Kerusuhan Anti Cina di Solo 1998

Handoko Widagdo – Solo

 

Vydia, anak saya, belum genap berumur dua tahun. Saya baru saja pulang dari Jakarta, ketika Solo terbakar. Mula-mula beberapa pabrik di luar kota Solo. Tapi kemudian toko-toko di sepanjang Slamet Riadi dan jalan-jalan utama Solo juga terbakar. Kejadian Mei 1998 meluluh-lantakkan Kota Solo.

kerusuhan98-solo

Wikipedia menggambarkan peristiwa Mei 1998 sebagai berikut:

Kerusuhan Mei 1998 adalah kerusuhan yang terjadi di Indonesia pada 13 Mei – 15 Mei1998, khususnya di ibu kota Jakarta namun juga terjadi di beberapa daerah lain. Kerusuhan ini diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti ditembak dan terbunuh dalam demonstrasi 12 Mei 1998.

Pada kerusuhan ini banyak toko-toko dan perusahaan-perusahaan dihancurkan oleh amuk massa — terutama milik warga Indonesia keturunan Tionghoa. Konsentrasi kerusuhan terbesar terjadi di Jakarta, Bandung, dan Surakarta. Terdapat ratusan wanita keturunan Tionghoa yang diperkosa dan mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan tersebut. Sebagian bahkan diperkosa beramai-ramai, dianiaya secara sadis, kemudian dibunuh. Dalam kerusuhan tersebut, banyak warga Indonesia keturunan Tionghoa yang meninggalkan Indonesia. Tak hanya itu, seorang aktivis relawan kemanusiaan yang bergerak di bawah Romo Sandyawan, bernama Ita Martadinata Haryono, yang masih seorang siswi SMU berusia 18 tahun, juga diperkosa, disiksa, dan dibunuh karena aktivitasnya. Ini menjadi suatu indikasi bahwa kasus pemerkosaan dalam Kerusuhan ini digerakkan secara sistematis, tak hanya sporadis.

 

Karena susu anak saya habis, maka saya berupaya mencari susu malam itu. Ternyata semua toko dan supermaket tutup. Bahkan Matahari yang di Singosaren sudah dibakar. Saya jadi bingung kemana mencari susu. Ay Lan (istri saya) menilpon Lani, teman kami yang punya anak sebaya dengan Vydia. Syukurlah Lani mempunyai cadangan susu dengan merek yang sama dengan yang diminum oleh Vydia. Maka, pagi-pagi sekali, jam enam, saya segera berangkat ke rumah Lani untuk meminjam susu. Dengan hanya memakai kaos oblong dan celana pendek saya berangkat. Saya memilih untuk memakai kaos oblong dan celana pendek tanpa helm supaya tidak dicurigai oleh para perusuh. Wajah saya memang sama sekali tidak mirip China.

Lani tinggal di Perumahan Fajar Indah, kira-kira tiga kilometer dari rumah saya. Ternyata tidak mudah untuk menuju rumah Lani. Banyak jalan yang ditutup karena kerusuhan. Akhirnya saya harus memutar lewat kota. Di jalan Rajiman saya menyaksikan banyak bangkai mobil di jalan. Mobil-mobil tersebut bekas dibakar. Di perempatan Purwosari saya saksikan beberapa toko yang hangus. Juga perempatan penuh dengan bangkai mobil dan motor.

solo-mei-1998

Saat saya berjalan ke barat, tepatnya di depan Rumah Makan Sin-Sin saya melihat segerombolan orang yang sedang berupaya mendobrak pintu restoran. Mereka berteriak-teriak supaya penghuninya keluar. Saya berhenti sejenak di depan rumah makan Sin-Sin karena banyak sekali orang di sana. Setelah penghuni keluar, mobil yang ada di garasi didorong keluar dan dibakar. Kemudian para penjarah masuk ke restoran yang berhubungan dengan sebuah toko pakaian. Mereka menjarah rumah makan tersebut. Tak lama kemudian rumah makan tersebut terbakar. Saya segera saja melanjutkan perjalanan ke rumah Lani dengan tubuh gemetar.

Sekitar jam 10 siang, saya mendapat tilpon dari mertua saya yang masih bertahan di Jalan Perintis Kemerdekaan. Dia minta supaya saya menjemputnya. Sebab bengkel di depan rumah sudah dibakar. Sebenarnya, sejak kemarin sore kami sudah menyarankan mertua dan kakak istri saya untuk mengungsi ke rumah kami. Namun mereka memilih untuk bertahan. Setelah bengkel di depan rumah terbakar, mertua saya menjadi ketakutan dan minta supaya diungsikan. Saya menjemputnya dengan sepeda motor. Saya selimuti tubuh mertua saya dengan jaket supaya tidak kelihatan wajahnya yang sangat China. Saya menerobos jalan-jalan yang ditutup. Saat di ujung Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di pertigaan Pasar Kabangan, ada satu toko China yang baru saja terbakar. Seorang nenek yang tinggal di toko tersebut tewas karena terjatuh dari tangga.

Setelah berhasil mengungsikan mertua saya datang sekali lagi untuk mengungsikan kakak istri saya. Karena wajahnya juga sangat China, maka saya juga menyelimutinya dengan jaket dan menutup mukanya dengan helm. Syukurlah mereka berdua berhasil saya ungsikan dari tengah kota ke rumah kami.

Sorenya, adik saya Lalan yang bekerja di Bank BCA pulang dengan muka kusut dan ketakutan. Ia memakai kaus olahraga SMP Muhammadiah. Dia bercerita bahwa dia diselamatkan oleh keluarga Arab yang tinggal di belakang gedung BCA. Dia dipinjami kaos olahraga SMP Muhammadiah milik anaknya.

Anakku Vydia sudah 17 tahun sekarang. Namun kenangan kerusuhan Solo belum juga hilang dari kami. Setiap Bulan Mei datang, kenangan itu selamu menghantui. Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini di masa depan.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

58 Comments to "Kerusuhan Anti Cina di Solo 1998"

  1. Handoko Widagdo  23 May, 2014 at 08:29

    Mas Joko Prayitno, seharusnya diskusi-diskusi tentang kerusuhan Mei diarahkan ke upaya preventif sehingga hal semacam itu tidak terjadi lagi.

  2. Handoko Widagdo  23 May, 2014 at 08:24

    Om ODB, kemampuan untuk memaafkan adalah satu-satunya obat.

  3. Joko Prayitno  23 May, 2014 at 08:21

    Kemarin ada bedah buku mengenai peristiwa ini pak di Solo, hanya saja kurang memberikan perspektif untuk ke depannya bahwa peristiwa ini jangan sampai terulang, dan gagal menemukan akar permasalahan mengapa hal ini terjadi. Seandainya akar masalahnya ketemu saya pikir akan bisa menjadi cermin bagi siapa saja, sehingga peristiwa ini tidak berulang…

  4. Onder de Boom  21 May, 2014 at 23:48

    Mas Han,luka dibadan walaupun telah sembuh akan meninggalkan bekasnya atau cacat,akan tetapi luka dihati akan dibawa sampai mati
    Salam dan doa u/keluarga di Solo.,dariAmrik CA91006

  5. Handoko Widagdo  20 May, 2014 at 14:12

    Saya punya doa yang sama Linda Cheang.

  6. Linda Cheang  20 May, 2014 at 13:43

    kiranya peristiwa menyedihkan tsb tidak terjadi lagi, dan semoga pemerintahan yanbg baru kelak, bersedia usut tuntas sampai selesai, dan memberi konsekuensi kepada para pelakunya.

  7. Handoko Widagdo  19 May, 2014 at 11:04

    Ulang tahun kok bakar toko.

  8. Nur Mberok  19 May, 2014 at 11:02

    Lah ulang taonku sudah awal bulan… hahhahhaa…… iku kerjaan pampam iseng…. xixixixi

  9. Handoko Widagdo  19 May, 2014 at 06:57

    Terima kasih untuk penjelasannya Avy. Perubahan memang memerlukan waktu. Oleh sebab itu marilah kita tidak jemu-jemu mengupayakan perubahan menuju yang lebih baik.

  10. Alvina VB  19 May, 2014 at 02:59

    FOR YOUR INFORMATION, UU di Canada banyak yg mendiskriminasikan warga keturunan Chinese dari masa ke masa dan stl itu diperbaiki dan stl 100th lamanya dihapuskan secara total.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.