Anak Muda Membaca Narasi Tragedi G30S

Harry Anggoro Djatmiko

 

Di penghujung diskusi kelas tentang peristiwa G30S saya menawarkan beberapa buku fiksi untuk yang telah dilihat-lihat oleh siswa untuk dibaca di rumah. Sebenarnya ada beberapa buku yang rupanya menarik minat mereka yaitu Candik Ala 1965 (Tinuk R.Yampolsky), Bunga Tabur Terakhir (GM.Sudarta), Kembang-Kembang Genjer (Fransisca Ria Susanti), Pulang(Leila S.Chudori), Nyanyian Penggali Kubur (Gunawan Budi Susanto), yang kemudian mereka pinjam. Selang beberapa hari saya tagih mereka untuk menuliskan kesan atau catatan singkat dari buku yang telah dibaca. Dengan sedikit “paksaan” tiga anak mengumpulkan catatannya terhadap tiga buku: Kembang-Kembang Genjer, Pulang, danNyanyian Penggali Kubur. Tulisan mereka masih jauh dari sempurna , dan saya hanya menambahi beberapa tanda baca.

Kembang-Kembang Genjer

Buku “Kembang-kembang Genjer” isinya sangat menarik. Dari buku ini saya dapat mengetahui penderitaan, perjuangan dan kesabaran para korban peristiwa G 30 S 1965, terutama korban wanita yang kesaksiannya dituliskan dalam buku ini. Mereka yang tidak bersalah dijadikan tahanan politik hanya karena menjadi anggota atau pun pernah mengikuti seminar sebuah organisasi wanita yang bernama Gerwani.

Organisasi yang dianggap sebagai gerakan underbow PKI, yang dianggap sebagai dalang dari Peristiwa G30S 1965. Sebagai generasi muda yang lahir di masa jauh sesudah peristiwa itu terjadi, saya memang tidak mengetahui secara pasti peristiwa tersebut. Namun berkat membaca buku ini setidaknya saya sedikit tahu tentang apa peristiwa itu. Juga tahu tentang para korban tahanan politik yang direnggut hak dan kebebasannya hanya karena dianggap sebagai simpatisan PKI. Para wanita yang seharusnya dapat menjadi inspirasi bagi generasi sekarang, harus hidup dengan predikat tahan politik G30S 1965 yang menyulitkan kehidupan mereka. Hanya karena sebuah alasan konyol mereka menjadi sesuatu yang harus dihilangkan dari Indonesia. Organisasi Gerwani yang menjadi organisasi wanita yang bahkan dikenal di kancah internasional menjadi organisasi yang disalhkan atas kematian para jenderal. Gerakan yang seharusnya dapat memotivasi wanita di masa kini dengan program-program yang memajukan Indonesia terutama kaum wanita.

Novel yang sangat bagus, menarik, mengharukan, dan mengerikan. Novel yang menyesakkan dada setiap pembacanya. Sebagai sesama perempuan, sangat merasa jengkel membaca penderitaan 13 eks tapol yang disiksa, dilecehkan, dan diperlakukan sewenang-wenang atas kebiadaban rezim penguasa pasca G30S, yang pada kenyataannya mereka tidak tahu apa-apa. Sejarah hidup yang tidak akan dilupakan oleh mereka. Banyak pelajaran positif yang dapat diambil dari novel ini.

Pada buku “Kembang-kembang Genjer”: 1.Ternyata doktrin pemerintah kepada masyarakat Indonesia secara luas tentang bersalahnya PKI dan para Gerwani yang menjadikan mereka harus disiksa dan diadili, telah berhasil hingga saat ini. 2.Kekuasaan yang ada pada rezim Orde Baru juga telah menjadikan wanita-wanita yang hebat dan juga dapat membawa perubahan pada rakyat Indonesia, jadi sengsara dan dipecundangi.

 

Nyanyian Penggali Kubur

“Nyanyian Penggali Kubur” oleh Gunawan Budi Susanto Kesan: Kumpulan cerpen fiksi tapi fakta yang sangat bagus, menarik dan mengharukan. Kekejaman rezim penguasa pasca peristiwa G30S, yang berdampak pada anak keturunannya yang dicap sebagai keturunan PKI dan dipersulit dalam menjalani hidup. Dan cerpen yang paling membuat terharu pada judul Mbok Nah, Tong dan Sayur Bayam.

Kumpulan cerpen Nyanyian Penggali Kubur berisi tentang kisah para tahanan politik dan keluarganya pada saat dan pasca peristiwa G30S. Bagaimana kehidupan dan penderitaan para tapol ketika mereka dipenjara dan keluarga mereka yang dengan setia menunggu kepulangan, serta mendukung mereka. Kumpulan cerpen ini menunjukkan bahwa dampak dari peristiwa G30S tidak hanya dirasakan di kota-kota besar dan terhadap orang-orang yang mempunyai pangkat dan kedudukan di pemerintahan.

Bahkan di desa-desa kecil banyak ditemukan mayat yang tidak diketahui identitasnya, mayat para korban G30S, dan juga penangkapan warga desa yang dianggap sebagai simpatisan PKI. Kehidupan para warga desa yang ditangkap berubah drastis, mereka sulit mencari pekerjaan dan lain-lain. Dari kumpulan cerpen ini saya bisa tahu dampak dari peristiwa G30S yang membuat kehidupan para tapol dan korban berubah bahkan juga keluarga mereka. Hal ini yang menjadi sisi menarik dari cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini. Berkat cerpen-cerpen ini kita bisa tahu bagaimana keluarga para tapol yang harus menerima predikat sebagai keluarag atau anak tahanan politik, yang menyulitkan mereka dalam menjalani kehidupannya.

 

Pulang

“Pulang” oleh Leila S Chudori Novel yang sangat bagus dan menarik. Alur cerita yang tidak membosankan dan selalu membuat penasaran. Penggambaran setiap tokoh yang sangat menarik. Banyak sekali nilai positif yang dapat dipetik, seperti kesetiaan, kerja keras, kerja sama, kesetiakawanan. Semakin cinta tanah air dan bangga menjadi rakyat Indonesia.

Pada buku “Pulang”: 1. Lari dari kejaran pemerintah Orde Baru karena dianggap PKI justru menjadikan seseorang berhasil memperkenalkan budaya Indonesia dan kulinernya di luar negeri. 2. Banyak kata-kata dan pemikiran yang bijak yang ada pada setiap tokoh dapat menjadi motivasi dan inspirasi bagi saya. 3. Walaupun tokoh telah dijadikan musuh oleh pemerintah, namun dia tetap cinta pada tanah airnya.

narasi-g30s-01

narasi-g30s-02

narasi-g30s-03

narasi-g30s-04

narasi-g30s-05

Pementasan cerpen Mbok Nah, Tong dan Sayur Bayam di rumah keluarga besar Pramoedya Ananta Toer jalan Sumbawa Blora pada 28 April 2013:

narasi-g30s-06

narasi-g30s-07

narasi-g30s-08

 

4 Comments to "Anak Muda Membaca Narasi Tragedi G30S"

  1. J C  3 June, 2014 at 20:40

    Setuju dengan komentar nomer 2: history dan HIS STORY sering bertukar tempat…

  2. Anoew  3 June, 2014 at 12:57

    Nyanyian Penggali Kubur karya GBS, sempat membaca sedikit. Keren.

    Buku-buku yang menceritakan tragedi G30S selalu membuat saya merinding, sekaligus kesal.

  3. Alvina VB  3 June, 2014 at 12:07

    Terkadang history menjadi HIS story

  4. handokowidagdo  3 June, 2014 at 07:41

    Selalu ada sisi yang tak terberitakan dalam sejarah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.