Menikah atau Tidak Menikah?

Louisa Veronica Hartono (Nonik)

 

(Catatan penulis: Artikel ini murni berisi pendapat dan pengalaman pribadi saya, dan tidak dimaksudkan untuk menggurui atau mengubah perspektif siapapun tentang pernikahan. Sebaliknya, mari kita sama-sama berdiskusi dan bertukar pikiran tentang isu ini yang akan memperkaya wawasan kita lebih dalam lagi.)

 

Baru-baru ini saya membaca status teman di (lagi-lagi) Facebook, yang katanya bahwa salah satu alasan mengapa dirinya lama menjomblo adalah karena sulitnya mencari pasangan yang mau diajak hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Saya tergelitik membaca statusnya, dan saya tanya kenapa dia (terkesan) tidak mau menikah. Dia jawab, karena menurutnya menikah atau tidak menikah itu intinya sama saja, esensinya kan ada di kualitas pasangan. Lebih lanjut, dia sudah terkesan eneg alias mbludrek dengan motif-motif orang menikah, salah satunya adalah menikah karena anjuran agama. Dari apa yang saya simpulkan, sepertinya dia juga sudah eneg dengan stereotype peran pria dan wanita, terutama pria yang mendambakan wanita religius untuk menjadi istrinya dan bisa memberikan keturunan. Well, she is not into those two things. Malah kalau bisa dia gak ingin punya anak sekalian karena ngurus dan besarin anak itu repot, plus ngapain juga nambah-nambahin populasi dunia. Saya tertawa membaca komennya, dan jadi tergelitik untuk bikin artikel ini :p ¨

Prepared Not Unprepared

Sebagai permulaan, pemikiran dan perspektif saya akan banyak hal itu banyak berubah di Swiss, termasuk juga soal pernikahan. Dulu, saya masih mengikuti pemikiran mainstream, bahwa yang normal itu ya menikah. Kalau gak nikah, saru dan tabu. Apa kata tetangga? Hehehe. Memang saya juga menyaksikan sendiri beberapa pasangan yang memilih untuk kumpul kebo, tapi pikiran saya masih sempit waktu itu. Pokoknya yang benar itu menikah. Di luar pernikahan, salah semua.

Sampe suatu hari, kira-kira setelah tiga bulan di Swiss, sahabat saya yang orang bule bilang kalau dia gak akan menikah dengan pacarnya karena dia ga percaya dengan yang namanya pernikahan. Pertama kali dengar hal itu, saya kaget banget. Maklum lah…. Sudah belasan tahun besar dan tinggal di Indonesia, jadi saya masih dipengaruhi gaya dan pola pikir orang Indonesia. Jadi mendengar perkataan itu saya kayak dengar petir di siang bolong. Ternyata ada ya orang yang ga percaya dengan pernikahan? Wah, jelas ada. Malah semakin ke sini, saya semakin banyak ketemu dengan orang-orang ga mau married. Selain itu, orang-orang yang hidup bersama dengan pacarnya alias kumpul kebo juga banyak, malah ada yang tinggal bersama sampai punya anak, dan bagi mereka wajar-wajar saja.

Dihadapkan dengan semua itu, saya jelas kebingungan dan otak saya tidak bisa mencerna semua itu. Ada banyak pertanyaan di benak saya. Misalnya, saya tanya, lantas gimana kalian menjelaskan ke anak kalian soal status hubungan kalian??? Dijawabnya ya, jelaskan saja apa adanya, that we are your mommy and daddy, but we are not married. Yang paling penting, kami saling menyayangi dan yang jelas, we love you as our child. Dari hal ini, pikiran saya jadi terbuka. Saya tertantang untuk bisa lebih menerima perbedaan dan arti toleransi yang sesungguhnya. Setidaknya butuh waktu setahun untuk mencerna semua itu dan mengorek-ngorek isi hati saya sendiri. Saya jadi introspeksi, apakah saya masih percaya pada pernikahan? Jika ya, mengapa?

Percaya atau tidak, topik menikah atau tidak ini saya jadikan pilot research sendiri untuk mata kuliah Qualitative Research. Ini pasti menarik banget, karena semua teman saya itu sangat internasional dengan latar belakang dan budaya yang beragam. Pasti pikiran dan persepsi mereka tentang pernikahan beragam juga.Saya melakukan email interview ke semua teman-teman sekelas saya dan menanyakan dua research questions:

  1. Do you still believe in marriage?
  2. Why?

 

Wah, saya mendapat tanggapan yang beragam :D *happy*. Dari riset itu saya mendapat kesimpulan bahwa rata-rata teman-teman saya masih percaya pada pernikahan. Hanya dua orang saja yang menjawab TIDAK secara gamblang konsep pernikahan. Namun, 95% sisanya yang mengatakan masih percaya pada pernikahan pun juga dengan alasan yang berbeda-beda. Semuanya memberikan jawaban dan argumen yang kritis, bukan semata karena “anjuran agama” atau “ya karena memang harus begitu”. Justru lebih banyak yang said yes to marriage BUT with reservation daripada yang sekadar bilang ya kepada pernikahan. Ada yang setuju dengan konsep pernikahan secara sipil, ada yang setuju dengan konsep secara agama, ada yang setuju dua-duanya. Malah ada yang bilang, tanpa unsur catatan sipil atau upacara keagamaan, as long as I am with him or her, we are emotionally married ;)

Dan akhirnya, hasil riset saya itu yang saya presentasikan di kelas, mendapat nilai tertinggi loh *bangga” :D

Zaman sekarang ini, kebanyakan orang ga percaya dengan pernikahan karena fakta yang ada membuktikan, pernikahan itu bukan jaminan bahwa hubungan akan langgeng. Apalagi angka perceraian juga sudah tinggi. Sekarang sudah lumrah banget gonta-ganti pasangan, malah kalau tetap setia dengan orang yang sama rasanya kuno or kolot gitu hehehe. Plus, bombardir dari televisi dan media juga memberikan image bahwa para selebriti dan politikus terkenal saja juga kawin cerai, wajarlah. Atau mungkin akhirnya menikah, tapi saat pacaran tinggal bersama dulu untuk “menjajal kecocokan” bisa dibawa sampai ke pelaminan atau tidak. Banyak teman-teman saya yang sudah hidup serumah dengan si doi. Apakah saya tergoda? Jelas sekali. Pingin rasanya bebas tinggal bareng pacar, kalau bisa ga usah peduliin norma-norma di Indonesia lah…. Apalagi kata kaum ulama yang hidupnya terkesan saleh tapi korupsi atau pikirannya cuma dipenuhi urusan selangkangan hahaha…

Namun setelah saya menggali lebih dalam lagi tentang esensi pernikahan dan introspeksi ke diri saya, saya mendapati bahwa saya masih tetap percaya dengan pernikahan. Saya percaya bahwa keputusan untuk menikah adalah salah satu alasan terpenting dalam hidup seseorang. Masak menikah cuma buat dolanan, kan ya gak lucu. Bagi saya, pernikahan itu bukan hanya karena alasan agama (walaupun alasan dari Alkitab ini memang yang utama bagi saya, tapi saya sempat goncang dengan alasan ini), tapi karena pernikahan mengandung arti yang sangat dalam.

wedding-ring

Pernikahan adalah covenant. Covenant ini lebih dari sekadar promise alias janji biasa, agak bingung juga nerjemahinnya ke Bahasa Indonesia gimana. Melalui pernikahan, dua orang membuat janji untuk saling setia, dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, susah dan senang. Menurut saya, inilah yang membuat pernikahan itu sakral. Orang tentu gampang nempel dengan kita saat kondisi berjalan baik-baik saja, saat kita kaya dan hidup enak. Tapi apakah mereka masih mau stay close to us and remains faithful kala badai melanda, nah itu yang jadi tantangan. Pernikahan mempersatukan dan mengukuhkan hubungan itu. Karena itu pernikahan yang kandas di tengah jalan, atau karena kematian pasangan, terasa begitu menyakitkan. Gak heran kalau bahasa Jawanya untuk istri/suami itu garwa alias sigaraning nyawa, belahan jiwa. Kalau sang belahan jiwa pergi untuk selama-lamanya, berarti kita kehilangan separuh jiwa kita juga, dan itu rasanya menyakitkan.

