Mahot – Flying Squad

Bayu Amde Winata

 

Mahot adalah para penunggang gajah. Istilah ini kemungkinan berasal dari bahasa India. Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, hubungan antara gajah dan manusia sudah terjalin sejak lama. Dapat dilihat dalam armada tentara gajah dari Raja Abrahah yang hendak memindahkan Ka’bah, dan juga armada perang tentara gajah dari kerajaan Persia.

MH 1

MH 2

Kisah penunggang gajah ini terus berkembang dari berbagai zaman dengan cerita yang berbeda. Saat ini, para mahot atau penunggang gajah berperan sebagai tentara terakhir dalam pengusiran gajah liar. Mereka dikenal dengan sebutan Flying Squad. Ada beberapa tempat di Riau yang menjadi camp flying squad ini. Salah satunya berada di desa Gondai, Kabupaten Pelalawan, Riau.  Anggota dari  flying squad Gondai ini  adalah anak-anak muda yang berdedikasi tinggi  menjaga gajah gajah liar untuk tetap di dalam alur imigrasi mereka. Hutan-hutan yang dahulu menjadi daerah imigrasi dari gajah telah berubah fungsi menjadi kawasan perkebunan, kawasan hutan industri. Akibatnya, konflik antara manusia dan gajah tidak bisa dihindari.

MH 3

MH 4

MH 5

MH 6

Hidup sebagai mahot berat. Mereka tidak mengenal libur dan bersenang-senang. Gajah-gajah yang mereka tunggangi adalah tanggung jawab mahot. Memberi makan, memberi vitamin, merantai gajah, dan memandikan adalah kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh mereka. Sekali mereka alpa, akibatnya berbahaya, bisa menyebabkan kematian akan gajah mereka atau gajah mereka kabur.

MH 7

MH 8

MH 9

MH 10

MH 11

Untuk mengantisipasi masuknya gajah liar ke perkampungan biasanya para mahot akan berpatroli. Hal ini dilakukan sekali seminggu. Luasan patroli mereka tergantung kesepakatan antara para mahot. Saat mereka patroli, satu gajah akan dipegang oleh dua mahot. Sudah biasa bagi mahot dan gajah mereka untuk tidur di hutan saat mereka melaksanakan patroli pengawasan.  Pada dasarnya, penunggang gajah adalah manusia biasa, jika gajah tidak masuk ke dalam kawasan, maka para mahot akan kembali menjadi manusia biasa. Hidup di dalam hutan bertemankan suara makhluk-makhluk hutan.

MH 12

MH 13

MH 14

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Mahot – Flying Squad"

  1. bayu winata  28 May, 2014 at 16:40

    Mba Dewi Aichi: hehehehe hayu mba, saya anterin ke teman2 saya ini.

    Mba Lani: Ratu Juliana sudah meninggal di Maret 2004 mba, sementara Pangeran Bernhard suaminya meninggal di bulan desember, di tahun yang sama.

    Mba Elnino: siap mbak..

  2. elnino  9 May, 2014 at 12:05

    Salut untuk para mahot yang mendedikasikan diri pada keksistensi para gajah sementara mereka sendiri harus hidup dalam kesunyian hutan…
    Lanjut ceritanya Bayu Winata

  3. Lani  9 May, 2014 at 12:01

    BW : Seingatku salah satu pelindung WWF adl suaminya alm. ratu Juliana dr neg Belanda. Aku yakin beliau sdh pensiun atau malah sdh meninggal ya? Mohon dipersori klu aku salah tulis……….

  4. Dewi Aichi  9 May, 2014 at 10:34

    Aku ingin mengenalmu Mahot….

  5. bayu winata  9 May, 2014 at 04:27

    Mas JC: terima kasih mas.. Semoga bisa terus memberikan kontribusi disini

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.