Bulan Mei, Enambelas Tahun Lalu Kerusuhan 1998

Josh Chen – Global Citizen

 

Dedicated to all the victims of May Riot 1998 …

 

Disclamer:

Dua cerita di bawah ini yang satu saya alami sendiri, sementara yang satu lagi adalah wawancara langsung dengan saksi mata yang merupakan kerabat kami. Kedua cerita ini pernah dijadikan sebagai bahan skripsi seorang mahasiswa di satu universitas di luar negeri. Pada waktu wawancara, saya menjadi penterjemah.

image001(

FOTO: Dok HARIAN KOMPAS ; “Menatap Wajah Korban”

Seorang perempuan memegang buku Menatap Wajah Korban yang diluncurkan dan diterbitkan atas kerja sama Solidaritas Nusa Bangsa (SNB), Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Asosiasi Penasihat Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (APHI), Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), dan Forum Keluarga Korban Mei 1998 (FKKM ’98). Buku itu diluncurkan Kamis (17/2-2005), sebagai upaya mendorong penyelesaian hukum kejahatan terhadap kemanusiaan dalam peristiwa kerusuhan Mei 1998Tulisan ini untuk mengenang korban kerusuhan massal Mei 1998 yang memang ironis karena justru dengan tonggak kerusuhan Mei 1998, pintu demokrasi serta keterbukaan di Indonesia terbuka lebar-lebar. Perubahan yang diawali dengan kerusuhan rasial paling buruk dalam sejarah Indonesia.

 

Masih jelas dalam ingatan saya bulan Mei enambelas tahun yang lalu. Hari itu tanggal 12 Mei 1998, saya bersama dengan GM saya sedang dalam perjalanan menuju ke seorang customer. Kami naik Volvo GM tsb dan melintasi kawasan depan Citraland. Kemacetan sudah dirasakan sejak mobil memasuki daerah Semanggi dari arah Cawang. Mendekati Citraland, banyak sekali polisi berjajar di pinggir jalan tol, yang merupakan keadaan yang tidak biasa sama sekali.

Tiba-tiba terdengar rentetan tembakan yang entah dari mana sumbernya. Saya melihat banyak sekali orang berlarian di bawah jalan tol. Demonstrasi besar-besaran dari seluruh lapisan masyarakat mewarnai jalanan Ibukota setiap hari. Tidak ada hari tanpa demonstrasi. Yang terbanyak memang demonstrasi mahasiswa. Demonstrasi tersebut menuntut turunnya Soeharto, menuntut turunnya harga-harga. Demo demi demo dipicu awalnya oleh naiknya harga BBM yang sangat tinggi. Puncak kulminasi terjadi tanggal 12 Mei dengan dihamburkannya tembakan ke arah mahasiswa di Trisakti. Peluru tajam akhirnya berbicara dan memakan korban.

Pengemudi kami spontan mengambil arah keluar jalan tol dan mencari arah balik untuk kembali ke kantor, mengingat keadaan dan kondisi di jalan yang sudah tidak memungkinkan untuk meneruskan perjalanan. Saya tidak ingat lagi, bagaimana pengemudi kami akhirnya bisa mencapai kantor. Yang saya ingat hari itu, adalah berakhirnya hari itu dan saya sudah kembali ke kamar kost saya dekat kantor yang terletak di selatan Jakarta.

Besoknya, tanggal 13 Mei, saya masih berangkat ke kantor. Jalanan masih ramai seperti biasa. Menjelang siang, seluruh radio dan televisi menyiarkan kemarahan masyarakat atas gugurnya beberapa mahasiswa yang di kemudian hari dikenang sebagai pahlawan reformasi. Seluruh media menyiarkan suasana duka di rumah masing-masing korban dan upacara pemakaman mereka. Lewat tengah hari, situasi bertambah panas, jalanan tambah sepi, dan kemarahan masyarakat luas mulai memuncak. Tanggal 13 Mei lewat dengan aman (paling tidak di sekitar tempat tinggal saya).

GM kami sudah mengumumkan bahwa besoknya, tanggal 14 Mei semua masuk seperti biasa, karena menurut beliau, situasi di selatan Jakarta masih terbilang aman. Beberapa dari kami protes dan beliau menjawab, terserah masing-masing, tergantung dan silakan menilai situasi.

Tanggal 14 Mei pagi-pagi, saya bangun dan siap-siap untuk berangkat ke kantor, tentunya sambil memantau situasi dari TV kecil di kamar dan juga radio. Saya memutuskan untuk meninggalkan mobil di tempat kost, dan saya ke kantor naik ojek karena jarak yang tidak terlalu jauh. Jalanan sudah sepi dan tidak banyak mobil melintas. Ternyata di kantor, hanya sebagian karyawan saja yang datang. Semua kegiatan otomatis terhenti, karena semua perhatian tersedot untuk keramaian dan ketegangan yang sedang berlangsung. Saya terus menerus menghubungi teman sekantor yang rumahnya di Pintu Air. Dari dia lah, kami di kantor dapat sedikit memantau kondisi di luar sana. Teman kantor satu lagi yang rumahnya daerah Grogol, juga terus menerus secara live mengabarkan situasi yang terjadi di sekitarnya.

Mendekati jam 12 siang, ketegangan semakin memuncak, dari jendela kantor terlihat kumpulan massa yang bergerak. Beberapa rekan kantor menghadap GM dan ngotot untuk minta pulang. Akhirnya GM kami memutuskan, kantor dibubarkan saat itu juga. Semua berhamburan menuju tempat parkir dan masing-masing menuju rumahnya. Sementara saya sendiri, karena ke kantor dengan ojek, bersama dengan dua orang rekan lainnya, kami diantar dengan mobil kantor. Sepanjang perjalanan, kami melihat kerusuhan memang sudah berlangsung, tapi BUKAN kerusuhan rasial. Sasaran amuk massa adalah para pegawai negeri yang berpakaian Korpri, kemudian mobil Timor, serta mobil yang ber-plat merah.

Saya melihat sendiri, sebuah mobil Kijang dengan plat merah, penumpang dan pengemudi disuruh turun oleh kerumunan massa, kemudian mobil dirusak habis-habisan, dibalikkan kemudian dibakar. Masih ada lagi beberapa kejadian, dengan mobil Timor, kemudian ada seorang bapak yang kebetulan berpakaian Korpri juga menjadi sasaran kemarahan massa. Kami semua melewati kerumunan massa dengan aman, tidak diganggu dan selamat sampai ke tempat tujuan.

Sesampainya di tempat kost, saya dari lantai 2 melihat kerumunan massa berjalan dengan mengacung-acungkan golok, pedang, samurai, tongkat, pentungan panjang, memutar-mutar rantai besar. Saya hanya bisa melihat dari lantai 2. Sementara itu, TV kami terus terpasang, dan saya melihat kejadian demi kejadian berlangsung di Ibukota. Malamnya saya tidak bisa tidur, dari lantai 2, di kejauhan saya menyaksikan langit Jakarta yang memerah, bau asap memenuhi udara, suara tembakan dari kejauhan terdengar, tembakan satu satu ataupun rentetan tembakan senapan mesin terdengar di kegelapan malam. Komunikasi di antara teman-teman intensif berlangsung, dari Tubagus Angke yang di kemudian hari diketahui luluh lantak, dari Pintu Air, dari Sunter, dari Grogol, dsb.

Kerabat kami beserta istri beliau, saya memanggilnya oom dan tante pada tanggal 13 menuju ke Jakarta dengan kereta api, untuk keperluan berobat dan mengunjungi saudara. Keberangkatan malam tanggal 13 Mei menghantar oom dan tante sampai ke Jakarta tepat pada tanggal 14 Mei pagi hari. Hari itu juga oom dan tante menuju hotel dan setelah mandi serta sarapan, mereka menuju ke Glodok. Setelah sampai di Glodok, ternyata barang bawaan mereka tertinggal dan mereka berjalan menuju ke arah Harmoni. Mereka merasa heran bahwa kedua ruas jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada sangat sepi.

Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan rombongan yang berlarian. Rombongan tsb sempat berseru: “hey, kalian mau ke mana, jangan gila, di sana mengerikan, ayo lari”. Oom dan tante masih kurang percaya, melanjutkan berjalan kaki karena tidak mendapati kendaraan satu pun. Tiba-tiba dari pinggir jalan mereka ditarik oleh seorang keturunan Arab dan berkata kepada mereka: “hey, kalian udah gila, ayo sana pergi lewat pintu belakang toko saya, lari kalian, ngapain kalian di sini?”. Oom saya: “emang ada apa pak?” Bapak tsb: “kalian gak tau, kerusuhan anti Cina tuh, kalian bukan orang Jakarta pasti, mendingan cepetan keluar dari Jakarta dah”. Kemudian oom dan tante segera mencari taxi dan balik ke hotel mereka, segera mereka berkemas dan menuju ke Gambir untuk segera mencari kereta api jurusan manapun yang penting keluar dari Jakarta.

Di sekitar stasiun Gambir, massa mulai merusak, bergerak dengan sasaran utama kantor pemerintah yang banyak di sekitar Gambir, mobil-mobil dengan plat merah, serta teriakan-teriakan yang anti pemerintah, kemarahan karena gugurnya beberapa mahasiswa 2 hari sebelumnya. Oom dan tante ke lantai 3 yang sudah penuh dengan manusia, tidak ada sedikitpun sisa untuk duduk. Setelah menunggu beberapa jam, mereka sadar bahwa hari itu rasanya mustahil untuk mendapatkan kereta api. Banyak tentara dengan senapan panjang berjaga-jaga di stasiun Gambir.

Di kejauhan nampak massa bergerak dengan brutal, memukul, membakar, dan menghancurkan apa saja di depan mereka. Oom bertanya: “apa yang terjadi pak? Kenapa dibiarkan saja?” Jawab si tentara: “kami tahu pak, tapi kami diintruksikan untuk tidak mengambil tindakan apapun dan membiarkan massa untuk melakukan apapun yang mereka suka. Instruksi kami hanya mengamankan stasiun ini pak”. Oom segera terhenyak dan melongo atas jawaban itu.

Beberapa jam kemudian, banyak KRL yang melintas stasiun Gambir, penuh dengan orang-orang sangar, bertampang tua tapi mengenakan seragam putih abu-abu tanpa badge yang jelas. Mereka membawa segala jenis senjata serta meneriakkan yel-yel yang sangat rasis sangat anti Cina. Para tentara tsb bersiaga di peron, sementara KRL-KRL tsb melintas dengan kecepatan tinggi. Dari kasak-kusuk para tentara dan petugas stasiun Gambir, didapat informasi bahwa KRL-KRL tsb sengaja “dipesan” dan memang tidak diperkenankan untuk berhenti di Gambir. KRL-KRL tsb mengangkut orang-orang aneh itu yang entah dari mana datangnya.

Sekitar pukul 5 sore, akhirnya ada serangkaian kereta api yang datang perlahan memasuki Gambir. Semua penumpang dijejalkan untuk masuk. Mengingat situasi seperti itu, kereta api tsb jalan perlahan. Pada waktu melewati Klender, oom dan tante terhentak memandang di luar jendela sebuah supermarket yang sedang dijarah, dirampok oleh banyak sekali orang. Dua mobil sial kebetulan melintas pelan di dekat supermarket tsb. Mobil pertama, penumpangnya 2 orang ditarik keluar, dijarah, dirampok apapun yang melekat di badan, dipukuli, kemudian mobilnya dihancurkan, dibalik dan dibakar.

Mobil kedua, melihat mobil di depannya seperti itu, penumpang di dalamnya lari menyelamatkan diri. Gerombolan massa yang gelap mata mengalihkan sasaran ke mobil itu. Didorong ramai-ramai, dipaksakan untuk masuk ke salah satu pintu, kemudian dinyalakan, dengan segera api menjilat, pintu ditutup. Sejenak, terdengar ledakan, api menyambar bagai gila, orang-orang di dalam supermarket tsb yang sedang berpesta pora menjarah, kocar kacir, panik.

Sementara dari arah lain terlihat sekelompok orang yang dengan rapi menurunkan rolling door, menuangkan sesuatu dan menyulutnya. Dengan segera supermarket tsb diselimuti api. Orang-orang di dalam bangunan tambah panik, api membesar dengan cepat, orang-orang mulai berloncatan dari jendela-jendela supermarket tsb, yang tentunya disambut oleh kerasnya bumi. Ledakan demi ledakan terjadi. Kereta api terus bergerak menjauh. Semua penumpang terdiam, terpana tidak percaya akan kejadian di depan mata mereka. Tante dibayangi mimpi buruk, insomnia dan ketakutan berkepanjangan, sampai berbulan-bulan kemudian. Trauma hebat mengguncang oom dan tante, yang menyaksikan sepotong dari kerusuhan yang paling hebat dalam sejarah Indonesia…..

Terbayang jelas drama Mei 1998. Korban dengan jumlah yang tidak pernah terbayang serta tidak pernah terdata. Banyak sekali menggoreskan luka mendalam. Salah satu tokoh Indonesia, Christianto Wibisono adalah salah satu saksi hidup, di mana keluarga beserta anak perempuannya menjadi salah satu korban langsung. Kesaksian dan wawancara beliau pernah mengisi acara Kick Andy Metro TV.

Saya hanya bisa berdoa dan menundukkan kepala dalam-dalam untuk semua korban kerusuhan Mei 1998. Jalan sejarah harus digenapi, sudah terjadi, dan justru membuka pintu demokrasi lebar-lebar, membuka pintu integrasi, asimilasi serta penerimaan akan golongan minoritas keturunan Tionghoa yang lebih luas. Menghargai perbedaan yang makin luas. Melalui pergulatan panjang dalam hati, akhirnya saya memutuskan untuk membuka pintu forgiveness dan memutuskan untuk move on.

Life goes on…..what happened those days remains a big mystery… unanswered…. until when….

