Feira Livre (Pasar Tradisional)

Dewi Aichi – Brazil

 

Feira livre artinya pasar bebas. Feira artinya pasar, livre artinya bebas. Bukan berarti bebas ngga mbayar ya he he…sebenarnya yang dimaksud adalah pasar tradisional. Mungkin di Brasil disebut feira livre dikarenakan hanya ada beberapa jam saja, itupun tidak setiap hari. Pasar kaget gitu kalau di Indonesia ya. Dan setiap tempat hanya ada satu kali dalam seminggu. Jadi masyarakat yang berada tidak jauh dari lokasi, selalu menunggu-nunggu hari di mana ada pasar kaget di situ.

Saya tidak akan menyebut dengan pasar kaget, tapi saya akan sebut dengan pasar tradisional saja. Sebab aktivitas yang ada menyerupai pasar tradisional di Indonesia. Demikian juga di Brasil, pasar tradisional mulai menggeliat pada saat fajar menyingsing. Kira-kira jam 4 pagi mulai didirikan tenda-tenda untuk memasarkan dagangannya.

Di lingkungan tempat tinggalku, pasar tradisional kebetulan diadakan pada hari Minggu. Ini merupakan pasar terbesar dibanding dengan lingkungan terdekat lainnya. Ada pasar tradisional hari Sabtu, kira-kira berjarak 2 km. dari tempat saya. Ada lagi pasar tradisonal hari Jum’at, berada kira-kira 5 km. dari tempat tinggalku. Jadi pasar yang ada di lingkungan tempat tinggalku, hanya membutuhkan 2 menit untuk mencapainya. Meski begitu, jika tidak ke pasar, hiruk pikuk keramaian pasar tidak akan terdengar, hanya tampak dari jendela dapur, sebab terhalang bangunan apartement yang besar.

Pasar tradisional ini menggunakan salah satu jalan utama, karena ini adalah kerjasama dengan pemerintah setempat, maka sudah ada ijin untuk menggunakan jalan utama sebagai kegiatan jual beli. Biasanya dimulai dari jam 4 pagi, hingga jam 1 siang saja. Setelah itu jalan akan dibuka kembali dan berfungsi sebagaimana mestinya.

feiralivre01

Dari pengamatan saya kualitas sayur mayur dan buah-buahan yang dijual di pasar tradisional jauh lebih baik dibandingkan barang yang berada di supermarket. Dan harganyapun lebih mahal di pasar tradisional. Bukan sebaliknya, pada umumnya barang di supermarket lebih mahal daripada di pasar tradisional. Ini bisa juga karena kualitas (membandingkan dengan di Indonesia).

Saya dan suami sepakat untuk belanja lebih pagi, lebih awal karena akan mendapatkan sayuran dan buah yang segar dan belum layu atau sisa-sisa. Memang harga lebih mahal. Jika belanja di jam-jam akhir, misalnya setelah jam 11 siang, maka harga bisa setengahnya, tetapi ya itu tadi, biasanya barang-barangnya sudah tidak bagus. Misalnya harga pisang sesisir atau biasanya 12 batang, kalau pagi harganya mencapai R$.4,00, kalau jam 12 siang bisa murah sekali, sekitar R$.1,20.

feiralivre02

feiralivre03

feiralivre04

Saya lebih suka belanja sayur mayur dan buah di pasar tradisional. Meski hanya seminggu sekali adanya. Biasanya kalau sebelum hari Minggu butuh sayur, ya beli secukupnya di supermarket. Belanja bulanan di supermarket hanya kebutuhan tahan lama, seperti produk-produk pembersih, sabun, shampoo, spagetti, tissue, minyak, margarine dan lain sebagainya yang semua itu tidak ada di pasar tradisional. Daging dan lauk pauk juga beli di tempat khusus yang namanya acougue (baca: asoge).Sebab saya kurang sreg beli di pasar tradisional, ngga apa-apa sih, hanya tidak terbiasa saja.

feiralivre05

Kecuali ikan dan udang, saya bisa beli di pasar tradisional. Lebih bagus barangnya dibanding yang di supermarket. Seperti hari ini, saya beli udang dan ikan, udang mahalnya minta ampun, juga ikan, fillet ikan yang namanya pescada branca, 7 files harganya R$.32,00.

Masyarakat biasanya ke pasar bukan bertujuan untuk belanja saja. Tetapi juga tempat untuk rileks, karena akan menemukan jajanan-jajanan tradisional, meski ngga banyak, tetapi mereka biasanya mengutamakan itu. Sarapan bukan lagi di rumah, tapi bersama-sama teman maupun keluarga, makan di pasar tradisional.

Yang paling sibuk biasanya tempat jualan pastel. Paling ramai dikunjungi sampai antri. Dan untung saja di pasar Minggu, ada beberapa tenda yang berjualan, karena memang pasar ini paling besar. Lain dengan yang buka pas weekday, biasanya hanya ada satu stand penjual pastel.

feiralivre06

feiralivre07

Wah ngga nyangka, saya bertemu dengan orang Tionghoa, tetapi lahir di Jakarta, dan bisa berbahasa Indonesia. Saya dikasih tau sama orang yang jualan kentang, karena suami saya akrab sama yang jualan kentang, dan bilang bahwa saya orang Indonesia. Lalu yang jualan kentang tiba-tiba menilpon seseorang, datanglah orang Tionghoa itu dan mengobrol sebentar sama saya. Dia sudah lama di Brasil, sebagai pedagang tas kresek. Maksud saya penyetor tas kresek pada pedagang-pedagang pasar tradisional.

Di pasar tradisional, buat saya adalah cuci mata, segar dan fresh melihat pemandangan yang ada di depan mata. Warna-warni buah-buahan, dan juga sayuran, teriakan-teriakan dari para pedagang menawarkan dagangannya.

feiralivre08

feiralivre09

feiralivre10

Ada juga beberapa orang yang menjual barang klithikan atau barang bekas, ada yang menerima jasa membenahi tutup panci jika misalnya rusak atau ilang sekrupnya dan lain-lain.

feiralivre11

Pasar tradisional ini merupakan budaya yang sudah ada sejak dulu, dan hingga hari ini tidak tergeser oleh adanya supermarket maupun hypermarket. Masyarakat tetap menunggu-nunggu hari dimana pasar tradisional ini diselenggarakan. Maka keberadaan pasar tradisional sudah diatur oleh pemerintah daerah setempat. Misalnya di wilayah kelurahan A, pasar tradisional diadakan hari Minggu, kelurahan B, diadakan hari Senin, kelurahan C diadakan hari Selasa, begitu seterusnya bergilir. Dan selalu menggunakan jalan raya untuk membuka pasar tradisional.

Bagaimana dengan pasar tradisional di Indonesia? Nah ini bedanya, pasar tradisional di Indonesia mempunyai lokasi yang tetap. Hanya saja hari pasaran yang berbeda. Kalau di kampung saya di Sleman, ada pasar tradisional yang bernama pasar Sleman, hari pasarannya adalah Pahing. Maka, masyarakat kampung saya mempunyai istilah keren jika hari pasaran tiba. Orang-orang biasanya akan berkata, “yuk, ke paingan!” atau “besok paingan lho!”.

Sayangnya, pasar tradisional sekarang sudah tersaingi oleh tumbuhnya pasar modern. Banyak di sekitar tempat tinggal masyarakat , adanya mini market, dan swalayan yang tentu saja praktis dan bersih.Di pasar tradisional, orang-orang mengadakan transaksi jual beli dengan kesepakatan harga. Orang-orang menjual hasil pertanian,hasil karya, olahan makanan, seperti jajanan pasar, orang-orang bertransaksi, tawar menawar harga, dan di sini terjadi pertemanan yang baik antara penjual dan pembeli. Mereka saling mengenal dengan baik.

Namun, begitulah kenyataannya, semua mengalami kemajuan. Inilah dilema antara pasar tradisional dan pasar modern. Tentunya saya berharap ada kebijakan pemerintah yang tidak memihak salah satunya.Kedekatan lokasi antara pasar tradisional dan pasar modern adalah persaingan yang tidak seimbang.

Kini masyarakat modern lebih memilih pasar modern, dibandingkan ke pasar tradisional, mungkin karena kenyamanan dan kemudahan. Sedangkan pasar tradisional masih dengan citranya yang bau, kumuh, kotor dan semrawut. Benarkah demikian?

Iseng memotret orang ini yang sedang mengantri beli pastel.

feiralivre12

 

Kurs USD 1,00 = R$.2,37

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

35 Comments to "Feira Livre (Pasar Tradisional)"

  1. Lani  6 May, 2014 at 09:55

    DA : jd sebagian buah2-an dr tropic import dr Malaysia? Apakah tdk dr Thailand atau Indonesia? krn menurutku utk export buah plg hebat adl Thailand baik seger/buah yg dikalengkan.

    Perkara buah2-an tropic di Hawaii mirip dgn di Indonesia, jd aku ora sampai kalap spt dirimu, alpukat saja jenisnya ada klu 200-an, pisang jg berbagai macam, mangga, jeruk, jambu jg berbagai macam jenis,pepaya ada 3 jenis, bahkan jabotikaba saja ada, aku malah liat duku bbrp hr yl, bahkan langsep……..

    Mmg sgt menyenangkan blasak-an, blusuk-an dipasar kaget spt ini, krn semua yg dijual segar, dan kebanyakan organic, hampir semuanya produk local itu yg aku liat di Hawaii lo ya, wlu harga kdg lbh mahal tp ya mau saja krn mmg bener2 segarrrrrr………

    Belanja dipasar kaget spt ini itung2 membantu petani local, dan duitnya balik ke local.
    Nah ada jg pasar spt ini cm sebulan sekali, dijalanan pakai tenda, tp tdk ada sayuran, buah2-an, kebanyakan craft/kerajinan. Ada makanana spt shaved ice, macadamia nuts dgn berbagai macam rasa, berondong jagung jg dibuat berbagai macam rasa dr manis, asin sampai pedes dan gurih.

  2. HennieTriana Oberst  6 May, 2014 at 09:01

    Dewi, aku suka sekali dengan keadaan pasar seperti ini.
    Apalagi pasarnya terlihat sangat bersih seperti tulisanmu ini.
    Buah-buahan dari Brazil banyak bertebaran di pasar Jerman. Walaupun buah mangganya beda. Tapi cukuplah mengobati kangen akan buah dari Indonesia. Syukurnya di Cina banyak buah mangga.

  3. Dewi Aichi  6 May, 2014 at 02:22

    Linda, untuk buah sebagian besar miriplah dengan di Indonesia, kalau pasar municipal, gilaaaa…lengkap banget, sampai histeris kemarin bisa nyicipin rambutan dan kedongdong..buah naga juga…

  4. Dewi Aichi  6 May, 2014 at 02:21

    mas JC, sepertinya sama saja ya, benar, kalau di tempatku justru hari Minggu yang paling ramai dan paling besar….barang serba ada, bahkan buah nangka saja hanya bisa ditemui di pasar hari minggu, lain itu tidak…hihihi…kok sama ya, di Belanda apa butuh juga barang klitik’an..

  5. Dewi Aichi  6 May, 2014 at 02:19

    Ariffani, kalau aku pas di Jogja, sering meluangkan waktu ke pasar pagi-pagi sama ibuku, biasanya mencari jajanan pasar, dan kadang aneka lauk pauk yang lezat, justru asli, tidak di resto yang kadang bumbunya kurang kuat.

  6. Dewi Aichi  6 May, 2014 at 02:17

    Alvina, iya , harga memang lebih mahal dibanding barang-barang yang di supermarket, untuk sayuran dan buah, biasanya aku belanja seminggu sekali, di pasar, karena tinggal jalan 5 menit, sambil refreshing..di akhir pekan. Untuk buah dan sayur bebas pestisida memang cirinya adalah cepat membusuk, juga kadang dalam sayuran ada bekas dimakan ulat, tapi memang justru itu yang sehat. Sedang menurut penelitian, ada beberapa jenis sayuran di Brasil yang kandungan pestisidanya tinggi yaitu, ketimun atau timun suri diperingkat pertama, lalu strawberry, tomat, kentang, brokoli, paprika.

  7. Dewi Aichi  6 May, 2014 at 02:13

    Pak DJ, saya ingat liputan pak DJ mengenai pasar tradisional di Jerman, kurang lebih sama ya…suka ngiler saja dengan aneka warna buah dan sayuran…jajanan tradisional juga banyak, yang tak akan bisa ditemui di resto maupun di mall..

  8. Dewi Aichi  6 May, 2014 at 02:12

    pak Handoko, ada dong…ada Solo paulo, ada Sao Serpong juga haha..

  9. Dewi Aichi  6 May, 2014 at 02:11

    Pak BJ hahahaha…betul, soalnya orang Brasil ngga bisa duduk bersila, maupun timpuh, jadi adanya mejaan, bukan angkringan..lesehan..

  10. Dewi Aichi  6 May, 2014 at 02:10

    Itsmi, jadi pasar tradisional di Belanda bisa bertahan karena adanya imigran ya? Di Belanda imigran mana yang paling besar jumlahnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.