Kekasih Jin (1)

Ary Hana

 

ghostAku tak begitu ingat sejak bila dia mulai menghantuiku. Mulanya dia datang dalam bentuk bayangan hitam dalam mimpiku, lamat-lamat mengisi malam-malam tidurku yang penuh ketakutan. Hingga suatu pagi aku memandang ke tengah pendopo, pada sesosok mayat baru yang dibaringkan di atas tikar rumput kering. Ada empat kakak lelaki angkatku mengelilinginya.

“Kutemukan mayat ini di tepi Danau Lasak. Kurasa seseorang sudah membunuhnya,” kata Asta satu, kakak lelaki pertama yang bertubuh bongsor mirip raksasa. Rambut jagungnya meriap-riap sampai ke pundak. Bahunya yang kekar berkeratak gusar. Mirip amarah.

“Kurasa dia seorang pengarit rumput. Ada sabit di dekatnya dan onggokan rumput setinggi bahuku,” Asta dua tak mau kalah. Kakak keduaku duduk sambil menjulurkan kepalanya mendekati si mayat, meneliti baju usang tanpa warna yang berbau rumput basah. Jeli mengamati. Awas matanya tak menyisakan satu semut pun luput dari perhatiannya.

“Hmm..masih muda, bagus pula rupanya. Mungkinkah dia salah seorang penduduk desa di bawah?” Asta empat mulai tertarik. Bola matanya menerbitkan simpati akan nasib naas si mayat.

“Boleh jadi. Kita tunggu saja apakah ada yang mencarinya tiga hari ini. Kalau tidak, bisa kita jadikan inang jiwa yang kutangkap kemarin,”Asta tiga tersenyum licik. Matanya melirik botol sepanjang driji yang berisi uap putih. Mencari kesempatan di setiap prahara.

Kami berlima tinggal di padang datar, 300 meter di bawah puncak Gunung Bulalas. Dalam sebuah pondok kayu besar, mirip rumah panggung yang dipisahkan tangga sejauh 1,5 meter dengan tanah. Sejak guru kami, Bulu Alas mengembara, kami berkewajiban menjaga rumahnya. Keempat lelaki muda itu murid resmi Bulu Alas. Mereka bakal mewarisi keahliannya jika Bulu Alas mangkat suatu ketika nanti.

Aku bukan murid resmi Bulu Alas. Aku hanya anak angkat, bayi umur setahun yang ditemukannya kala Gunung Bulalas meletus 15 tahun lalu. Kewajiban keempat lelaki muda itu menjagaku selama Bulu Alas pergi. Sesungguhnya ayah angkatku tak pernah mengangkat murid perempuan. Menurutnya, perempuan sakti hanya akan jadi biang onar. Tapi posisiku sedikit istimewa. Walau tak berilmu, aku selalu tahu apa yang mereka lakukan.

Tiga hari berlalu, tak tampak penduduk yang mencari pemuda itu. Wajah Asta empat merona senang. Pada malam keempat, sumbat botolnya dilepas. Cucuk botolnya langsung menuju ke mulut si mayat pemuda yang membeku, yang anehnya tak rusak dan membusuk. Asap putih menggulung ruangan. Mirip kabut yang dipaksa turun sebelum malam.

Aku duduk merapat ke sudut. Tak seperti mereka yang pongah merapal mantra, aku ketakutan. Kudekap kedua lututku erat-erat dengan kedua tangan. Kurasa bibirku membiru, karena ruangan begitu membeku. Hingga si Asta satu mengangkat tubuhku sambil tertawa. “Tidur saja di ranjangmu, Bungsu. Agar tidak dicincang si jin baru ini.”

kekasih jin

Aku tahu dia bergurau. Sungguh tak lucu. Saat aku dalam ketakutan sangat.Sejak saat itu aku mulai menjauhi makhluk jejadian baru itu. Si jiwa yang terperangkap dalam tubuh tukang arit. Usai menanak nasi, aku kerap menghilang. Tak tertarik makan bersama kelima lelaki itu lagi. Ngeri membayangkan apa yang bakal dilakukan lelaki baru itu. Tentu saja polahku menuai protes. Keempat Asta akan bergilir mencariku. Menarikku mendekati mereka. Namun tekadku tak goyah. Lebih baik mematung di atas batu besar ketimbang berkumpul dengan mereka. Walau tak menjadikan aku muridnya, Bulu Alas langsung menurunkan kesaktiannya kepadaku. Aku sanggup meluruh bersama angin. Ketika badai kencang menyerang, rupaku pun pudar menjelma udara dalam sekejap. Dan keempat Asra hanya dapat mengumpat keparat.

(bersambung)

 

12 Comments to "Kekasih Jin (1)"

  1. Dj. 813  10 May, 2014 at 02:51

    Uiiih….. Serem juga….
    Ditunggu lanjutannya.
    Terimakasih…

  2. J C  9 May, 2014 at 16:04

    Ary, iki tokohe kowe dhewe yo?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.