[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Memeluk Bayangmu

Liana Safitri

 

LYDIA menangis hingga kehabisan tenaga, Franklin menggendongnya ke kamar. Dokter menyuntikkan obat penenang dan membuatnya tertidur. Kalau bisa mungkin Lydia memilih untuk tidur selamanya. Tapi Lydia masih bisa membuka mata, melihat kenyataan menyakitkan bahwa Tian Ya tidak lagi dapat ditemui di dunia ini. Ia meringkuk di tempat tidur dan menangis lagi, tanpa bisa berhenti. Franklin yang tidak pernah meninggalkan Lydia karena takut gadis itu kembali mencoba bunuh diri, merasa sedih sekaligus bingung. Franklin benci karena tak mampu berbuat apa-apa untuk mengurangi penderitaan Lydia. Dalam ketidakberdayaan yang membuatnya marah, Franklin menarik Lydia dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat, lalu berbisik, “Jangan lupa, kau masih punya aku…”

shadow

Tiga hari kemudian Lydia terserang demam dan mengigau memanggil-manggil Tian Ya. Di tengah malam ponsel Lydia berbunyi memperdengarkan nada dering lagu Tong Hua. Lydia lalu terbangun dan menirukan lagu itu. Franklin baru keluar dari kamar mandi, heran melihat Lydia bukannya mengangkat telepon tapi malah bernyanyi. Setelah tidak mau bicara selama berhari-hari, akhirnya Lydia bersuara, menyanyikan lagu yang tidak dimengerti Franklin. Dan ketika tidak sedang bernyanyi, kata-katanya menjadi kalimat tanpa makna. Bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa Mandarin. Kadang-kadang ia asyik sendiri, tidak sadar jika ada orang lain di dekatnya. Menurut dokter, sakit Lydia sekarang tak lagi berhubungan dengan fisik, melainkan jiwa.

Pak Yudha murka karena Lydia pulang dalam keadaan “tidak sadar”. Beberapa hari kemudian terjadi pertengkaran hebat antara Pak Yudha dengan Franklin.

“Aku menyuruhmu memasukkan Lydia ke rumah sakit jiwa!”

“Tidak Ayah! Aku tidak mungkin meninggalkan Lydia di tempat itu!”

“Lalu apa kau akan menjaga Lydia selama dua puluh empat jam dan? Sampai kapan kita bisa menyembunyikan keadaan Lydia? Saat ia kabur bersama orang Taiwan itu, kita berusaha menutup-nutupi, tapi akhirnya ketahuan juga! Kita akan mendapat malu!”

“Bagaimana kau bisa membuang anakmu sendiri?” Franklin berkata tidak percaya.

“Aku tidak membuangnya! Jangan tolol Franklin, ini demi kebaikan Lydia sendiri! Kalau kau tak mau biar aku yang membawanya!”

“Tak akan kubiarkan Ayah membawanya pergi!”

Franklin berjalan tanpa tenaga dan berhenti di depan kamar Lydia. Ia melihat Lydia sedang mengacak-acak koran bekas. Lembaran halaman berserakan di lantai, di tempat tidur, di meja, di kursi… Kamarnya jadi mirip kapal pecah. Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Sejak hilang ingatan, kehidupan Lydia menjadi tidak teratur. Ia sering tidak tidur semalaman, lalu tidur dari pagi sampai sore. Langit gelap dan terang tak ada bedanya, seperti sekarang.

Kau begitu rapuh dan tidak berdaya. Aku ingin menjagamu, tapi orang-orang berniat menjauhkanmu dariku. Apa yang harus aku lakukan? Membiarkanmu dibawa pergi, ataukah aku yang membawamu pergi lebih dulu, seperti yang pernah dilakukan Tian Ya?

Franklin memang membawa Lydia ke rumah sakit jiwa, tapi hanya untuk memeriksakan keadaannya dan meminta obat pada dokter. Sekalipun dokter menyarankan agar Lydia tinggal sementara di sana, Franklin menolak.Bu Yudha sama dengan Franklin.“Kau harus membawa Lydia pergi, Franklin! Tidak peduli ke mana, yang penting jangan sampai Lydia harus hidup di rumah sakit jiwa! Ayahmu sangat keras hati, tapi kalau harus meninggalkan Lydia di rumah sakit jiwa aku tak setuju! Apa pun alasannya!”

“Bu… Kau tahu pasti aku tak mungkin membiarkan Lydia tinggal di sana. Bagaimana pun, akan lebih baik jika Lydia berada di samping orang-orang yang menyayanginya… Lagi pula…” Franklin terdiam dan ia menambahkan, “Aku suaminya…”

Meski bukan dalam arti sesungguhnya…

Bu Yudha berdiri dan berkata panik, “Aku akan membeli beberapa keperluan! Kau… cepatlah kemasi baju-bajumu! Malam ini ayahmu akan pergi, mungkin selama dua jam! Kalian harus menggunakan kesempatan ini baik-baik!”

Franklin memandang Bu Yudha dengan khawatir, “Bagaimana dengan Ibu?”

“Tidak usah pedulikan aku! Akan kukatakan kalau kau membawa Lydia ke rumah sakit jiwa seperti apa yang dia inginkan! Jadi kalau kau tidak pulang aku pura-pura tidak tahu saja!”

“Kalau kami sudah menemukan tempat tinggal baru, aku akan memberitahukan alamatnya pada Ibu!”

“Cepatlah kau berkemas, jangan buang-buang waktu!” Bu Yudha mendorong Franklin.    

Malam itu Franklin membongkar lemari dan laci Lydia, mengeluarkan semua isinya. Saat memilah-milah, ia menemukan banyak benda-benda koleksi Lydia dari kecil. Kertas surat, buku diari, foto, stiker, kertas ulangan, dan kumpulan karangan. Sebagian kertasnya sudah berwarna kekuningan. Semua ini pasti sudah disimpan Lydia selama bertahun-tahun. Entah apakah Lydia lupa atau memang tidak ingin membuangnya. Franklin menemukan sebuah karangan berjudul Bintang Idola, satu-satunya karangan yang mendapat nilai C di antara karangan Lydia yang bertaburan nilai A dan B. Franklin masih ingat saat mengetahui nilainya kurang memuaskan, Lydia pulang ke rumah dan menangis. Dulu karena malu Lydia tak memperbolehkan Franklin membaca karangannya.

 

Idolaku adalah kakakku.

Dia orang yang paling baik di dunia ini. Kakak selalu membantuku dalam banyak hal. Mengerjakan pekerjaan rumah, membuat kerajinan tangan, mengantarku ke toko buku, dan memasak, meski rasanya tidak enak. Setiap hari kami bermain bersama. Kalau aku menginginkan sesuatu Kakak akan membelikan dengan uang tabungannya sendiri.Kalau ayah memarahiku Kakak akan membelaku.

Semua orang bilang mengarang tak ada gunanya, cuma membuang-buang waktu, tapi Kakak memberi dukungan dan semangat. Apa pun yang aku tulis, Kakak selalu mengatakan tulisanku bagus. Dia percaya jika suatu hari nanti aku akan menjadi pengarang terkenal seperti Enid Blyton, J.K. Rowling, atau Qiong Yao.

Aku tidak bisa tanpa Kakak. Aku selalu membutuhkannya dan kebingungan kalau tidak ada dia. Teman-teman berkata aku terlalu bergantung pada Kakak dan itu akan membuatku kesulitan mendapat pacar. Aku tidak peduli! Aku sudah punya Kakak, jadi buat apa punya pacar? Aku hanya ingin agar kami dapat bersama selamanya. Aku sangat menyayangimu, Kak…

Tulisan itu tampak bergerak-gerak bagai bayangan di atas air dalam penglihatan Franklin.

 

Franklin menyuruh James mencarikan rumah yang bisa ditinggali mulai besok pagi dengan seorang pembantu. James menggerutu. Mana mungkin menemukan rumah kosong hanya dalam waktu beberapa jam? Tapi Franklin berulang kali memohon dan mengatakan kalau ini keadaan darurat. Jam tiga dini hari James menelepon Franklin, memberitahukan alamat sebuah rumah yang dikontrakkan. Tapi untuk pembantu, James baru bisa memenuhinya beberapa hari kemudian. Franklin membawa Lydia pergi saat itu juga diiringi air mata Bu Yudha. Franklin mengendarai mobil di tengah kegelapan malam sambil sesekali menatap Lydia yang duduk di sampingnya. Franklin teringat orangtuanya yang meninggal karena kecelakaan, lalu Tian Ya juga meninggal karena kecelakaan. Untunglah Lydia selamat. Sekarang satu nyawa yang lolos dari maut itu dibawa Franklin, dan Franklin tak ingin satu kecerobohan mengakibatkan bencana. Franklin pun memperlambat laju mobilnya.

Rumah yang ditunjukkan James adalah sebuah bangunan berkamar satu. Untuk sementara Franklin dan Lydia harus bertahan di sana sampai James bisa menemukan rumah yang lebih baik lagi. Franklin meminta kunci pada pemilik rumah yang tinggal di seberang jalan lalu mengajak Lydia masuk. Franklin dapat mencium aroma cat yang masih baru di rumah itu.

Franklin membaringkan tubuhnya yang penat di samping Lydia. Dengan tangan bergetar ia meraih tangan Lydia. Franklin menatap wajah Lydia yang begitu dekat dengannya. “Aku ingin tahu… Saat kau melarikan diri bersama Tian Ya apakah rasanya seperti ini? Jika Tian Ya masih hidup dan kau tidak hilang ingatan, apakah kau akan membiarkan aku berbaring di sisimu dan menggenggam tanganmu?”

Di suatu sore yang cerah Franklin sedang menyapu halaman, sementara Lydia duduk di kursi yang ada di beranda.

Brenda tiba-tiba muncul bersama Johnny dan langsung menghujani Franklin dengan berbagai pertanyaan. “Kami datang ke rumah, tapi ayahmu mengatakan sudah tidak punya anak gila! Kalian membuat masalah apa? Waktu kami akan pulang ibumu mengejar kami dan diam-diam memberikan alamat rumah ini. Lydia…” Pertanyaan Brenda belum sempat dijawab satu pun oleh Franklin. Tapi Brenda melihat Lydia yang duduk di kursi. Ia segera menghampiri Lydia. “Lydia! Aku senang kau sudah sembuh! Kenapa kau tidak memberi kabar kalau sedah pulang dari rumah sakit? Kau bertengkar lagi dengan orangtuamu?”

Kemudian Brenda menyadari ada yang tidak beres. Pandangan mata Lydia kosong. Ia seolah tak mengenali Brenda. Brenda memegang tangan Lydia. “Lydia, kau dengar aku? Lydia… Ahhh!” Brenda sangat terkejut karena tiba-tiba Lydia mendorongnya sampai terjatuh.

Franklin berlari ke tempat Lydia, memeganginya dengan cemas. Ini untuk pertama kalinya Lydia menyerang orang semenjak dinyatakan “sakit”. Franklin mengambil ponsel di saku, memutarkan lagu Tong Hua, lalu pelan-pelan mendudukkan Lydia di kursi. Lydia kembali tenang di dunianya sendiri.

Brenda menatap Franklin penuh curiga. “Apa yang terjadi Franklin?”

Franklin menahan rasa yang menggumpal di dadanya. Tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan tragedi ini. “Lydia tidak ingat apa-apa…”

“Maksudmu?”

Franklin tak berkata apa-apa lagi. Tapi hanya dengan mengamati Lydia selama beberapa detik, wajah Brenda dan Johnny sama-sama memucat.

Johnny menyeret Franklin ke sudut halaman. Tinju mendarat di wajah Franklin. “Pukulan itu untuk Tian Ya!” Franklin dalam keadaan tidak siap, ia pun jatuh tersungkur ke tanah. Johnny menarik Franklin berdiri dan mencengkeram kerah bajunya. “Apa yang kau lakukan pada Lydia? Apa yang kau lakukan hingga ia jadi begini?” Franklin tak menjawab dan tak memberikan perlawanan, membuat Johnny semakin kalap. “Yang ini untuk Lydia!” Sekali lagi ia melayangkan pukulan cukup keras. Franklin kembali terjatuh.

Mendengar suara berisik, Brenda segera datang. Ia menahan Johnny agar tidak semakin mengamuk. “Sudah, berhenti! Johnny! Jangan membuat keadaan makin parah! Kita pulang saja!”

Napas Johnny tersengal-sengal mengawasi Franklin yang berusaha bangkit. Johnny menunjuk pada Lydia yang sedang duduk diam tak terpengaruh oleh kejadian ini. “Lihat! Lihat dia! Inikah kehidupan yang kau inginkan? Menyingkirkan Tian Ya, membuat Lydia jadi gila, lalu menyembunyikannya untukmu sendiri? Semua tujuanmu sudah tercapai! Apakah kau bahagia? Kutanya apa kau bahagia?”

Johnny akhirnya pergi setelah Brenda mati-matian menariknya ke luar halaman. Franklin berjalan terhuyung-huyung dan berhenti di depan Lydia yang masih sama seperti tadi, duduk dalam diam. Franklin menatap Lydia lama… lama sekali, seakan waktu telah dihentikan. Untuk pertama kalinya Franklin merasakan lelah yang menyerang sampai ke tulang. Ia ingin menghempaskan diri ke tanah dan memberi kesempatan untuk melepaskan semua beban. Tapi tidak bisa! Ada seseorang yang menjadi tanggung jawabnya sekarang. Dan jika ia jatuh, semua ikut runtuh. Franklin menyeka darah yang menetes di bibirnya, berusaha menegakkan tubuh.

“Anginnya kencang sekali. Tidakkah kau merasakannya?”

Franklin mengajak Lydia masuk.

Malam itu Franklin mengompres sendiri luka-lukanya dengan air hangat, tepat saat James menelepon dan memaki. “Franklin! Kau tahu apa yang dilakukan Johnny? Ia datang menghajarku seperti orang kesetanan! Aku tidak diberi kesempatan bicara langsung ditendang dan dipukuli! Kukira ia sudah tahu kalau aku jadi guru di SKY School untuk memata-matai! Juga karena Tian Ya meninggal… Aduh… tubuhku sakit sekali tak bisa digerakkan…”

“Tidak usah ribut-ribut, James!”

“Apa? Kau kira aku robot, tak mempan dipukuli?”

“Nasib kita sama! Kalau kau tidak tahan pergilah ke dokter, nanati aku bayar biayanya!” Setelah berkata begitu Franklin menutup telepon.

Ia menyandarkan kepala di kursi dan memejamkan mata beberapa saat. Franklin melihat Lydia sedang mencoret-coret kertas yang diberikan padanya. Dalam keadaan normal, semarah apa pun Lydia, dia selalu merasa cemas jika terjadi sesuatu pada Franklin. Lydia akan menangis dan ketakutan melihat Franklin terluka walau hanya karena jarinya tertusuk paku. Tidak seperti sekarang.

Lihat! Lihat dia! Inikah kehidupan yang kau inginkan? Semua tujuanmu sudah tercapai! Apakah kau bahagia?

Dan Franklin tak bisa berhenti mencari jawaban di dalam hatinya.

Beberapa hari kemudian ada lebih banyak orang yang berkunjung ke rumah kontrakan Franklin dan Lydia. Johnny masih marah pada Franklin. Tapi Brenda tak henti-hentinya memberi pengertian, bahwa semua yang menimpa Lydia dan Tian Ya adalah musibah, tak bisa diperkirakan oleh siapa pun. Mereka sebagai sahabat harus memberi dukungan, bukan saling menyalahkan. Johnny kemudian ikut pergi meski dengan setengah hati.

“Lydia sudah tidak mengenali siapa-siapa, tidak bisa diajak bicara. Setiap hari hanya melamun, mendengarkan musik, dan bernyanyi-nyanyi sendiri. Suatu kali aku pernah menyembunyikan ponselnya. Ketika menyadari ponselnya tidak ada Lydia sangat kebingungan, mencari di mana-mana. Ia menolak makan, minum, tidak mau tidur… Aku akhirnya menyerah dan mengembalikan ponsel itu.”

Franklin menatap Lydia yang duduk di lantai kamar, sementara yang lain mengawasi dari luar. “Aku mencoba memberi kertas dan pulpen, siapa tahu dia mau menuliskan sesuatu, atau mungkin saja Lydia masih bisa mengarang walau hanya beberapa kalimat. Tapi ia malah menulis huruf-huruf aneh! Aku berusaha mengajak Lydia bicara, menceritakan banyak hal, menunjukkan foto-foto, tapi Lydia tidak menanggapi dan menyingkirkannya. Yang lebih mengkhawatirkan, Lydia tidak akan makan atau minum jika tidak diambilkan. Aku harus memaksanya, menyuapkan nasi sesendok demi sesendok. Kadang kalau benar-benar tidak mau, Lydia akan melempar piring dan gelas sampai pecah. Dia memang tidak pernah mengamuk, hanya saja sangat apatis dengan apa yang ada di sekitarnya.”

“Mungkin memang sebaiknya Lydia dirawat di rumah sakit jiwa…” Brenda berkata kurang yakin.

Suara Franklin berubah dingin, “Aku lebih suka mengurus Lydia sendiri daripada harus meninggalkannya di rumah sakit jiwa!”

“Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Alice.

“Aku sekarang bekerja di kantor Eugene…”

“Selama kau pergi Lydia ditinggal sendirian?”

“Ada pembantu, tapi yang ini pun berulang kali minta keluar.”

Setelah berpikir keras, Victor mengajukan usul, “Bagaimana kalau kau bawa Lydia ke Kaliurang di villa keluarga Brenda? Di sana Lydia pernah melarikan diri dan bersembunyi bersama Tian Ya, mungkin akan sedikit membantu mengembalikan ingatannya…”

your-shadow

 

Franklin mengikuti saran Victor, mengajak Lydia pergi ke Kaliurang bertemu kakek dan nenek Smith. Franklin menceritakan kondisi Lydia pada mereka dan minta diizinkan menginap beberapa hari. Kakek dan nenek Smith sangat terkejut karena hanya dalam waktu singkat kondisi Lydia berubah menyedihkan. Apalagi mendengar kabar kalau sekarang Tian Ya sudah meninggal.

Kakek Smith mengantar Franklin dan Lydia ke dua buah kamar yang dulu ditempati Lydia dan Tian Ya. “Waktu itu kami kebingungan kenapa Lydia dan Tian Ya tidak pulang tanpa memberi kabar. Padahal saat berpamitan Tian Ya berkata hanya pergi ke rumah sakit. Lydia malah tidak bicara apa-apa. Lalu Brenda menelepon memberitahu ada sedikit masalah dan meminta kami menjaga barang-barang Lydia dan Tian Ya yang tertinggal. Tapi sampai lama sekali tidak ada yang datang mengambil, jadi kami tak mau memindahkannya.”

Walau baru pertama kalinya Franklin datang ke villa keluarga Brenda, tapi ia dapat membayangkan bagaimana Lydia dan Tian Ya melewatkan hari-hari yang membahagiakan di tempat ini. Sedangkan Lydia tak menunjukkan reaksi yang berarti. Ketika Franklin menggandeng tangannya dan mengajak Lydia masuk ke kamar itu, Lydia hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat-lihat dan menyentuh benda pajangan yang ada di atas rak seperti anak kecil. Franklin mengikuti setiap gerak-gerik Lydia. Franklin membuka lemari untuk menyimpan baju. Karena berencana menginap beberapa hari, ia membawa sedikit pakaiannya dan Lydia. Franklin terpana. Di dalam lemari sudah ada baju-baju wanita. Franklin mengambilnya dan melihat-lihat. Semua baju kelihatan baru, satu dua bahkan masih ada label harganya. Franlin lalu ingat jika pada saat Lydia melarikan diri dari hotel ia tak membawa apa-apa. Jadi setelah sampai di sini barulah Lydia membeli baju baru. Kalau begitu Tian Ya… Franklin mengembalikan lagi baju yang ia ambil ke tumpukan di lemari. Hatinya bagai terpilin-pilin. Cemburu, sedih, sekaligus merasa bersalah. Franklin menghembuskan napas dan berkata, “Baiklah… karena kau sudah punya banyak baju di sini, sepertinya percuma saja kubawa baju dari rumah…”

Setelah Franklin berkata demikian, Lydia justru mendekati tas dan menghamburkan semua isinya keluar. Franklin memandang Lydia dengan pilu, membiarkan semua baju yang ia bawa berserakan di lantai.

Sore itu Lydia dan Franklin duduk-duduk di halaman belakang melihat kakek dan nenek Smith merawat tanaman di kebun. Cucu laki-laki mereka yang masih kecil berlari-lari mengejar serangga. Bosan mengejar serangga, anak itu mengamati neneknya yang sedang memotong daun kering pada setiap tanaman. Tangannya terulur menyentuh bunga krisan warna kuning yang sudah mekar. Ia lalu menarik bunga itu dengan kasar, membuat sebagian mahkotanya gugur. Bunga itu menjadi pipih dalam genggaman tangannya.

Franklin yang melihat pemandangan tersebut tak dapat menahan diri. Ia mendekati anak itu dan berkata, “Kenapa kau memetik dengan sembarangan? Coba lihat, jadi hancur… Seharusnya kau biarkan saja bunganya di sana. Biarkan dia tumbuh bersama teman-temannya dan kau masih tetap bisa melihat keindahannya setiap hari. Kalau mau petik, petiklah dengan hati-hati agar jangan sampai merusaknya…”

Anak itu memandang Franklin sekilas lalu berlari menjauh. Bunga yang ada di tangannya dicampakkan begitu saja ke tanah. Franklin memungut bunga tersebut. Menatapnya. Dirinya diliputi perasaan aneh.

Kakek Smith tiba-tiba berkomentar, “Kalau kau tahu, mengapa kau tidak melakukannya?”

Franklin menatap kakek Smith dengan tidak mengerti.

Kakek Smith memberikan berkata sungguh-sungguh, “Ketika kau mencintai seseorang dengan cara yang salah dan bertindak tanpa pertimbangan, itu sama seperti memetik sekuntum bunga sembarangan… Cinta yang berlebihan hanya akan mengakibatkan kehancuran!”

Franklin beralih memandang Lydia yang duduk di sebelahnya. Walau Lydia tampak damai, tapi hidupnya sudah tidak sama lagi. Franklin merenggut Lydia dengan paksa dari dunia indahnya bersama Tian Ya. Bunga itu sekarang hancur di tangannya sendiri. Franklin tak dapat mengembalikan apa yang telah hilang. Walau Lydia berdiri di sisisnya dan ia dapat menyentuhnya, tapi justru terasa makin jauh darinya.

Aku baru menyadari kalau kehidupan yang kau jalani sangat sulit. Kau selalu terombang-ambing di antara dua pilihan. Dua kali menjalin hubungan dengan dua pria yang sangat mencintaimu, dua kali melarikan diri dan bersembunyi, dua kali merencanakan pernikahan, dan dua kali mengalami kegagalan… Semua karena kesalahanku…Awalnya aku mengira telah menjadi pemenang. Tapi aku salah. Di antara kita bertiga, akulah yang paling menyedihkan. Kalau Tian Ya meninggal dan kau tak ingat apa-apa lagi, itu membuat kalian terlepas dari penderitaan dan bersatu dalam dunia kalian sendiri. Tinggal aku, terperangkap di kehidupan yang hampa…

Franklin memasukkan baju-baju Lydia yang tertinggal lama di villa. Ketika akan menutup risleting tas ia termenung cukup lama. Franklin pergi ke kamar sebelah dan membuka lemari. Baju-baju Tian Ya, ada di sana. Franklin memutuskan membawanya juga. Baju ini mungkin sudah tidak berguna, tapi Franklin akan menyimpannya. Kelak setelah ingatan Lydia pulih, Lydia pasti ingin mengenangnya. Franklin mendesah keras. Semenjak Tian Ya meninggal dan Lydia hilang ingatan, ia berubah jadi agak sentimentil. Sungguh menggelikan sekaligus menyedihkan!

 

Franklin sudah kembali bekerja.

Franklin berjalan masuk dengan tergesa-gesa. “Maaf, aku terlambat! Bagaimana hasil pembicaraanya?”

Eugene berkata serius. “Mereka setuju bekerjasama dengan perusahaan kita. Dua minggu lagi kita diminta ke Taiwan untuk menandatangani perjanjian.”

“Taiwan?”

“Ya.”

“Apakah aku harus ikut?” tanya Franklin.

“Tentu saja. Kau sangat diperlukan di sana.”

“Benar-benar tidak bisa digantikan orang lain?”

Eugene keheranan. “Kenapa kau ini? Seriuslah dan jangan main-main! Kau juga baru beberapa hari bekerja di sini. Sekalipun aku dapat memberikan kemudahan padamu, tapi apa kata orang nanti? Kita tidak akan pergi lama!” Eugene akan meninggalkan ruangan Franklin. Tapi ia menghentikan langkah. “Oya, jangan lupa ajak James.”

Kekhawatiran itu datang lagi menghampiri Franklin.

Ada yang tak dapat kutinggalkan…

Sebelum pulang Franklin kembali menemui Eugene. “Kau tahu bagaimana keadaan Lydia sekarang… Semenjak Tian Ya meninggal, jiwanya sangat terguncang. Aku membawanya pergi dari rumah justru agar bisa menjaganya dengan baik. Agar dia tidak perlu menghabiskan hari-harinya di rumah sakit jiwa. Setiap kali berangkat kerja aku mengkhawatirkan apa yang terjadi padanya. Aku berharap kau bisa mengatur agar orang lain saja yang mengurus masalah di Taiwan.”

Eugene menggeleng-gelengkan kepala, “Bagaimana aku bisa mengerti dirimu? Kalau kau ingin Lydia cepat pulih, ya biarkan saja dia dirawat di rumah sakit jiwa!”

“Kau tahu aku tidak mungkin melakukannya!”

“Dan kau akan mengabaikan pekerjaanmu demi dia? Bagaimana kau akan membiayai hidup kalian?”

Franklin tak menjawab, ia sangat frustasi.

“Berpikir logislah! Hanya ke Taiwan selama beberapa hari, kau tidak meninggalkan Lydia untuk selamanya…”

Franklin meninggalkan ruangan Eugene dengan lesu. Eugene mengawasi sampai punggung Franklin menghilang dan ia bergumam, “Lydia, aku benar-benar iri padamu…”

 

Saat mengutarakan keinginannya mengajak Lydia pergi ke Taiwan, Franklin ditentang habis-habisan oleh Brenda, Johnny, Alice, dan Victor.

“Lydia tidak bisa pergi!”

“Dari dulu Lydia ingin sekali pergi ke Taiwan. Mungkin ini bisa membuatnya lebih baik…”

“Kalau kau ke sana untuk piknik tidak masalah! Tapi kau pergi karena urusan pekerjaan, sedangkan Lydia harus diawasi terus. Memangnya bisa?” tanya Brenda.

Franklin gelisah. “Aku merasa tidak tenang… meninggalkan Lydia…”

Victor menepuk bahu Franklin, “Pergilah dan selesaikan pekerjaanmu! Kami akan bergantian menjaga Lydia. Seminggu tidak lama.”

“Meski Lydia ingin pegi ke Taiwan, tapi belum pernah sekali pun ke sana. Ia tidak punya kenangan apa-apa tentang Taiwan, percuma saja kau mengajaknya.”

Franklin kembali melihat Lydia yang duduk di lantai. Aih! Mengapa ketika Lydia dalam keadaan seperti ini ia harus pergi? Kalau Lydia berubah menjadi setangkai bunga lili, Franklin akan mengantonginya dan membawa Lydia ke mana-mana!

Malam sebelum berangkat ke Taiwan Franklin duduk di sebelah Lydia dan berbicara panjang lebar. Tak peduli Lydia memahami apa yang dikatakannya atau tidak.

“Aku sangat iri pada Tian Ya… Saat dia membawamu pergi, kukira aku tak pernah bisa melihatmu lagi seumur hdup. Dulu aku pernah berpikir, jika kau bersedia memberikan hatimu padaku, aku rela menukarnya dengan nyawaku. Tapi sekarang berbeda… Seandainya diminta memilih, aku harap kaulah yang mati lebih dulu daripada aku. Aku hanya ingin menjagamu sampai akhir, dan memastikan tak ada pria lain di dalam hidupmu kecuali aku. Maaf sekali, tapi aku tidak merasa sedih dengan keadaanmu sekarang. Karena baru dengan cara demikian kau mau bergantung padaku.”

Alice dan Lydia menunggu di halaman. Franklin mondar-mandir keluar masuk rumah. Dua tas besar sudah disiapkan sejak tadi.

“Franklin, mereka sudah datang!” Victor berteriak.

Sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Eugene dan James membantu Franklin memasukkan barang-barang.

“Kita harus cepat! Masih ada serangkaian acara yang harus dihadiri begitu sampai di Taipei,” ujar Eugene.

Wajah Franklin terlihat muram. Tidak bisa menghindar lagi!

“Aku berangkat sekarang. Tolong jaga Lydia baik-baik, kalau ada apa-apa hubungi aku…”

“Kau tenang saja. Kami akan menurusnya. Jangan terlalu membebani pikiranmu.”

Terakhir, Franklin berhenti di hadapan Lydia. Ia menatap Lydia lama sekali. Lydia yang biasanya tidak memberi respon, kini membalas tatapan Franklin. Franklin sangat sedih sampai tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia mengulurkan tangan mengusap kepala Lydia. Ketika baru berjalan dua langkah, tiba-tiba Lydia menarik ujung baju Franklin. Franklin membalikkan tubuh. Lydia menahannya agar tidak pergi! Mata Franklin berkaca-kaca. Ia memeluk Lydia erat-erat. Eugene yang berdiri di samping Franklin membuang muka ke arah lain. Ternyata Lydia bukannya mati rasa. Keharuan memenuhi dada Franklin membuatnya sesak. Franklin hanya bisa mengucapkan satu kalimat,

“Aku akan segera kembali…”

 

9 Comments to "[Di Ujung Langit – Zaijian Wo de Ai] Memeluk Bayangmu"

  1. anik  14 May, 2014 at 12:01

    masih panjang ya mbak?

  2. Liana  8 May, 2014 at 17:16

    PAM: Imajinasinya boleh juga, tapi sayang ceritanya sudah ditulis final dari kemarin2
    Hennie: Satu lagi pendukung Franklin. Padahal saya berharap yang ada disini dukung Tian Ya. Tidak berhasil, ya? Mmmm…
    Pak DJ: Kalau gitu bacanya dicicil biar nggak menggeh-menggeh. Salam…
    Mb Lani: Kalau nggak runyam nggak seru, donk?
    Alvina: Emang iya ada kisah yg mirip kaya gini? Cowoknya meninggal trus ceweknya jadi gila? Saya jadi pengen tahu!
    Elnino: Berdoa aja deh…

  3. elnino  8 May, 2014 at 08:15

    Waduuuuh…mengenaskan banget nasib Lydia.. Semoga akhir ceritanya bahagia.

  4. Alvina VB  8 May, 2014 at 01:11

    Wah ceritanya jadi berakhir spt ini? tragis, walaupun cuma cerita fiktif…ttp ada loh cerita beneran yg hampir2 mirip kaya gini.

  5. Lani  8 May, 2014 at 00:12

    LIANA : waaah…….jd runyam begini? moga2 endingnya Lydia sembuh

  6. Dj. 813  7 May, 2014 at 23:37

    Liana….
    Terimakasih, bacanya sampai menggeh-menggeh…
    Dj.lanjutkan nanti malam lagi….
    Salam.

  7. HennieTriana Oberst  7 May, 2014 at 15:21

    Kasihan Franklin ya.

  8. [email protected]  7 May, 2014 at 14:13

    AHA!!!….
    lanjut2… jangan pake lama yaaa….

    Kayanya tian ya masih hidup di taiwan nih…disembunyiin orang tuanya… hehehehe…. trus dikasih balik ke lydia, dia sembuh… franklin dengan eugine happy ending deh…

  9. Alvina VB  7 May, 2014 at 13:26

    Bacanya besok dech ya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.