Islam, Bagi Saya

Tatang Mahardika

 

(Sangat terinspirasi tulisan Kurie Suditomo “Islam Saya, Islam Kadotjes” dan catatan Linda Christianty “Islam dan Saya”)

SAYUP-sayup terdengar lagu Bimbo dari layar televisi, “Setiap habis Ramadhan, hamba rindu lagi Ramadhan….”. Dengan segera kakak perempuan saya berceletuk, “Setahun pisan ae abote ngene.” Tawa pun meledak di ruang tengah rumah ibu saya, jelang Idul Fitri lalu.

Di tengah keluarga seperti itulah saya dibesarkan. Sebuah keluarga yang sangat rileks dalam memandang agama yang kami anut, Islam. Tak ada dogma yang kaku, semua bisa disikapi dengan santai, termasuk untuk urusan ibadah.

moderate

Saya teringat ketika kali pertama berpuasa penuh di kelas 1 SMP (meski sudah kuat, ibu melarang saya berpuasa penuh di tahun-tahun terakhir sekolah dasar). Ketika itu, terdapat perbedaan penentuan Idul Fitri antara NU dan Muhammadiyah.

Keluarga saya tak pernah berafiliasi ke organisasi Islam apapun. Tapi, kami tinggal di sebuah desa yang praktik ibadahnya cenderung condong ke NU. Nah, tiba-tiba sore itu, terdengar kumandang takbir, saat baru sekitar jam 4 sore.

Ibu langsung mengambil piring, mengisinya dengan nasi sekaligus lauk, dan lantas memanggil saya ke meja makan. “Wis ndang buko. Gak ilok nek wis krungu takbir jik tetep poso,” kata ibu kepada saya.

Saya langsung protes. Sebab, saya tahu tetangga-tetangga kami masih akan berpuasa sehari lagi. Apalagi, militansi saya terhadap puasa sedang tinggi-tingginya. Masak, baru kali itu berpuasa penuh sudah dapat kortingan.

Lagi pula, apa mau salat Idul Fitri sendirian? “Gampang. Kita puasa selesai dulu. Salat Id di Lebaran kedua kan nggak apa-apa,” jawab ibu dengan enteng.

Militansi saya langsung pergi. Masuk akal juga, pikir saya. Maka, habislah nasi sepiring saat waktu berbuka (untuk mereka yang tetap berpuasa) sebenarnya tinggal setengah jam lagi. Saya tak menyesal karena toh Pak Modin—semacam kepala urusan agama—yang menjadi guru mengaji di musala selalu berpesan kalau Islam adalah agama yang mudah. Dalam artian, tak mau memberatkan umatnya.

Saya pun tumbuh mengenal Islam dengan “syariah” yang lentur seperti itu. Termasuk untuk memahami sosok seperti Pak Modin. Beliau imam salat di musala dan masjid, tapi juga memimpin doa syukuran panen atau tandur di kuburan. Beliau memimpin pengajian, tapi sesekali juga, konon, ikut memasang SDSB.

Saya memandang kontras-kontras itu justru dengan asyik. Sekalipun tak pernah saya menganggap beliau hipokrit, apalagi syirik. Berdoa di kuburan bagi saya adalah sebuah bentuk adaptasi psikologi terhadap budaya lokal. Memasang SDSB? Ah, barangkali beliau cuma penasaran. Toh tak ada yang dirugikan, wong itu duit sendiri.

Kelenturan seperti itu pula yang membuat saya lahap menyantap kue-kue Natal dari tante dan om yang Kristen, saat teman-teman ngaji dan sepermainan saya mulai bisik-bisik kalau mengucapkan selamat Natal—apalagi melahap hidangannya—itu haram.

Saat SD, saya dengan santai menjadi tutor (baca: tukang ngasih contekan) pelajaran agama Islam bagi adik sepupu saya yang Hindu saat ulangan atau ujian, tanpa sedikitpun berniat untuk mengajaknya mengenal Islam lebih dalam apalagi membujuknya menjadi mualaf. Saya melakukannya semata-mata karena kasihan. Dia satu-satunya yang non-muslim di SD kampung saya. Namanya sekolah di kampung, tak ada kelas terpisah untuk pemeluk agama lain.

Keluarga besar nenek saya dari pihak ibu memang bak “Indonesia mini.” Tante dan om saya ada yang Kristen, ada juga yang Hindu. Ada yang sangat santri, tapi banyak pula yang muslim “rileks” seperti keluarga saya.

Tapi, begitu Lebaran tiba, kami semua selalu berkumpul. Termasuk om dan tante saya yang Hindu yang tinggal di Jakarta, bahkan dulu di Papua. Saya kira latar belakang ini yang juga sedikit banyak membantu saya bersikap cair dalam beragama dan berelasi secara sosial.

Saya selalu punya sahabat dekat seorang Kristiani, baik di SMA maupun ketika kuliah. Saya juga ingat betapa kerap saya bertengkar dengan seorang teman kuliah yang aktivis masjid. Penyebabnya, dia selalu mengecam kegiatan-kegiatan kami di himpunan mahasiswa yang dinilainya “tak Islami.”

Saya memang tak pernah cocok dengan segala bentuk Talibanisme. Atau mereka yang menganggap diri dan kelompoknya sebagai penjaga moral, syariah, atau apa pun namanya itu. Dan, dengan gampang mengacungkan telunjuk ke orang lain seraya meneriakkan “kafir”.

Saya ingat cuma tahan lima menit di dalam masjid kampus ketika seorang teman mengajak mengikuti pengajian seorang ustad yang mantan rocker. Saya mual karena dunia di mata si ustad rupanya hanya ada dua: halal dan haram.

Pengalaman hidup mengajarkan, ada begitu banyak wilayah abu-abu, yang sangat privat, di hidup ini yang tak semestinya atau seharusnya dengan gampang dihakimi. Sebab, parameter apa yang akan dipakai? Ada banyak hal yang tak ada di zaman Nabi, yang kini justru harus kita temui sehari-hari.

Dari apa yang saya alami sejak kecil, saya meyakini, beragama adalah sesuatu yang amat personal, begitu transendental: semata-mata antara Anda dan Dia. Seperti dua sahabat yang berbincang akrab, tanpa pamrih. Tak perlu campur tangan kitab suci, apalagi ulama.

Tapi, betapa tak mudah, setidaknya bagi saya. Barangkali, saya cuma baru bisa belajar jujur: mokel ketika memang tak kuat puasa, tak salat ketika hanya merasa terpaksa, tak sedekah—bahkan sekadar Rp 500 perak sekalipun—ketika tak sepenuhnya ikhlas.

Sembari juga sesekali ndableg mempertanyakan skenario Tuhan: Kalau Dia Maha Adil, kenapa yang dzalim terus menerus diberi kekuasaan dan kekayaan; Kalau Dia Maha Kasih, mengapa yang miskin tiada henti diberi penyakit, bencana, dan kecelakaan; dan kalau Dia Maha Kuasa, kenapa si mayoritas sombong dibiarkan selalu seenaknya menginjak-injak si minoritas lemah.

Terus terang, kendablegan itu seringkali malah menjerumuskan saya pada kebingungan tak berujung. Kalau sudah demikian, saya biasanya memilih sumeleh dan berpegangan kepada Tolstoy saja: Tuhan tahu, tapi Dia menunggu. (*)

 

About Tatang Mahardika

Seorang 'juru tulis berita' alias wartawan salah satu harian besar di Jawa Timur ini gemar melanglang buana melihat keindahan dunia dan membagi foto-foto dan tulisan perjalanannya melalui BALTYRA.com

Arsip Artikel

23 Comments to "Islam, Bagi Saya"

  1. Lani  8 June, 2014 at 11:54

    ariffani : aku bkn penggemar lotto, lotere, atau aneka judi lainnya…………tp yg namanya SDSB mmg TOP pd zamannya

  2. ariffani  8 June, 2014 at 09:34

    oalaaahhhh,, maklum ga pernah ikutab begitu bu LANI .. hehehhee….

  3. Lani  8 June, 2014 at 09:23

    ariffani : itu salah satu nama lotere yg sgt beken di Indonesia, sak-pengertianku lo ya

  4. ariffani  8 June, 2014 at 08:26

    SDSB itu apa????

  5. Itsmi  4 June, 2014 at 18:12

    Alvina, jangan dulu merasa kasihan pada temanmu, wanita yang berpendidikan memilih hidup begita karena ada sensasinya apalagi pada seksualnya……

  6. Dewi Murni  3 June, 2014 at 20:46

    Anoew…..dua saja cukup……………..(istrinya)….

  7. Dewi Murni  3 June, 2014 at 20:45

    Alvina…..tosssssssss….Islam yang saya kenal sejak lahir ya Islam yang seperti di tulis oleh pak Tatang…dimana ada seorang imam masjid yang masih memimpin doa doa ritual Jawa, wiwit, kenduri, nyadran dan lain-lain, malah main SDSB segala tuh hehe….melakukan doa-doa untuk ritual Jawa, saya yakin tidak ada maksud untuk menyekutukan tuhan,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.