Shopping Experiences With SLB Bina Bangsa – Sepanjang

Yang Mulia Enief Adhara

 

Hari ini jam 6.40 Am aku sudah ada di Warung Kopi di kawasan Sepanjang yang nampak lengang. Don’t judge me kurang kerjaan yuaa?! Sepagi ini sudah duduk manis sambil ngopi bukanlah hal baru bagiku, aku beberapa kali duduk di sini saat ada acara di kawasan Sepanjang, biasanya sih nunggu Thomas, secara rumah dia di sekitar sini.

Nah hari ini aku ke SLB Bina Bangsa untuk menyampaikan ‘titipan’ dari seorang teman. Dan kebetulan hari ini ada Shopping Experience hasil kerja sama antara Alfa Midi dan SLB Bina Bangsa. Tiap Siswa mendapat voucher senilai IDR 10.000, kemudian dibelanjakan sesuai kemauan anak-anak. Semua siswa mendapat bagian yang sama SD hingga SMU semua sama rata.

Aku masih ngobrol dengan Kepala Sekolah, Ibu Laila di Ruang Guru, aku merasa bahagia bisa dipercaya teman-teman untuk menyampaikan amanat ke SLB Bina Bangsa sambil menunggu jam 8.00 Am.

Sementara itu Guru-Guru berada di kelas masing-masing, rencananya jam 8.00 Am bel akan dibunyikan tanda siswa harus berkumpul dan berbaris di halaman Sekolah untuk kemudian menuju Alfa Midi yang tidak jauh dari Sekolahan.

Dan akhirnya rombongan bergerak, jarak tempuh sekitar 250 meter harus melalui Jalan Raya yang cukup sibuk. Rombongan terus didampingi Guru-Guru yang dengan sabar memantau barisan.

SLB-BinaBangsa01

Aku melihat, berurusan dengan anak-anak SLB seperti ini memang hanya ada satu syarat mutlak, yaitu hati yang besar yang tentunya menebar cinta yang juga besar. Kalau kita hanya ‘sok baik’ jelaslah di sini semua akan terbuka aslinya, silahkan bayangkan, anak-anak ini ‘meminta’ perhatian tiap saat dan selalu, namun tak ada wajah marah dari para Guru pembimbing, hanya senyuman penuh ketulusan yang aku lihat.

SLB-BinaBangsa02

Aku melihat anak-anak ini juga tetap didampingi keluarga yang mengantar mereka ke sekolah, Ya Allah, sangat penuh cinta. Saat berjalan entah Ibu, Kakek, Nenek atau Kakak dengan sabar menggandeng, memeluk dan banyak bahasa kasih lainnya.

SLB-BinaBangsa03

I couldn’t help but I wonder, mengapa sangat banyak keluarga ‘normal’ yang justru banyak kehilangan cintanya? Kenapa rasa untuk saling memiliki bisa hilang? Terkikis oleh laju kehidupan dan beban kebutuhan hidup atau rasa curiga yang akhirnya justru menyesatkan pandangan? Yang ada di depan mataku ini bukan orang-orang kaya yang mungkin sehari-hari hanya hidup secukupnya namun mereka tetap menjadi keluarga yang terus saling memeluk saling mencintai tanpa ada jari telunjuk mengacung.

I just did! Aku sering menunjuk walau mungkin orang itu yang memulainya tapi harusnya aku tidak melakukan hal yang sama. Itu suatu kerusakan yang harus aku perbaiki, berawal dari diriku sendiri tanpa memaksa orang lain untuk ikut berubah, biar saja mereka belajar sendiri.

Mengurus anak-anak SLB tidak sama seperti saat kita mengurus anak-anak normal yang lucu, bersih dan mudah diatur. anak-anak ini umumnya anak-anak yang tidak mampu dan memiliki kelainan, terutama yang Kelas C, mereka harus diseka wajahnya, diawasi agar tidak lari ke jalan besar, tidak merajuk, tidak bertengkar dan sebagainya. Yang kelas B lebih mudah tenang walau namanya anak-anak ya tetap saja melenceng kalau tidak diawasi.

SLB-BinaBangsa04

Tapi jangan pikir mereka anak-anak yang menjijikkan dan tidak lucu, mereka juga manusia, mereka juga bisa tampil bersih selama kita tulus memperhatikan mereka dan segera melakukan tindakan yang diperlukan. Dan polah mereka sejatinya lucu, buktinya aku bolak balik tersenyum, misalkan saat mereka minta difoto, mencolek aku berkali-kali. Itu lah tandanya aku sudah mulai diterima, sudah dikenal. Anak-anak ini tidak akan mau disentuh atau diajak bicara oleh orang tidak dikenal.

Selagi kita berjalan menuju TKP tentu kami harus menyetop kendaraan dan ada kejadian lucu, salah satu anak SD dari kelas C mencolekku seolah dia memberi tahu di belakangku banyak kendaraan, mungkin dia mau bilang “Hati-hati nanti ketabrak”.

SLB-BinaBangsa05

Anak-anak ini bisa mendadak tiba-tiba mood-nya jelek, maka Guru atau pendamping akan segera menghiburnya agar anak itu kembali mengikuti aktivitas. Kita tidak bisa asal bicara, sampai urat leher putus mereka tidak akan paham, bahasa isyarat dan bahasa cinta tetap akan menjadi alat komunikasi yang tak boleh kita lupa.

SLB-BinaBangsa06

Rombongan tiba di depan Alfa Midi dan disambut dengan hangat oleh Om Pay selaku Supervisor dan Om Ikhsan selaku Marketing. Pegawai Alfa Midi juga langsung berhamburan keluar menyambut rombongan, wajah-wajah penuh senyum pagi itu meyakinkanku bahwa banyak kebaikan yang hadir, masih banyak harapan yang datang.

SLB-BinaBangsa07

Hidup ini bergantung bagaimana cara kita menyikapi, kalau dibawa ribet dan kalut ya percuma aja punya Agama, semua ada masanya dan itu atas kehendak-NYA. Sorry bukan sok alim tapi aku belajar dan belajar dari apa yang aku alami selama ini, hati kalut bukanlah solusi.

Anak-anak ini sudah sulit dikatakan berbaris, semua bergerak dan sekali lagi Guru-Guru tetap sabar, hingga anak-anak dipersilahkan masuk dalam dua kelompok.  Semua mau membawa tas belanjaan dan aku koq sempet keluar airmata sih? Bodo amat mau dikata lebay atau acting, manggokir!!! Aku selalu tersentuh hal-hal seperti ini, always!

SLB-BinaBangsa08

Bayangkan saja anak-anak ini hanya dapat voucher IDR 10.000! Namun keceriaan mereka seperti mau belanja puluhan bahkan ratusan ribu. Masya Allah! Kadang aku merasa duit IDR 100.000 dapat apaan? Dan anak-anak itu menjawab secara tidak langsung bahwa berapapun akan mendapat kebahagiaan bila mampu mensyukurinya.

SLB-BinaBangsa09

Sejujurnya kadang aku hidup dalam kekhawatiran, bertanya tanya gimana hidupku besok? Maaf aku menulis ini sambil menangis! Dicangkrukan dan di pinggiran jalan. Biar saja seperti orang tolol coz lebih tolol kalau tidak mau jujur. Hal buruk salah satunya saat kita hidup dalam kekhawatiran.

SLB-BinaBangsa10

Di dalam Alfa Midi anak-anak SLB Bina Bangsa heboh memilih aneka jajanan. Ada yang mau ice cream, ada yang mau susu dan banyak lagi. Dan mereka asal comot, pendamping tak bosan mengingatkan bahwa barang itu terlalu mahal tapi namanya bocah ya tetep saja mereka masukan dalam keranjang.

SLB-BinaBangsa11

Acara belanja nan heboh menjadi seni tersendiri, para Pegawai Alfa Midi nampak antusias dan penuh senyum, beberapa dari mereka asyik berfoto dengan anak-anak yang lugu dan sibuk menenteng belanjaannya.

SLB-BinaBangsa12

Setelah dirasa cukup mereka kini mengantri dengan tertib di kasir. Tentu apa yang dimasukkan dalam keranjang tiap anak akan disortir agar harganya tidak melampaui IDR 10.000 atau boleh lebih bila pendamping anak itu memang akan membayar lebihnya.

SLB-BinaBangsa13

Sementara rombongan kedua yaitu sisa anak SD dan anak-anak SMP juga SMA mulai dibagikan keranjang dan segera berbelanja. Satu yang aku lihat anak-anak ini tertib dalam arti tidak lepas kendali. Mereka hanya tertuju dengan belanjaan yang sifatnya bisa dimakan. Tidak merusak apalagi mengacau.

SLB-BinaBangsa14

Acara belanja sekitar 1,5 jam ini sangat membahagiakan hati. Semoga aku suatu hari bisa menyalurkan dana untuk acara serupa, sangatlah berarti bagi mereka, sangat!

SLB-BinaBangsa15

Ada seorang anak dari kelas C yang bertubuh besar dengan cueknya dia duduk di depan pintu masuk yang dibuka lebar, AC tepat di atas pintu yang menghembus dengan kencang sangat disukai olehnya, bahkan acara duduk itu berlanjut dengan tidur terlentang tak peduli orang yang lalu lalang.

SLB-BinaBangsa16

Ada juga kerusuhan kecil saat terjadi pertengkaran antara dua anak lalu ada satu anak pengidap Autis yang menangis sambil sesekali berteriak dan menutupi telinganya, suasana ramai dan terlalu lama membuatnya stress.

SLB-BinaBangsa17

Sebagian besar yang lain duduk manis di teras sambil makan Ice Cream dan belanjaan mereka tadi. Wajah-wajah jujur dan polos itu nampak sangat menikmati acara Shopping Experiences yang pagi itu menjadi salah satu lembaran kebahagiaan mereka, beberapa dari mereka asyik mengobrol dengan bahasa Isyarat. Bu Wahyu, Bu Yuni, Bu Khusnul, Bu Umi, Bu Nisa, Bu Sol, Bu Sofi, Bu Nanik, Neneng, Bu Laila, Bu Mimin, Pak Andre, Pak Pardi, Pak Rahman dan sebagainya nampak tersenyum puas melihat anak-anak sudah mendapat bagiannya masing-masing dan acara berjalan lancar tanpa ada kendala.

SLB-BinaBangsa18

Menjelang pamit, pihak Alfa Midi pun memberikan balon yang nantinya akan dibagikan setiba di Sekolah, aku lihat wajah anak-anak nampak ceria dan penuh semangat.

SLB-BinaBangsa19

Aku melihat semua itu turut merasa bahagia, apa jadinya anak-anak itu bila sederet nama yang aku sebutkan di atas lebih memilih uang? Mereka berada di sini bukan karena tak ada pilihan namun panggilan hati yang membawa mereka ke sini. Do small thing with great love, berbagi tak harus dengan uang walau dengan uang banyak hal-hal menyentuh bisa diwujudkan.

Dalam hidup ini, berbagi kepada sesama memberi jiwa rasa damai. Berbagi dengan tulus tanpa pamrih memberikan perasaan sukacita. Hargai apapun yang kamu miliki, namun jangan biarkan yang tak berarti membuatmu kehilangan sesuatu yang berarti. Berbagilah kemanapun kamu pergi, jangan biarkan seorangpun yang datang kepadamu pergi tanpa perasaan yang lebih baik dan bahagia. Keutamaan berbagi dan memberi bukan kepada mereka yang dicintai, tetapi berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

SLB-BinaBangsa20

Aku teringat beberapa orang yang setelah catatanku tentang anak-anak SLB Bina Bangsa tayang, langsung ingin ikut berbagi dengan turut mengirimkan sejumlah dana untuk diserahkan ke pihak sekolah, hanya Allah yang bisa membalasnya namun andai kalian ada di sini, kalian pasti akan turut berbahagia betapa yang sedikit itu sangat besar artinya.

Hari ini aku belajar, banyak sisi yang kadang aku lupa tiba-tiba muncul lagi dan ini blessing in disguise for me. Ah semoga kalian yang membaca kisah petualanganku kali ini bisa memetik hal-hal positif. Berbagi itu indah dan tidak selalu bicara angka, just do it tanpa harapan imbalan, apa yang kita tabur kelak akan kita tuai.

SLB-BinaBangsa21

Sekali lagi aku sempat keluar airmata dan aku mengulangi airmata yang sama saat menuliskan kisah ini, biar saja mereka yang menilai ini drama reality show ala YM Enief Adhara coz itu artinya mereka tidak benar-benar tau siapa aku sebenarnya dan lebih mengerikan lagi adalah mereka jelas memiliki hati yang sempit hingga tak pernah mampu merasakan tentang kejadian menyentuh yang ada di sekitar dirinya, Only do what your heart tells you , jangan menjadi bagian mereka yang saat tersentuh selalu mengeluarkan sapu tangannya terlebih dahulu dibanding dompetnya …..

SLB-BinaBangsa22

 

15 Comments to "Shopping Experiences With SLB Bina Bangsa – Sepanjang"

  1. YM Enief Adhara  7 May, 2014 at 23:54

    Mbak Nonik :
    Betul sekali, kadang kita tanpa sadar seperti selalu kurang ini itu dan kehadiran anak anak seperti ini bagai cambuk yang membuat kita lebih mampu bersyukur ya

    SLB A adalah buta, SLB B adalah bisu tuli dan SLB C adalah idiot dan cacat fisik. Dalam kenyataannya ada cacat ganda yaitu sekaligus mengidap cacat A dan B atau A dan C atau B dan C dst

    Pak Handoko :
    Kita memang harus mulai terbuka untuk peduli anak, kasus kriminal beberapa bulan terakhir ini harus ditumpas dari bumi Pertiwi

    Bersama anak SLB merupakan pengalaman baru yang emotional bagiku

    Ariffani :
    Yaaa kita tersentuh dan pasti tersentuh melihat anak anak seperti ini, kadang aq geram kenapa pejabat sibuk korupsi dan mengabaikan anak anak Indonesia yang kurang beruntung

  2. YM Enief Adhara  7 May, 2014 at 23:43

    Ko JC :
    Memang disekitar kita ternyata banyak orang yang hidupnya masih serba pas pasan cenderung kekurangan, semoga kita semua selalu bersedia berbagi dengan mereka dilingkungan masing – masing ya Ko. Semoga SLB ini suatu hari nanti bisa lebih maju dan mandiri

    Pak DJ :
    Ada satu anak yang dibuang orang tuanya karena cacat dengan kaki dan tangan pendek. Dia pandai melukis tapi dengan kaki yang pendek, tangan konontidak berfungsi.

    Dia dipelihara Kakek Neneknya yang hidup pas – pasan. Berhubung anak ini makin gemuk dan kakek Neneknya makin tua, jadi nggak kuat gendong dari rumah ke angkot dan dari angkot ke sekolah. Solusinya langganan ojek tapii ya itu tadi Pak, ndak ada budget jadi anak itu cuma dirumah

    Di INA memang orang cacat dan anak miskin kurang dijamin negara, beda sama LN ya

    Semoga aq selalu amanat saat dipercaya para donatur yang semuanya silent, tidak mau disebut namanya. Coming soon aq akan buat catatan tentang kegiatan yang sarananya didapat dari para donatur Pak, doa-kan semua lancar ya

    Mbak Lani :
    Iyaaa betul, tingkah mereka kocak, ada saja ulahnya yang lucu. Salah satu anak C saat disuruh bicara ‘Alfa Midi’ ngucapnya nggak keruan dan memang lucu, anak itu malah ikut tertawa dikira itu bagian perintah Hahaha

    Mbak Alvina :
    Iyaaa Mbak kebetulan aq tergugah membuat kisah saat bersama anak anak ini, kebetulan SLB ini satu satunya yang tidak memungut bayaran, tiap semester Yayasan ini mendapat bantuan dana BOS

    Sedih juga saat melihat anak anak yang disia siakan orang tuanya ya … so sad

  3. ariffani  7 May, 2014 at 09:12

    saya jadi ingat , tahun kemarin mengunjungi budhe saya yang di balikpapan, yang kebetulan juga mengajar di SLB, memang bener apa yang mas Enief rasa, soalnya saya juga mewek lihat mereka yang begitu antusias belajar , dan saat mereka bertemu dengan org baru, mereka juga pandai bercerita saat saya mengajak mengobrol,,,

    terimakasih mas Enief…

  4. Handoko Widagdo  7 May, 2014 at 06:35

    Satu lagi warga Baltyra yang peduli pendidikan. Mbak Wiwit Arianti itu ahlinya sekolah inklusi lho.

  5. Nonik  7 May, 2014 at 03:47

    Kadang kala kesediaan untuk bekerja dg yang kurang beruntung (misal dg jadi sukarelawan) mengajarkan & mengingatkan kita kembali bahwa masih banyak yg berada di bawah kita dan masih banyak yang kita miliki. Juga saat kita merasa beban hidup ini terlalu berat, kadang kita ga sadar bahwa ada banyak ratusan, ribuan orang yang bersedia untuk tukar masalah dengan kita….

    Btw, bedanya SLB A, B, dan C itu apa ya Mas Enief?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.