Kenaifan Beragama

Wesiati Setyaningsih

 

Suatu siang di sebuah gereja, berdua dengan seorang teman Katolik yang membawa saya ke situ, saya mendengar cerita dia tentang bagaimana dia dijauhi tetangganya. Siang itu saya memang minta diantar ke gereja dia yang dekat rumah saya karena sejak kecil saya penasaran ingin tahu bagaimana keadaan di dalam gereja. Sudah lama saya ingin tahu, tapi tidak punya alasan dan keberanian untuk masuk ke dalamnya. Kebetulan siang itu saya bertemu teman saya itu dan begitu mengutarakan keinginan saya melihat gereja, dengan antusias dia segera mengajak ke sana.

Di sana saya ditunjukkan semua ruang, terpana melihat bangunannya dan ornamennya yang indah, membayangkan kehikmatan beribadah di sana dan akhirnya saya duduk di bangku untuk merasakan kedamaiannya. Menurut saya semua tempat ibadah itu pada hakekatnya selalu memberikan kedamaian, karena di tempat itu yang ada hanyalah energi Tuhan.

Di akhir ‘tour de curch’ kami duduk-duduk dan dia menyatakan senang ada teman muslim yang mau berteman dengan dia karena selama ini dia sering dijauhi orang muslim. Saya mendengarkan dengan setengah percaya setengah tidak. Saya sendiri, merasa tidak punya alasan untuk menjauhi mereka yang agama atau keyakinannya berbeda. Jadi saya merasa curhatan teman saya itu agak aneh. Tapi dia bercerita dengan sungguh-sungguh bahwa semua itu benar, maka saya pikir mungkin itu benar.

Memang teman saya tidak sakit hati dengan perilaku orang terhadap dia karena semua itu tidak terlalu berpengaruh buat hidup dia. Tapi tetap saja hal seperti itu mengesalkan. Saya sendiri hanya mampu memahami, tapi saya tidak tahu rasanya. Saya pikir tidak mungkin bisa memahami rasanya karena saya termasuk golongan ‘di atas angin’. Saya lahir dari ras Jawa, ras mayoritas di daerah tempat tinggal saya, dan saya muslim, agama mayoritas di negara ini. Apa yang membuat saya bisa dikucilkan orang lain selain karena pola pikir saya yang ‘nyeleneh’? Saya pikir tidak akan ada.

Ternyata saya salah. Suatu ketika saya mendapat pesan dari seorang teman FB yang meminta maaf karena sudah berburuk sangka bahwa saya ini non muslim sehingga dia membatasi diri untuk bergaul dengan saya. Dia tidak melihat foto profil saya, hanya melihat nama saya yang tidak Islami, juga mungkin status-status dan postingan saya yang juga sangat tidak Islami. Akhirnya kesimpulan yang dia ambil adalah bahwa saya bukan muslim dan karenanya dia membatasi diri dari saya.

kelompok fanatik

Saya memang tidak pernah mengagungkan agama saya di FB karena buat saya agama itu ‘pilihan ibadah’ yang saya tahu sejak kecil. Stigma terlanjur ditempelkan pada saya bahwa saya muslim sehingga tidak mungkin saya beribadah dengan cara lain kalau tidak ingin membuat kehebohan di lingkungan saya. Selain itu saya juga tidak ingin belajar lagi dari awal. Apa yang saya jalankan sekarang sudah menjadi kebiasaan, ya sudah, saya jalani saja, begitu pikir saya. Tapi menganggap jalan inilah yang paling benar, itu sesuatu yang tidak masuk akal buat saya. Tiap orang punya pilihannya sendiri.

Awalnya saya berpikir bahwa kejadian itu menggelikan. Lantas saya pikir semua itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang membatasi diri dari orang lain hanya karena agamanya berbeda? Takut keyakinannya tercemar, atau apa? Saya jadi tahu benar rasanya dijauhi karena agama atau keyakinan yang berbeda. Detik itu juga saya ingat teman saya yang Katolik itu. Jadi saya sms dia untuk menceritakan hal ini.

Dia bilang, “baru tau to? Aku sudah sering ngalamin…”

Saya termangu. Saya yang diperlakukan begini pertama kali saja merasa gamang, semacam gagal paham, bahwa seseorang bisa menjauhi kita hanya karena apa yang kita yakini berbeda. Sedang dia sudah banyak mengalaminya. Saya jadi tahu benar rasanya. Yang saya rasakan bukan sedih karena saya juga tidak terlalu dekat dengan teman FB tersebut. Selama ini dia ‘menjauhi’ saya, rasanya hidup saya juga baik-baik saja. Tapi ketika apa yang dia pikirkan terhadap saya itu terbuka, saya jadi tidak habis pikir. Bagaimana mungkin pola pikir itu masih dipelihara? Astaga…

Yang tersisa dalam benak saya, sampai kapan hal seperti ini akan terus berlangsung? Negara ini sudah merdeka hampir 69 tahun tapi kita belum sepenuhnya merdeka dari dogma dan stigma, tak peduli dengan persaudaraan dan pertemanan. Bisa jadi urusan ‘membatasi pergaulan’ begini masih ‘stadium’ ringan dibandingkan dengan tindakan represif yang lebih kejam lagi.

Mereka tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya dijauhi karena agama yang mereka anut. Mestinya sebelum mereka melakukan itu mereka menempatkan diri dalam posisi tersebut agar mereka tahu rasanya, meski tidak mungkin paham sepenuhnya sebelum mengalami sendiri. Setidaknya mereka berusaha mengerti. Entah kenapa hal seperti ini tidak pernah terlintas dalam benak mereka.

perpecahan

Mereka harusnya tahu bahwa Tuhan memang menciptakan manusia berbeda-beda, baik dari bentuk tubuh, ras, maupun pilihan agama dan keyakinan. Perbedaan yang katanya rahmat itu harusnya diterapkan benar dalam kehidupan dan bukan cuma dijadikan wacana.

Menganggap apa yang dia yakini itu paling baik dan karenanya merasa berhak untuk menjauhi orang lain dengan agama atau keyakinan lain, tidak akan menunjukkan apapun selain kenaifan yang tidak masuk akal.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

42 Comments to "Kenaifan Beragama"

  1. dodi  9 January, 2019 at 17:03

    kuper, katrok

    ini orang ndak paham apa isi pidato nya si piktor kodat

    ndak mampu membaca sejarah dan menarik benang merah..

    sakno, kampungan banget nih si mbak..

  2. Itsmi  5 June, 2014 at 16:43

    Wes : “Saya menulis ini untuk dimaknai oleh masing-masing individu atau untuk membuka wacana saja….. “ saya kira tidak perlu lagi kalimat kalimat seperti ini diberkan komentar… karena saya kira sudah cukup membacanya apa arti kalimat ini. Wes wes…. Jadi sangat bertolak belakang apa yang kamu tulis dan apa yang kamu pikirkan.

    >>>> Saya merasa baik-baik saja ketika beribadah dipisahkan, (ngapain saya mesti deketan sama suami di tempat ibadah? kan tujuannya mau ibadah. bukan mau bercinta). dan yang saya sampaikan sebenarnya adalah bahwa tempat-tempat yang biasa dipakai ibadah selalu menimbulkan ketenangan tersendiri. Bagi yang tidak pernah beribadah karena tidak percaya sama Tuhan, saya paham bahwa hal ini tidak akan bisa memahaminya.<<<<

    Seperti komentar saya sebelumnya, melepaskan dari sesuatu doktrin itu tidak semudah…. Contohnya, duduk bersampingan,kamu sudah memproyeksikan dengan bercinta… dan siapa bilang orang yang tidak percaya Tuhan tidak memahami, justru karena saya sangat memahaminya oleh karena itu saya tidak ber Tuhan. ini memerlukan pemikiran abstrak. Wes, kesimpulan, pemikiranmu itu berdasarkan fundamentalisme. Nanti lain waktu saya tulis mengenai pemikiran fundamentalis.

    LANI dan Djoko

    Sudah tahunan saya protes bahwa berkomunikasi dalam bahasa daerah di umum tidak sopan. Tetapi itu tetap di lakukan. Tentu sebagai pembaca dan aktif di Baltyra, bertanya apa sebabnya tetap memakai bahasa daerah sedangkan bukan semua pembaca mengerti bahasa Jawa. Juga bila kita melihat tujuan Baltyra itu sangat bertentangan. Liat posting saya sebelumnya..

    Oleh karena itu saya protes dan memberi penjelasan, bahwa orang yang tinggal di luar negeri yang pakai bahasa daerahnya di umum dan bukan hanya sekali kali tapi sering kali, itu karena pelarian ekonomi, dan sangat rindu dengan kampungnya. Bisa juga karena mau melihatkan betapa hebatnya, sudah tinggal di luar negeri tapi masih biasa biasa aja, jadi tidak berubah.

    Dan tentunya bilamana membaca komentar mereka mengenai kenaifan agama dengan memakai bahasa jawa itu sudah sangat bertolak belakang. Karena di luar tidak semua orang bisa berbahasa Jawa, mereka melakukan pasif diskriminasi, secara halus.

    Nah kalau kamu tidak mengerti dan kamu merasa saya menyerang personalnya, boleh aja, karena kamu sendiri tidak mengerti karena kamu juga orang Jawa, dimana pada umumnya merasa superior terhadap suku lain. Jadi kamu sendiri tidak terpikir. Sama aja dengan orang beragama.

    Kata lain patron wacana yang kamu mau membukanya mengenai agama, kamu melakukan hal yang sama pada orang yang kamu kritik, bedanya ini masalah etnis.

    Orang beragama merasa superior, mereka tidak melihat patron patron yang mereka lakukan karena melihat patron itu, perlu IQ juga…. Dan tentunya jarak. Dan bilamana mereka melihat patron itu, mereka akan sadar…….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.