 

God Bless Indonesia, jangan pernah terjadi lagi kejadian serupa, jangan pernah terjadi lagi di Indonesia’ku tercinta ini……amin…

 

Note:

Tulisan ini pernah tayang di situs citizen journalism di bawah Kompas ketika itu, masih bisa dilihat dalam bentuk ‘museum’ di: https://web.archive.org/web/20070714035733/http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=29758&section=92

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

39 Comments to "Bulan Mei, Enambelas Tahun Lalu Kerusuhan 1998"

  1. Lani  19 May, 2014 at 10:56

    AL : itu mah jelas tipu2 hehehe………..

  2. Alvina VB  19 May, 2014 at 03:13

    Nah ini ada cerita sekitar Mei 98 yg salah satunya “Fraud”. Ini ibu mukanya mirip org keturunan asal Sumatra yg ditangani kenalan saya yg kerja di immigrasi Canada waktu itu. Dia mengaku ke mari krn kejadian Mei 98 dan dia sempat ditahan di sini krn uang yg dia bawa melebihi rata2 imigrant yg masuk lewat jalur asylum. Dia bawa sekitar 1M dan katanya itu uang tabungannya. Singka cerita ada jendral dari Ind yg mencari ibu ini lewat interpol dan minta pem.Canada utk mendeportasi ibu ini,krn dia membawa lari uang Jendral tsb. Ibu ini bilang dia anak angkatnya Jendral tsb dan dipercaya Jendral tsb utk menyimpan uang tsb di LN. Lah mana yg bener coba???

  3. phie  18 May, 2014 at 11:09

    Wkt itu baru lulus SMA lg nunggu kuliah mulai bln Sept. Lihat di tv aja dari rmh ortu di Crb. Sereeemmm…ga menduga smp sperti itu ceritanya. Puji Tuhan semua keluarga yg di Jkt selamat tdk kurang satu apapun. Semoga tdk ada lg hal2 seperti ini.

  4. Dewi Aichi  17 May, 2014 at 19:58

    Terima kasih Mas JC dan Alvina, terima kasih ucapannya, yah…acara pernikahan memang tidak sesuai rencana, tidak manis, untung warna kulit suami tidak kuning langsat dan tidak sipit seperti orang Jepang . Pertama kalinya suami ke Indonesia dalam keadaan kacau balau, dulu WNA masih bebas visa masuk Indonesia, maksimal 2 bulan.

    Alvina, suami ngga pernah suka dan ngga pernah bisa lama berada di Jakarta, bukan karena Mei 98, mungkin karena panas dan padat kali ya..

  5. Lani  16 May, 2014 at 23:24

    KI LURAH : 1998 aku nang Amerika, deg2-an mengikuti peristiwa itu………..krn semua family kan tinggal di Indonesia. Tp 1999 aku balik ke Indonesia, aku bawa almarhum…….jd aku sempat melihat bangkai dampak kerusuhan……..sambil membayangkan jika……..andai aku berada disana pd saat itu………aku bakal moplok, ndoprok……..ora iso menyat………..kaku bak mayat!

  6. awesome  16 May, 2014 at 21:15

    Ada anak muda (umur ±25thn) pendukung pak P yg bilang, “khann belum terbukti pelakunya …”
    *tepoq jidat hadewh….

    Dia dari daerah sich …

    Memang bangsa kita ini bangsa yg pelupa ya ….

  7. Tammy  16 May, 2014 at 18:39

    JC, kalo aku keluar indonesia feb 1998, jd kebetulan sblm kerusuhan. Taun 2000 sempat pulang 3 taun lbh trs keluar lagi sampe akhirnya sekarang nyantol di luar.

  8. bagong julianto  16 May, 2014 at 17:13

    Merajut keindonesiaan adalah lebih dari sekedar santun berbangsa bernegara. Ia adalah upaya berperikemanusiawian berkepribadian berbudi luhur. Ada darah. Ada airmata. Ada duka lara untuk harumwangisuburkan tanah pertiwi. SuwunN

  9. HennieTriana Oberst  16 May, 2014 at 16:49

    Iya JC, aku di Jakarta dari ’93-2002
    Merasakan nyamannya dulu naik Patas AC dengan bayaran uang pas.
    Ngerasain seperti perang (kecil) ketika ada bakar-bakar di gedung pdi (kalo gak salah). Aku mesti jalan kaki dari Senen ke Salemba.
    Trus peristiwa Mei ini dan Jakarta jadi nggak aman banget, ancur-acuran.
    Ditambah lagi kejadian 9/11. Kantor dijaga ketat, karena berikutnya ada demo anti amerika
    Tetap ada keterikatan batin dengan Jakarta, karena aku pernah tinggal di sana.
    3-5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.