Break Free: Ketika Cinta Ditolak

Alfred Tuname

 

Ah kau ini, harus berapa kali cinta dikatakan kepadamu?

Jangan-jangan kau sedang phobia serentak bersama 230-an juta penduduk Indonesia yang sudah muak dengan pernyataan politisi. Memang para politisi sering ngumbar janji tapi tidak semua politisi seperti itu. Masih ada politisi yang punya integritas dan bermoral tinggi. Kau kenal Soekarno, bukan? Dia seorang politisi bergelar macan panggung yang memiliki integritas baik. Che Quevara-nya Indonesia. Begitu juga dengan Bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Gus Dur. Ternyata mereka juga negarawan. Pernyataan mereka adalah janji yang selalu mereka wujud nyatakan. Cita-cita mereka adalah cita-cita bangsa. Bangsa yang merdeka, bersatu dan berdaulat. Aku pun teringat akan J.L Austin, filsuf bahasa. Ada dua jenis uterrance, constative dan performative. Janji berkaitan dengan performative utterance. Bahwa janji berkaitan dengan future time. Doing things by means of words. Janji sesuai dengan daya prediksi si penutur. Sebab jika tidak, sebuah janji hanyalah bualan. Non sense. Susah juga jadi politisi, ya? Kalau tidak becus, berarti politisi busuk.

Sama susahnya juga dengan meraih impian atas cinta. Jatuh cinta memang mudah. Ada yang sering. Tapi susah untuk memetik cinta. Seakan memanjat pohon pinang sendirian. Tanpa bantuan. And as in the rolling door, she goes out as I enter. Tubuh terkujur kaku. Diam tak ada 1001 kata. Ia pergi tinggalkan bayangan. Bayang-bayang yang selalu memandanginya. Occuli ad videum. menunggu kalau-kalau kau balik melihatnya dalam tatapan yang lebih dalam. Caritas in occulo tuo. Seperti kisah Rahul dan Anjali dalam “Kuch Kuch Hotta Hai”. Atau Rangga dan Cinta dalam “Ada Apa Dengan Cinta” (AADC). Tapi kau terus berlalu pergi. Cepat. Cresendo cresendo. Makin lama makin cepat dan semakin cepat laksana badai tornado di California yang melululantahkan konstruksi cinta.

I have to go. Country road takes me home. Biarkan terdiam dalam rumah bapaku. Sepertinya tubuh lemah. Immuno deficiency. Tapi bukan syndrome. hanya lelah memikirkanmu.

Di kamar, tubuh terlentang. Mata melirik sebuah buku. Berjejer di antara scriptum Derrida, Hitler, Heidegger, Arendt, Laclau, Foucault, Bourdieu, Negri, Nietzche, Al Kitab, Marx, Freud, Sakharov, Lenin, Aristoteles, Hatta, Soekarno, Habermars, Russel, Gunawan Muhamad, Chairil, R. P. Dahana, Magunwijaya, Putu Wijaya, Boediono, Domar Guajaratti, Asrul Sani, V.S. Naipaul, Umberto Eco, Y. Piliang, Magis Suseno, Dhakidae dan Anton Bagul di atas rak buku. “The Love Secrets Of Don Juan” karya Tim Lott. ingin dibaca kembali. lembar pertama dibuka. Milik alfred tuname; jogja, april 2005. ada namaku tertulis di sisi atas lembar itu. Tole et lege! Ambil dan bacalah! Seperti sebuah memo kepada Santo Agustinus untuk membaca Holy Bible.

Adagium imperativum itu tertulis jelas di tengah lembar itu. Lembar kedua dibuka. Ada tertulis: ICRA!. Bibir tersenyum. Paguyupan saraf otak bekerja cepat. Ia membawa memori pada SMP Seminari Pius XII Kisol. Pelajaran Sejarah Islam di bawah pimpinan Romo Os Harjo, PR. Atas petunjuk bapak (bahasa Jawa, romo=bapak,) kami harus menghafalnya. Ya, begitulah sitem pendidikan kita. Satu arah. Murid harus menghafal. Warisan feodal, guru adalah penguasa lahan kelas nan serba tahu, sang allamah. Murid adalah wong jilik, petani penggarap yang harus lugu.