Bagi saya, hidup bersama dengan seseorang tanpa ikatan pernikahan membawa rasa tidak aman dan tidak pasti. Ini adalah anggapan saya pribadi dan saya tidak berniat memaksakan pendapat ini ke orang lain. Toh banyak juga wanita yang hanya menginginkan hidup bersama tanpa pernikahan. Ya pilihan masing-masing orang lah :) Tapi bagi saya sebagai wanita, saya merasa digantung tanpa pernikahan. Hal itu akan membuat saya bertanya-tanya, sebenarnya kamu serius atau tidak? Mau dibawa kemana hubungan kita? (Cieee jadi kayak lagu).

Lah jangankan menikah atau gak menikah, di-HTSin (hubungan tanpa status) aja saya tidak sudi. Istilah kerennya, di-PHPin atau diberi harapan palsu. Saya pernah dibegituin dengan cowok di sini, akhirnya saya tinggal karena selama 4 bulan hubungan, dia ga jelas menyatakan intensinya. Bikin capek emosi dan waktu saja :( Btw, alasan teman saya yang ga percaya pernikahan itu, adalah karena cinta adalah unsur utama dalam hubungan. Ngapain saya harus menikahi dia pacar saya hanya hanya untuk membuktikan cinta saya? For me, it doesn’t make any sense. Mendengar jawaban itu, dalam hati saya berpikir, loh, justru saya ingin buktimu bahwa kamu sungguh-sungguh mencintai saya dengan menikahi saya. Kok jadi kebolak-balik gini.

pria-mau-menikah

Memang tidak disangkal, bahwa dengan menikah pun, masih banyak yang pasangan yang meninggalkan atau mengkhianati pasangannya di tengah jalan. Mungkin dari situlah muncul pemikiran, ngapain nikah? Emang nikah bisa njamin pasangan loe setia sampe mati? Enggak kan? Ya udahlah hidup bareng aja. Toh nikah ga nikah, sama-sama hidup bareng, senang susah juga bareng-bareng. Betul, menikah memang tidak bisa menjamin pasangan kita setia sampai mati. Tapi itu memberikan rasa aman bagi kedua belah pihak, apalagi buat pihak ceweknya. Lha kalau menikah saja tidak bisa menjamin pasangan setia, lantas apakah dengan tidak menikah itu bisa menjaminan bahwa si doi akan terus setia?

Bagi saya, ada semacam logical fallacy di sini. Hanya karena sesuatu yang esensinya/pada dasarnya baik berjalan/berakhir buruk pada praktiknya, tidak lantas menjadikan sesuatu itu buruk. Contoh: banyak orang meninggal karena kecelakaan mobil. Apakah itu berarti kita lalu meninggalkan mobil karena alat transportasi itu banyak merenggut jiwa? Enggak kan? Masih banyak orang yang tetap beli produknya. Demikian juga dengan pesawat. Masih segar dalam ingatan kita kasus Malaysian Airlines yang sampai sekarang masih jadi misteri dan tak diketahui rimbanya, apakah pesawat itu benar-benar hilang, dibajak dan dimusnahkan, atau malah digondol alien. Apakah itu membuat kita jadi takut naik pesawat? Kan enggak juga (tapi saya jadi was-was juga sih naik maskapai itu). Kita juga sudah tau perusahaan Freeport itu mengeruk kekayaan alam Indonesia secara tidak manusiawi, toh nyatanya masih banyak juga orang yang tergiur untuk daftar di sana. Jadi, saya juga masih tetap percaya pada sakralnya pernikahan meskipun saya tahu banyak perceraian dan poligami.

