Ketika Kita Merasa Jenuh dan Lelah

Yeni Suryasusanti

 

Saya rasa setiap orang pasti pernah merasakan titik jenuh akibat lelah dalam kehidupan.

Titik dimana kita seperti merasa ingin muntah karena semua seperti menimpa kita sekaligus. Ketika kita merasa sudah memberikan yang terbaik namun hasilnya masih tidak seperti yang kita harapkan – bahkan tidak menghasilkan apa-apa karena memang tidak ada yang berhasil selesai – karena banyak elemen yang terkait yang terkadang kemampuan elemen tersebut tidak berada dalam kekuasaan kita karena kita memang hanya memiliki kekuasaan penuh atas diri sendiri, bukan atas orang lain.

Apa yang harus kita lakukan pada saat itu?

jenuh-lelah

Bagaimana caranya menawarkan rasa mual ingin memuntahkan semua dengan kata-kata pedas yang nyaris sudah terbentuk di ujung lidah namun menyadari bahwa jika kita lakukan hal itu hanya akan membuat situasi menjadi lebih parah?

Menarik diri sejenak mungkin merupakan solusi sementara yang terbaik, namun membayangkan hal buruk yang bisa terjadi tanpa bisa kita cegah saat kita menarik diri pun membuat pilihan ini tidak lagi menjadi yang terbaik.

Keluar dari masalah ini tanpa peduli juga bisa menjadi pilihan, namun bayangan kata “gagal melewati” mungkin akan membayangi pikiran kita seumur hidup.

 

Ketika rasa muak berbenturan dengan tanggung jawab dan akhlak, juga ketika rasa jenuh berbenturan dengan rasa butuh, ketika itulah kita merasakan sebuah dilema.

Dan belajar memang tidak mengenal usia. Setiap kali kita mengira satu masalah telah selesai dan kita telah mengambil hikmah dibaliknya, selalu saja ada pelajaran baru untuk kita jalani berikutnya. Semua kemudian berulang, namun dengan tingkatan yang lebih tinggi dan masalah yang biasanya semakin parah.

 

Di Paskibra 78, kami belajar untuk bertahan dan tetap menjalani setiap bagian terpahit dari kehidupan, dengan selalu mengedepankan tanggung jawab dan kewajiban. Kami belajar untuk berhenti disaat semua tugas telah selesai kami jalani. Karena memang hidup itu adalah perjuangan.

Disaat semua beban serasa tak tertanggungkan, Alhamdulillah selalu Allah mengirimkan bantuan. Entah itu berupa pendampingan, pengalih perhatian, kemudahan atau hanya sekedar tambahan daya tahan.

Tidak ada yang mengatakan hidup itu mudah. Namun ketika kita akhirnya berhasil melewati prosesnya dengan tetap memberikan yang terbaik dari diri kita dan dengan ikhlas menerima apa pun hasilnya, ketika itulah kita bisa melihat ke belakang dan berkata, “Ya, saya bisa.”

 

Saya percaya, ketika saya sampai di titik terparah dari sebuah masalah, pada akhirnya saya akan berhasil melalui semuanya, karena Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak tertanggungkan.

Jadi, setiap kali rasa ingin muntah karena jenuh dan lelah itu sampai pada titik terparah, saya akan mencoba untuk bertahan dan menguatkan hati dengan berkata, “Insya Allah, ini semua akan menjadi ibadah…”

 

Karena hidup di dunia ini hanyalah sementara…

 

Jakarta, 25 April 2014

Yeni Suryasusanti

 

7 Comments to "Ketika Kita Merasa Jenuh dan Lelah"

  1. sacrifice  12 August, 2015 at 18:45

    gak semudah yg kalian ucapkan !!
    kalian hanya mampu berTEORI namun untuk memPRAKTEKannya kalian tidak mampu ..
    PAHAM

  2. J C  29 April, 2014 at 12:52

    Saya hanya berpikir sederhana saja, SEMELEH. Tidak sampai harus mencari jawaban sebab akibat…

  3. Dj. 813  26 April, 2014 at 15:03

    Biasanya, kalau sampai mengalami titik jenuh, ini disebabkan hidup yang kurang teratur.
    Atau kurang disiplin.
    Karena kalau kita membiasaakan hidup dengan teratur dan baik, maka kita bisa hidup,
    tanpa mengalami kejenuhan.
    Saatnya kerja ya kerja, saatnya ber rekreasi, saatnya berbincang dengan keluarga, saatnya beribadah…….
    Maka semua ada aturannya dan waktunya, kalau berlebihan, maka kemungkinanpikirann jenuh akan muncul….
    Dan keputusan yang akan diambilpun, bisa fatal…

    Salam,

  4. ariffani  26 April, 2014 at 12:10

    kalo jenuh saya sukanya teriak2 sendiri, loncat2 dikamar ,, hahahahah…
    sama seperti bu Yeni, semua saya kembalikan ke Allah, ketika kita tidak lagi bisa mengutarakan ke siapa2, biasanya saya ambil wudhu, sholat sunnah, terus ngadu sampe nangis sama Allah, rasanya plooongg tenan,,,

  5. Alvina VB  26 April, 2014 at 02:32

    Kl sudah ada di titik jenuh ya musti mundur teratur/ retreat ke tempat yg gak bisa diganggu org (termasuk keluarga). It’s a “ME” time – program buat pemulihan badan dan jiwa.

  6. Mutiara Hitam  25 April, 2014 at 17:19

    Kalo sudah berada dititik jenuh , berarti waktunya refreshing . gak harus jauh2 memancing dan jalan2 ke museum juga bisa (pilihan saya )
    salam kenal mba

  7. Itsmi  25 April, 2014 at 17:08

    pertama dia siksa lalu di sembuhkan…

    jalan pemikiran begini, ini sudah di luar rasio saya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.