Kekasih Jin (3)

Ary Hana

 

Aku mulai suka memperhatikan Sulung yang mencoba menyesuaikan diri. Dia patuh menuruti perintah keempat Asta. Membersihkan rumah dan pelataran, mencari selada air, hingga berburu rusa. Kerap ketika tangannya memotong pokok cikal bakal kayu bakar, mata kami bertemu. Pandangannya tak langsung jatuh menghujam mataku, namun menyapu tubuhku. Mengirimkan getaran dan kedut panas ke seluruh pembuluh darahku. Membuatku meriap, lalu membeku.

Tak jarang ketika mengantarkan rusa buruan untuk kumasak di dapur, dia juga mengaitkan serumpun eidelweis biru ke pergelangan tanganku. Eidelweis padang utara. Perhatiannya meluruhkan takutku, dan menumbuhkan nyeri di ulu. Lelaki yang dulu menerbitkan ngeri kini justru kurindui setengah mati. Bahkan ketika berbaring di ranjangku kala malam, aku bisa membedakan dan mengetahui mana helaan nafasnya. Nafas yang paling dalam dan panjang. Dengan aroma segar eidelweis padang utara.

Keempat Asta dengan cepat menyukai Sulung. Sedikit menyayanginya mungkin. Bukankah pergaulan di antara pejantan memang merambat cepat mirip nyala api? Tak seperti denganku dulu. Keempat kakak lelakiku baru mendongakkan wajahnya setelah kukebiri dalam badai angin barat. Mereka geram sekaligus kagum aku mampu meluruh di dalam angin. Tapi tahukah mereka jika Sulung pun memiliki ilmu yang sama denganku seperti saat kusaksikan di blumbang oranye dulu? Kurasa tidak!

ginkang

“Dari mana kau dapat ilmu itu?” tanyaku. Kami sedang berlomba ramban lumut jangut dengan berlari melingkar menaiki pinus merkusi setinggi 15 meter itu. Angin menderu dari segala arah. Tak satu makhluk pun menyadari keberadaan kami. Sulung menari di depanku. Sesekali meloncat menjangkau pergelangan kanan tanganku.

“Ingat,aku sebangsa jin. Makhluk tanpa raga yang bebas terbang ke mana-mana,” katanya sembari tertawa.

“Tapi kau terperangkap dalam tubuh manusia,” protesku. Rasanya menyebalkan ada makhluk lain yang menyaingi kelebihanku.

“Percayalah..aku takkan menjadi sainganmu. Justru aku akan setia kepadamu.” Dia mengucapkan itu sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Bau eidelweis biru tajam menyengat bulu hidungku. Membuat tanganku menjatuhkan rumpun-rumpun lumut janggut.

Tubuhku melejit, menangkap kembali lumut janggut yang terjatuh. Namun tangannya lebih gesit meraup bahan obat-obatan anti infeksi dan calon arak kami itu. Dia tertawa. Mengejek. Ingin kusumpal mulutnya dengan usnea tua saja. Biar tahu rasa dan mabuk ara.

“Kurasa aku telah menakutimu lagi,” katanya datar.

“Lebih dari itu,” jawabku, “kau membuatku kehabisan nafas.”

Kami lalu meloncati ranting-ranting pinus, menuju ke puncak tertinggi. Angin semakin menderu, diselingi hujan besar. Pada puncak pinus tertinggi, kami berdiri berdekatan. Tangannya memeluk pinggangku. Wajahku menatap langit. Bibirnya tiba-tiba sebatas debu dengan bibirku. Kuhirup aroma selada air.

“Kau membuatku demam,” kataku akhirnya setelah berhasil melepaskan capitan tangannya dari tubuhku..

“Aku harus turun segera. Asta tiga mencariku.” Sebelum meluncur, dia mencium rambutku. Tiga detik kemudian dia menghilang. Sementara aku mesti menunggu beberapa waktu.

“Oh..Bungsu, lihatlah dirimu!” Asta empat menyongsongku. Tubuhku kuyup oleh hujan dan menggigil kedinginan. Disahutnya gelondongan besar usnea dari gendonganku. Dipapahnya tubuhku seolah aku mau jatuh.

ginkang1

“Cepat ganti baju. Biar aku yang membuat bir untuk kita semua,” kedipnya nakal sambil mengelus pundakku. Tingkah kakakku satu ini selalu aneh jika aku berbau hujan. Sepintas kulihat tatapan Sulung. Bibirnya bergetar.

Makan malam itu berlangsung gaduh. Pengaruh arak usnea yang bercampur darah rusa kurasa. Keempat kakakku nyerocos luar biasa. Asta satu berteriak-teriak sepenuh tenaga, sedang ketiga Asta lain mengomentari ceritanya tak kalah garangnya. Hanya Sulung yang diam. Mematung di tempatnya, dan tak sekali pun menoleh ke arahku. Mirip memendam amarah. Dibiarkan dalam kebisuan, segera kutinggalkan meja makan. Beranjak menuju peraduan, kubuka jendela lebar-lebar, membaui tanah basah. Hujan mereda, begitu jua liungan angin. Sesekali kudengar salak srigala. Hatiku meringis, mengingat nyaris ciuman sore tadi dan kebisuan batu malam ini. Ketika akhirnya tertidur, aku bermimpi terbaring di padang rumput berwarna oranye.

(bersambung)

 

12 Comments to "Kekasih Jin (3)"

  1. djasMerahputih  17 May, 2014 at 07:23

    …….dan usnea ini jadi rebutan beberapa perusahaan farmasi di eropa (selain beberapa jenis terumbu karang langka di indo) untuk dijadikan bahan antibiotik yang dijual ribuan dolar

    Indonesia memang sangat kaya!!

    Mba Ary, apa masih domisili di Balikah…??

    Salam kompak,
    //djasMerahputih

  2. ah  17 May, 2014 at 01:07

    dan usnea ini jadi rebutan beberapa perusahaan farmasi di eropa (selain beberapa jenis terumbu karang langka di indo) untuk dijadikan bahan antibiotik yang dijual ribuan dolar

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.