Mengintip Perayaan Hari Suci Waisak di Candi Borobudur

Bayu Amde Winata

 

Kabut pagi menyapa kota Magelang, kota ini masih tertidur lelap saat saya datang. Pintu-pintu ruko berwarna-warni yang berada di Jalan Pemuda masih tertutup rapat, namun tidak jauh dari ruko-ruko ini sebuah klenteng mulai ramai dikunjungi pengunjung. Pengunjung ini berkepala botak dan menggunakan kain panjang sebagai penutup tubuh. Kain yang mereka gunakan ada yang berwarna kuning kunyit dan ada yang berwarna merah. Pada mulut pengunjung ini terdengar rapalan doa selama mereka duduk menunggu kedatangan teman mereka di klenteng. Siapakah mereka? Mereka adalah Banthe dan Bikhu yang datang untuk melaksanakan salah satu rangkaian ritual di dalam memperingati Waisak. Di pagi yang dingin ini, mereka mengadakan upacara yang dikenal dengan nama Pindapata.

WA 1

Apa itu Pindapata? Pindapata adalah menerima makanan dari umat berupa buah-buahan untuk menyambung hidup para Bikhu dan Banthe. Kegiatan ini biasanya dilakukan Bikhu dan Banthe di pagi hari, sebelum mereka memulai aktivitas. Pindapata merupakan rangkaian dari kegiatan upacara Waisak. Sebelum Pindapata, sehari sebelumnya sudah berlangsung upacara penerimaan air berkah dan api suci di Candi Mendut. Upacara penerimaan ini merupakan awal dari rangkaian upacara Waisak. Api suci yang berasal dari Grobogan dan air berkah yang diambil dari Umbul Juprit Temanggung dibawa di Candi Mendut. Kedua benda suci ini adalah wujud dari puja bakti kepada Budha. Air melambangkan kesucian, ketenangan sedangkan api melambangkan keperkasaan. Di Candi Mendut, api dan air suci akan disemayamkan selama satu hari sebelum esoknya dibawa menuju Candi Borobudur.

WA 10

Dari klenteng Tridharma yang berada di Jalan Pemuda, Bikhu dan Banthe keluar menuju kawasan pertokoan yang ada di sekitar klenteng. Umat Budha yang dari pagi sudah menunggu kedatangan Bikhu dan Banthe ini sudah bersiap di kiri kanan jalan. Saat Banthe dan Bikhu berjalan mendatangi umat, mereka akan memasukkan sumbangan berupa makanan dan uang ke dalam mangkuk yang sudah dipegang oleh Banthe dan Bikhu. Jalan Pemuda yang tadinya sepi, menjadi penuh dengan antrian manusia. Ada yang ingin melihat dan ada yang terlibat di dalam Pindapata.

WA 11

WA 9

Candi Mendut adalah tempat selanjutnya dari upacara hari suci Waisak. Dari candi ini api suci dan air berkah akan bawa menuju Candi Borobudur. Banthe, Bikhu dan umat akan berjalan kaki sejauh kurang lebih 5 km. Panas terik sinar matahari tidak mengurangi semangat para umat untuk mengikuti arak-arakan ini. Dalam perjalanan menuju Candi Borobudur, Banthe Wongsin Nobiko Theravada yang memimpin arak-arakan tidak berhenti memercikkan air berkat kepada umat yang menunggu di kiri kanan jalan. Kamera saya terkena percikan air ini, “Kamera ini sudah diberkati air berkah” pikir saya. Rombongan ini tiba di Candi Borobudur sore harinya. Tujuan mereka adalah altar yang berada di depan Candi Borobudur. Air berkah dan api suci disemayamkan di atas altar.

WA 4

Hujan deras menyapa candi Borobudur pada malam harinya. Pengunjung candi berlarian mencari tempat berteduh. Umat Budha yang datang memilih menunggu sembari beribadah di tenda-tenda yang sudah disiapkan oleh panitia. Untuk tahun ini puncak acara Waisak akan jatuh pada pukul dua dini hari. Di sisi lain, teras-teras dari bangunan di sekitar Candi Borobudur penuh dengan para pengunjung selain umat Budha, mereka menunggu puncak acara Waisak sembari berteduh. Saat tengah malam, pintu tengah yang menghubungkan antara candi Borobudur dan tenda umat penuh dengan antrian para pengunjung yang ingin masuk ke pelataran candi. Penjagaan Waisak kali ini ketat, hanya orang-orang yang memiliki tanda pengenal yang sebelumnya sudah di urus di Candi Mendut yang diizinkan masuk ke pelataran Candi Borobudur. Saya rasa hal ini wajar, karena pada tahun 2013 yang lalu perayaan Waisak penuh dengan kritik. Kritik ini ditujukan kepada para pengunjung yang datang ke Borobudur saat pelaksanaan Waisak.

