Tak ke Mana-mana, Ada di Mana-mana

Gunawan Budi Susanto (Kang Putu)

 

ORANG Nahdlatul Ulama (NU) tersebar di berbagai partai dan kini terbelah lagi ke kedua koalisi yang mengusung calon presiden dan wakil presiden. Mengapa? Apa implikasinya? Di satu sisi, bukankah itu memperlihatkan betapa warga NU atau nahdliyin punya kemerdekaan bersikap berkait dengan pilihan politik? Di sisi lain, itu boleh jadi cermin dari sikap “mendengar dan melaksanakan” sang kiai yang jadi anutan masing-masing pula. Mana lebih tepat?

nu-di-mana-mana

(ilustrasi karya Djoko Susilo)

Dulu, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bilang, dalam kaitan dengan sikap dan dukungan politik, NU tidak ke mana-mana, tetapi ada di mana-mana. Ya, itulah yang terjadi: di semua dan setiap partai nyaris pasti ada tokoh NU. Kini, ketika mendekati pemilihan presiden, apakah ketersebaran itu menguntungkan atau justru merugikan NU?

Mahfud MD yang menjadi ketua tim pemenangan calon presiden Prabowo Subianto, misalnya, beralasan bergabung ke koalisi itu agar bisa menitipkan dan mengawal perwujudan amanat dan cita-cita NU. Ungkapan senada muncul pula dari tokoh NU yang bergabung ke koalisi pengusung Joko Widodo. Elok bukan, siapa pun yang menang kelak, amanat dan cita-cita NU dalam konteks keindonesiaan — antara lain penghargaan terhadap pluralisme dan pengukuhan terhadap negara kesatuan Republik Indonesia — berkemungkinan besar mewujud.

Lantaran, para tokoh NU itu terlibat aktif untuk mewujudkan bukan?

Namun sebenarnya NU tak pernah secara kelembagaan menginstruksi warganya memilih si A atau si B. NU bersikap netral. Jadi keberpihakan setiap tokoh, baik dari struktur kelembagaan maupun dari kalangan NU kultural, adalah sikap pribadi. Itulah yang ditegaskan Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah Abu Hafsin.

Sebenarnya bukan cuma di bidang “politik praktis” macam itu tokoh atau warga NU tersebar. Hampir di semua bidang kerja kebudayaan ada warga dan tokoh NU. Dan, mereka telah memberikan kontribusi besar terhadap kehidupan bersama. Di Jawa Tengah, misalnya, berbelas tahun sudah anak muda NU yang bergabung dalam Syarikat aktif mengadvokasi para korban stigmatisasi politik pasca-1965 di berbagai kawasan. Mereka mendampingi, nguwongke uwong, korban pemberangusan dan pembantaian politik warisan rezim Jenderal Besar Soeharto itu. Mereka juga aktif membela rakyat yang jadi korban dalam konflik ekologis dengan penguasa dan pengusaha. Jadi benarlah ujar Gus Dur dan memang sebaiknya NU tidak ke mana-mana, tetapi ada di mana-mana: untuk berkonstribusi bagi kehidupan bersama.

Gunawan Budi Susanto

•    Suara Merdeka, Minggu, 1 Juni 2014, halaman 1.

 

5 Comments to "Tak ke Mana-mana, Ada di Mana-mana"

  1. J C  3 June, 2014 at 20:41

    Gus Dur memang mantap…sekarang identik NU = gusdurian…

  2. Anoew  3 June, 2014 at 13:03

    Gus Dur –> NU —> ada di mana-mana. ===> i love Gus Dur –> love NU –> love siapa saja eh, di mana-mana.

  3. Lani  3 June, 2014 at 12:33

    DA : malah ngajak gendong2-an pie ta?????? Klu digendong sm kang Anuuuuu….gelem opo ora?????

  4. handokowidagdo  3 June, 2014 at 07:44

    NU adalah rumah besar.

  5. Dewi Aichi  3 June, 2014 at 06:24

    Tak gendong, ke mana-mana..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *