Di Balik Hingar-Bingar Kehidupan Pulau Dewata

Desi Sommalia Gustina

 

Tarian Bumi, Sebuah Sisi Lain Dari Bali

Buku - Tarian Bumi

Apa yang ada dalam pikiran kita ketika membicarakan Bali? Mungkin yang terbayang adalah sebuah tempat dengan segala pesonanya; alamnya yang permai, pantai yang indah yang tersohor hingga ke mancanegara, yang mampu memikat banyak turis dan menghasilkan pundi-pundi yang tak sedikit dan telah membuat pariwisata Bali begitu menggeliat, serta budayanya yang unik, dan berbagai cerita lainnya tentang betapa megah dan gemerlapnya Bali. Dari semua hal yang dipunyai Bali, tidak berlebihan jika kita bangga memiliki Bali sebagai bagian dari Indonesia. Hanya saja, Bali yang eksotik, Bali yang megah dan gemerlap adalah penilaian untuk menilai Bali dari jauh. Melalui novel Tarian Bumi (Gramedia Pustaka Utama, 2007) karya Oka Rusmini, kita akan menemukan ‘Bali yang lain’, Bali yang berbeda. Yang tak terbayangkan dan tak terpikirkan jika kita hanya melihat Bali dari satu sisi: begitu gemerlapnya Bali.

Melalui novel Tarian Bumi Oka Rusmini menyuguhkan sisi lain dari Bali dan penghuninya yang hidup dalam budaya yang feodal dan menindas; yang masih memandang tinggi rendahnya derajat seseorang berdasarkan kasta. Majalah Tempo dalam endorsmentnya pada lembar terakhir novel ini mengatakan bahwa novel Tarian Bumi menjadi fenomena sekaligus kontroversi. Novel ini dengan sangat terbuka menghantam keadaan yang melingkupi kehidupan perempuan di kalangan bangsawan Bali yang masih sangat feodal. Dalam konteks adat istiadat, Tarian Bumi dipandang sebagai sebuah pemberontakan kepada adat.

Pemberontakan yang dimaksud terlihat dari apa yang dilakukan oleh Telaga dalam novel ini yang berupaya melakukan perlawanan terhadap praktik-praktik budaya di kalangan bangsawan Bali yang menindas. Salah satu pemberontakan yang dilakukan oleh Telaga misalnya dengan menjalani hidupnya diambang penerimaan dan ketidakpatuhan, diantara penyerahan dan kebebasan. Hanya saja, dari hal yang dilakukan Telaga kita mafhum bahwa dalam hidup tidak pernah ada kebebasan yang sempurna.

Tokoh Telaga dalam novel ini adalah perempuan yang dilahirkan dari kalangan bangsawan Bali yang sangat feodal. Ayahnya memiliki nama Ida Bagus Ngurah Pidada, lelaki yang lahir dari seorang Ibu yang memiliki nama depan Ida Ayu dan Ayah Ida Bagus. Dalam masyarakat Bali, anak yang lahir dari Ibu yang memiliki nama depan Ida Ayu dan Ayah Ida Bagus nilai karat kebangsawanannya sangat tinggi. Sedangkan Ibu Telaga, Luh Sekar, adalah seorang perempuan Sudra, perempuan kebanyakan, yang berubah nama menjadi Jero Kenanga ketika disunting oleh  Ida Bagus Ngurah Pidada dan masuk dalam keluarga griya, rumah tempat tinggal kasta Brahmana. Luh Sekar begitu bangga diangkat sebagai bagian dari keluarga griya. Karena dalam pandangan Luh Sekar dengan menjadi keluarga besar griya derajatnya lebih tinggi dibanding perempuan-perempuan  Sudra yang lain.

Karena dilahirkan dari keluarga Brahmana, Telaga tumbuh sebagai perempuan ‘kalangan atas’, terhormat dan dikelilingi limpahan harta. Namun, toh harta bukan satu-satunya hal yang dibutuhkan Telaga. Sebuah ungkapan mengatakan harta bukan jaminan kebahagiaan seseorang. Ungkapan tersebut terkesan klise, tetapi ia berlaku terhadap Telaga. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Telaga pun membutuhkan kasih sayang dari orang tua yang dicintai. Tapi dalam proses pembentukannya Telaga tak mendapatkan kasih sayang yang lengkap. Sepanjang hidupnya Telaga tak pernah mendapatkan kasih sayang yang utuh, terutama dari sang Ayah. Hal ini mau tidak mau membuat Telaga tumbuh sebagai anak yang haus kasih sayang dari sesosok lelaki yang harus dipanggilnya “Ayah”. Bagi Telaga, Ayah adalah laki-laki asing yang melintas dan hanyut begitu saja dalam lintasan perjalanan hidupnya.

Karena hal inilah, tidak mengherankan ketika sang Ayah menemui ajalnya Telaga tak merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Sebab  bagi Telaga, ada atau tanpa Ayah tak ada bedanya. Hal ini dikarenakan laki-laki yang dalam tubuhnya juga ada sekerat daging Telaga itu tidak pernah memiliki tempat khusus dalam kehidupan Telaga. Telaga bahkan tidak pernah mengenalnya. Bagi Telaga, Ayah adalah lelaki yang selalu menghilang berbulan-bulan, dan ketika di rumah kerjanya hanya meneguk minuman. Ayah juga tidak bekerja. Telaga tidak pernah bisa membayangkan seperti apa rasanya duduk di pangkuan seorang laki-laki yang dicintai, laki-laki yang membuat Telaga ada (Oka Rusmini, 2007: 20-21). Sementara Luh Sekar, sang Ibu, adalah perempuan yang kerap memaksa Telaga untuk tunduk dan menjunjung nilai-nilai kebangsawanan keluarga griya yang sejatinya membuat  Telaga merasa terkungkung.

Salah satu keterkungkungan yang menyergap Telaga ketika harus berhadapan dengan pola pikir Luh Sekar, dan para bangsawan Bali yang dikisahkan dalam novel ini, yang tetap menggunakan cara berpikir mereka yang feodal; yang masih memandang tinggi rendahnya derajat seseorang berdasarkan kasta dan memperlakukan kalangan yang berasal dari kasta yang lebih rendah dengan tidak semestinya. Meskipun sesungguhnya tak seorang manusia pun bisa meminta takdirnya kepada Tuhan, sang pemilik takdir manusia, apakah akan dilahirkan sebagai manusia dari kalangan kasta Brahmana, Ksatria, Sudra, atau lainnya, tetapi hal ini tak bisa mengubah pola pikir para bangsawan Bali yang sudah tertanam turun temurun.

Pola pikir yang feodal itu seketika telah tertanam dalam diri Luh Sekar, seorang perempuan Sudra yang telah berhasil masuk dalam lingkungan keluarga Brahmana. Di antara nilai-nilai kebangsawanan yang dijunjung Luh Sekar adalah mengharuskan Telaga menikah dengan lelaki yang sederajat, lelaki yang berasal dari kasta Brahmana. Hal ini dikarenakan dalam pandangan Luh Sekar bahagia tidaknya anak semata wayangnya hanya apabila ia menikah dengan lelaki yang berasal dari kasta tertinggi dalam struktur masyarakat Bali, kasta Brahmana.

Di sinilah puncak keterkungkungan Telaga yang mengantarkannya pada sebuah perlawanan. Perlawanan Telaga bermula ketika memutuskan menikah dengan Wayan Sasmitha, laki-laki Sudra, laki-laki biasa, yang bukan berasal dari kasta Brahmana. Hal ini tentunya membuat sang Ibu mendidih. Karena, demi masuk dalam lingkungan keluarga griya Luh Sekar rela melakukan cara apa saja, sementara sang anak justru memilih keluar dari lingkungan keluarga griya. Tak mengherankan jika keputusan yang dipilih Telaga pada akhirnya membuatnya terlempar dari keluarga besarnya yang berkelimpahan harta.

Sebagai pembaca di luar masyarakat Bali, buku ini membuat mata kita terbuka bahwa yang selama ini tampak pada Bali dari kejauhan adalah hingar-bingar kehidupan yang tak bisa dijadikan ukuran untuk menilai Bali secara keseluruhan.

Tarian_Bumi

 

          Desi Sommalia Gustina, alumnus Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang.

Dipublikasikan di Singgalang, 2 Februari 2014

 

 

About Dessi Sommalia

Desi Sommalia Gustina, Alumnus Pascasarjana Jurusan Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang. Saat ini menggerakkan komunitas menulis Rumahkayu Pekanbaru. Menetap di Pekanbaru. Bekerja sebagai tenaga pengajar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Riau.

Arsip Artikel

14 Comments to "Di Balik Hingar-Bingar Kehidupan Pulau Dewata"

  1. Evi  7 June, 2014 at 21:00

    Dibanding Bali, Jakarta Lebih welcome buat pekerja kalangan pendatang Dari daerah lain. Bali enaknya untuk berlibur dan Kita seperti Ada di negara lain karena banyak bulenya yang ramah dan asyik, padahal Kalau Kita ke negara bule belum tentu sikapnya sama seperti bule di Bali.

  2. Atra Lophe  7 June, 2014 at 15:26

    Membaca Bali dari tarian Bumi…

  3. Gunawan Prajogo  30 May, 2014 at 22:54

    Tanyakan saja kepada mahasiswa-mahasiswi dari luar daerah yang kuliah di Bali. Ada pungutan resmi berupa uang setiap bulan yang harus dibayar kepada aparat desa. Kalau tidak dibayar mereka di usir dari Bali.
    Apakah ini bukan merupakan diskriminasi terhadap sesama bangsa Indonesia. Ini….. bukan isapan jempol belaka, tetapi keluh kesah sahabat yang kuliah di Bali.

  4. J C  29 May, 2014 at 19:01

    Terima kasih banyak untuk resensi dahsyatnya…

    Segera berburu buku ini ke Gramedia terdekat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.