WA 5

WA 2

WA 8

WA 12

“Oknum-oknum” pengunjung ini tidak menghargai Banthe, Bikhu dan umat Budha yang ingin melakukan ibadah di candi ini. Mereka berbuat sesuka hati, seperti memotret Bikhu dari jarak sangat dekat saat beribadah, berteriak saat umat Budha sedang berdoa. Akibatnya, pada tahun ini pihak pengelola Candi Borobudur dan Walubi memperlakukan syarat yang ketat untuk bisa masuk ke pelataran candi. Apa yang kamu tuai itu yang kamu dapat.

Suasana di pelataran Candi Borobudur malam ini berbeda, entah kenapa saya menjadi merinding. Merinding ini bukan karena takut, saya merinding karena mendengar doa-doa puja puji kepada Budha yang dibacakan oleh para Banthe dan Bikhu. Bulan purnama bersinar dengan terang di atas Candi Borobudur. Pada pukul dua dini hari, Banthe Wongsin Nobiko Theravada memulai doa Waisak. Tiba-tiba alam berubah, kabut tebal mulai menyelimuti pelataran candi. Hawa dingin pelan-pelan masuk ke tubuh. Tidak lama kemudian, Banthe Wongsin menghentikan puja Budha. Banthe dan Bikhu turun dari pelataran dan berjalan ke arah candi Borobudur. Bersama umat melakukan Pradaksina. Pradaksina adalah gerakan memutar candi sebanyak tiga kali.

WA 3

WA 6

WA 7

WA 13

WA 14

WA 15

WA 16

WA 17

WA 18

Selama Pradaksina umat Budha merapalkan doa keselamatan. Kemudian, dimulailah acara yang paling ditunggu oleh para pengunjung candi. Acara ini merupakan acara pelepasan lampion. Menurut panitia Waisak, kurang lebih seribu lampion akan dilepaskan di Candi Borobudur. Makna pelepasan lampion adalah agar doa yang dipanjatkan bisa sampai. Suasana di pelataran candi mulai heboh. Ada yang antri di tenda panitia untuk mendapatkan lampion, ada yang mencari posisi yang enak untuk menerbangkan lampion, dan ada yang sibuk menuliskan harapannya diatas kertas lampion. Masing-masing lampion ini akan dibakar oleh para pengunjung.

Kabut yang tadinya tipis menjadi semakin tebal saat pagi menyapa pelataran candi. Pelan-pelan para pengunjung dan umat Budha yang tadi memenuhi pelataran candi turun dan keluar dari Candi Borobudur. Patung Budha berukuran besar yang terletak di depan pelataran candi tersenyum kepada saya. Patung ini seolah olah berterimakasih perayaan Waisak tahun ini tertib dan terkendali.

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Mengintip Perayaan Hari Suci Waisak di Candi Borobudur"

  1. bayu winata  6 June, 2014 at 21:44

    Mas Edy: hehehe mesti rame banget ya mas Malioboro waktu itu. Selain di Borobudur, Waisak juga dirayakan di Candi Muara Takus, Riau, kebanyakan yang beribadah candi tersebut Bikhu dan Banthe dari Tibet dan Nepal.

  2. Edy  6 June, 2014 at 14:10

    saat itu saya juga lagi di yogya lho, waisakan di malioboro.
    semept ketemu banyak bikshu tahiland di airport nya.

  3. bayu winata  2 June, 2014 at 16:07

    mas Anoew: terima kasih mas….

  4. Anoew  31 May, 2014 at 17:20

    trims mas Bayu tulisannya, kereeen..!

    jadi terasa ikut jalan-jalan ke sana dan mengikuti perayaan waisak.

  5. bayu winata  30 May, 2014 at 11:01

    ariffani: ayooo kapan waisak gitu ke jogja ikutan ngeliat perayaan waisak

    mas JC: hehehe siap mas

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *