Doktrin dan Revolusi Cara Pikir

Alfred Tuname

 

“Man vergilt einem Lehrer schlecht, wenn man immer nur der Schüler bleibt”

-Nietzsche, “Thus Spoke Zarathustra” (2006)

 

I know of no country in which there is so little independence of mind and real freedom of discussion as in America“. Itulah pernyataan sinis (cynical) Alexis de Tocqueville (2005) kepada negara yang mengurung kebebasan manusia dalam kerangkeng pikiran totalitarian. Subyek artkulasinya bukan soal negeri Paman Sam, tetapi kebebasan sebagai hakikat kehidupan manusia.

Salah satu negara yang masih sedikit orang menghargai kebebasan berpikir itu adalah Indonesia. Berpikir masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang/kelompok/ormas. Karenanya, berdiskusi dan bersilang idea atau pendapat sering dikuti oleh aksi kekerasaan baik verbal maupun vandalisme. Biasanya, doktrin (agama) selalu menjadi palu tajam untuk menghatam setiap aksi diskursif (diskusi, seminar, rapat, ect.). Sangkutannya adalah penistaan, izin keributan, urusan izin tetek-bengek lainya, yang semuanya dipagar dengan klaim doktrin.

doctrine

Dalam hal ini, kebebasan berpikir sering kali dimaknai sebagai perang tinimbang sharing idea yang damai oleh sebagian orang/kelompok/ormas yang mengidolakan doktrin (agama). Persoalan sosial kita pun kian menguat dan menyebar bagai virus yang merasuki dan merusaki sendi-sendi kehidupan bersama. Akibatnya, setiap ada aktivitas diskursif, apalagi itu berkaitan dengan agama, komunisme, hak-hak kaum transgender dan lain-lain, selalu dimaknai sebagai bisingan nyamuk yang mengganggu kemapanan doktrin tertentu.

Di negera tercinta ini, acara diskusi terkait PKI, Homoseksualitas, Tan Malaka, Gereja, Ahmadiyah, etc., akan selalu mendapat resistensi dari ormas-ormas tertentu. Celakanya, anarkisme dan vandalisme terjadi saat itu juga, dan aparat kepolisian hanya berdiam diri sembari beraksi voyeuristik. Sadisme ormas dan “voyeurisme” polisi ini merupakan simptom kerasnya tembok intoleransi dan redupnya lilin kebebasan berpikir dalam kehidupan sosial kita.

Sikap intoleransi dan redupnya kebebasan seringkali tumbuh bersamaan dengan wabah fanatisme. Pembacaan atau tafsir yang keliru atas ajaran menjadi akar penopang duri-duri fanatisme. Di situ, perbedaan menjadi musuh yang harus diberangus. Homogenitas dan gairah kesamaan pikir menjadi bahasa sosial dalam “wajib militer” fanatisme.

Nyaris pasti, semua persoalan sosial budaya kita berurat-akar dalam kokohnya fanatisme. Padahal, kita sedang mulai memupuk kehidupan baru; damai dan sejahtera. Setelah komunisme dibantai dan dikubur dari bumi Indonesia, kita masih saja belum damai. Setelah baju kebesaran rezim totatliter orde baru dicopot, kita masih juga belum damai. Justru tepat setelah masa reformasi dikumandangkan, kita semakin terjerumus pada lubang hitam korupsi, intoleransi dan vandalisme. Justru, iklim demokrasi reformasi telah berhasil melahirkan kelompok-kelompok anti-sosial yang memainkan pedang dan goloknya sendiri.

Lantas, dari mana kita memulai lagi membangun peradaban sosial kita? Capres PDIP Joko “Jokowi” Widodo mencoba menjawabnya dengan “Revolusi Mental”. Ada benarnya juga. Secara sosial, mental sebagian bangsa kita telah rusak oleh pemikiran sektarian dan tertutup. Pembelaan atas doktrin (agama) telah menutup semua saluran komunikasi di antara sesama bangsa yang multi-perbedaan.

Tetapi, mental buruk hanyalah ekses dari “meta-rule” yang mengontrol semua itu. Dan, meta-rule itu adalah pikiran. Kesalahan berpikir (tafsir) membuat mental menjadi buruk. Di sini, cara berpikirlah yang berpengaruh signifikan terhadap mental menusia. Oleh karena itu, tawaran yang mungkin perlu membasmi opresor-opresor sosial adalah “Revolusi Cara Pikir”. Pikiran manusia harus ditempa dan digembleng melebar seluas cakrawala. Bukankah iman harus dipertangungjawabkan dengan pengetahuan yang luas?-fides querens intellectum. Di situ, doktrin akan selalu dihadapankan dengan banyak pertanyaan yang rasional. Doktrin akan selalu dikoreksi, bahwa jika doktrin adalah sebuah kebenaran, maka apa itu kebenaran? Dengan begitu, manusia bisa keluar dari zona aman kelompok atau doktrin tertentu. Di situ, manusia bisa memperoleh pencerahan bahwa “doktrin itu untuk manusia, bukan manusia untuk doktrin”. Rasionalitaslah yang membuat ajaran (agama) tidak menjadi doktrin yang membabi-buta.

Jika doktrin (agama) dipercaya sebagai pembenaran untuk melakukan kekerasan terhadap manusia, maka pertanyaannya, dimanakah letak keselamatan itu? Apakah manusia itu sehingga ia layak dianiaya? Musuh kaum fanatik dan ekstremis (agama) adalah kobodohannya sendiri, bukan manusia. Artinya, dengan membuka pikiran lebih luas, mereka bisa bebas dari kelompok asinus asinorum (terbodoh di antara yang bodoh). Mungkin kita perlu belajar dari sejarah. Karl Marx pernah menghina agama sebagai candu, justru karena agama telah keluar dari sarana mencapai keselamatan dengan berselingkuh dengan kaum borjuis untuk memeras umat. Atau, Friedrich Nietzsche yang mengutuk Tuhan, Gott is tot (Tuhan sudah mati), justru karena manusia telah menobatkan diri sebagai tuhan dengan membunuh manusia lain.

Bagi orang yang percaya, Tuhan itu hidup selamanya (abadi). Hanya saja Ia sedang menjauh dari bumi sebab manusia sedang menjadi serigala bagi manusia lain (homo homini lupus) dengan memanipulasi ajaran-Nya menjadi doktrin untuk mencelakai sesama manusia. Tuhan “mengatakan” Marx dan Nietszche sudah mati, tetapi kita perlu mempelajari sikap kritis dua manusia ini yang berani membela Tuhan dengan cara yang rasional dan dialektis, bukan dengan fanatisme. Mereka kritis melihat perangai para pemeluk agama menganiaya dan membunuh sesama manusia dengan bertopeng pada ajaran Ilahiah.

Mari merevolusi cara berpikir kita sebelum kiamat semakin dekat! Dengan berpikir, manusia akan menjadi guru atas dirinya dan orang lain demi kebaikan, dan tidak terus tenggelam jadi murid yang menelan doktrin.

 

Juni 2014

Alfred Tuname

 

10 Comments to "Doktrin dan Revolusi Cara Pikir"

  1. Itsmi  11 June, 2014 at 14:01

    Alfred, mengenai kiamat saya mengerti tapi saya tidak senang dengan kata kata yang menakutkan orang. kata kita kiamat itu untuk orang yang beragama mempunyai impact yang dasyat….. lebih suka kalau kamu tulis apa yang akan terjadi bilamana bla bla bla..

  2. Itsmi  11 June, 2014 at 13:57

    Alfred, Yang pakai opium UNTUK rakyat itu Lenin.

    Mengeneai kutipan Opium dari rakyat itu pun bukan dari Karl Marx tapi dari penyair Jerman, namanya udah lupa…, duh saya baca buku seperti das kapital waktu masih remaja….

    tapi kalau saya ingat lagi namanya saya akan beritahukan..

  3. Alfred Tuname  10 June, 2014 at 18:08

    sahabat Itsmi, kiamat di sini buka kiamat dalam konteks apokalipis malainkan kaos sosial sebagai akibat dari pemaksaan atas kehendak doktrin… jadi, hal itu masih linear dengan revolusi cara berpikir…. terima kasih atas catatan kritisnya…

  4. Alfred Tuname  10 June, 2014 at 18:01

    terima kasih atas koreksi dari sahabat Itsmi. saya kira ada Itsmi masuk dalam klirumologi dalam membaca Marx. tulisan Marx adalah mengkritik praktik koruptif gereja pada masa itu. jadi, kritiknya adalah institusi gereja, bukan rakyat (proletar). logika yang dipakainya untuk itu adalah opium UNTUK rakyat. malah logika perlawan MARX akan janggal kalau memakai term DARI rakyat….

  5. Alfred Tuname  10 June, 2014 at 17:54

    terima kasih untuk semua sahabat-sahabat baltyra yang sempat membaca tulisan ini. mari kita terus berbagi idea….. hehehhe

  6. Lani  9 June, 2014 at 22:37

    JAMES : woooooooiiiiiiiiiii………….aku disini, ndak kemana-mana…….sehatkah? Sdh tersenyum belon?

  7. djasMerahputih  9 June, 2014 at 20:27

    Sepakat dengan Bung Alfred.

    Negeri kita masih memerlukan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pendapat.
    Pendidikan dan budaya dialog dalam keluarga bisa menjadi awal yang baik bagi lingkungan di sekitar kita.
    Tentu saja isu-isu tertentu tetap perlu disampaikan dengan bijaksana tanpa harus mendoktrin seseorang.

    Salam,
    //djasMerahputih

  8. Itsmi  9 June, 2014 at 15:02

    KOREKSI

    Karl Marx berkata agama itu opium DARI rakyat bukan UNTUK rakyat

    Nietzsche tidak mengutuk Tuhan, bagaimana caranya sedangkan Nitzche tidak bertuhan. Maksudnya Nietzsche, budaya kristen sendiri yang membunuh tuhannya….

    Agama berdasarkan doktrin dan dogma, Alfred maksudmu sebenarnya doktrin itu harus di telan mentah mentah karena bilamana doktrin tidak di telan lagi, yang terjadi pada orang yang beragama dia akan menjadi manusia yang sadar dan agama bubar seperti yang terjadi di Belanda sekarang, 80% tidak bertuhan. Negara negara Skandinavia juga begitu…

    Pemikiranmu bertolak belakang

    Alfred, kamu promosikan jangan menelan doktrin tetapi sekaligus menakutkan dengan kiamat.

    Seperti pelecehan seksual pada anak anak, Uskup2 dan pastor2 menakutkan pada anak anak bilamana kamu tidak melakukan sex dengan saya, kamu akan masuk neraka.

    Kalau Alfred, sebelum kiamat kalian bertobat dulu karena bisa terlambat dan kalau terlambat masuk nerakalah kau…..

  9. James  9 June, 2014 at 14:51

    mana mbak Lani ??

  10. J C  9 June, 2014 at 10:12

    Dalam sekali artikel ini… menyimak dan memahaminya dulu ah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.