Demokrasi dan Ratu Adil

Roso Daras

 

Memasuki bulan Juni, Bulan Bung Karno, menarik kiranya kalau sejenak kita mengenang pidato Pancasila Bung Karno, 1 Juni 1945. Pidato lengkap sudah pernah diposting. Berikut ini adalah cuplikan yang layak kita jadikan renungan di bulan Juni ini. Begini Bung Karno berkata:

Saudara-saudara, saya usulkan. Kalau kita mencari demokrasi hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek-economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indoneia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimaksud dengan faham Ratu Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian, menciptakan dunia baru yang di dalamnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu-Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan politik, saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

irsoekarno1

Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan politiek democratie saja, tetapi badan yang bersama dengan masyarakat dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid.

Kita akan bicarakan hal-hal ini bersama-sama, saudara-saudara di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal!

Kalimat di atas, kini seolah menjadi alunan mimpi… mengingat kondisi demokrasi Indonesia sudah jauh melenceng dari yang digagas Bung Karno. Di bulan Bung Karno inilah, semestinya, kaum nasionalis Indonesia, khususnya para Sukarnois, mengkaji kembali ide-ide Bung Karno kemudian berjuang untuk mewujudkannya.

Pergeseran warna demokrasi di Indonesia, sejak Indonesia merdeka, kemudian di era demokrasi terpimpin, hingga demokrasi liberal yang menopang rezim orde baru, adalah sebuah keniscayaan sejarah. Tidak ada yang perlu disesali, apalagi diratapi.

Jika pertahanan ideologi adalah sebuah pertarungan, Pancasila sejatinya sedang mengalami kekalahan telak. Dia tidak akan pernah bisa bangkit dan kembali unjuk gigi, manakala para pewaris ajaran Bung Karno diam dan pasrah.

Kini saatnya para Sukarnois menyusun kekuatan untuk memperjuangkan kemurnian ideologi Pancasila berikut turunan di bidang ekonomi, sosial-politik, dan budaya. Strategi mengembalikan ideologi Pancasila inilah yang dibutuhkan untuk mengerem laju liberalisme dan pada akhirnya menghentikan sama sekali untuk kemudian mengembalikan ke rel yang semestinya.

Jika dalam pidato To Build the World A New di PBB tahun 1960, Pancasila diteriakkan Bung Karno dan mewarnai dominasi dua ideologi Barat dan Timur, maka sejatinya Pancasila itu sendiri sudah teruji sebagai ideologi alternatif dunia. Jika banyak negara mengkaji bahkan mengadopsi Pancasila, lantas mengapa kita justru membiarkan Pancasila tercabik-cabik di negerinya sendiri (oleh ideologi Barat?).

 

(roso daras)

 

Backlink: http://rosodaras.wordpress.com/2014/06/02/demokrasi-dan-ratu-adil/

 

7 Comments to "Demokrasi dan Ratu Adil"

  1. handokowidagdo  10 June, 2014 at 12:19

    Demokrasi musyawarah gampang diselewengkan oleh kekuatan tertentu.

  2. Lani  9 June, 2014 at 23:44

    Mbakyu Lani, kayanya blm ada pemimpin Ind yg menyamai/ mendekati Soekarno saat ini…wis, betul banget….kharismanya, pidatonya dan juga poligaminya, he..he….siapa yg berani punya istri lebih dari satu trus jadi pres Ind saat ini coba??? Apa Jokowi/ Prabowo berani???
    +++++++++++++++++++

    AL : ya…ya…ya…..selain charisma pidato, dll……ndak ada yg nandingin, apalagi poligaminya, kemungkinan ndak ada yg berani, selain sembunyi2, klu Soekarno kan berani tunjukkin, blak2-an keseluruh dunia semua org tahu……apakah ini bs disebut gentleman? Opo gentleman sing keblingeeeeer???????

  3. Alvina VB  9 June, 2014 at 23:33

    Mbakyu Lani, kayanya blm ada pemimpin Ind yg menyamai/ mendekati Soekarno saat ini…wis, betul banget….kharismanya, pidatonya dan juga poligaminya, he..he….siapa yg berani punya istri lebih dari satu trus jadi pres Ind saat ini coba??? Apa Jokowi/ Prabowo berani???

  4. djasMerahputih  9 June, 2014 at 20:36

    Sang Garuda masih terlelap. Namun perlahan mulai sadar.
    Hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengepakkan sayapnya menaungi Dunia. Semoga belum terlambat…

    Thanks Bung Roso Daras,
    Salam Joeang. //djasMerahputih

  5. arrifani  9 June, 2014 at 15:41

    ternyata begini

  6. Lani  9 June, 2014 at 10:37

    Membaca, mengetahui dibalik crita ttg Soekarno tdk pernah bosan………krn dia pioner pemimpin bangsa Indonesia, dan sampai skrng belum ada yg menyamainya……….bahkan mendekati pun belum ada………

  7. J C  9 June, 2014 at 10:11

    Sangat menarik menyimak cerita-cerita seputar Soekarno…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.