[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Selamat Tinggal Cintaku

Liana Safitri

 

SEPERTI biasa Lydia dan Franklin hanya sarapan berdua. Pak Yudha dan Bu Yudha sudah pergi lebih dulu.

“Tadi malam saat aku pergi… apakah ada tamu yang datang ke rumah kita?” tanya Franklin di sela-sela makannya.

Lydia terkejut sekali. “Tidak! Tidak ada!”

“Begitukah?”

“Apa Kakak menunggu seorang?” Lydia bertanya untuk menutupi rasa gugupnya.

“Tidak.”

Lydia menunggu hingga Franklin bicara lagi, tapi Franklin tak berkata apa-apa. Lydia diam-diam mengamati Franklin. Franklin tampak tenang, tapi hati Lydia lah yang tidak tenang.

Apa Kakak tahu kalau tadi malam Tian Ya menemuiku?

Tanggal tujuh.

Ini permintaan terakhir. Aku akan terus menunggumu, jangan menghindar lagi!

Lydia berlari dengan napas tersengal-sengal menghampiri Tian Ya. “Sudah kukatakan, aku akan datang! Kenapa kau SMS berkali-kali? Menyebalkan!”

Senyum mengembang di bibir Tian Ya. “Maaf… sepertinya aku terlalu cemas.”

Lydia meletakkan sapu tangan di tangan Tian Ya. “Terjatuh saat kau memanjat ke kamar! Kau hampir saja membuat nyawaku melayang!”

“Oh! Maaf, aku tidak sadar!”

“Kakak yang menemukan! Untung dia tidak tahu kalau sapu tangan itu sudah kuberikan padamu! Lain kali berhati-hatilah!” Lydia berkata jengkel sekali.

“Apa kau menangis saat aku pergi? Sapu tangan ini sepertinya punya hati. Setiap kali terjadi sesuatu di antara kita, dia selalu menemukan cara untuk kembali padamu dan menyeka air matamu… Dia benar-benar bisa mewakili diriku untuk menghiburmu dalam kesedihan!” gumam Tian Ya.

“Sudahlah, jangan bercanda terus! Sekarang kita akan pergi ke mana?”

Di dalam mobil Tian Ya tak banyak bicara. Lydia masih merasa waswas. Ia takut kalau Franklin tahu Tian Ya datang tadi malam. Sampai Lydia menyadari jalan yang mereka lewati berbeda dari biasanya.

“Tian Ya, apa kau mengambil jalan pintas?”

Tian Ya tak menjawab.

“Kita mau ke mana sebenarnya? Tian Ya!” Lydia tidak sabar.

“Bandara!”

“Apa?”

“Kita akan pergi ke Taiwan! Aku sudah siapkan semuanya, surat-surat, paspor, termasuk keperluanmu.”

Wajah Lydia perlahan-lahan memucat. “Berhenti! Tian Ya, jangan bertindak sembarangan!” Karena Tian Ya tak menunjukkan reaksi apa pun, Lydia berteriak, “Berhenti!”

Tian Ya menepikan mobilnya secara mendadak, mengerem hingga mengeluarkan bunyi berdecit.

“Kita akan ke Taiwan!”

“Tidak! Yang aku janjikan hanyalah menemanimu selama satu hari, bukan pergi ke Taiwan!Apa kau sudah gila?” Lydia gusar sekali.

“Satu hari! Aku ingin bersamamu satu hari ini, satu hari besok, satu hari lusa, dan satu hari di hari-hari berikutnya!”

“Tian Ya, kumohon jangan main-main! Kau tahu betapa sulitnya aku mencuri kesempatan agar bisa bertemu denganmu? Sekeras apa pun kita berusaha, kita sudah ditakdirkan tidak dapat bersama…”

Tian Ya tertawa pahit. “Takdir? Sebelum segala hal berubah menjadi takdir, ia adalah nasib! Nasib ada di tangan kita, Lydia! Aku tak sudi menyerah begitu saja!”

Lydia tak mau mendengar apa yang dikatakan Tian Ya. Ia meraih pegangan pintu mobil, tapi Tian Ya menangkap pergelangan tangannya dan mencengkeram kuat-kuat. “Lepaskan!” suara Lydia bergetar.

Mata Tian Ya berkilat-kilat. “Untuk apa? Kalau aku melepaskanmu berarti aku membiarkanmu kembali pada Franklin! Aku tidak bisa!”

“Kau tahu kekacauan apa yang akan timbul kalau kita melarikan diri lagi? Kakak akan mencariku ke tempat kursus, mama dan papamu juga bisa terseret ke dalam masalah!”

“Jangan pedulikan yang lain-lain!” sentak Tian Ya. “Aku hanya ingin agar kau memilih antara aku dengan Franklin! Kalau kakakmu terluka, itu wajar! Kau kan tidak bisa memilih dua pria sekaligus, Lydia!”

Sudah pasti Lydia ingin melalui hari-hari dengan tenang dan membahagiakan bersama Tian Ya. Tapi ke Taiwan… berada di tempat jauh dan asing tanpa Franklin… Baru memikirkannya saja sudah membuat air mata berjatuhan tanpa henti. Lydia terlanjur memiliki ikatan emosional dengan Franklin, sangat erat dan tak mudah diputuskan. Di sisi lain, kehidupan pernikahan dengan sang kakak terbayang jelas di hadapannya. Ini pun bukan pilihan yang lebih baik! Lydia menghempaskan diri di sandaran kursi. Kalut. Ia harus mengambil keputusan dalam waktu singkat. Memang menyakitkan, tapi apa boleh buat?

Memilih Tian Ya dan melepaskan Franklin! Kemudian pergi ke Taiwan! Tidak ada perdebatan lagi!

“Taiwan! Hanya ini satu-satunya cara agar kita bisa bersama. Biarkan waktu yang memperbaiki keadaan. Kelak kita akan kembali untuk mengunjungi orang-orang yang kita sayangi. Orangtua kita, teman-teman, dan… kakak iparku!” Tian Ya melihat perubahan di wajah Lydia. Ia meraih kepala Lydia dan mengecup keningnya sebelum kembali menjalankan mobil.

Lydia memejamkan mata sejenak. Saat kembali membuka matanya, Lydia memperhatikan kaca spion di samping mobil beberapa detik. “Tian Ya, ada yang mengikuti kita dari belakang!”

Tian Ya turut melihat kaca spion dengan cermat. Dua mobil berwarna hitam dengan sangat mencolok mengekor di belakang mobil merah Tian Ya.

“Itu mobil kakakku dan anak buahnya!” Lydia panik.

Tian Ya menggertakkan gigi dan berkata pada Lydia, “Kencangkan sabuk pengaman!” Tian Ya menambah kecepatan mobilnya.

Lydia berpegangan erat pada kursi, berkali-kali menengok ke belakang. Kedua mobil di belakang mereka mengejar lebih cepat. Lydia sangat ketakutan tapi tak berani berkata apa-apa. Mobil melaju seperti di arena balap. Bunyi klakson bersahut-sahutan di antara mereka, bersama makian yang sesekali terdengar dari pengguna jalan lain. Keadaan makin runyam saat polisi lalu lintas turut mengejar mobil Tian Ya.

“Tian Ya, kita berhenti saja!”

“Tidak!”

Teguran Lydia membuat konsentrasi Tian Ya terpecah. Dari arah berlawanan muncul truk pengangkut barang besar sekali. Tin… tin…! Tin…!

Tian Ya menghindar ke kanan. Namun di sana ada rambu-rambu lalu lintas. Pada saat yang hampir bersamaaan terdengar suara melengking membelah langit. “Aaaaa!”

Braakkk!

Dalam sekejap jalan raya dipenuhi orang. Beberapa polisi datang ke tempat kejadian, mobil ambulans dipanggil. Darah merah segar menggenang di aspal, merembes keluar dari pintu mobil yang penyok.Di belakangnya, seorang laki-laki turun dari sebuah mobil berwarna hitam.Ia berteriak, “Lydia!”

Namun Lydia tidak mendengarnya.

 

Rumah sakit penuh sesak dengan kerumunan wartawan. Berita Lydia mengalami kecelakaan sudah tersebar. Yang membuat gempar bukan hanya karena Lydia seorang pengarang terkenal, namun juga karena Tian Ya berada satu mobil bersama Lydia. Kisah cinta segitiga antara Tian Ya, Lydia, dan Franklin, sudah sering menghiasi media infotainment. Kini banyak orang menduga kehidupan pernikahan Lydia dan Franklin tidak bahagia. Franklin bersama Pak Yudha dan Bu Yudha berusaha menghindari kejaran wartawan yang terus menjepretkan kamera dan meminta komentar atau melontarkan pertanyaan.

Tuan dan Nyonya Li sudah ada di sana sejak tadi. Mereka duduk menunggu di deretan kursi di depan pintu ruang UGD yang masih tertutup. Kedua kalinya Tuan Li berjumpa dengan Franklin. Dan pada perjumpaan kedua ia mengenali Franklin sebagai korban masa lalunya. Tuan Li seperti melihat hantu. Franklin juga sangat tegang. Namun aroma rumah sakit membuat Franklin sadar kalau apa yang terjadi sekarang lebih penting untuk dihadapi. Franklin pun hanya menganggukkan kepala pada Tuan Li. Nyonya Li sibuk menangis hingga tak menyadari ada orang yang datang.

Begitu melihat Tuan dan Nyonya Li, Bu Yudha menghambur ke hadapan mereka, menunjuk-nunjuk sambil berteriak, “Ternyata kalian! Apakah kalian tahu anak laki-laki kalian yang bejat itu sudah membuat Lydia tertimpa banyak masalah! Karena dia, sekarang Lydia jadi masuk rumah sakit!”

Tuan Li membungkukkan badan seraya meminta maaf. “Tolong maafkan anak kami… Kami sungguh tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini…” Tangis Nyonya Li semakin keras..

Franklin menarik Bu Yudha menjauh. “Sudahlah, Bu! Tidak ada gunanya marah-marah! Kita tunggu hasil pemeriksaan dokter dengan tenang. Jangan membuat keributan!”

Pak Yudha berdiri dengan wajah dingin dan kaku, sama sekali tak mau melihat ke arah Nyonya Li dan Tuan Li.

 

Sampai hari ketiga, Lydia dan Tian Ya masih dalam keadaan kritis. Banyak orang datang menjenguk termasuk Brenda, Johnny, Victor, dan Alice. Meskipun sudah sadar, Lydia dan Tian Ya belum bisa diajak bicara, jadi mereka hanya datang sebentar lalu kembali pulang dengan perasaan sedih dan kecewa.

Hari kelima. Lydia samar-samar melihat Franklin tertidur dengan kepala menelungkup di pinggir ranjang. Tangan Lydia bergerak perlahan meraih tangan Franklin. Tangan yang selalu ada saat dibutuhkan…

Franklin terbangun. “Lydia…”

Lydia sangat lemah. Wajah sepucat kertas membuat ia bagai berasal dari dunia lain. Sakit amat hebat menyerang kepala Lydia. Tiba-tiba seluruh kejadian mengerikan yang baru saja dialami muncul. Saat Lydia mencoba bangun, Franklin menahan tubuhnya.

“Berbaring saja. Kau mau apa? Kakak akan mengambilkan untukmu…”

“Aku ingin melihat dia…”

Setelah menarik napas dalam-dalam, Franklin berkata tersendat-sendat, “Tian Ya… dia juga sedang dirawat…” Franklin cepat-cepat menambahkan, “Tapi Tian Ya tidak apa-apa. Sebaiknya kau jangan bertemu Tian Ya dalam keadaan seperti ini. Kau akan membuat Tian Ya cemas… Kau masih harus banyak beristirahat. Setelah luka-luka dan kesehatanmu pulih aku akan mengantarmu ke kamar Tian Ya. Sekarang, biar aku saja yang menjenguk Tian Ya, ya?”

Lydia ragu.

Franklin menganggukkan kepala dengan sungguh-sungguh.

Franklin masuk ke dalam kamar tempat Tian Ya dirawat. Kemuraman yang dipantulkan ruangan itu tak jauh beda dengan wajah-wajah setiap orang di dalamnya. Tuan Li dan istrinya sedang duduk di kursi, berbicara lirih pada Tian Ya yang terbaring tak berdaya. Mesin pencatat detak jantung memperdengarkan bunyi teratur, layarnya memperlihatkan grafik terkadang naik dan turun. Kemarin grafik itu sempat mendatar beberapa detik, membuat Nyonya Li berteriak histeris memanggil dokter.

Melihat kedatangan Franklin, Tian Ya memaksakan diri tersenyum.

“Bagaimana keadaanmu?”

Tian Ya ingin menjawab, tapi ia merasa tak leluasa. Nyonya Li menarik suaminya keluar ruangan. Tatapan Tuan Li berhenti pada diri Franklin. Cukup lama mereka bertatapan. Dalam hati Franklin sendiri terjadi pergumulan alot.

Orang ini… karena dialah ayah dan ibuku meninggal! Aku dapat membunuhnya dengan mudah, terlalu mudah! Tapi wajahnya penuh kerutan, berapa lama lagi usianya tersisa? Dan kalau tanganku ternoda oleh darahnya, semua orang akan menyalahkanku, termasuk Lydia. Juga tidak menjamin dendam akan berhenti.

Franklin menghembuskan napas berat, lalu mengalihkan pandangan pada Tian Ya.

Tubuh Tuan Li bergetar hebat, keringat dingin mengalir di dahinya.

Jangan anakku! Jangan anakku! Kau tidak boleh memintanya membayar hutang atas kesalahanku!

Nyonya Li menyaksikan pemandangan ini dalam diam.

Suara parau Tian Ya memecah kesunyian. “Ma… Pa… Tolong tinggalkan kami berdua …”

Tuan Li tak bisa bergerak. Tapi ia melihat senyum samar di wajah Franklin, walau terlihat kaku. Nyonya Li menarik tangan suaminya perlahan keluar dari kamar.

Dua orang pria yang dulu pernah saling bermusuhan, kini saling bertukar pandang penuh penyesalan.

“Maafkan aku…” kata Tian Ya akhirnya.

“Tidak… tidak… Akulah yang bersalah… Aku yang telah menyudutkanmu dan Lydia…”

Tenggorokan Franklin seperti tersumbat batu besar. Tian Ya sedang terluka parah. Meski dengan demikian posisinya menjadi “lebih aman”, entah mengapa Franklin tak merasa senang sedikit pun. Seandainya ia mau mengalah… “Kau harus bertahan Tian Ya… Aku akan melepaskan tanganku… Tidak apa-apa Lydia bersamamu, asalkan dia bahagia. Kita memulai segalanya dari awal. Kau bisa menikah dengan Lydia.”

Tian Ya tersenyum tipis. Ia meraih tangan Franklin. “Kita berdua sama-sama mencintai Lydia. Tapi kita tidak menyadari kalau rasa cinta yang berlebihan akan mencelakainya. Kita saling memperebutkan hati Lydia, siapa sangka justru membuat perasaannya terkoyak-koyak? Seharusnya aku menerima kenyataan kalau kau dan Lydia sudah menikah.”

“Tapi Lydia mencintaimu, Tian Ya…”

Mata Tian Ya menatap langit-langit rumah sakit. Entah apa yang ia pikirkan. Franklin berharap semua belum terlambat.

“Franklin…”

“Ya?”

“Aku mewakili papa, mohon maaf padamu dan keluargamu… Papa… dia… biarkan dia menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang… Nyawa orangtuamu, biar bagaimana pun aku tahu tak ada yang dapat menebusnya. Tapi balas dendammu, lampiaskan saja padaku…”

Franklin memejamkan kedua matanya dengan pedih.

Apakah aku tega mengorbankan pria yang paling dicintai Lydia untuk membalas dendam? Dan kemudian menanggung kebencian Lydia padaku? Selamanya… Bukankah itu berarti penderitaanku akan jauh lebih besar daripada kau, Tian Ya?

Lydia terbangun tanpa melihat Franklin. Sampai siang Franklin belum kembali. Lydia heran karena selama di rumah sakit Franklin tak pernah meninggalkannya. Seorang perawat datang ke kamar Lydia mengantarkan obat.

“Suster, bagaimana keadaan pasien di kamar sebelah?”

“Kamar sebelah? Dua kamar di samping kanan dan kiri Anda kosong.”

“Apa? Yang saya maksud adalah kamar di sebelah kamar ini, tempat teman saya dirawat. Seorang laki-laki…” Lydia bertanya begitu karena Franklin berkata kalau ia dan Tian Ya dirawat di kamar yang letaknya bersebelahan.

Perawat itu menggeleng. “Tidak ada pasien di sana. Seingat saya kamar itu sudah kosong sejak beberapa hari yang lalu.”

Lydia terpana. Apakah Franklin berbohong untuk menjauhkannya dari Tian Ya? Tidak, tidak mungkin! Franklin bahkan pernah menunjukkan foto Tian Ya di kamar perawatan pada Lydia. Karena sangat penasaran Lydia mencoba menghubungi nomor telepon keluarga Li.

“Halo!” terdengar suara Nyonya Li.

“Mama, ini aku Lydia! Apakah Tian Ya sudah pulang ke rumah? Aku ingin berbicara dengannya!” Selama beberapa saat tak ada jawaban. Lydia seperti mendengar suara isakan tertahan. “Mama! Apakah Mama menangis?” Telepon langsung ditutup. Lydia merasa aneh. Jantungnya berdebar-debar. Lydia menekan nomor Franklin. Nada dering yang nyaring menggema ke seluruh ruangan. Franklin lupa membawa ponsel. Lydia mendekati meja tempat Franklin menaruh tasnya. Ia membuka risleting paling depan, tangannya masuk ke dalam kantong mengambil ponsel. Tapi ada benda lain yang terjatuh,sapu tangan.

Ketika Franklin kembali ke rumah sakit Lydia duduk di pinggir ranjang menghadap pintu keluar. Sepertinya ia sengaja menunggu. “Lydia! Apakah kau merasa lebih baik dari kemarin? Sudah minum obat belum?” Franklin menghentikan kata-katanya saat melihat pandangan Lydia yang dingin membeku. “Lydia?”

Lydia menunjukkan sapu tangan berwarna biru dengan sulaman bunga lili pada Franklin. “Mengapa benda ini bisa ada padamu?”

Air muka Franklin berubah tegang. “Lydia…”

Kecurigaan Lydia bertambah. “Aku akan ke rumah Tian Ya!”

“Kau belum sehat! Belum boleh keluar dari rumah sakit!”

“Untuk apa peduli dengan kesehatanku sementara aku tidak tahu bagaimana keadaan Tian Ya? Ketika kau mengatakan akan merestui hubunganku dengan Tian Ya aku sangat berterima kasih padamu. Tapi kalau ini sebuah tipuan di saat kami sedang tidak berdaya, aku memandang rendah dirimu sebagai seorang pengecut! Aku akan membencimu seumur hidup!”

“Kau tidak boleh pergi!”

Lydia mendorong Franklin. “Minggir! Jangan halangi aku! Aku ingin melihatnya!”

Franklin menarik Lydia kembali ke dalam, sementara Lydia meronta-ronta. “Biarkan aku melihatnya! Aku ingin bertemu Tian Ya!”

Franklin berteriak, “Tian Ya sudah meninggal!”

Perlu waktu beberapa detik sebelum Lydia berhasil mencerna kata-kata yang diucapkan Franklin. Ia merasakan darahnya berhenti mengalir, matanya melotot. “Omong kosong! Kau hanya ingin memisahkan kami! Sejak dulu kau tidak ingin kami bersatu! Kau yang harus pergi! Aku muak melihatmu!”

Franklin menarik napas dalam-dalam. Setelah kebingungan bagaimana haru menyampaikan pada Lydia, kata-kata itu meluncur dengan sendirinya. Ia menggenggam tangan Lydia erat-erat seperti ingin memberikan kekuatan. “Tian Ya sudah pergi. Dia meninggalkan pesan untukmu…”

 

“Lydia, saat mendengar kata-kataku kumohon kau jangan sedih. Aku sudah terlalu sering membuatmu meneteskan air mata. Seharusnya aku tahu sejak awal kalau kau bukan milikku. Ini adalah hukuman karena aku selalu mendorongmu melawan apa yang sudah digariskan. Jika hukuman ini memang harus dijalani, aku akan menanggungnya sendiri. Biarkan aku menjadi Niu Lang, si Pemuda Gembala, tapi kau jangan sampai seperti Gadis Penenun, Zhi Nu. Aku ingin kau tetap menjadi tuan putri dan hidup bahagia bersama sang pangeran yangdijodohkan denganmu.

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena selama ini kau menjadikanku orang yang sangat penting bagimu, terima kasih kau sudah memberi arti dalam hidupku, terima kasihkau membuatku merasakan apa itu kebahagiaan, terima kasih kau bersedia melewatkan banyak waktu bersamaku, terima kasih kau mau menghargaiku, terima kasih kau membuat hidupku begitu indah, terima kasih karena kau telah memberiku banyak hal.

“Setiap detak jantung yang mengiringi sepanjang hidupku, takkan cukup untuk melukiskan betapa banyaknya rasa terima kasihku padamu. Wo ai ni, Lydia…”

 

Aku mencintaimu, Lydia…

Mengapa baru sekarang Tian Ya mengucapkan kalimat itu? Apakah Tian Ya sedemikian kejam, setelah mengatakan cinta lalu pergi?

Lydia memandangi ponsel tempat ia baru saja mendengar rekaman suara. Ponsel milik Tian Ya. Saat melarikan diri, Lydia dan Tian Ya membeli ponsel yang sama, hanya warnanya yang berbeda. Ponsel Lydia merah, sedangkan Tian Ya hitam. Lydia mengambil ponsel Tian Ya dari tangan Franklin, tangan satunya lagi mencengkeram sapu tangan erat-erat. Sekarang Tian Ya menggunakan ponsel kembar mereka untuk merekam pesan terakhir? Apa kepergian Tian Ya disebabkan karena Lydia memberinya sapu tangan? Lydia terus-menerus menyangkal. “Tidak… dia tidak mungkin meninggalkanku… Aku bahkan belum melihatnya… Tian Ya belum meninggal… Pasti dia hanya ingin menggodaku!Tian Ya… Tian Ya…”

Tak ada yang bisa dilakukanFranklin selain mengantar Lydia ke kamar bekas Tian Ya dirawat. Kosong. Dan sebenarnya, Lydia dapat mencium bau tubuh Tian Ya. Akrab sekali, dan selalu Lydia rasakan setiap berada di sisi pria yang sangat ia cintai itu. Aromanya sangat nyata, bagaimana Lydia bisa percaya kalau Tian Ya telah pergi?

“Tian Ya meninggal seminggu yang lalu. Karena kesehatanmu masih kurang baik, aku tak berani mengatakannya. Aku datang ke rumah Tian Ya menemui orangtuanya, mengucapkan dukacita. Sebelum meninggal Tian Ya memintaku memberikan sapu tangan padamu dan merekam kata-kata yang ingin dia sampaikan.”

 

Lydia belum bisa menerima kenyataan bahwa Tian Ya sudah meninggal. Bukan, yang benar adalah tidak mau menerima kenyataan. Keesokan harinya, dengan keadaan lemah serta pikiran yang belum sepenuhnya jernih, Lydia memaksa Franklin mengantarnya ke pemakaman. Sebenarnya Franklin akan menolak, tapi tidak tega. Wajah Lydia nyaris tanpa rona, duduk membisu dan tak bergerak. Franklin yang ada di sebelahnya tak berani berkata-kata walau ia cemas sekali. Setelah sopir menghentikan mobil, Franklin keluar lebih dulu, membukakan pintu untuk Lydia.

Melangkahkan kaki di jalan menuju puncak bukit yang semakin menanjak, Franklin dapat merasakan tubuh Lydia memberat. Franklin memeluk dan setengah menopang Lydia. Franklin tahu, sekarang, jika ia melepaskan tangan, Lydia akan langsung roboh ke tanah. Dan seandainya bisa, Franklin ingin memindahkan setengah kekuatannya pada Lydia agar bisa melanjutkan hidup, tapi… Franklin menoleh ke kiri dan ke kanan mencari makam Tian Ya. Ia kesulitan menemukannya. Tapi tiba-tiba Lydia melepaskan diri dari Franklin dan berjalan ke satu sisi. “Lydia!” Franklin terkejut, buru-buru mengikuti. Lydia berjalan terhuyung-huyung melewati makam-makam lain lalu berhenti di salah satu makam. Tampak masih baru. Franklin tertegun. Tempat yang dituju Lydia benar adalah makam Tian Ya. Lydia berlutut di depan makam. Jari-jarinya gemetar membelai batu nisan. Ia mengamati tulisan di atas nisan dengan saksama. Guratan yang sama, karakter yang sama.

            Aku berharap bukan kau… Aku berharap ini hanyalah orang yang memiliki nama yang sama sepertimu… Tapi, kenapa aku tak dapat melihatmu? Di mana kau?

Franklin memegang bahu Lydia. Mengulang saat yang sama ketika Lydia menenangkan Franklin di depan makam orangtuanya. “Tadinya… mereka akan memakamkan Tian Ya di Taiwan. Tapi orangtua Tian Ya berubah pikiran. Biarkan Tian Ya di sini saja. Di sinilah Tian Ya menemukan kebahagiaannya. Dan dari sini ia dapat melihat orang yang dicintainya, lebih dekat denganmu, Lydia…”

Kenangan Lydia dengan Tian Ya berputar bagaikan sebuah film. Saat mereka masih seorang murid SMP, duduk sebangku, mengerjakan tugas, menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan, belajar bahasa Mandarin, membolos, dimarahi guru, dihukum menyapu dan membakar sampah… Berwisata ke Bali, lalu bertengkar ketika Tian Ya mengatakan akan pergi ke Taiwan, makan bersama waktu Lydia sakit, mendengarkan Tian Ya mendongeng Pemuda Gembala dan Gadis Penenun untuknya… Kemudian berjumpa di restoran setelah sepuluh tahun berpisah, mengajar di SKY School, ke Kaliurang… Lalu Tian Ya menyanyikan lagu Tong Hua lewat telepon dan mengatakan akan menjadi pangerannya, kabur ke villa keluarga Smith, bersama-sama berjualan tanaman, pertemuan sembunyi-sembunyi di saat untuk pertama kalinya Tian Ya mencium Lydia dengan lembut…

Tanpa disadari Lydia pun menempelkan bibirnya ke atas batu nisan tempat nama Tian Ya terukir. Dingin…

            Tian Ya, bukankah kau mengajakku pergi ke Taiwan? Aku tidak bimbang lagi. Kita pergi bersama… Ke Taiwan, ke Cina, atau ke mana pun yang kau inginkan. Ayolah, Tian Ya… Kenapa kau justru pergi ke tempat di mana aku tak dapat melihatmu?

Lydia tidak meneteskan air mata. Padahal Franklin berharap Lydia menangis keras-keras sambil menyalahkannya. Tapi Lydia hanya menatap makam Tian Ya dengan diam sampai berjam-jam kemudian, hingga warna langit berubah kelam, sekelam hatinya. Franklin harus menarik Lydia pergi, berjalan ke tempat mobil diparkir. Lydia tidak melawan.

Semenjak pulang dari pemakaman, Lydia tak pernah berbicara. Franklin membujuknya, bertanya apa yang ia inginkan, membentaknya, memarahinya… Franklin ingin Lydia mengucapkan satu kata saja, “Kakak!”, seperti dulu bagaimana Lydia memanggilnya.

Sampai suatu saat aku kehilangan kendali dan menempelkan bibirku ke dahinya, dia tetap tak bereaksi…

Dokter yang merawat Lydia memanggil Franklin. “Tuan Frank, bisakah kita berbicara sebentar?”

“Ya, tentu saja!” Franklin mengikuti dokter ke ruangannya.

“Beberapa hari lagi Lydia sudah boleh pulang. Tapi… kecelakaan itu mungkin akan menyebabkan ia sering sakit kepala atau pusing. Untuk sementara Lydia tidak boleh terlalu banyak berpikir. Anda, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya harus menjaga agar jangan sampai Lydia mendengar berita yang membuatnya stres atau merasa tertekan. Selain itu, tidak boleh bekerja terlalu keras. Biarkan dia istirahat total!”

“Baiklah, Dokter! Saya mengerti, terima kasih!” Franklin berjalan dengan lemas.

Jangan sampai Lydia mendengar berita yang membuatnya stres atau merasa tertekan.

Lydia bahkan baru saja mendengar berita paling buruk sepanjang hidupnya!

Franklin kembali ke kamar Lydia, tapi Lydia tidak ada! Benak Franklin dipenuhi berbagai bayangan gelap, ia berlari di sepanjang lorong dengan kaki nyaris tak menyentuh lantai. Satu orang sudah pegi, jangan sampai lainnya menyusul!

Lydia, di mana kau? Beri tahu Kakak, kau ada di mana?

Seolah ada yang memberi petunjuk, Franklin menaiki tangga ke lantai atas dan akhirnya sampai di atap gedung rumah sakit. Seketika hembusan angin dingin meniup tengkuknya. Tidak salah! Tubuh kecil dan rapuh itu duduk di atas dinding pembatas.

“Lydia!”

Yang dipanggil menolehkan kepala. Franklin berlari menghampiri, tapi langkah kakinya terhenti ketika Lydia tiba-tiba berdiri.

“Jangan mendekat!”

Franklin kehilangan akal, ia menatap Lydia sedih sekali. “Lydia, kumohon jangan seperti ini… Jangan bertindak bodoh! Tian Ya tidak ingin kau mati konyol! Tian Ya pasti lebih suka kau tetap melanjutkan hidup dengan baik…”

Lydia berteriak lagi, “Ini semua gara-gara kau! Kau yang menyebabkan Tian Ya meninggal! Kau pembunuh!”

Kata-kata Lydia yang menyebutnya “pembunuh” bagaikan sebilah pisau yang ditikamkan ke leher Franklin. Franklin berkata dengan suara parau, “Baiklah… aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan agar kau mau memaafkanku?”

“KembalikanTian Ya padaku…”

Franklin menggertakkan gigi.

Lydia berdiri di atas dinding pembatas membelakangi Franklin. Lydia menatap ke bawah seperti dewi yang siap terbang. Rasa ngeri membuat Franklin tak peduli apa pun lagi. Franklin berjalan mengendap-endap mendekati Lydia, lalu dengan satu gerakan cepat memeluk Lydia dari belakang dan menyeretnya turun. Kedua orang itu terjatuh berguling-guling di lantai. Lydia terkejut bukan kepalang. Ia meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari Franklin.

“Lepaskan aku! Lepaskan aku! Biarkan aku mati! Biarkan aku ikut mati bersama Tian Ya!” Lydia menangis menyayat hati.

Hati Franklin bagai terkoyak-koyak. Ia mendekap Lydia erat-erat. Air matanya meleleh. “Tidak! Tidak Lydia! Mana mungkin aku membiarkanmu mati? Kau boleh membenciku, memakiku, memukulku… Tapi kau tidak boleh meninggalkanku…”

Tangis Lydia semakin menjadi-jadi. “Tian Ya sudah mati! Dia sudah mati! Dia pergi dan tak akan kembali lagi… Lalu aku bagaimana? Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup? Katakan padaku, Kakak, bagaimana aku bisa bertahan? Mengapa harus dia yang pergi? Kenapa dia tega meninggalkanku? Kenapa? Kenapa?” Lydia memukuli Franklin, melampiaskan kemarahan dan kepedihannya. Masih adakah rasa sakit yang lebih menyiksa daripada ditinggalkan orang tercinta untuk selamanya? Bukan ke Taiwan, tapi ke dunia lain! Oh… kekhawatiran Lydia selama ini akhirnya benar-benar terjadi, Niu Lang dan Zhi Nu yang kedua!

Franklin memeluk Lydia dan membiarkannya menangis sampai puas. Karena Franklin tahu kata-kata hiburan apa pun tak ada gunanya. Hati Lydia bagai ditenggelamkan ke dasar samudera, gelap tanpa cahaya. Dan di sana, ia tak dapat melihat warna biru langit. Langit yang mungkin… menjadi tempat tinggal orang terkasihnya sekarang.

Saat Tian Ya mengatakan Wo ai ni (我爱你, Aku cinta padamu), Lydia hanya bisa membalas dengan ucapan, Zaijian wo de ai… (再见我的爱, Selamat tinggal cintaku…)

 

13 Comments to "[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Selamat Tinggal Cintaku"

  1. Liana  28 April, 2014 at 13:42

    [email protected]: Masih…

  2. [email protected]  28 April, 2014 at 09:32

    masih adakah lanjutannya?

  3. Liana  25 April, 2014 at 14:52

    Jenny, terima kasih… Ada juga pendukung Franklin rupanya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.