Sekarang, anggaplah saya mau hidup bersama dengan seseorang tanpa pernikahan. Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda, tapi buat saya sih, saya dengan hepi akan memilih pergi dan meninggalkan si doi kalau saya sudah ga sreg lagi dengannya. Kalau dia berubah jadi orang lain, kalau ada masalah berat, kalau doi kecelakaan dan jadi lumpuh, ngapain repot-repot saya tinggal terus di sisinya? Tinggal pergi saja, gampang. Apalagi jika ada lelaki lain yang mendekati dan lebih oke. Toh saya juga tidak terikat dengan pernikahan dengan dia. Ga harus ke pengadilan untuk ngurus cerai, ga ribet ngurus harta gono-gini. Tapi coba kalau skenarionya dibalik. Seandainya saya yang kecelakaan dan saya sangat bergantung dan membutuhkan doi untuk menolong saya, menjalani hidup dari sehari ke sehari. Doi jelas gamau direpotin dengan harus ngurus saya setiap saat. Dan karena kami telah sepakat untuk tidak menikah, itu berarti saya juga harus siap dengan konsekuensi bahwa doi tidak terikat dengan saya. Dengan kata lain, dia bebas untuk meninggalkan saya kapanpun. Saya tidak bisa menahan dia, toh juga tidak ada ikatan legal apapun di antara kami. Maukah saya mengalami hal itu?

Hmmm…. Saya tidak mau.

Dan saat itulah, saya sadar bahwa ada satu hal yang terdapat dalam pernikahan tapi tidak di institusi lain. Hal itu adalah komitmen. Saat merenung-renungkan hal ini, saya menyadari bahwa melalui pernikahanlah sisi keegoisan kita dikikis. Kita belajar satu hal utama dalam hidup: komitmen terhadap pasangan. Komitmen berarti mengatakan kepada pasangan kita bahwa kita akan selalu ada menemani dia, bersama dia, dalam suka dan duka, susah dan senang, sehat dan sakit.

Kebahagiaan ada untuk dilipatgandakan, dan kesedihan untuk ditanggung bersama. Komitmen menyentuh sisi kemanusiaan kita, bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang suka ditinggalkan, terutama di saat susah. Lewat pernikahan, komitmen itu diteguhkan, dan dilindungi secara hukum. Tanpa pernikahan, dua orang akan merasa tidak aman dalam hubungan mereka, karena perasaan was-was bahwa pihak yang satu akan meninggalkan. Commitment manifests is fullest form inside a marriage. Kita merasa aman dan terlindungi dalam pernikahan, meskipun dalam praktiknya, tidak ada pernikahan dan rumah tangga yang sempurna. It takes a lot of efforts and sacrifice to make marriage work. Alasan di ataslah yang membuat saya tetap percaya pada pernikahan.

Mengenai pendapat teman saya yang jengkel dengan faktor agama dalam pernikahan, yaaa itu bisa dimaklumi sih. Apapun agamanya, perceraian dan poligami tetap terjadi. KDRT juga tetap terjadi. Malah pasangan yang tidak menikah bisa hidup dengan tentram, anak-anak terurus dengan baik, dan hidup bersama hingga maut memisahkan. Jujur saya tidak punya komentar banyak akan hal itu, menurut saya sih ini tergantung pada kelakuan manusianya saja yang mengarungi bahtera rumah tangga itu. Cuma kadang kita menyalahkan pada tempat atau aktor yang tidak tepat, orangnya yang salah tapi pernikahannya yang disalahkan.

Saya setuju cinta adalah unsur utama dalam hubungan dua orang. Menikah tanpa ada rasa cinta juga berabe. Tapi emangnya kita bisa hidup dari cinta doang? No way lah yauw…. Justru cinta itu harus dibuktikan. Dengan apa? Well, menikah adalah salah satunya (bukan satu-satunya loh ya). Saya rasa argumen bahwa teman bule saya yang tidak percaya pada pernikahan tapi berani mengatasnamakan cinta, dengan alasan “saya-tidak-ingin-menikahimu-hanya-untuk-membuktikan-saya-mencintaimu”, nggak valid. Well, setidaknya buat saya. Kalau sampai pacar bilang begitu ke saya, wah njaluk dithuthuk ndhas-é…. Dan seperti saya tuliskan di atas, cinta saja tidak cukup. Harus ada komitmen, tanggung jawab, kerja keras, dan seribu unsur lainnya to make marriage work.

