Romantisme Bertuhan

Wesiati Setyaningsih

 

Saya tidak pernah memilih agama yang saya peluk karena tiba-tiba saja saya sudah jadi Muslim sejak lahir. Meski saya pernah berpikir, kenapa tiba-tiba saya dipaksa jadi muslim dan bukan ditanya saya maunya memilih apa, toh saya tidak berani bertanya. Bapak saya (alm) termasuk salah satu yang bersikeras bahwa beliau harus memeluk agama karena pilihannya sendiri sehingga beliau mempelajari banyak agama dan kepercayaan. Setelah sempat memeluk aliran kepercayaan, akhirnya beliau kembali pada agama semula, tapi kali terakhir itu dengan puas karena sudah memilih sendiri. Tidak lagi sebuah warisan yang dipaksakan. Saya sendiri tidak pernah bisa seberani itu.

Seiring perjalanan waktu, saya menerima banyak informasi baru dan saya termasuk salah satu orang yang tidak lagi ingin membuat garis yang tegas apalagi tembok tinggi berbentuk kotak di sekitar saya. Saya menerima paham apapun dan mempelajari apapun. Maka ketika orang sibuk bicara tentang betapa mulianya apa yang mereka yakini, saya justru berpikir bahwa tak ada salah satupun yang terbaik. Buat saya, semua itu hanyalah masalah selera. Orang lain bangga makan steak, saya tetap saja memilih gado-gado atau pecel. Ketika orang bertuhan karena ketakutan, saya bertuhan sebagai pilihan.

grunge-sky-background

Penelitian bisa saja mengatakan bahwa orang dengan intelegensia tinggi tidak akan mempercayai Tuhan, tapi saya tak terlalu peduli. Apa artinya intelegensia tinggi buat saya? Saya merasa sudah bukan masanya lagi kalau saya merasa lebih hebat dari orang lain. Semua manusia itu sama saja.

Dan lagi, saya tidak yakin kalau saya mampu untuk melepaskan diri dari romantisme ke-Tuhan-an. Buat saya Tuhan itu sebuah imajinasi yang menghibur, melegakan dan membuat saya bahagia. Ketika orang lain berpikir bahwa Tuhan menciptakan mereka, saya berpikir bahwa sayalah yang menciptakan Tuhan dalam benak saya.

Teman saya yang atheis mengatakan bahwa Tuhan itu hanyalah imajinasi saya. Saya justru berpikir justru itulah kenapa saya mencintaiNYA. Karena Dia dan saya, adalah sebuah kesatuan. DIA ada karena saya, dan saya ada karena DIA. Mungkin pemikiran ini tidak biasa, tapi saya berharap bahwa ini hanya dipahami atau kalau memang tak bisa, lebih baik dimaklumi, bukan dihakimi.

Ada lagi penelitian yang mengatakan bahwa negara-negara miskin adalah negara agamis. Entah kebetulan atau memang ada penjelasannya, yang jelas segera timbul berbagai analisa bahwa karena negara agamis maka orang-orangnya berpikiran sempit. Bisa jadi karena orang agamis itu intelegensianya rendah (dihubungkan dengan penelitian di atasnya), dan karena bodoh itu maka negara ini miskin.

Saya jadi mulai bertanya-tanya, apakah negara ini miskin karena hampir semua dari kami beragama? Butuh sebuah pejelasan yang panjang lebar, pasti. Tapi yang jelas negara ini miskin bukan karena saya semata-mata. Negara ini miskin karena kita tidak mau keluar dari kotak. Saya tidak mau membahas apakah kotak tegas itu berupa aturan agama atau bukan, karena saya ingin setiap dari kita merenungkan sendiri, apakah kita termasuk orang yang ada di dalam kotak atau bukan? Begitu banyak kotak dalam pikiran kita yang membuat negara ini tidak mau maju ke depan dan bahkan mundur beberapa langkah ke belakang, sebenarnya begitu. Apakah itu berhubungan dengan intelegensia dan keyakinan mereka terhadap agama, saya tidak tahu.

Saya memang menyadari betapa hebat mereka yang atheis karena mereka tidak membutuhkan imajinasi tentang Tuhan dalam hidup mereka. Mereka tidak pernah berdoa ketika mereka dalam sebuah kesulitan. Mereka tidak butuh berterima kasih pada siapapun karena yang menjadikan mereka berhasil hanya diri mereka sendiri. Mereka hidup benar-benar dengan kekuatan sendiri tanpa perlu bergantung pada APAPUN di luar diri mereka.

Tapi saya, pada satu titik, menyadari bahwa saya tak ingin melepaskan imajinasi saya tentang Tuhan. Saya mencintaiNYA. Saya mencintai imajinasi saya tentang DIA. Saya menyukai bahwa ada sebuah kekuatan yang maha dahsyat yang selalu melindungi saya. Saya merasakan sebuah romantisme ketika ada SESUATU tak terlihat yang selalu peduli pada saya. Dan lepas dari semua itu, saya adalah DIA dan DIA adalah saya. Buat saya semua ini bagaikan kisah cinta dalam dongeng yang berakhir indah.

Akhirnya, saya hanya ingin membiarkan penelitian-penelitian berkembang di mana-mana. Saya pernah membaca kalimat yang kurang lebih begini : terbukalah pada semua hal baru karena apa yang kamu yakini saat ini belum tentu kamu yakini esok hari. Seperti juga penelitian yang dulu mengatakan bahwa makan bayam banyak-banyak itu bagus untuk kesehatan hingga dibuatlah tokoh Popeye yang selalu makan bayam kalengan sebelum menyerang lawan. Ternyata sekarang penelitian mengatakan kebanyakan bayam menimbulkan sakit asam urat.

Jadi, saya tidak ingin terjebak dalam sebuah wacana yang dibuat siapapun. Saya punya pemikiran saya sendiri dan saya bahagia karenanya, itu saja. Saya tidak butuh menunjukkan pada siapapun bahwa apa yang saya yakini saat ini adalah paling benar dan paling hebat karena saya sudah cukup nyaman dengan apa yang saya yakini.

bertuhan1

Teman saya bilang, ketika kita berusaha meyakinkan orang lain tentang apa yang kita pahami, sebenarnya kita sedang meyakinkan diri sendiri bahwa saya ada di jalan yang benar. Saya rasa saya sudah tidak perlu meyakinkan siapa-siapa. Karena yang terpenting buat saya, ber-Tuhan itu romantis.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

19 Comments to "Romantisme Bertuhan"

  1. wesiati  12 May, 2014 at 12:24

    wah ternyata sudah pada kumpul di sini… mari tehnya diminum… hehe..

  2. Lani  11 May, 2014 at 09:54

    KANG JUWANDI : akhirnya mencungul jua disini………apakabar kang? suwe nemen le tapa brata, golek wangsit? jok lali meguru karo lurahe………..kkkkkk

  3. Juwandi ahmad  3 May, 2014 at 20:51

    “……Saya tidak ingin terjebak dalam sebuah wacana yang dibuat siapapun. Saya punya pemikiran saya sendiri dan saya bahagia karenanya, itu saja. Saya tidak butuh menunjukkan pada siapapun bahwa apa yang saya yakini saat ini adalah paling benar dan paling hebat karena saya sudah cukup nyaman dengan apa yang saya yakini…”

    Hemmm, itulah jalan yang tenang lagi menenangkan

  4. Juwandi ahmad  3 May, 2014 at 20:48

    “Saya tidak ingin terjebak dalam sebuah wacana yang dibuat siapapun. Saya punya pemikiran saya sendiri dan saya bahagia karenanya, itu saja. Saya tidak butuh menunjukkan pada siapapun bahwa apa yang saya yakini saat ini adalah paling benar dan paling hebat karena saya sudah cukup nyaman dengan apa yang saya yakini.”

    Heemmmm, dan itulah jalan yang tenang lagi menenangkan….

  5. Anwari Doel Arnowo  2 May, 2014 at 08:02

    Teman-teman di Baltyra sekalian. Saya juga setuju dengan inti sari tulisan ini. Begitu setujunya saya ingin mengulang usul saya yang telah lama telah kuno: Hapuskan saja Kementerian Agama. Negara, apalagi pemerintah, sama sekali tidak boleh ikut campur soal kepercayaan dan agama yang dipilih oleh masing-masing Rakyat Indonesia. Begitu kok undang-undangnya. Saya juga tidak boleh mencampuri soal ini terhadap orang lain siapapun, termasuk yang bukan orang Indonesia. Kalau ada pengertian yang tidak sama mengenai pengertian Tuhan, ya biarkan saja masing-masing. Sak karepmu, whatever you choose. It is a free world. Umur Planet Bumi sudah lebih dari 5 miliar tahun dan isinya 8 miliar manusia sekarang. Masih cari perbedaan? Nggak ada kerjaan apa? Yang namanya ibadah itu bukan cuma berdoa, tetapi juga bekerja mencari nafkah halal.
    Anwari Doel Arnowo – 2014-05-02

  6. phie  1 May, 2014 at 06:46

    Tepat seperti inti bacaan alkitab di minggu lalu bahwa: berbahagialah yg tidak melihat namun percaya. Setuju sekali mbakyu Wesi, juga komen mba Alvina. Ada kalanya kita menjauh tp suatu saat pasti kangen ingin ‘pulang’. Dan mencari kedamaian ada rasa yg tdk bisa digambarkan ketika menemukannya. Pernah ada rasa kecewa dan marah kok harapan yg diminta jenis A tp yg diberi jenis B, di kemudian hari menyadari tnyata A klo emang dikasi malah jalannya ga semulus B. Setelah itu belajar bersyukur trs dlm segala hal dan pasrah utk segalanya krn sudah ada yg mengatur toh…rasanya hidup lbh tenang dan mengalir begitu saja.

  7. ariffani  30 April, 2014 at 20:55

    setuju buanget sama tulisan bu Wes, saya percaya apa yang saya percayai,

    pokoke apapun agamanya, apapun kepercayaannya minumnya masih teh botol sosro,

    heheheheh….

  8. Lani  30 April, 2014 at 11:18

    LINDA : tosssssssssss!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *