Hakekat Pendidikan adalah Mendidik

Rusdian Malik

 

Guru di sekolah adalah makhluk mulia. Sebab guru itu adalah pendidik, dan mendidik adalah tugas mulia yang paling utama dari para nabi, para santo, para biksu, para avatar, dan para sarjana pendidikan.

Hasil dari pendidikan adalah agar melahirkan siswa, sarjana dan guru-guru yang terdidik yang mengamalkan zahir batinnya, isi hatinya isi celananya di jalur yang mulia, sebab pendidikan adalah aktivitas yang mulia.

Kemuliaan pendidikan itu kesakralannya bener-bener akan diuji adalah saat ujian nasional. Kemuliaan para guru bener-bener akan diuji saat UN. Kesakralan kunci jawaban UN akan diuji saat pelaksanaan UN. Keidealisme-an guru saat UN lah akan dibuktikan keperawanannya. Keperkasaan, keletoyan, keterangsangan, kebirahian, keimpotenan, kelemahsyahwatan, keejakulasidinian dari sakralnya kalimat “pendidikan” benar2 akan diuji pada saat UN.

Dan parahnya, ujiannya bukan hanya saat UN, namun imbas “culas effect-nya” bisa berlanjut ke setelah UN, ke saat jadi sarjana, nyari kerja, melamar jadi PNS, melamar jadi guru lagi, nyaleg, mau jadi pejabat, mau jadi tokoh agama, guru agama, dan saat mau senggama blablabla.

Sisi imut pendidikan itu tetap ada, yakni kita bisa sok jadi orang kritis dan idealis. Itu pun selama kita tidak ditawari alias digoda oleh yang kita kritisi itu.

Kita hujat perilaku bangsat para pejabat misalnya, namun kekritisan keidealismean kita bisa berubah total andai kita berada di lingkaran bangsat para pejabat yang serba enak itu.

Kita hujat morat-marit pendidikan karena kita belum berada di sana. Andai kita berada di wilayah morat-marit itu sebagai pendidik, mungkin sebagai guru, sebagai pejabat pendidik, sebagai personel institusi pendidikan, bisa saja kita malah kelu, impoten, mati suri, mati rasa, tak berdaya di ngerinya pusaran morat marit sistem pendidikan yang sarat keculasan, manipulatif, bahkan sudah berorientasi visi misi pembodohan nasional.

Apakah demikian gara-gara kurangnya fak agama? Tidak, justru karena kita kebanyakan pelajaran agama. Apakah gara2 di rumah tidak belajar lagi? Justru, malah akibat kebanyakan PR.

Finlandia, negeri dengan sistem pendidikan terbaik di muka bumi justru tidak ada PR. Mereka menghasilkan produk dan SDM terbaik di bumi. Kenapa Kimi Raikonen pembalap F1 asal Finlandia bisa juara? Adalah karena mereka fokus saat balapan, tidak mikirin PR. Dan Ananda Mikola malah sering nyungsep adalah gara-gara kepikiran PR melulu.

Seperti apakah pendidikan kita, jika tiap ganti menteri maka tampilan pendidikan akan gonta-ganti, padahal jenis kelamin dan orientasi seksualnya ya itu-itu juga.

Apakah terminologi pendidikan kita? Pendidikan kita adalah pendidikan tanpa terminologi.

Mari kita tanya pada menteri pendidikan, pada pejabat-pejabat yang bekerja di bekerja di kementrian pendidikan sana, pada elit-elit pejabat pemimpin yang terdidik namun entah kenapa hanya mereka cuma memikirkan kekuasaan, uang dan kekayaan, yang entah kenapa mereka tidak bisa mewujudkan sistem pendidikan yang benar-benar mendidik, padahal di negeri ini katanya banyak orang terdidik, atau jangan-jangan kita semua bukanlah orang terdidik?

Atau, kita akui saja bahwa selama ini kita hanya “mengasah otak tapi tidak membentuk watak, kita cuma mengajar bukan mendidik”.

Jika benar demikian, maka guru bukan lagi makhluk yang mulia, mendidik bukan lagi tugas yang mulia, pendidikan sudah kehilangan kesakralannya, karena sistem pendidikan mendukungnya.

Dan pelajaran sekolah, semrawutnya UN, siswa yang nyontek terekam CCTV, guru yang membocorkan kunci jawaban yang tertangkap CCTV juga, mahasiswa yang masih nyontek juga, test pegawai yang gak mau kalah nyontek juga, kepala sekolah yang memfasilitasinya, kepala dinas yang melegalisasinya, gubernur yang menutupinya, menteri yang kemudian sok menentangnya, dan presiden hanya sok prihatin padahal gak ngerti ceritanya dan gak ngerti cara mengatasinya.

Bila sudah demikian, maka kesakralan ujian, ketauladan guru, kewibawaan penanggung jawab sistem pendidikan, keserbamuliaan pendidikan menjadi luntur. Maka apakah itu UN, guru, sekolah, kemendikbud, lembar soal, buku pelajaran, piala, piagam, sertifikasi, akreditasi, semuanya sama saja dengan komik, stensil Enny Arrow, Fredy S, poster Naruto, poster motor sport, gambar pemain sepakbola, kertas pembungkus gorengan, patung polisi, gambar pejabat, buku TTS, iklan obat kuat, produk kondom, iklan jasa pijat, jualan kecap, gambar paha para JKT48 dan Cherrybelle, payudara palsu para artis, cawat, kutang, obat kurap, penis, vagina, bokong dan tai sapi. Semuanya sama dan tak ada yang merasa lebih istimewa, alhamdulillah.

 

About Rusdian Malik

Dia adalah Pesbuker asal Kalimantan Selatan kelahiran 1985. Pria penggemar acara stand up comedy ini adalah alumnus pesantren yang cukup terkenal di Kalimantan Selatan, yakni Pondok Pesantren Al-falah Banjarbaru.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Hakekat Pendidikan adalah Mendidik"

  1. Ivana  14 May, 2014 at 07:32

    Pendidikan swasta di Indonesia sudah jadi bisnis. Saya dengar dari kakak saya, ada sekolah yang ngakunya dari Singapore, dengan uang sekolah yang jauh lebih mahal daripada di Singapore sendiri.

    Sekolah swasta lain dengan kurikulum plus yang sudah cukup lama ada di Surabaya, juga kualitasnya masih dipertanyakan oleh orang tua murid sendiri. Dan menurut anak2nya sendiri, beberapa guru tidak terlalu menguasai bidang-nya. Guru juga terkesan “takut” terhadap murid2 yang mayoritas dari keluarga berada.

  2. Alvina VB  12 May, 2014 at 22:34

    Sistem pendidikan di Indonesia kayanya gonta-ganti terus, tergantung mentrinya, coba lihat aja nanti stl pemilu pasti ada kebijakan2 baru kl mentrinya org baru. Jadi gak bisa disalahkan kl banyak org tua yg kirim anaknya ke LN buat lanjut sekolah, wong pendidikan swasta di tanah air ngilani muahal ttp kualitasnya dipertanyakan.

  3. J C  12 May, 2014 at 12:49

    Entahlah bagaimana ini sistem pendidikan Indonesia…

  4. Handoko Widagdo  12 May, 2014 at 11:56

    UN itu apa?

  5. [email protected]  12 May, 2014 at 11:16

    2

  6. Sumonggo  12 May, 2014 at 11:11

    Renggo anak kelas 5 SD meninggal karena dipukul kakak kelasnya hanya gara-gara menjatuhkan es pisang. Murid TK sebuah TK “mewah” (meski tak berijin) menjadi korban sodomi oleh cleaning service. Mungkinkah pejabat kementrian dan dinas pendidikan sekedar memandang pendidikan sebagai “proyek” dan “anggaran”?

  7. Lani  12 May, 2014 at 10:56

    1

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *