Cara Tuhan Mengajari Saya tentang Ketulusan

Dian M. Balqis

 

Sekitar hampir tiga bulan lalu, saat saya sedang berada di sebuah bengkel motor kecil di kawasan Bintaro untuk memperbaiki rem motor saya yang agak kurang pakem, saya menemukan seekor kucing kecil warna telon. Hampir saja kucing kecil itu tertabrak motor saat sedang main-main di jalanan, tanpa tahu bahaya yang mengancamnya. Karena mukanya yang lucu, akhirnya kucing kecil itu saya bawa ke rumah untuk saya rawat.

Pu Yi, itu nama yang saya berikan untuk kucing kecil itu. Cepat sekali Pu Yi mencuri perhatian kami sekeluarga karena kepintarannya, bahkan oleh anak-anak saya akhirnya dianggap sebagai adik bungsunya. Memang Pu Yi sangat pintar. Baru dua hari saya ajari untuk buang hajat di bak pasir yang saya sediakan di dalam kandangnya, dia sudah mengerti dan kemudian teratur ‘pup’ dan ‘pee’ di tempat itu. Hal ini membuat saya juga bisa sedikit ‘menggelitik’ pemikiran saya untuk mencontohkan hal ini pada anak-anak saya, bahwa binatang saja kalau dilatih bisa mengerti, apalagi manusia yang seharusnya bisa jauh lebih baik jika mau.

Saya kemudian membelikan kandang dan segala keperluan makan dan mandi peliharaan saya ini, walau sebenarnya saat itu keuangan saya sedang sedikit ‘sekarat’, heheee.. Bagaimana tidak, harga shampoo-nya saja tiga kali harga shampoo yang saya pakai. Belum lagi makanannya. Membuat budget pengeluaran harian saya yang seharusnya makin dihemat justru makin bertambah. Tapi saya tidak terlalu pikirkan hal itu. Saya hanya ingin agar kucing saya terawat dengan baik. Lagipula Pu Yi menjadi hiburan tersendiri buat saya dan anak-anak saya dengan tingkah konyolnya.

Ada-ada saja yang diperbuatnya. Mengejar-ngejar ekornya sendiri, berkelahi dengan tissue. Aaah…, tiba-tiba saya jadi rindu dengan Pu Yi. Biasanya pagi-pagi begini dia selalu  membangunkan saya dengan menggigit-gigit ibu jari kaki saya atau bahkan mengendusi pipi saya, untuk minta makan. Saat saya menulis begini, biasanya juga dia selalu menunggui saya di samping laptop dan meletakkan kepalanya di ‘senjata’ saya ini, lalu kadang menaiki punggung saya seakan ingin memijat. Kucing yang manis. Dia bahkan sekarang seperti sering tahu saat saya sedang galau, dengan bermanja-manja minta dielus dan rebah di pelukan saya. Menjadi teman curhat yang baik walaupun tak bisa menjawab dan bahkan malah akhirnya tertidur di dada saya.

Namun Pu Yi tidak hanya bisa menjadi hiburan bagi kami sekeluarga. Dia juga bisa jadi sangat menyebalkan. Jaket kulit saya dipakai sebagai tempat buang hajat. Kursi makan yang belum setahun saya beli habis penuh guratan dan sobek di beberapa bagian kena cakarannya. Belum lagi walaupun sudah dibelikan makanan khusus, tetap saja dia selalu ingin mengambil lauk kami di meja makan. Dan masih banyak lagi kelakuannya yang terkadang membuat saya naik darah sesaat.

Lalu, apakah ‘kenakalan’nya itu membuat saya dan anak-anak marah dan kemudian ingin membuangnya..?? Tentu saja tidak. Kami tetap sayang padanya. Namanya juga binatang.

Hal ini juga yang akhirnya memberikan kesadaran bagi saya untuk memberi tanpa berharap apa-apa. Dengan memelihara binatang, kita dilatih hanya tahu cara memberi. Seburuk apapun yang dilakukan binatang peliharaan kita, kita tetap bisa menerimanya. Selain didasarkan rasa sayang tanpa pamrih, kita pasti juga akan berusaha mengerti bahwa mereka hanyalah binatang yang punya penalaran terbatas sehingga dalam diri kitapun ada pemakluman.

Apakah di kehidupan sehari-hari kita tidak menemui kejadian seperti itu..?? Tentu saja sering. Di sinilah Tuhan menunjukkan kepada saya, bahwa manusiapun banyak yang mempunyai ‘perilaku binatang’ pada diri mereka, termasuk juga tentu saja saya sendiri. Membalas kebaikan yang kita berikan dengan keburukan, bahkan dengan kesengajaan. Tapi dengan vision seperti ini, Tuhan seperti memberikan pesan kepada saya bahwa janganlah lalu hal itu menjadi alasan saya untuk tetap berbuat baik dan menjadi penghalang bagi saya dalam memberikan kasih sayang. Hanya karena sebuah kemarahan kemudian menanam benci. Karena seperti yang saya lihat dari Pu Yi, walaupun binatang dia tahu kalau saya sangat sayang padanya. Meski memang dia tidak bisa mengatakannya kepada saya, tapi dia bisa merasakan dan kemudian memberikan feedback dengan caranya sendiri, dan memberikan kebahagiaan dan pelajaran berharga yang bisa menjadi contoh bagi kami, di setiap baik dan buruknya.

Pu Yi membuat saya belajar untuk selalu bisa memaafkan, apapun yang dia lakukan. Memelihara Pu Yi, melatih saya membersihkan hati.

Jadi, ada yang mau meniru cara saya..?? ^^

 

Pondok Pinang, 26 Juli 2012

 

Lihat, cantik kan kucing saya..?? Miss u, Pu Yi.. Lusa mama balik ya.. :-*

cute-cat

 

22 Comments to "Cara Tuhan Mengajari Saya tentang Ketulusan"

  1. Dian M Balqis  13 May, 2014 at 22:01

    Itsmi, saya sudah menjawabnya. Bahwa saya tidak mengatakan demikian dan saya tidak ingin membahasnya. Maaf, saya tidak ingin berdebat tentang hal ini. Semoga anda mengerti

  2. Itsmi  12 May, 2014 at 18:49

    Dian, kalau tidak bisa menjawab bukan berarti saya membelokan….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.