Gentong kosong yang harus diisi. Maaf, Harjo bukan Harian Jogja tapi nama yang sebenarnya. Maklum, pada umumnya, orang Manggarai tidak mengenal nama fam atau familia. Asal sesuai dengan kalender Katolik dan enak di telingga. Pada hal, nomen est omen. Tidak heran, ada inlander Manggarai yang namanya seperti wong Java, misalnya Bertus Priyono, Anto Darmawan dan Gusti Budiarto, Frans Perdono dan masih banyak lagi. Fenomena ini mungkin atas proses silang-sengkarutnya budaya Nusantara atas Sumpah Palapa, Gajah Mada pada masa kejayaan Majapahit di dibawah pemerintahan Hayam Wuruk. Maklum Indonesia adalah negara bhinekakultur. Oh iya, aku ngelantur. Icra berarti bacalah. Satu kata yang diucapkan malaikat pembawa berita, Gibrael, kepada Muhamad SAW di gua Hira.

Karya Tim Lott itu dilahap dalam sehari. I read it. Persetan dengan lapar dan haus. Buku lebih penting dari hidup. Love story yang malang. Selalu dan selalu gagal. Daniel Savage, seorang yang hidup penuh luka hati-korban cinta yang bhineka rupa. Daniel mulai regresi. Duc in altum. Bertolak labih ke dalam. Ia merasa kegagalannya bukan dari dirinya. Melainkan wanita. Menurutnya, wanita adalah sebuah mimpi buruk menakutkan, membuat tak seorang laki-laki pun mampu bangkit. kepala mengangguk-anguk. Sedikit agak ragu pada premature conclutio tersebut. Kepala terkoneksi pada tempus Plato dan Marcos. Keduanya pernah menulis tentang perempuan. Intinya, perempuan adalah makhluk kelas dua setelah keturunan Adam.

Aku memang bukan feminis, tapi tidak sepakat dengan mereka. Daniel, Plato dan Marcos. Mengapa citra sahabat Adam itu dimutilasi? Mutilasi lebih kejam daripada fitna, bukan? Katanya, sebelum Zaman Rasulullah Saw, orang Arab percaya bahwa ada tiga hal yang membawa bencana; rumah, wanita dan kuda. Credo ini berhadap-hadapan dengan credo kapitalisme modern bahwa yang membuat hidup ini terasa lebih hidup adalah wanita, harta dan tahta. Pantasan indeks sexual tourism year on year meningkat signifikan. Padahal regulasi perdagangan jasa dikendalikan World Trade Organization (WTO).

wajah perempuan itu, nera neho ntala, memantik rasa merindu. Ia manis. Sweet. Cantik. Molas. Sierlijk. Bevallig. Baik. goed. Gut. Humble. Ingetogen. Ayu. Lembak. Miu ate sare. mana mungkin kau sumber bencana? Sebenarnya, kau sumber inspirasi. Simbol kehidupan. Oase sahara dahaga. Lalu apa masalahnya? Cinta tak mesti mendarat pada lahan baik dan nyaman seperti bandara John F. Kennedy, USA. Kadang ia harus landing di lahan yang retak dan kritis seperti kebayakan bandara di negeri ini. Atau crash seperti Twin Otter menabrak puncak pegunungan Papua.

Jelasnya, semua berpangkal pada diri sendiri. Pribadi original yang bersemayam dalam diri. Tak perlu ada yang disalahkan. Tapi tak perlu juga cepat percaya. Trust no one. Lihat dunia dengan mata hati. Omong kosong dengan semua motivator. Omong kosong dengan semua kemapanan. Omong kosong dengan para elite. Omong kosong dengan para intelektual. Apalagi selebritis. Mereka hanya melihat dengan sudut kepentingannya sendiri. Diare verbal. Sampah visual. Cari aman. Ahistoris. Tipu-tapu. Tidak objektif. Menuduh orang lain bodoh. Mereka semua sedang bersandiwara. Menaikan posisi tawar untuk kalkulasi oiskos nomos-nya. Generasi kurawa. Nakula. Mari lepas landas. Bebas ketergantungan dari semua itu. Everything is possible. Jadilah diri sendiri. Sapere aude. Diri sendiri adalah pahlawan. Enyeh asher enyeh. Aku adalah aku. Aku adalah Tuhan.

Fatalisme? mengapa aku adalah Tuhan? Adakah aku hendak menjadi Salvator modern atau nabi palsu? Ternyata tidak. Aku adalah Tuhan hanyalah ekspresi mengagungkan Sang Super Inteligen. Bahwa aku adalah entitas yang kosong. Aku tidak ada. Sebab aku semata adalah milik Tuhan. Sebuah penyerahan diri pada kekosongan.

Dan ketika aku merasa mencintai berarti aku sedang berusaha mengosongkan diri. membuang egoku. Menempatkan segenap perhatian pada piala tanpa berhala. Namun, piala itu telah dicuri orang. Sekarang ia tak perawan lagi. Kau pergi saat lumbung rasa telah menumpuk. Belum kuserahkan kasih suci. Mungkin aku harus mendirikan candi untuk mentahtakan semua itu. Seperti Shah Jahan mendirikan Taz Mahal untuk istrinya tercinta, Muntaz Mahal, yang pergi meninggalkannya.

Jiwaku bergejolak. Sulit kuterima. Seluruh organ seakan berrevolusi menentang resistensi. Aku sedang berdendang; jiwa dan raga bersatu tak bisa dikalahkan. Banyak yang terlewat dalam hidupku. Retak. Retak. Retak. Harga yang harus dibayar. Aku mulai merasa seperti Doctor Zhivago yang face to face dengan revolusi Rusia. Kehancuran ekonomi dan sosial adalah harga yang harus dibayar dalam sebuah revolusi. Mungkin seperti Indonesia pada Mei 1998.

Tapi tak apa. Das ist keine problema. Kupinjam syair kompetitor Barack Obama, mantan tahanan perang di Vietnam, John McCain dalam pidato kekalahan; “i support you!” Dan kini Aku masih punya semangat. Masih punya harapan. Aku merdeka. Merdeka untuk apa pun. Pun dari dirimu. Bahkan aku ingin berpidato seperti Abraham Lincoln di Gettysburg, Pennsylvania, 19 November 1863 dan dengan tema pelantikan Barack Obama, 20 Januari 2009, “new birth of freedom”. Sialnya, aku hanya bisa mengendus-endus lagu Ambon; cikarkananfayakondioscarilaen. “very good very fine, no good cari lain”, kata Rm. Ichon Tanis, Pr. Ketika masih frater TOP.

 

Alfred Tuname, 12 juli 2009; jogja

 

4 Comments to "Break Free: Ketika Cinta Ditolak"

  1. anoew  6 May, 2014 at 18:25

    saya tak tertarik dengan politik ah… Namun, saya sangat tidak setuju dengan kutipan ini

    wanita adalah sebuah mimpi buruk menakutkan, membuat tak seorang laki-laki pun mampu bangkit.

    karena wanita itu justru membuat,

    kepala mengangguk-anguk.

  2. Alvina VB  30 April, 2014 at 02:33

    Inikah caranya si Alfred menolak cinta (utk berpolitik)?
    Sangat expressive sekale….

  3. J C  29 April, 2014 at 13:14

    Luar biasa memang Alfred Tuname, tentang politik pun bisa dikemas dengan gaya seperti ini…

  4. Lani  29 April, 2014 at 11:59

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.