Kekasih Jin (2)

Ary Hana

 

Gunung Bulalas memiliki kontur yang aneh. Sebagian puncaknya meruncing membentuk granit biru. Sisanya menjorok ke bawah, membentuk lubang kepundan yang berubah menjadi blumbang oranye kebiruan di musim hujan. Di sana, di blumbang itu aku biasa berkubang. Membinasakan raga. Mematung merasai angin. Tapi semediku siang itu terganggu. Sebuah suara lamat menegurku.

 

“Kautakut kepadaku. Kenapa?”

“Aku takkan mengganggumu. Tak ada niat sepilin debu pun mencelakakanmu.”

“Ayolah..bicaralah padaku.”

 

Suara itu tentu bukan milik keempat Asta. Itu suara baru. Suara si jejadian.

Aku menjengit ngeri. Kutunggu. Sedetik. Dua detik. Tak ada apapun. Kutunggu lagi satu menit. Dua menit. Angin bertiup. Aku melebur.

 

“Hei..kau pergi kemana?”

“Jangan takut begitu. Aku berjanji tak akan mengganggumu. Bahkan menyentuhmu pun tidak.”

 

Suara itu mendesis serak. Ada kepedihan dalam nadanya.

Bayu menghilang. Tubuhku kembali menjelma patung.

jin-hantu

Dia mendekatiku. Lelaki jejadian itu. Wajahnya putih bercahaya. Tak seperti mayat pasi yang kulihat dulu. Rambutnya memanjang hingga menutupi lehernya. Seingatku dulu rambut tukang arit hanya sebatas pangkal telinga. Cepak pula. Namun rambut lelaki di hadapan kuberombak dan memantulkan cahaya kecoklatan. Aku terpana.

Sepasang matanya hitam dan besar, namun tak menyorot langsung ke mataku. Pandangannya jatuh ke tanah di hadapanku. Bibirnya penuh dan coklat muda. Bukan biru seperti bibirku yang membeku.

“Kau siapa?” tanyaku ingin tahu. Aku digodam penasaran. Melebihi rasa takut, atau ngeri. Dia berjalan mendekatiku. Langkahnya mirip terbang, tak menjejak tanah. Tubuh tingginya mendarat anggun di atas batu bulat coklat di tengah blumbang.

“Aku hanya jiwa yang dikurung di tubuh manusia mati ini. Ini bukan duniaku,” jawabnya lirih. Nyaris terisak.

“Kau tak bisa lari? Melepaskan diri?”

“Andai kubisa. Asta temanmu memakuku terlalu kuat. Mula-mula dia membekukanku ke dalam botol, lalu memenjarakanku di tubuh fana ini.”

“Bagaimana Asta ketiga menemukanmu? Apakah kau keluyuran di dunia kami?” Sengaja kulontarkan kata sinis. Sungguh tolol dia terjebak oleh perangkap Asta ketiga. Setahuku, kakak angkatku nomer tiga itu paling dungu dibanding ketiga kakak lelakiku lainnya.

“Dia sebentar berburu di duniaku. Aku mangsa pertama yang dia lihat sebelum menghilang.” Satir dia menjawab pertanyaanku.

“Oo..”Hanya itu yang mampu kuucapkan.

Dia masih duduk di batu tengah blumbang. Mematung sepertiku. Menuggu angin mendesir-desir. Ketika bayu datang, dia menghilang. Meninggalkan aku pulang sendirian.

Petang itu aku kembali makan bersama saudara lelakiku. Duduk sejauh-jauhnya dari tubuhnya, diapit Asta ketiga dan keempat. Seharusnya aku merasa aman.Tapi matanya berkali mencuri pandang ke arahku. Memerangkapku.

“Kau tak takut kepadanya lagi?” Bisik Asta keempat di telingaku. Kakakku yang paling bijak ini tampak senang.

“Aku bisa memasukkannya ke dalam botol jika dia mengganggumu,” gelak Asta ketiga. Kurasa dia menguping kata-kata kakak tololku. Wajah lelaki itu langsung membeku, tatapannya nanar dan tak berdaya. Membuatku tak enak hati.

“Sudahlah,jangan mengancam begitu. Kau beri nama dia siapa sekarang? Asta kelima?”

Kata-kataku membuat keempat Asta tersedak. Asta kesatu menjatuhkan sendok nasi yang dipegangnya. Asta kedua menumpahkan kendi batu. Asta ketiga menegang dengan gigi dipenuhi daging kijang. Sedang Asta keempat menghancurkan apel hutan yang digenggamnya. Sepintas kulihat wajahnya menahan tawa. Memandangku dengan pesona halimun merah muda.

“Panggil aku Sulung. Itu nama asliku di duniaku.” Jawabannya mencairkan suasana. Tiba-tiba tawa Asta ketiga menggelegar, diikuti tawa Asta-Asta lainnya. Nyaris saja, pikirku.

Malam itu kembali aku bermimpi. Tak lagi tentang bayangan hitam mengerikan dan mayat lelaki yang membeku. Tapi tentang seraut wajah tampan yang menahan gelak tawanya sambil memandangku gemas.

 

(bersambung)

 

 

10 Comments to "Kekasih Jin (2)"

  1. ah  13 May, 2014 at 05:48

    anoe : luwih serem timbang twilight iki.. asli polesan nuswantara dan kuberharap benar2 ini pengalaman pribadi, ning ora

  2. Anoew  13 May, 2014 at 05:11

    serem sekaligus menggairahkan…

  3. ah  13 May, 2014 at 01:08

    hehe.. terserah, setiap orang bebas berasumsi
    aku tak prei sik sementara, ngurusi waisak lan nyiapke buku anyar

    wis yo, nuwun sanget sudah berkenan membaca

  4. Lani  13 May, 2014 at 00:13

    KI LURAH : aku jg pikiran yg sama dgn dirimu, tokoh wadon itu sak-jane yo AH dewelah…….opo njur dikau perlu meguru sm AH biar lbh sakti mandraguna kkkkkkk

  5. Alvina VB  12 May, 2014 at 22:37

    Lanjoetkan saja AH….

  6. J C  12 May, 2014 at 12:47

    Ary Hana, aku semakin yakin, kuwi tokoh perempuan di cerita ini yo dirimu sendiri…

  7. HennieTriana Oberst  12 May, 2014 at 12:16

    Mendebarkan

  8. Lani  12 May, 2014 at 12:15

    AH : tambah syereeeeeem…….semua ttg demit

  9. [email protected]  12 May, 2014 at 11:16

    Asta….ga….

  10. Lani  12 May, 2014 at 10:56

    1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.