Penjahat Kelamin

Pingkan Djayasupena – Belanda

 

Hati-hati penjahat kelamin ada di mana-mana, tanpa kita sadari orangnya ada di sekitar kita. Bisa jadi itu saudara atau teman kita sendiri, korbannya bukan saja wanita dewasa dan ABG, bahkan anak-anak di bawah umur pun menjadi incaranya, sungguh biadab dan mengerikan. Membaca kasus anak TK yang terkena pelecehan seksual sungguh kita merasa bahwa sekeliling kita sudah tidak aman.

Aku sendiri sebagai wanita dewasa hampir ketemu penjahat kelamin dan sudah dilecehkannya melalui Facebook juga telepon. Lho, kok, bisa sih? Begini ceritanya ya aku akan cerita garis besarnya saja karena kalau cerita detail bisa-bisa tulisan aku akan bersambung akhirnya jadi Cerbung.

Tiba-tiba ada yang inbox aku di Facebook menanyakan kabarku dan aku jawab kabarku tentu baik-baik saja. Dia juga bilang di inbox kalau masih menyukai aku dan memujiku. Pas, aku klik profilenya aku jadi inget sekitar tahun 2010 dia memang pernah nembak aku bilang kalau suka sama aku tapi sayang seribu sayang dia umurnya jauh di bawah aku 15 tahun, tentu aku nggak ladenin aku diam saja.

Waktu dia nembak aku dan bilang ingin mengenal aku lebih dalam. Dia lagi kuliah ambil master di salah satu universitas terkenal di Belanda. Setelah lulus kulias masternya dia kembali ke Indonesia dan aku tidak pernah mengenalnya secara langsung hanya di Facebook. Beberapa tahun sudah berlalu tiba-tiba dia kontak aku lagi di Facebook, ngasih tahu kalau dia mau ke Belanda dan dia minta aku menolong dia untuk memberikan surat undangan sponsor agar mendapat visa kunjungan dan dalam seminggu itu dia mau menemui profesor di universitas yang dulu dia pernah ambil master karena dia ingin mendapatkan beasiswa S3 di kota Groningen, sekaligus dia mau melamar pekerjaan di Belanda dengan gelar master dia yang pernah di dapat dari universitas Belanda. Padahal di sudah punya pekerjaan di Indonesia sebagai PNS sepertinya punya kedudukan cukup bagus karena aku lihat di Facebooknya kalau dia sering tugas keluar negeri aku bisa lihat dari foto-fotonya.

Aku tentu harus mikir dulu untuk menolongnya memberi surat sponsor karena itu kan berat buat aku kalau sampai surat sponsor disalah gunakannya aku bisa kena denda dan berurusan dengan polisi asing pikirku. Dan juga dia mau menginap di rumah aku selama seminggu katanya. Aku bilang kalau rumah aku kecil nggak ada kamar buat tamu, dia bilang tidur di ruang tamu nggak masalah.

Aku sebenernya pernah menerima tamu para pelajar cowok atau cewek ke rumah yang kenal lewat internet seneng-seneng aja kalau mereka mau berkunjung dan sampai sekarang masih berteman di Facebook. Aku pikir mungkin mereka para mahasiswa/siswi yang lagi kuliah di Belanda ini kangen sama keluarganya dan masakan Indonesia jadi aku menerima mereka dengan tangan terbuka walau hanya kenal lewat internet. Kebetulan waktu dulu rumahku besar punya empat kamar tidur dan kedua anakku masih tinggal sama aku tapi sekarang aku pindah ke apartment karena kedua anakku sudah keluar dari rumah, jadi rumah yang dulu terlalu besar.

Karena dia memohon dan niat aku menolong akhirnya aku kirim surat sponsor untuk dia agar dapet visa dan ternyata dia dapet visa setahun katanya malah tadinya dia mau dapet lima tahun tapi karena nggak bawa paspoort lama maka cuma dapet setahun. Dapet visa setahun bukan berarti dia boleh tinggal satu tahun, tapi kalau dia mau ke Belanda lagi dia nggak usah minta visa dan paling lama hanya boleh 90 hari tinggal di Belanda.

Sebelum berangkat ke Belanda dia telepon ke hapeku ngucapin terima kasih dan dia sudah dapet visa. Terus dalam obrolan itu dia biasalah ngegombal kalau masih jatuh cinta sama aku. . bla. . bla. . bla. Dia juga menanyakan agamaku, lalu aku jawab nggak punya agama. Eh, dia malah kesenengan. Ketika aku tanya, ”Kok seneng denger aku nggak punya agama?” lalu dia jawab gini: ”Seneng berarti kalau aku nikah sama kamu nggak usah masuk Islam” Ha ha ha…aku jadi ketawa ini orang bener-bener udah mikir terlalu jauh banget.

Nah, yang bikin aku kaget dalam obrolan di telepon ternyata kalau dia nginep di rumahku dia minta tidur satu kamar dengan aku. Dia bilang kalau dia nggak bakal nakal, tapi kalau sampai terjadi persetubuhan dengan aku, dia pengen pakai kondom karena takut kena panyakit.

Waaduh, kurang ajar banget ini orang dalam hatiku, mau juga aku yang takut kena penyakit bukan dia kan? Kalau saja itu orang ada depan mukaku tentu aku akan siram kopi panas atau aku tabok mulutnya. Coba aja bayangin bukannya dia itu kurang ajar dan termasuk penjahat kelamin sudah aku tolong untuk mendapatkan visa lalu aku mau ijinin dia nginep di rumah aku seminggu dengan catatan tidur di ruang tamu. Eh, ketemu juga belum pernah sama dia kok khayalan dia sudah macam-macam sudah ngeres terlalu jauh sampe niat mau ngeseks sama aku. Dan yang bikin aku mau muntah lagi dia itu kepedean banget katanya kalau aku sudah merasakan tidur sama dia nanti pasti aku nggak akan mengijinkan dia untuk pulang ke Indonesia. Bukankah aku ketemu orang “sakit jiwa?”

Sejak itu aku nggak ladenin dia lagi sampe dia berangkat ke Belanda dia mohon-mohon agar aku mau menerima telepon dari dia dan dia minta maaf kalau udah kurang ajar sama aku. Dan dia bilang kalau dia nggak jahat dan nakal kalau dia nginep di rumah aku. Tentu aku sudah nggak percaya sama dia lagi apalagi untuk ngasih tempat tinggal nginep di rumah aku bisa-bisa nanti aku diperkosanya.

Kedua anakku sudah nggak tinggal sama aku lagi. Aku bener-bener menyesal kirim dia surat sponsor maksud hati pengen menolong malah dia punya pikiran jahat sama aku dan yang bikin aku tambah sebel lagi dia bilang gini, “Harusnya kamu bangga dapetin berondong” Weleh-weleh GR banget sih dia? Mungkin dalam pikiran dia aku ini janda tinggal sendiri pasti kesepian dan gampangan jadi dia dengan percaya dirinya bakal dapetin dan nidurin aku. Maka dia ngomong melecehkan aku dengan bangganya dikira aku kesenengan dan kegatelan kali ya? Bayangkan seorang laki-laki bergelar master dari universitas ternama di Belanda kok pikirannya bisa kotor dan picik begitu? Dan dia bilang lagi dengan penuh percaya diri sambil cengengesan di Skype kalau aku nggak suka sama dia nggak mungkin katanya aku ngirim surat sponsor buat dia, berarti aku suka sama dia maka aku mau kirim surat sponsor. Aku langsung tutup Skypenya tanpa pamit lagi sama dia, bener-bener perutku mules mau muntah lihat muka dia di camera waktu ngomong di Skype.

Sesampainya di Belanda dia kontak aku lagi pake nomer Belanda katanya dia nginep di rumah temennya dan merasa nggak enak karena temannya seorang mahasiswa yang tinggal di kamar khusus student. Dia mohon nginep dua malam aja katanya sebelum dia kembali ke Indonesia. Aku tetap nggak mau nerima dia nginep di rumah. Dia masih mohon-mohon lagi dengan alasan kehabisan uang maka dia butuh nginep di tempat aku dua hari dan janji nggak bakal nakal. Dia bilang kalau aku baik dan harus ketemu dia yang baik juga. Tentu aku tolak mentah-mentah karena niat awalnya dia udah nggak baik dan masih ngaku kalau dia orang baik? Masa aku masih mau nerima dia nginep di rumah? Dalam hatiku dia kan datang ke Belanda harusnya bawa uang cukup dong, iya, kan? Dia juga bilang lagi katanya “Masa udah jauh-jauh datang ke Belanda aku nggak mau nemuin dia?”

“Lho, dia datang ke Belanda kan niatnya mau ketemu Profesor dan melamar kerjaan bukan untuk aku kan?” Aku jawab gitu ke dia.

Tapi aku bersyukur juga dia ngomong di telepon soal niatnya yang ngeres jadi aku bisa jaga diri sebelum menerima dia masuk ke dalam rumah. Coba seandainya dia nggak ngomong yang ngeres-ngeres di telepon pasti aku berfikir dia orang baik, berpendidikan, nggak tahunya mungkin aku diperkosa dia di dalam rumahku lalu dibunuh, tetangga dan anakku juga nggak bakal tahu wong di sini individu orangnya.

Yang namanya kejahatan sampai membunuh bukan hanya rampok aja tapi penjahat kelaminpun sama bahayanya dengan perampok. Sejak kejadian itu aku berjanji siapapun orang Indonesia atau bukan yang mau minta tolong aku untuk tinggal di rumah, aku nggak akan menerima orang asing yang aku nggak kenal padahal awalnya aku berniat baik kan menolong orang?

Penjahat Kelamin

Jadi kita harus hati-hati terhadap orang asing jangan mudah menerima walau dengan maksud baik sekalipun karena kita nggak tahu siapa dia sesungguhnya. Begitu aja cerita pengalamanku ketemu penjahat kelamin. Oh, iya aku kasih tau kenapa aku kok nggak ngeblockir dia di Facebook dan masih menerima telepon dia padahal dia sudah melecehkan aku. Alasannya karena aku seorang penulis aku ingin tahu sampai dimana kelakuan dia itu, maka aku masih ladenin dia lewat Facebook atau Skype hanya untuk menjadi bahan tulisanku aja jadi aku punya kisah kalau suatu saat aku akan masukan ke dalam bukuku begitu ceritanya.

 

About Audry Djayasupena

Dulu dikenal dengan nama La Rose Djayasupena, kemudian menggunakan nama Pingkan Djayasupena dan sekarang menjadi Audry Djayasupena. Tinggal di Negeri Kincir Angin. Pemikirannya yang ‘progresif’ terlihat dari artikel-artikel dan buku-bukunya. Sudah menerbitkan karyanya berupa beberapa buku, di antaranya yang cukup ‘sangar’ judulnya adalah “Bedroom Fantasy”.

My Facebook Arsip Artikel

21 Comments to "Penjahat Kelamin"

  1. Lani  6 May, 2014 at 08:31

    PINJAY : krn penjahat kelamin yg kau hadapi saking ke PD-an gitu menjijikkan bangeti……..gimana kamu siap2 bawa bakiak, sendal jepit tugel, panci blirik cap silit, dingklik………utk mbandem, nyawat, mbalang tuh sipenjahat biar kapok, ampe ampyun2…….benjot……..dan nyembah2 dengkul mu kkkkkkkkk…………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *