Luruh

Ida Cholisa

 

Vonis hipertiroid yang disampaikan dokter memaksaku untuk mengurangi beragam aktivitasku, termasuk jam menyetirku. Setelah jatuh dua kali, aku memilih bus, angkot atau taksi saat bepergian jauh.

Kendaraan murah meriah K 56 menjadi pilihan saat aku menuju Jakarta. Tiba di UKI aku akan menyetop taksi dan melanjutkan perjalanan. Demikian juga sebaliknya. Taksi menjadi pilihan sebelum aku kembali menaiki K 56.

Hingga suatu ketika saat aku berada di K 56, aku duduk berhadapan dengan seorang bapak setengah baya. Wajahnya teduh, simpatik dan manis. Sepanjang jalan aku melamun membayangkan wajah si Bapak yang terlihat masih gagah dan tampan. Sebuah cerpen seketika berkelebat di kepala.

Beberapa hari kemudian aku kembali menuju rumah sakit. Poli bedah kanker yang biasa menjadi tempat check up-ku kini berganti poli penyakit dalam. Beragam pemeriksaan mulai USG leher dan perut, rontgent dada dan pemeriksaan darah mengarah pada satu kesimpulan; aku terkena hipertiroid. Bukan lagi kanker yang telah kuidap selama sekian tahun.

“Nyonya Ida Cholisa….”

Seorang perawat muda berkulit putih memanggil namaku.

Aku berjalan cepat menuju ruang dokter. Dadaku berguncang. Jantungku berdetak kencang. Dokter nan manis tersenyum kecil padaku.

“Silakan, Bu.”

Ia membaca catatan di rekam medis, kemudian berdiri mendekatiku. Kedua tangannya memegang leherku dengan cengkeraman kuat.

“Coba telan ludah.”

“Susah, Dok..” kataku.

Tangan Sang Dokter berangsur menjauh dari leherku, dan kembali duduk sembari menatapku.

Aku hampir-hampir pingsan.

Dokter yang sedang menatapku tak lain tak bukan adalah Si Bapak yang kutemui di angkot K 56. Wajahnya teduh, manis, gagah… oh…. dadaku “ser-seran” tak karuan.

“Saya pernah lihat Bapak naik 56,” kataku usai konsultasi tentang penyakitku.

“Oh, ya?”

“Ibu tinggal di mana?” ia bertanya.

“Dekat Taman Buah Mekarsari, Dok…”

“Kerja di mana?”

“Saya ngajar, Dok…”

Ia mengangguk-anggukan kepala saat kusebut nama sekolah di mana aku mengajar.

“Saya punya anak di situ.”

“Oh, ya?” aku sedikit terkejut.

“Namanya Andieni. Ibu mengajar dia?”

Aku mengernyitkan dahi, berpikir keras mencoba mengingat-ingat wajah sekian ratus muridku.

“Andien sudah dua tahun ditinggal ibunya.’

“Maksud Dokter?”

“Ibunya meninggal karena kanker.”

“Oh…”

Tiba-tiba beragam pikiran menyelinap di kepalaku. Ibu Andien meninggal karena kanker? Aduh…. bukankah aku penderita kanker juga?

Kekhawatiranku berangsur lenyap saat menatap wajah Pak Dokter. Aduh berarti Pak Dokter duda donk ya? Pikiranku sedikit nakal.

Waktu pun berlalu.

Pak Dokter tak pernah terlihat lagi di rumah sakit tempat aku berobat. Pak Dokter juga tak pernah terlihat naik angkot, sesuatu yang ia katakan “nikmat” saat menumpang kendaraan umum. “Jadi ingat jaman susah,’ begitu katanya.

Hingga suatu saat aku bertemu Andien, anak Sang Dokter.

“Ayah sakit,” katanya lirih.

Aku menuju rumah besar Pak Dokter di kawasan Puri Sriwideri. Bulir air mata turun perlahan saat kujumpai Sang Dokter terbaring di ranjang putihnya.

“Bu Ida, masih tetap kontrol, kan?”

Aku mengangguk.

Sebaris kalimat tertahan di tenggorokanku. Ingin rasanya kukatakan padanya segenap rasaku. Tapi keberanian seolah tak berpihak padaku.

“Saya salut dengan perjuangan Bu Ida. Nanti kalau terbit buku lagi, jangan lupa saya dikasih lagi, ya?”

***

Aku menulis lagi. Tentang segenap rasaku pada Sang Dokter. Beberapa bulan kemudian bukuku terbit kembali.

Aku tersenyum senang. Kupacu Picanto merahku dengan kecepatan sangat tinggi. Cibubur lengang. Thank God!

Kuburu rumah Sang Dokter. Setiba di sana, kakiku lunglai. Lautan manusia berkumpul di sana.

“Pak Dokter meninggal dunia.”

Kabar itu menyengat rasaku. Dunia seolah berputar. Buku di tanganku luruh. Segumpal rasa terbang di antara mega-mega…

Selamat jalan Pak Dokter Haryanto…

Semoga damai engkau di sisiNya.

***

bunga

Cileungsi, 2014

 

9 Comments to "Luruh"

  1. Lani  6 June, 2014 at 08:33

    Ini kisah nyatakah? Tumpahlah ayer mataku……….menyedihkan!

  2. Lani  6 June, 2014 at 08:29

    JAMES : selamat sdh mengantongi juara…………pesawatku jik lelet………

  3. Alvina VB  6 June, 2014 at 08:10

    Mbak Ida, ini bukan cerita fiksi kan ya? Kl bukan, semoga pulih kesehatannya ya….
    Selamat James… pesawatnya gak mogok lagi, makanya diborong semuanya euy….

  4. J C  5 June, 2014 at 16:15

    Sangat menyentuh…sedih membacanya…

  5. donald  5 June, 2014 at 16:07

    sedih… :'(

  6. HennieTriana Oberst  5 June, 2014 at 12:12

    Sedih banget. Andien kasian sendiri
    Cepat sembuh ya mbak Ida.

  7. Nur Mberok  5 June, 2014 at 11:46

    ih… sedih….. cepat sembuh ya mbak ida…. ! Semangat terus !

  8. James  5 June, 2014 at 10:17

    saya pernah di diagnosa Hypertyroid 12 tahun lalu, sejak diagnosa itu hingga sekarang hanya menjalani Terapi Minum Air Putih untuk menahan Hypertyroid ini dan ternyata berjalan lancar alias setiap General Check-up tidak ada tanda-tanda Hypertyroid sama sekali…….Terapi Air Putih ini hanya boleh dan dapat dilakukan bagi mereka yang masih Sehat dalam arti Belum Pernah Mengalami Segala Macam Operasi dan atau Tidak Memiliki Penyakit Akut seperti Penyakit Jantung, Penyakit Ginjal, Penyakit Paru-paru semacam itulah Sangat Tidak Dianjurkan…

  9. James  5 June, 2014 at 10:07

    1…….luhur…….SATOE diborong semua. sorry yah mbak Lani dan Alvina

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.