Berkomentar, Mengenang, Tersadar, Bertanya, dan Bertekad

Mutaminah

 

Setelah membaca surat terbuka Nurmillaty Abadiah kepada Bapak Menteri Pendidikan, Muhammad Nuh (Klik artikel: Dilematika UNAS: Saat Nilai Salah Berbicara), saya seperti diserang berbagai macam pikiran, mulai dari kenangan, asumsi, pertanyaan-pertanyaan, dan tentu saja keinginan untuk menuliskan ini semua.

Yang paling menohok saya adalah perihal kejujuran yang sangat disoroti gadis asal Surabaya ini. Seketika pikiran saya kembali ke 4 tahun lalu, saat saya masih berseragam abu-abu. Betapa bodohnya saya dan beberapa teman saya saat mengatasnamakan hari itu adalah sebuah pertempuran, di mana yang harus ada dan harus terjadi adalah sebuah perjuangan. Sedang pagi itu, sebelum ujian dimulai kami berkerumun untuk menyalin kunci jawaban yang kami kambinghitamkan sebagai “ban serep”. Lantas pertarungan macam apa yang akan kami hadapi sedang kami sudah mendapatkan kemenangan bahkan sebelum berperang? Perjuangan macam apa saat yang harus kami lakukan hanyalah menyalin kunci jawaban?

Harus saya katakan ini, kalimat klise yang bagaimana pun juga tidak pernah bisa dibantah kebenarannya, bahwa penyesalan itu akan datang di akhir. UNAS SMA adalah yang terbaik namun yang terburuk bagi saya. Sampai detik ini, saya sangat enggan malah terkesan benci jika harus mengingat dan melihat hasil UNAS SMA saya, karena nilai tersebut telah terkontaminasi oleh sebuah ketidakjujuran dan kecurangan yang saya lakukan dengan sadar. Saya menyesal. Tiga hari yang paling ingin saya hapus dari ingatan saya, dan 3 hari yang justru sangat lekat di pikiran saya, hingga kenangan tersebut terus menghantui saya meski telah 4 tahun hari-hari itu berlalu.

SD, dan SMP, saya bahkan tak memegang kunci jawaban apapun meski ditawari teman. Saya masuk ke ruang ujian dengan dada berdebar, pulang ke rumah dengan perasaan cemas, dan merasakan kemenangan saat kelulusan diumumkan dan nilai UNAS saya genggam. Saya benar-benar merasa bahwa saya telah menaklukkan musuh-musuh terbesar dalam kehidupan saya yang belum tentu semua orang mampu melakukan itu. Nilai yang saya dapatkan bukan nilai sempurna, hanyalah nilai yang menyentuh kata “cukup”, yang mampu meloloskan saya untuk memasuki sekolah-sekolah negeri cluster satu.

conscious

Sangat lain rasanya dengan saat saya menerima hasil UNAS SMA, saya ingat betul waktu itu saya ingin menangis, atas keberhasilan sekaligus kegagalan terparah saya. Saya menang, tapi sesungguhnya di dalam diri saya, saya kalah secara telak. Pada akhirnya semua itu hanya menjelma boomerang, yang menyerang saya dan tak dapat saya hindari.

Saya salut pada Nurmillaty Abadiah yang tetap teguh pada kejujurannya, di antara ketidakjujuran yang mulai dilihat sebagai suatu hal yang wajar karena dilakukan secara bersama-sama. Saya malu dan merasa sangat tertampar dengan catatan yang ditulisnya karena pernah melakukan kecurangan itu.

Saya tidak akan berkomentar soal Menteri Pendidikan dan kebijakannya terhadap ranah pendidikan di Indonesia, karena lebih banyak orang yang lebih pintar dari saya, yang lebih berhak untuk mengomentari hal tersebut. Karena tidak ada yang lebih baik dari perkataan yang sama sekali tidak saya kuasai selain diam. Tulisan Nurmillaty Abadiah menjadi semacam sungai yang ketika saya mengikuti arusnya justru mendapatkan banyak hal untuk saya pelajari.

Hari ini, saat saya menuliskan ini, saya adalah seorang mahasiswi kelas karyawan di sebuah perguruan tinggi swasta. Yang untuk sampai ke titik ini adalah sebuah perjuangan. Saya bersama teman-teman saya harus “bergerak” lebih banyak dari orang lain untuk mendapatkan pendidikan tersebut. Yang saya pertanyakan pada diri saya sendiri, apakah akhir dari semua ini? Untuk apa saya bersusah payah sekolah sampai tinggi seperti ini? Untuk mendapatkan karir yang bagus? Untuk menjadi pintar? Lantas setelah pintar mau apa? Untuk memiliki pola pikir yang luas? Lalu setelah itu sebesar apa kontribusi pola pikir yang luas itu terhadap orang lain? Untuk membanggakan orang tua? Kemudian saat orang tua bangga semuanya akan berakhir?

Nurmillaty Abadiah menyadarkan saya untuk merenungkan ulang tentang eksistensi saya sebagai manusia dan warga negara. Tidaklah Tuhan menciptakan sesuatu apapun yang tak berguna. Apa manfaat saya untuk orang lain? Untuk Negara saya? Bagaimana mungkin saya berhak mencerca dan menghakimi ini itu di Negara saya sementara saya sendiri tidak pernah melakukan apa-apa untuk negeri ini?

Saya flashback kehidupan saya ke belakang. Betapa saya terlalu sibuk memikirkan dan mempersoalkan hal-hal remeh. Saya menuliskan isi hati saya, sementara saya tuangkan ke mana isi otak saya saat itu? Ke mana implementasi nilai-nilai saya di bangku akademik selama ini? Tulisan luar biasa itu akhirnya membuat saya seolah terbangun dari tidur panjang yang meninabobokan saya selama ini.

Saya sudah 22 tahun, dan baru memikirkan hal-hal seperti ini! Ya, adakalanya seseorang merasa kecewa terhadap dirinya sendiri, kan?

Dalam sebuah kesempatan, atasan saya pernah mengatakan pada saya, saat kita merasa mengalami kegagalan atau ada sesuatu yang mengganjal di hati kita, acungkan tangan kita di depan dada, dan biarkan jempol kita mengarah ke luar, menunjuk ruang “eksternal”, sedangkan keempat jari lainnya menunjuk pada diri kita sendiri. Bahwa bisa jadi sebagian besar apa yang terjadi pada diri kita adalah pengaruh dari dalam diri kita sendiri. Dan hanya satu jari dari lima yang berhak untuk menyalahkan orang lain atau keadaan. Bagi saya ini berlaku di semua kasus, termasuk kasus Indonesia. Jikalau kita merasa betapa buruknya negeri ini, tidakkah sebaiknya kita bersama-sama melihat ke dalam diri kita masing-masing terlebih dahulu sebelum melimpahkan segalanya pada sistem yang ada?

Siapapun, ajak saya bergerak, tak apa meski terseok, terseret, selangkah demi selangkah, toh itu akan lebih baik daripada hanya menjadi penonton dan komentator yang suaranya tak akan didengar. Tak usah pikirkan tentang mungkin atau tidak mungkin negara ini berubah, mari mulai bergerak, dari hal terkecil yang bisa kita sambangi. Saya selalu percaya, bahwa tidak ada usaha yang luput dicatat Tuhan dan akan dibalasNya dengan setimpal. Agar tidak menjadi sia-sia diri saya diciptakan, agar tidak menjadi sia-sia guru saya mengajari saya berbagai macam ilmu, agar tak sia-sia negeri ini mendidik saya lewat segala kemelut dan persoalannya yang terkadang tampak begitu rumit.

Catatan ini bukan apa-apa, hanya akan saya jadikan semacam pengingat untuk diri saya pribadi, agar jangan sampai mengalami kegagalan dalam kemenangan seperti yang pernah saya alami sebelumnya, untuk kembali menggaungkan di telinga saya mana kala saya lupa, untuk apa saya harus berpendidikan dan mendapat pengajaran sampai tinggi? Catatan ini hanya akan saya jadikan memori jangka panjang saya, karena daya ingat manusia terkadang begitu lemah, tentang saya, negeri saya, dan segalanya.

 

Bandung, Mei 2014

 

8 Comments to "Berkomentar, Mengenang, Tersadar, Bertanya, dan Bertekad"

  1. Anoew  31 May, 2014 at 17:35

    saya suka sekali kalimat ini

    Saya selalu percaya, bahwa tidak ada usaha yang luput dicatat Tuhan dan akan dibalasNya dengan setimpal. Agar tidak menjadi sia-sia diri saya diciptakan, agar tidak menjadi sia-sia guru saya mengajari saya berbagai macam ilmu, agar tak sia-sia negeri ini mendidik saya lewat segala kemelut dan persoalannya yang terkadang tampak begitu rumit

    semangat yaaa dan terus bergerak. ada pepatah mengatakan apa yang ditabur itulah yang dituai jadi, tidaklah mungkin orang menabur benih padi akan menuai buah duren.

    salam.

  2. awesome  30 May, 2014 at 09:38

    memang penyesalan selalu datangnya terlambat koq … kalau datang duluan khann namanya perencanaan

  3. Dewi Aichi  30 May, 2014 at 07:00

    Saya yakin Mutaminah sekarang akan merasakan hal yang lebih legaaaaaaaaaaa….yang mungkin selama ini membebani pikiran…salut Mutaminah….

  4. J C  29 May, 2014 at 20:45

    Mutaminah, membaca pengakuan ini benar-benar mantap dan menyentuh. Tapi benar, rasa itu memang sama. Dari jenjang SD, SMP dan SMA aku tidak pernah ikutan cari bocoran atau nyalin kunci jawaban. Jalan pintas seperti ini memang sudah ada sejak dahulu kala. Di era awal 80’an juga sudah banyak. Aku melihat sendiri teman-teman kakak yang pontang-panting cari bocoran. Waktu itu aku masih kecil jadi belum paham pada cari apa. Setelah aku SMP barulah teman-teman juga pada heboh cari bocoran… Aku cuek saja dan tidak pernah mau ikutan…

  5. Alvina VB  28 May, 2014 at 22:32

    Mutaminah, bagusnya kamu tersadar saat ini dan releksi diri, gak tunggu sampai bertahun-tahun kemudian. Usia 22 thn masih muda banget, masih ada banyak waktu utk berkarya buat kepentingan org banyak. Selamat berkarya!

  6. elnino  28 May, 2014 at 14:00

    Salut Mutaminah, berani ngakui kesalahan secara terbuka!
    Wah, udah tahun ke-4 ya kuliahnya. Kayaknya baru kemarin nulis artikel2 semasa SMA.
    Semoga ke depan Mutaminah menjadi pribadi yang bisa memberi banyak manfaat buat sekitarnya ya…

  7. Alvina VB  28 May, 2014 at 11:47

    Jujur saja lagi ngantuk, komentarnya besok ya….he..he….

  8. James  28 May, 2014 at 11:42

    1 …….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.