Ketika Bahasa Menjadi ‘Harimau’ bagi Manusia

Dessi Sommalia

 

Dalam kehidupan saat ini, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi, tetapi juga sebagai alat untuk mentransformasikan pikiran, gagasan, maupun alat untuk menyampaikan pesan atau maksud-maksud tertentu kepada orang lain. Di samping itu, tak jarang pula bahasa digunakan sebagai alat untuk membangun citra. Misalnya, agar terlihat cerdas, seseorang senantiasa berupaya menggunakan istilah-istilah asing setiap kali ia berbicara atau selalu menyelipkan kata dari bahasa asing pada setiap kalimat yang ia ucapkan meskipun kata yang digunakan memiliki padanan katanya dalam bahasa Indonesia, dan lain sebagainya.

mulutmu_harimaumu_by_labanane-d3af3pc

Namun, sebuah pribahasa mengatakan mulutmu adalah harimaumu! Pribahasa ini berarti agar setiap orang berhati-hati dalam bertutur dan senantiasa menjaga ucapannya. Karena dengan perkataan yang telah dilontarkan, tidak menutup kemungkinan sewaktu-waktu akan menjelma menjadi ‘harimau’ yang bisa memangsa dirinya sendiri. Dalam kaitan ini, menarik jika kita menilik kembali slogan yang pernah digaungkan oleh Partai Demokrat jelang Pemilu 2009 lalu. Yang mana ketika itu Partai Demokrat amat gencar mengampanyekan slogan: “katakan tidak pada korupsi!”. Slogan ini tampaknya cukup ampuh meraih simpati rakyat, setidaknya hal ini terbukti dengan terpilihnya kembali kader terbaik Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menjadi orang nomor satu di republik ini.

Di tengah mengguritanya kasus korupsi di negeri ini, ditambah dengan penegakan hukum yang masih terbilang tebang pilih dan sangat jauh dari rasa keadilan masyarakat, semangat memerangi korupsi yang diusung oleh Partai Demokrat melalui slogan “katakan tidak pada korupsi!” jelang Pemilu 2009 lalu, tentu menjadi semacam oase di tengah ketidakberdayaan publik menyaksikan kasus-kasus korupsi yang terus bermunculan. Sehingga tidaklah mengherankan jika slogan “katakan tidak pada korupsi!” yang diusung Partai Demokrat tersebut mampu memberi secercah harapan bagi rakyat agar terjadi perubahan yang signifikan di republik ini dalam berbagai lini, termasuk dalam hal penegakan hukum. Sehingga praktik korupsi di negeri ini yang seolah telah menjadi budaya benar-benar dapat diberantas hingga ke akarnya.

Namun, harapan masyarakat yang terlanjur membesar itu kemudian mengempes ketika kemudian publik mendapati dalam perjalanannya banyak kader Demokrat yang terjerat kasus korupsi. Ironisnya, orang-orang yang tersangakut kasus korupsi dari Partai Demokrat tersebut adalah kader-kader terbaik dari partai berlambang bintang Mercy itu. Jika boleh membuat perumpamaan, kasus-kasus korupsi yang melilit para kader Partai Demokrat ibarat mata rantai yang tak putus-putusnya dan saling menyeret satu sama lain.

Hal ini tidaklah mengada, karena seperti yang publik ketahui, dalam beberapa waktu terakhir, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan sejumlah nama dari Partai Domokrat sebagai tersangka korupsi. Seperti mantan Mentri Pemuda dan Olahraga yang juga mantan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Andi Mallarangeng sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi Hambalang. Sebelum Andi, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazarudin, serta mantan anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat Angelina Sondakh juga terlibat kasus Wisma Atlet SEA Games. Dan yang terus menjadi perbincangan hingga hari ini adalah nama mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, yang belum lama ini juga ditetapkan KPK sebagai tersangka terkait dugaan keterlibatannya dalam kasus suap proyek Gedung Olahraga di Bukit Hambalang, Sentul, Bogor.

mulutmu-harimaumu

Akibat kasus hukum yang melanda sejumlah kader terbaik Partai Demokrat, tidaklah mengherankan jika kemudian partai yang hingga hari ini masih terus bergantung pada sosok “matahari tunggal” bernama Yudhoyono ini, kerap menjadi ‘bulan-bulanan’ sejumlah media massa dengan mengaitkan slogan “katakan tidak pada korupsi!” yang diusung oleh Partai Demokrat ketika berkampanye jelang Pemilu 2009 lalu, dengan realita yang terjadi saat ini dalam tubuh Partai Demokrat. Tak pelak, bahasa dalam slogan ini kemudian seolah menjadi ‘harimau’ bagi dirinya sendiri. Terlebih lagi Anas Urbaningrum terbilang sukses mendirikan “panggung politik” di Duren Sawit dengan membuat publik penasaran sembari menunggu “halaman selanjutnya” seperti yang dijanjikan Anas dalam pidatonya ketika melepaskan jabatan sebagai Ketua Umum.

Setali tiga uang dengan Partai Demokrat, begitupun dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dimana partai ini juga mengusung slogan yang cukup menarik. Partai dakwah ini mengusung slogan “Bersih, Peduli, dan Profesional”. Kata “bersih” yang terdapat dalam slogan ini jika ditafsirkan akan bermakna sangat luas. Dalam kamus bahasa Indonesia, bersih maknanya tidak kotor. Dalam kaitan ini, slogan “bersih” yang diusung PKS bisa dihubungkan dengan bersih dari praktik korupsi. Namun, dalam perjalanannya, slogan “bersih” yang diusung PKS seperti menerkam tubuhnya sendiri ketika secara mengejutkan KPK menetapkan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyuapan impor daging sapi.

Meskipun dalam hal penetapan LHI sebagai tersangka Presiden PKS yang baru M Anis Matta, dalam sambutannya seusai dilantik, menuding adanya konspirasi yang hendak menghancurkan partai PKS. Namun, setidaknya, penetapan LHI sebagai tersangka dalam kasus impor daging sapi ini, menjadi hantaman tsunami besar bagi citra bersih PKS. Bahkan dalam salah satu forum di televisi, pengamat politik mempertanyakan citra “bersih” yang dibangun PKS dalam slogan yang diusungnya tersebut.

Terlepas dari itu, bahasa memang berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan gagasan, pesan dan berbagai hal lainnya pada si penerima bahasa. Namun, bahasa yang hanya diucapakan untuk meraih simpati, tetapi apabila dalam lakunya si pengguna bahasa tidak konsisten terhadap pesan yang ingin ia sampaikan, bukan tidak mungkin bahasa kemudian akan menjadi ‘harimau’ bagi penggunanya. Akhirnya, sejarah akan mencatat siapa yang mampu ‘berkarib’ dengan bahasa atau justru sebaliknya.
Desi Sommalia Gustina, Alumnus Pascasarjana Universitas Andalas, Padang.
Dipublikasikan di Harian Umum Rakyat Sumbar, 27 April 2013

 

About Dessi Sommalia

Desi Sommalia Gustina, Alumnus Pascasarjana Jurusan Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang. Saat ini menggerakkan komunitas menulis Rumahkayu Pekanbaru. Menetap di Pekanbaru. Bekerja sebagai tenaga pengajar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Riau.

Arsip Artikel

3 Comments to "Ketika Bahasa Menjadi ‘Harimau’ bagi Manusia"

  1. J C  29 April, 2014 at 12:52

    Bahasa, ucapan memang bisa jadi senjata paling ampuh. Terutama dalam politik.

  2. Dewi Aichi  28 April, 2014 at 02:25

    Desi..tulisanmu mantap, politik memang penuh kebohongan , dengan menggunakan bahasa yang seolah santun dan menjanjikan, takyat terlena dan mudah tertarik….namun semua itu juga tergantung kepada rakyat yang akan memilih calon pemimpin,..jadi…baik buruknya Indonesia nanti tergantung kepada rakyat.

  3. Itsmi  25 April, 2014 at 17:03

    Politikus yang hebat, dimana bahasa yang sudah jadi harimau, itu juga bisa di lunakkan…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.