Eksotisme Apache di Benteng Vastenburg

Anoew & Reca Ence Ar

“Kami tidak pernah meminta semua tanah yang pada awal adalah milik kami, kami hanya ingin kembali ke tanah indah dimana kami bisa bercocok tanam. Tidak ada tanah seperti Arizona!” Kata Geronimo dari tempat penahanannya di Fort Sill Military reservation, Oklahoma, Amerika Serikat pada tahun 1905.  *1)

 

Konon di abad ke-16 orang Eropa tiba di Amerika Utara untuk pertama kalinya, mencari tanah / lahan dengan paksa sehingga menyebabkan keberadaan penduduk asli terancam. Perlawanan sengit dari suku Indian pun meletus. Mereka melawan dengan senjata busur, anak panah, pisau dan semacam tombak yang dikenal dengan sebutan tomahawk. Keterampilan perang seorang prajurit Indian terlihat dari tanda bulu-bulu di kepalanya yang menunjukkan bahwa ia pernah membunuh musuh, menguliti musuh, memotong leher musuh, atau mengalami cedera. Namun beberapa model yang berkostum ala Indian Amerika di festival ini setelah “diperiksa secara seksama dan dalam tempo seperlu-perlunya,” ternyata tidak ditemukan adanya tanda-tanda luka sedikit pun di kulit mulusnya yang menunjukan bahwa mereka pernah berperang.

 

1

***

 

Bertemu dengan Kang Reca dan Enief di outletnya sore hari itu, adalah titik awal di mana saya “keracunan” dunia jepret menjepret. Racun yang disuntikan secara halus melalui pelajaran menjepret dimulai dari komposisi rules of thirds, angle, ISO, Aperture, shutter speed, ekspresi model, hingga ke proses editing, sungguh membuat saya sedikit pusing sekaligus penasaran. Itu masih ditambah dengan “tuuuuh liat hasilnya, bagus kaaan…,” tandas Kang Reca sambil tak lupa mengacungkan kedua ibu jarinya. Saya hanya mengangguk-angguk sambil menggerakan jempol kaki menandakan setuju, karena bibir ini sedang mengunyah snack dan kedua tangan memegangi kamera dan lensanya.

Di tengah saya sedang berusaha mencerna keterangan yang disampaikan oleh Kang Reca dalam bahasa sesederhana mungkin, tiba-tiba, “besok ikutan datang ke Benteng Vastenburg ya, ada acara konser musik blues sama pemotretan outdoor. Gratis!” Ia berujar lagi. “Sekalian nanti kuajak gabung di Komunitas Penggemar Fotografi Solo.” Tentu saja saya mengangguk-angguk lagi namun kali ini, untuk menandakan persetujuan yang amat sangat sekali dengan undangan tersebut.

Pelajaran dimulai ketika keesokan harinya saya pergi ke Benteng Vastenburg. Selain penasaran seperti apa sih rasanya mendengarkan musik blues secara live, saya juga ingin mempraktekan petuah-petuah bijak dari Kang Reca tentang tehnik jepret-menjepret yang baik. Pelajaran pertama adalah menyimak suatu event atau moment yang ada di sekeliling. Nah, saya pun mulai mendekat ke depan panggung yang sudah dipenuhi oleh pecinta musik blues dan warga kota Solo yang masuk ke dalam kelompok “pecinta segala yang bening.”

Acara konser musik Solo Blues Festival tahun ini mengusung tema perpaduan kebudayaan antara Indian-Amerika dengan Jawa-Indonesia, yaitu The Cross Culture Road. Kegiatan yang merupakan event tahunan ini didukung sepenuhnya oleh Pemkot Solo, mulai dari penggunaan fasilitas ruang publik hingga pendanaan. Selain itu, acara ini juga dimeriahkan oleh restoran barbekyu D’ Koboi Bbq and Grill yang menyediakan kostum koboi ala Indian untuk para model / talent yang bergabung di Komunitas Penggemar Fotografi Solo (KPFS). (*pict 2)

2

Tanpa merasa perlu berlama-lama lagi, segera setelah kata sambutan yang diberikan oleh walikota Solo FX. Hadi Rudyatmo usai segera saya menyingkir dari depan panggung dan beranjak ke sisi utara. Toh buat saya agak “percuma” mengambil gambar di panggung dengan bermodalkan kamera saku, malam hari pula.

Nah, ada yang lebih menarik bagi saya di sisi utara ini. Di sana ada beberapa tenda dengan lampu berkekuatan penuh untuk mendukung kegiatan pemotretan outdoor. (*pict 3, 3a)

3

3a

Maka saya pun nekad ikut dalam rombongan KPFS meski hanya menggunakan kamera saku. Saya bidik model berkostum Indian-Amerika ini dalam berbagai gaya dan tentunya, ada beberapa pose lebih “menarik” yang tak mungkin saya unggah di sini. (*pict 4, 5, 6)

4

5

6

Agak malam kemudian Kang Reca datang. “Aku ke panggung ya, mau ambil yang di sana dulu,” ujarnya lantas bergegas ke depan untuk mengabadikan moment di atas panggung. Dan hasil dari kamera pro inilah yang membuat pikiran saya teracuni sekaligus mengamini bahwa, hasilnya sangatlah indah. (*pict 7, 8, 9, 10)

7

8

9

10

“Kang, mosok cuma yang di panggung aja yang dijepret. Itu tuh banyak yang bening-bening,” tak lama kemudian saya berkata sambil mengarahkan telunjuk ke sisi utara panggung.

“Hayuk atuuh kita sikat,” sahutnya cepat.

Lantas kami bergegas kembali ke arah tenda pemotretan dan kali ini, gambar yang indah dengan segera terabadikan dari kamera Kang Reca. (*pict 11, 12, 13, 14)

11

12

13

14

Menelan ludah, itu bukan dikarenakan oleh pose-pose indah dari sang model di tempat ini yang membuat tenggorokan saya kering, melainkan mungkin juga terlalu banyak merokok. Maka saya beranjak ke tenda berikutnya untuk membeli air minum namun, niat itu batal begitu ada seorang model lain yang sedang bergaya. Juga tak kalah indah. Maka tanpa buang waktu segera saya arahkan kamera ke arahnya dan jepret.. jepret.. jepret…, saya hajar ia dalam berbagai pose namun sekali lagi, tak mungkin semua saya unggah di sini hehe… (*pict 15)

15

Malam semakin larut dan saya merasa cukup meskipun acara belumlah usai, lagipula ada kabar bahwa dua orang teman telah menunggu di rumah. Maka saya memutuskan segera pulang dan selama perjalanan, baru saya menyadari bahwa dunia jepret-menjepret itu sungguh asyik.

Salam jepret.

16

PS:
– *1): Barrett 1906, p. 213 – 216

– Talent: Exsotis Kitha Aprilia & Ayu Pinguin Ayu

– Lokasi: Benteng Vastenburg, Solo

– Event: Solo Blues Festival 2014
***

 

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

29 Comments to "Eksotisme Apache di Benteng Vastenburg"

  1. Anoew  4 June, 2014 at 13:55

    Yu Lani, hahahahaha……. lha katanya mau studi banding

  2. Lani  4 June, 2014 at 13:47

    KANG ANUUU : asem kecut iki! Nek sing kuwi jelassssss aku menang (menang tuo)……..masa itu sdh berlalu

  3. Anoew  4 June, 2014 at 13:38

    kalau begitu, ayo pose pose lagi biar kujepret… nah, kalau kangen, ayo kirim.. katanya mau pose eeeh, ngirim lagi…

  4. R Wydha  4 June, 2014 at 13:33

    Kang anoew : hahahahahaha…. iyaaa toh kangen jeprat jepret wkwkwkwkwkwkwk…. iyaaaa ak rindu kawan2 baltyra… udh lama gk cuap2 gk coret2 jg hehehehehehe

  5. Anoew  4 June, 2014 at 12:30

    Kang Reca, siiiiiiiiiiiip……

    Wydha, rindu sama masa jepret-jepretnya thok? nggak rindu sama aku..?

  6. R Wydha  4 June, 2014 at 10:47

    hehehehehehe artikel ini mengingatkan sy dlu jeprat jepret heheehe siiiippp mantaaaab… rindu masa itu jeprat jepret

  7. Reca EAR  3 June, 2014 at 13:12

    siap corat coret lagi mas Anoew

  8. Anoew  3 June, 2014 at 12:54

    jelas kalah tho Yu…, maksutnya, kalah usia… hoahahahaaha

    aku mulih kampung halaman, tempat aku lahir dan dibesarkan. *halaaaah*

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.