Yang indah dari cinta adalah saat kedua insan berani untuk melangkah lebih jauh dengan memutuskan untuk menikah dan membuat janji hidup. Dan ini gak gampang. Yeee emang ada yang bilang nikah gampang. Saya aja yang belum nikah bisa bilang gitu hahaha :p. (Maklum banyak belajar dari orang-orang lain).

Cinta itu indah saat salah satu pihak memutuskan untuk tetap setia kepada pihak satunya, sekalipun dalam kondisi sakit, duka, atau bangkrut.

Cinta itu indah saat keduanya bisa tumbuh bersama hingga tua dan saling percaya :D

Tanpa bermaksud menggurui, saya percaya agar pernikahan langgeng, pacaran sebagai proses seleksi pasangan itu penting untuk mengetahui kualitas bibit, bebet, dan bobot si doi. Saya masih ingat nasihat yang diberikan ke saya dulu, “Saat pacaran buka mata lebar-lebar, saat menikah tutup mata rapat-rapat” (tapi sekarang saya tutup satu mata aja #eh). Tapi saya tidak hendak membahas soal pacaran disini,

Jadi, menikah atau tidak? Masihkah Anda percaya dengan pernikahan? Jawabannya ada di dalam diri Anda masing-masing :)

Akhirnya, pengalaman-pengalaman kecil semacam inilah yang justru membuat saya bisa lebih menghargai orang yang berbeda pendapat dengan saya, dan membuat saya belajar untuk tidak langsung nge-judge orang secara negatif. Saya jadi belajar untuk tidak langsung mencap orang sebagai kafir dan perlu ditobatkan bila mereka memiliki pandangan yang berbeda dengan saya, bukan hanya soal agama tetapi juga soal tetek bengek begini seperti menikah atau tidak. Hehehe. Itu adalah keputusan masing-masing orang, pasti ada pertimbangan-pertimbangan tersendiri mengapa mereka memutuskan hal tersebut. Sama seperti kini saya bisa lebih menghargai orang atheis dan saya tetap theis. But this is another story to tell.

 

About Louisa Hartono

Nonik – cewek kelahiran Semarang dan besar di Purworejo. Setelah menamatkan studi masternya di Swiss, dia kembali ke Indonesia. Saat ini bekerja sebagai CSR Field Coordinator & Donor Liaison Officer di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Hobinya masih sama: jalan-jalan, membaca, dan belajar bahasa asing. Walaupun tulisannya banyak mengkritik Indonesia, tapi mimpi dan hatinya tetap bagi Indonesia. Suatu saat ingin bisa kerja di UNESCO sambil membawa nama Indonesia di kancah internasional, lalu pulang dan bikin perpustakaan dan learning center di Purworejo, kampung halamannya.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "Menikah atau Tidak Menikah?"

  1. YM Enief Adhara  10 May, 2014 at 07:27

    I don’t really believe in marriage, tapi juga bukan penganut sex bebas atau kumpul bolot

    Aq suka sendiri karena lebih bebad, soal mengasah diri agar tidak egois, aq banyak berada diantara orang orang dengan berbagai kepentingan

    Diluar rumah aq bersama siapa saja, dirumah aq bersama diriku sendiri

  2. anoew  6 May, 2014 at 19:19

    Menikah itu gampang kok. Kalau menurut orang jawa, syaratnya cuma dua alias namung kalih…, kalih sinten.

  3. Lani  6 May, 2014 at 08:40

    DA : aku manut karo pendptmu, hidup itu kan pilihan……….jd mo menikah/tdk menikah monggo dipasrahke masing2 individu sing arep nglakoni………perkara mau kumpul kebo, jaran, onta, dgn berbagai macam sebutannya ya monggo waelah……….asal tdk merugikan org lain……..ya to????? Dan yg nglakoni jg bahagia……seneng……..

  4. Dewi Aichi  6 May, 2014 at 02:25

    Memang semua kembali ke masing-masing individu, dan beberapa sudut pandang mengenai menikah juga bisa dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia tinggal, seperti di Eropa, dan Indonesia, tentu saja sangat berbeda anggapan soal menikah dan tidak menikah, atau hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Dalam hal pernikahan, saya sependapat dengan mas JC.

  5. J C  5 May, 2014 at 05:51

    Nonik, dalam perjalanan hidupku, aku dan istri memilih untuk menikah. Dalam banyak aspek seperti pemaparanmu sendiri, sepertinya menikah masih jauh lebih baik dibanding tidak menikah – dalam hal komitmen dan banyak hal lain. Entahlah jika kita tinggal di Eropa atau tempat lain dengan budaya berbeda, bisa jadi pemikiran dan persepsi kita pilihan menikah – tidak menikah bisa berbeda juga.

    Namun pemaparanmu dan pendapat serta analisa pribadi di artikel ini benar-benar mantaaappp…

  6. Nonik  4 May, 2014 at 20:52

    hehehee terima kasih banyak semua untuk tanggapan dan komentarnya

    @Om Dj dan Tante Lani: saya sependapat dengan pandangan kalian. Menikah itu emang sarana yang paling tepat untuk mengikis keegoisan kita dan belajar untuk lebih menempatkan kepentingan orla di atas kepentingan kita sendiri ya.

    @Pak Han: menurut saya, ada orang yang masih pacaran tapi benar2 sudah terikat secara emosi, sehingga kalau putus bisa sampe bunuh diri. Dalam hubungan pasti ada ikatan emosi selalu ada, tapi menurut saya saat pacaran dijaga, jangan sampe menjadi ketergantungan emosi….

    @Cik ndud: opo hubungane artikelku karo Mark Grungor?

    @Tante Linda: Iya tante, saya sudah pernah baca buku itu dan juga buku2 sejenisnya hehehe. Bagus2 pesan di dalamnya Kalau ada buku lain yang bagus, bagi2 info ya Tante hehehe ^^

  7. HennieTriana Oberst  4 May, 2014 at 14:01

    Nonik, bagus banget tulisanmu.
    Kalau aku pribadi masih mempercayai pernikahan.
    Tapi memang agak sulit membandingkan pasangan hidup bersama di negara seperti Jerman (yang bisa aku lihat sendiri) dengan pasangan hidup bersama seperti di Indonesia.

  8. Linda Cheang  4 May, 2014 at 11:49

    Nonik, pas sekali aku sedang baca buku The Sacred Search mengenai alasan mengapa seseorang sebaiknya menikah/rtidak menikah.

    Sepakat denganmu bahwa menikah itu merupakan covenant, ada perjanjian yang kudus yang diteken 2 orang untuk menjadi 1 kesartuan, maka mengapa masih banyak orang yang ingin menikah, ya, seperti satu paparanmu di atas/

    Makanya janii pernikahan itu nggak main-main, untuk bersama selalu dalam segala kjeadaan termasuk, keadaan yang tidak menyenangkan.

    Aku sendiri, masih ingin menikah, dan sekarang persoalannya adalah bukan sebatas asal suka sama suka lau menikah tetapi jauh lebih daripada itu. Aku ingin kelak setelah selesai mengucap janji pernikahan dan setelah sekian tahun mengarungi pernikahan, aku bisa mendapatkan air mata bahagia karena pernikahan yang bahagia tentunya, daripada tangis penderitaan karena pasangan yang berubah setelah menikah

    JIka Nonik sempat menemukannya, The Sacred Search bagus sebagai bahan masukan sebelum memutuskan menikah. Temukan bedanya pengertian Soul Mate dengan Sole Mate dan sejatinya pernikahan yang bahagia itu yang Sole Mate

  9. Alvina VB  4 May, 2014 at 01:38

    Garis besarnya org mau menikah/ gak itu ya soal COMMITMENT and RESPECT utk pasangan hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.