ 7

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Terjepit"

  1. bayu winata  30 April, 2014 at 12:44

    Mba Lina Cheang dan Mba Alvina: tidak tertutup kemungkinan dengan sawah hidroponik, tetapi seperti biasa, pemerintah selalu memberikan solusi jangka pendek, dan menguntungkan bagi sekelompok pihak

    om DJ: bener om, properti di Jogja pun sekarang mahal bianget om hehe

    Mas JC: Semoga tetap seperti itu mas

  2. J C  25 April, 2014 at 07:04

    Wah, melihat kondisi terjepit seperti ini kok miris ya. Di dekat rumahku sepertinya lahan padinya jauh lebih luas dibanding di foto-foto ini. Di dekat kawasan airport masih sejauh mata memandang lahan padi yang luas menghijau. Sepertinya asik melihat lahan padi menghijau berdampingan dengan pesawat yang naik turun mengangkasa…

  3. Dj. 813  24 April, 2014 at 15:24

    Ternyata kommetar Dj. tidak masuk…

    Mmas Bayu…
    Terimakasih untuk uraian yang bagus…
    Tapi dengan semakin bertambahnya penduduk dan semua ingin hidup di Jawa.
    Jelas, manusia memerlukan tempat tinggal.
    Mana harga tanah semakin melonjak dan banyak yang tergiur menjual tanah atau sawah
    untuk dijadikan tempat tinggal.
    Sangat disayaangkan, karena pembangunan tempat hunian di Indnesia, bisa didapatkan secara
    mudah. seandainya diperketat, dengan aturan yang baik, maka tidak akan terjadi yang demikian…

    Salam Sejehtera dari Mainz.

  4. Alvina VB  24 April, 2014 at 06:46

    Lah…gak heran kl Ind jadi import beras, kl lahannya kejepit spt ini ya….sangat disayangkan….

  5. Linda Cheang  23 April, 2014 at 22:55

    Yah, biar sudah jadi perumahan, tetap bisa bikin sawah, koq. Kelak dimungkinkan ada Sawah Hidroponik dan Aeroponik yang strukturnya vertikal

  6. bayu winata  23 April, 2014 at 20:07

    Pak Sumonggo: oya pak? Babarsari yang saya kenal dulu penuh dengan tanaman tebu dan sawah pak..

    Mba Lani: hehehe

    Mas James: ya mas, karena tidak hanya di Jogja saja, di Payakumbuh (Sumatera Barat) sawah yang dulunya menjadi pemandangan di sepanjang jalan sudah berganti menjadi bangunan.

    Ariffani: bisa saja

  7. ariffani  23 April, 2014 at 17:45

    nanti berasnya jadi merek “terjepit”

  8. James  23 April, 2014 at 15:48

    pantas kalau beras jadi di impor dari negara lain

  9. Lani  23 April, 2014 at 12:23

    Ouch! Kecepit……….

  10. Sumonggo  23 April, 2014 at 11:34

    Babarsari tempat yang menjadi incaran untuk “bertanam” apartemen dan condominium. Berhati-hati sebelum membeli apartemen di Yogya, sertifikat belum strata-title.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.