Fenomena

Rusdian Malik

 

Fenomena luar angkasa semisal bisa ngaji dalam seperempat jam, jadi ahli tafsir dalam setengah malam, training menjadi gila dalam 7 hari, pelatihan riya khusuk, kaya dalam setengah hari, jadi begawan sakti profesional dalam sehari, pelatihan jimat khusuk, training eqyu, iqyu, esqyu barbeqyu itu selalu ramai lho, dan sekarang ada lagi muncul; pelatihan jadi orang tua soleh weh weh weh.

fenomena

Setidaknya ada dua kritikan kepada fenomena wah wah wah itu. Pertama, bahwa belajar itu tidak bisa instan, seyogyanya melewati proses panjang perjuangan suka duka yang berliku. Sebab, perkara yang instan itu akan mudah hilang, pondasinya rapuh, namanya juga instan, layaknya makanan instan yang banyak mengandung bahan kimia berbahaya.

Terus, entah kenapa rakyat bumi sekarang lagi ngetren hobi yang instan-instan? Faktanya, buku-buku dan siaran-siaran para inovator lebih diminati ketimbang bacaan dan siaran-siaran yang mengajarkan keteguhan, kebersahajaan dan perjuangan panjang dalam hidup.Di tangan para mentor inovator itu hidup didramatisir menjadi mulus semulus membalik telapak tangan, padahal realnya hidup ini tak semulus jidatnya pakde om Mario Teguh itu.

Mata tak heran, skarang mewabah serba-serbi dadakan; mendadak bijak, mendadak kaya, mendadak artis, mendadak relijius, mendadak ustadz, mendadak nyaleg, dan mendadak nyapres. Dan sebagai konsekuensinya banyak pula ditemukan kasus mendadak miskin, mendadak stres, mendadak gila, mendadak masuk penjara dan mendadak bangsat.

Kedua, entah kenapa pula kegiatan blablabla di atas diadakan di tempat ekslusif wah wah wah seperti di hotel yang artinya mau ikut harus bayar hibah, infak, mahar, sedekah ah apalah namanya tetap aja bayarnya bukan 2000 rupiah. Justru aroma komersil bisnis ala borjuisnya hasil perselingkuhan elit kaum agama dan elit pengusaha yang busuk tercium oleh hidung-hidung pengendus yang tajam. Kalau mau mencerdaskan para rakyat jelata, kenapa tidak diadakan gratis saja, kenapa tidak di tempat umum yang merakyat saja, semisal lapangan bola, balai desa, majlis ta’lim, gereja dan mesjid saja. Kenapa tidak diadakan di tipi aja, tipi lokal dan radio juga ada, biar jangkauan “dakwahnya” bisa diikuti rakyat lebih banyak.

Ah, au ah. Kalau yang doyan bgituan mungkin begini dalihnya: “Ah, husnuzzan aja ngapa sih, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, bayar ibadah lebih baik dari bayar maksiat, bayar mahal ibadah, barokah, bayar mahal maksiat, nauzubillah”. Ah au ah, dasar borju lu!

Terserah elu deh, saya ini hanya rakyat bego, rakyat awam, rakyat miskin yang kerap kali kena musibah basah. Orang kaya makin kaya, kami makin basah tercebur dalam kemiskinan, orang pinter makin pinter, kami makin basah tercebur dalam kebodohan. Para pejabat basah kenyang disuap, yang pengen jadi pejabat kenyang basah menyuap, dan rakyat jelata kenyang basah keringat mencari nasi sesuap. Kami terlanjur basah, basah semua, terlanjur basah, basah kulup. Kulupnya basah, ya mandi basah, hanya itu.

 

About Rusdian Malik

Dia adalah Pesbuker asal Kalimantan Selatan kelahiran 1985. Pria penggemar acara stand up comedy ini adalah alumnus pesantren yang cukup terkenal di Kalimantan Selatan, yakni Pondok Pesantren Al-falah Banjarbaru.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Fenomena"

  1. rusdian malik  20 June, 2014 at 13:18

    hehehehe, bginilah jaman maunya serba instan atau karbitan. Padahal “tetap setia pada proses’ itu sangat penting.

    Dapat instan, hilangnya juga instan. berkilau instan, pudarnya juga lekas hilang, karena sukanya ya memang makan mie instan, kawin instan, pisang karbitan, smoga matinya gak kecepatan juga.

    naujubilleh.

  2. J C  26 May, 2014 at 09:34

    Yaaahhh begitulaaahhh…

  3. Handoko Widagdo  23 May, 2014 at 15:07

    Dapatnya surga instan pula.

  4. Alvina VB  23 May, 2014 at 10:45

    Bung RM, kl jaman duluuuuu kita bilangnya bukan instan, tapi KARBITAN, he..he…tahu kan buah yg asli mateng di pohon rasanya gimana? dibanding buah yg dipetik muda, trus dikarbit biar cepet mateng, rasanya ya…gak enak lah…

  5. nia  23 May, 2014 at 09:31

    eikeh sih mendadak dangdut aje oom

  6. Kornelya  23 May, 2014 at 06:21

    Mas. Malik nan unik. Ternyata sekarang , beribadah itu ada levelnya ya, makin mewah tempatnya, kian tinggi barokahnya. Setelah itu mereka menganggap diri menjadi orang yg paling suci dan benar. Tetapi lebih nikmat kita, berbasah keringat karena kerja mencari sesuap masih dan mandi basah. Dari pada yg keringat basah, karena dicecer dan di kejar om Samad dari kepeka.

  7. djasMerahputih  22 May, 2014 at 14:12

    Satoe: Fenameno

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *