Luka

Fidelis R. Situmorang

 

Ternyata ayah Patar tak bisa tertolong lagi. Ia meninggal tak lama kemudian di rumah sakit. Ayahku meninggal, Than. Dia menyebut namaku sebelum meninggal. Begitu isi pesan yang kuterima di ponsel.

Aneh memang hidup ini. Apa yang tidak pernah kita harapkan bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Aku jadi berpikir, bahwa mungkin cerita-cerita Patar tentang ayahnya akhir-akhir ini adalah pertanda bahwa ayahnya sedang merindukan Patar di saat mendekati akhir hidupnya.

Patar yang selama ini kukenal adalah pribadi yang tenang dan tak pernah mengeluh. Orang yang suka mengalah dan tak suka berdebat. Ketika pembicaraan dengan teman-teman menuju ke arah yang memancing perdebatan, ia lebih memilih diam dan mendengarkan, sambil asik sendiri menikmati rokoknya, membuat asap yang keluar dari mulutnya berbentuk huruf o yang kejar-mengejar lalu buyar ditiup angin. Jika ditanya pendapatnya, ia hanya menjawab: bagaimana bagusnya saja.

Ia juga bisa dipercaya menjaga rahasia antar teman. Dan karena sifatnya itulah, dia sering menjadi tempat perhentian bagi teman-teman yang ingin melepaskan keluh kesah tentang berbagai hal.

Aku sendiri selalu merasa bahwa Patar adalah orang yang pintar dalam mengatasi masalah hidup, karena tak pernah ada satu pun dalam ingatanku, kawanku ini menebarkan keluhan. Dia seorang teman yang selalu bersedia mendengar dan tidak pelit memberikan saran jika diminta.

Itu sebabnya, jadi aneh bagiku kalau beberapa hari terakhir ceritanya dipenuhi keluhan tentang hubungannya dengan ayahnya. Ternyata hatinya yang tenang itu menyembunyikan retakan-retakan yang ditutupinya dengan rapi, hingga tak terlihat oleh siapapun juga. Pintar sekali ia menyembunyikan gurat-gurat itu selama ini.

Tentu saja sebagai seorang teman, aku ikut sedih mendengar apa yang dia rasakan. Sedih mengetahui bahwa orangtuanya tercinta menyayangi anak-anaknya yang lain, tapi dengan tanpa sadar, -begitulah menurutku- telah mengabaikan kawanku ini. Patar terluka di hatinya. Luka oleh orangtuanya sendiri.

Rasa kecewa yang kemudian bertumpuk-tumpuk itu perlahan berubah menjadi rasa benci. Aku kira inilah hal yang paling menyedihkan dalam hidup; membenci orang-orang yang kita cintai, menyimpan benci pada orangtua sendiri.

Patar, lelaki berhati tenang itu tak kuat lagi membendung air yang mendesak keluar dari matanya. Ia menangis. Tapi aku segera mengalihkan pandanganku ke arah lain, berpura-pura tidak melihatnya, tak ingin membuatnya terlihat lemah.

Sekarang ayahnya telah tiada. Ayah yang mengecewakannya sekian lama, ayah yang tak pernah lagi disapa dan dikunjunginya. Ayah yang selalu ia tolak setiap panggilan teleponnya itu telah pergi untuk selamanya. Dan tentu saja tak akan pernah lagi meneleponnya.

Siapa yang pernah menyangka bahwa Patar tak akan bertemu lagi dengan ayahnya ketika ia sedang menolak untuk bertegur sapa? Hidup ini memang sukar sekali ditebak. Apa yang tidak pernah kita harapkan bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Pasti sakit sekali apa yang sekarang sedang dirasakan Patar. Pasti sakit sekali.

“Kenapa melamun, Nathan?” tanya Martha mengejutkanku.
“Ayah Patar meninggal, Martha… “
“Astaga! Sakit apa? Sebentar ya, aku ganti baju dulu, kita ke sana.” Martha bergegas masuk ke dalam kamar.

 

13 Comments to "Luka"

  1. Anoew  31 May, 2014 at 17:22

    ouuhhh…

  2. Dewi Aichi  30 May, 2014 at 07:27

    Sedihhhhhhhhhhhhh…….

  3. J C  29 May, 2014 at 20:42

    Waduh…menyedihkan sekali ini…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.