Karōshi – Death from Overwork

Dewi Aichi – Brazil

 

Pembaca mungkin masih ingat tulisan/komentar saya tentang bekerja di Jepang. Dan alasan utama kenapa saya tidak mau menetap di Jepang.

Tanggal 23 November pemerintah Jepang menetapkan sebagai “Hari Buruh Nasional” dan merupakan hari libur nasional. Ini sebagai tanda bahwa pemerintah sangat menghormati kaum pekerja, di segala bidang pekerjaan. Sudah sangat dikenal bagaimana etos kerja bangsa Jepang menjadi teladan dunia.

Baru saja membaca berita tentang seorang magang berumur 21 tahun yang mati karena terlalu banyak bekerja di London. Kembali saya diingatkan masa-masa bekerja saat di Jepang dulu. Bahwa di Jepang peristiwa seperti itu tidak lebih baik dibanding dengan London. Justru di Jepang punya sebutan tersendiri yang disebut dengan Karōshi ( 労死), yang secara harfiah berarti “death from overwork” . Istilah Karōshi akhirnya menjadi istilah internasional setelah dimasukkan dalam Oxford English Dictionary pada tahun 2002 .

Penyebab utama di balik kematian Karōshi  ini adalah stres yang akhirnya orang mengalami serangan jantung atau stroke. Para korban utama adalah Salaryman, sebutan yang diberikan kepada karyawan Jepang, terutama laki-laki, yang bekerja di berbagai perusahaan di Jepang.

Para karyawan ini dikenal karena jam kerja mereka yang panjang, kurangnya kompatibel dengan beban kerja dan juga ada beberapa kasus, seperti adanya berbagai jenis penghinaan oleh atasannya sebagai akibat dari status mereka yang rendah dalam hirarki gaji perusahaan.

karoshi01

Mengutip dari Wikipedia:

Kasus Karōshi pertama tercatat pada tahun 1969, dengan kematian seorang karyawan berusia 29 tahun yang bekerja disebuah departemen transportasi di Jepang- The first case of karōshi was reported in 1969 with the death from a stroke of a 29-year-old male worker in the shipping department of Japan’s largest newspaper company.[1] It was not until the later part of the 1980s, during the Bubble Economy, however, when several high-ranking business executives who were still in their prime years suddenly died without any previous sign of illness, that the media began picking up on what appeared to be a new phenomenon. This new phenomenon was quickly labeled karōshi and was immediately seen as a new and serious menace for people in the work force. In 1987, as public concern increased, the Japanese Ministry of Labour began to publish statistics on karōshi.(Karojisatsu).

 

Menurut data pemerintah, sedikitnya 150 pekerja meninggal setiap tahun adalah karena Karōshi. Pada tahun 2005, 328 karyawan Jepang meninggal karena terlalu banyak bekerja, 7 kali lebih banyak dari pada tahun 2000 . Pada tahun 2007, dari 2207 kasus bunuh diri, 672 kasus, memiliki motif yang sama sebagai penyebab utama.

Orang Jepang yang tidur di sembarang tempat akibat kecapean kerja disebut “inemuri”. Dan hal itu bukan sesuatu yang buruk, justru sebaliknya, yaitu dipandang sebagai sesuatu yang positif, ini menandakan bahwa kaum inemuri memberikan yang terbaik dan berusaha semaksimal mungkin kepada bangsa dan negaranya. Tetapi ada kekhawatiran kaum inemuri ini kemungkinan besar adalah calon korban Karōshi.

karoshi02

Semangat, kemauan, karakter, dan bekerja keras yang dilakukan oleh masyarakat Jepang di era 50 hingga 60-an, adalah semangat membangun kembali ekonomi Jepang pasca perang, ingin menjadikan negara Jepang yang kuat dan maju. Walaupun di balik itu semua korban Karōshi  masih merupakan masalah serius yang tertahan hingga kini, hingga Jepang menjadi sebuah Negara maju dan modern.

 

Kasus Karōshi di Pengadilan

Selama beberapa dekade, pemerintah Jepang telah mencoba (dan sering gagal) untuk menetapkan batas tentang jam lembur. Menurut Departemen Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan Jepang, “kematian mendadak dari seorang karyawan yang bekerja rata-rata lebih dari 60 jam seminggu sekarang dapat digolongkan sebagai Karōshi.

Banyak pekerja tertekan oleh beban kerja lebih dari 70 jam lembur per bulan. Hal ini dapat menyebabkan stres, kelelahan mental dan kelelahan fisik yang dapat menyebabkan kematian mendadak atau cacat. Selain itu, upah lembur yang belum dibayar (Furoshiki) masih banyak diterapkan di pabrik-pabrik dan kantor di Jepang dan tentu saja menambah stres.

karoshi03

Ada banyak kasus yang sampai saat ini yang bahkan sudah bertahun-tahun masih diproses di pengadilan. Pihak keluarga menuntut ganti rugi atas korban Karōshi  yang menimpa keluarganya. Proses korban Karōshi membutuhkan waktu sangat lama, karena harus terbukti bahwa kematiannya adalah benar-benar akibat terlalu banyak bekerja.

Dalam kasus Karōshi, kematian mendadak, stress, bunuh diri dan cacat fisik akibat bekerja, phak perusahaan akan memberikan kompensasi yang akan diterima oleh pihak keluarganya, atau yang bersangkutan jika masih hidup. Tetapi, karena prosesnya yang terlalu lama di pengadilan, maka banyak mereka yang menyerah, tidak mau mengurus lagi.

 

Keseimbangan antara hidup dan kerja

Berada di Jepang seperti sama saja hidup kita diatur oleh jam. Bertahun-tahun hal itu tidak berubah, bahkan hampir sebagian besar hidup saya selama di Jepang, diatur oleh jam. Dari bangun tidur hingga mau tidur lagi, apa saja yang saya lakukan diatur oleh jam/waktu. Begitulah kira-kira gambaran perumpamaannya.

Sebuah survei yang dilakukan oleh pemerintah Jepang menunjukkan bahwa 90% dari pekerja tidak memahami konsep keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Empat dari lima mengatakan mereka akan membatalkan komitmen pribadi, jika atasan meminta untuk bekerja di luar jam kerja normal.

karoshi04

Saat ini, banyak perusahaan telah berupaya untuk memastikan bahwa karyawannya bisa belajar tentang pentingnya kualitas hidup dan menerapkan waktunya untuk mengatur keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Jumlah kaum muda Jepang yang kerja secara temporary juga menunjukkan sikapnya bahwa sekarang ini generasi mudanya ingin lebih mementingkan “kerja untuk hidup” daripada “hidup untuk bekerja”.

Meskipun penghasilan jauh lebih sedikit daripada yang mungkin mendapatkan dalam pekerjaan tetap di perusahaan manapun, kualitas hidup orang-orang ini biasanya jauh lebih baik. Sejalan dengan hal ini, generasi baru bernama Sōshoku Danshi (pria herbivora ) dan Hikikomori (orang-orang yang mengisolasi diri dari seluruh dunia) telah ditunjuk sebagai “generasi yang hilang” dalam masyarakat Jepang modern.

Hikikomori sendiri merupakan penyakit psikologis yang menghantui masyarakat Jepang. Hikikomori artinya menarik diri, kebanyakan pelakunya adalah laki-laki. Mereka yang disebut hikikomori adalah korban dimana ia kehilangan figur seorang ayah, yang mana ayahnya tidak punya waktu lagi untuk berkumpul dengan anaknya karena waktunya tersita untuk bekerja dari pagi hingga malam.

 

Bagai dua sisi mata uang

Generasi muda Jepang banyak yang tidak berminat dengan pasangan hidup atau pernikahan. Apalagi mempunyai anak. Selain itu, kebanyakan laki-laki tidak memikirkan untuk tumbuh secara financial. Hal ini membuat kekhawatiran pemerintah Jepang berkaitan dengan perkembangan dan pembangunan ekonomi negara. Dengan fenomena seperti ini yang menjadi ciri khas masyarakat Jepang, saya berpendapat bahwa Jepang memang negara penuh kontras. Menurut pendapat saya juga, Karōshi, hikikomori, soushoku danshi, adalah contoh akibat ketidakseimbangan antara bekerja dan kehidupan pribadi.

Dibutuhkan jalan keluar untuk mengatasi hal itu. Berkembang dalam profesional tanpa mengabaikan kehidupan pribadinya, kesehatan dan kualitas hidup. Bekerja dengan tanpa melebihi batas-batas kemampuan fisik, tidak mengabaikan waktu kebersamaan dengan keluarga, berinteraksi dengan teman, mencari hiburan, liburan dan juga waktu istirahat yang cukup. Memperhatikan kesehatan fisik dan mental.

Dan bagaimana pendapat anda tentang Karōshi yang sangat membekas dalam kehidupan masyarakat Jepang? Apa yang harus dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara waktu bekerja dan waktu untuk kehidupan pribadi?

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

29 Comments to "Karōshi – Death from Overwork"

  1. Dewi Aichi  27 December, 2016 at 03:03

    Nn……………….gila ya…………..dengan jumlah jam kerja seperti itu……………gaji yang diterima pasti diatas Y500.000 yen.. sebab bekerja kurang dari itu aja bisa terima segitu, itu tahun 2008 ..2009….jadi bisa dikira-kira jumlah gaji yang diterima…tapi kekuatan manusia kan ada batasnya…

  2. Dewi Aichi  27 December, 2016 at 02:59

    Laniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…soal itu serahkan pada ahlinya………………..alias pak Lurah kae sing omonge ora melu-melu…

  3. Lani  23 December, 2016 at 00:46

    DA: baca artikelmu ini lagi tp kali ini sambil ngakak mau tanya atau mungkin disampaikan ke ki Lurah…………apa bedanya ngececeng dan ngaceng????????? Wakakakak………..

    Pertanyaan kenthir datang dr wong kenthir………….jd maklum saja ya

  4. Nn  22 December, 2016 at 11:52

    Th 1996 sd 1999 Sehari saya bekerja normal saya 8 jam,tetapi kalau orderan dari automotive ternama lagi tinggi bisa jadi sehari bekerja selama 12 jam sampai 18 jam sehari selama 3 bulan termasuk sabtu minggu. terus liburan selama 2 minggu keliling wisata sampai kyoto dari ibaraki.
    Sehari tdr antara 1 sd 3 jam..sisanya masak,mandi,nonton tv…
    Yg heran selama 3 tahun baru 1 kali demam karena sakit gigi di musim dingin.masalah lemburan bisa 2 kali gaji….itulah cara kerja jepang….

  5. Lani  9 June, 2014 at 23:52

    DA : opo hubungane and Nur Mberok dgn menthog? Kamu ngomongin menthog, aku jd mesam-mesem eling lagu jowo ………menthog-menthog tak kandani……lakumu kuwi jan ngisin2-i megal-megol…..geyal-geyol…….udah sana diterusin sendiri…….didepan pengilon yo……..bisa pas gak gayanya kayak menthog……….

  6. Dewi Murni  9 June, 2014 at 11:29

    Aku ketularan Meita….Meita ora muncul kok dia sudah tak tukar dengan menthog…

  7. Lani  9 June, 2014 at 11:13

    DA : woalaaaaaah dasar wong kenthir………..tuh, pasti ketularan senyum sana sini……….jd tambah kenthir kkkkkkkkk

  8. Lani  9 June, 2014 at 11:12

    Lani 70 jam itu per bulan..normalnya kan 40 jam..
    ++++++++++++++++

    DA : kowe salah, mosok kerja cm 70 jam/bulan? La kok enak nemen?
    Biasanya org kerja 40 jam/minggu, bukan perbulan…..coba dipikir lagi ah

    Koncoku wae kerja 12 jam/hari coba itung sendiri seminggu brp jam klu dikalikan 5????? kan 60 jam

  9. Dewi Murni  9 June, 2014 at 11:11

    ups…salah Laniiiiiiiiiiiiiiii hehehe…iya per minggu…haduh salah salah..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *