Tubuh Perempuan: Medan Pertempuran Antar Pedagang

Gunawan Budi Susanto

 

TUBUH perempuan sesungguh benar adalah medan pertempuran antar pedagang. Tubuh perempuan adalah ranah paling kumedol sebagai medan komodifikasi tak henti-henti dari kapitalisme global.

Dalam perspektif ini, segala tetek bengek identitas (personal, lokalitas, kultural, lebih-lebih nasional) yang dilekatkan pada kebertubuhan perempuan sesungguhnya cuma kecap, kemasan, imagologi.

beauty-commodity

(www.solusimobil.com)

Alih-alih mandiri mengelola tubuh sebagai sang diri (the self) untuk bisa membedakan dan dibedakan dari yang lain (liyan, the others), perempuan dikanalisasi dalam arus tunggal kesadaran yang maujud: harus (menjadi) cantik. Aspek kefisikan itu jauh lebih menonjol ketimbang batiniah – entah itu soal religiositas, kecerdasan, kepedulian, atau kepekaan nurani. Bahkan sebenarnya segala yang menyentuh aspek batiniah pun diprofankan dan ditunggalwujudkan ke dalam formula keseolah-olahan: bahwa kecantikan mengandung segalanya, bahwa kecantikan adalah segalanya. Namun, celaka, kecantikan itu sebenarnya adalah kecantikan dalam pulasan kultur kapitalisme global.

Eksotisme oriental dalam jagat model, misalnya, adalah salah satu instrumen paradoksal untuk berjualan. Maka, jika Tiara Lestari atau siapa pun perempuan yang dianggap punya wajah “khas” oriental, ketimuran, bisa menyeruak ke dalam dunia model internasional sesungguhnya adalah bagian dari rancang bangun dan pengemasan dagangan. Ya, perempuan diniscayakan untuk membeli segala kosmetik, alat kebugaran, produk “kesehatan”, tetek bengek toiletries, pelangsing tubuh, penurun berat badan, pengencang pinggang, pembesar payudara, pemutih dan pelembut kulit, segala busana, aksesori, tata rambut, bacaan, gaya hidup, dan seterusnya. Perempuan diniscayakan untuk mengonsumsi semua itu jika tak ingin disebut ndesit, tidak modis, tidak trendi, tidak gaul, tidak sophisticated.

Lihatlah, berbagai-bagai reklame yang mempergunakan tubuh perempuan (atau citraan ketubuhan perempuan) sebagai penyampai pesan. Perangsang nafsu konsumtif bagi perempuan untuk membentuk dan “merapikan” tubuh itu membombardemen, terutama dalam tayangan televisi. Dan, hal itu tidak cuma muncul dalam slot iklan. Nyaris semua produk televisi membidik perempuan sebagai medan tempur antar pedagang.

Ilustrasi cukup menarik tergambar melalui iklan “ATM Bersama” di televisi. Seorang perempuan gendut duduk di bangku taman. Lalu, datang perempuan lain yang langsing. Si gendut menyatakan ingin bertubuh selangsing si lain, yang serta merta mengeluarkan semacam ikat pinggang vibrator pengurang lemak di perut dan pinggang. Si gendut menyatakan uang kontannya tak mencukupi untuk membeli alat itu. Si langsing menyahut, “Kan ada ATM Bersama?” Si gendut pun mengambil uang di ATM Bersama, dan memakai alat penghilang lemak melingkari perutnya seraya makan cemilan dan berkata, “Buat nyenengin suami.”

Adegan komikal yang “melecehkan” — betapa tak indah dan cantik sang perempuan bertubuh tambun — itu tidak untuk menjual peralatan penghilang lemak. Namun, mewartakan kepada para nasabah bank betapa mudah dan mengenakkan mempunyai ATM Bersama. Ya, bahkan produk perbankan pun dijual dengan mempergunakan (pencitraan kecantikan) tubuh perempuan sebagai medan pertempuran.

Dan, hal itu tidak spesifik. Hampir semua produk menjual citra (keindahan) perempuan, meski misalnya ditujukan kepada pasar lelaki. Contoh reklame lain: mobil disandingkan sekaligus ditandingkan dengan tubuh perempuan cantik. Citra keluwesan dan keanggunan (tubuh) perempuan itu adalah juga keluwesan dan keanggunan (bodi) mobil merah menyala. Dan, lelaki yang diniscayakan membeli mobil itu digiring untuk berimajinasi memiliki dan menaiki mobil seindah perempuan yang bergaun merah menyala. Atau sebaliknya, sang lelaki maskulin berimajinasi bisa memiliki perempuan seanggun mobil tersebut? Jadi, identitas macam apa yang dilekatkan pada ketubuhan perempuan dalam, paling tidak, kedua ilustrasi tersebut? Apalagi, bukankah sponsor penyelenggaraan kontes Puteri Indonesia adalah produsen kosmetik? Bukankah produsen kosmetik adalah garda terdepan pengeksploitasi tubuh dan keperempuanan sebagai medan berjualan?

Tentu bukan “hil yang mustahal” jika suatu perusahaan kosmetik memproduksi sekaligus krim pemutih dan pencokelat kulit. Krim pemutih diperuntukkan bagi pasar domestik dengan pencitraan berdasar konstruksi kecantikan ala Eropa. Krim pencokelat diekspor ke Eropa dengan pencitraan bahwa sang pemakai adalah perempuan kelas menengah ke atas yang punya mobilitas tinggi: mampu menjemur diri, mencokelatkan tubuh, di bawah terik matahari negeri tropis nan eksotis.

Bukankah kedua krim itu, pemutih dan pencokelat kulit, bisa-bisa dinilai sebagai wahana pelecehan terhadap konsep (asali) dan konstruksi kecantikan perempuan dari ranah lain, Papua misalnya? Pada saat yang sama, kedua produk itu telah menafikan “identitas kultural” keperempuanan dan mendorong konsumen menjadi “satu paket”: objek yang diposisikan untuk manda saja dipercantik dalam pulasan kosmetik kapitalisme global. Wow!

Jadi, dalam perspektif ini, ungkapan “wanita adalah tiang negara” sebenarnya cuma lipstik. Kosmetik. Produk jualan-jualan.

Lalu, apa dan mana hak perempuan untuk mengelola tubuhnya sendiri? Apalagi bila intervensi yang hegemonik terus-menerus memborbardemen kesadaran bahwa perempuan harus cantik, secantik bintang sebuah sabun mandi, semolek Puteri Indonesia – kecantikan dan kemolekan ragawi semata? Masih adakah ruang dialogis bagi perempuan untuk menentukan pilihan pribadi di luar arus besar komodifikasi kapitalistik tersebut?

 

22 Comments to "Tubuh Perempuan: Medan Pertempuran Antar Pedagang"

  1. anoew  3 May, 2014 at 21:14

    Meski “tak sengaja”, pemandangan ini pun menarik mata lelaki mana untuk “tak sengaja” melihat produk suatu parfum.

  2. anoew  3 May, 2014 at 21:05

    Wanita cantik yang, berkulit indah, bertubuh seksi, berbetis menawan dan bertungkai merona adalah wajar dijadikan “papan iklan” berjalan. Dan mata lelaki mana yang tak tertarik meliriknya?

    Sama juga laki-laki berwajah tampan, dada bidang dan perut rata, wanita mana yang tak meliriknya?

    Jadi, masalah eksploitasi bodi seseorang apakah itu wanita atau pria, sepertinya wajar saja selama itu sesuai hukum dagang. Pedagang tentu tak akan memasang iklannya di tempat yang jarang dilihat orang.

    Btw,

    Saya penyuka keindahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.