Kecantikan Sejati

Wesiati Setyaningsih

 

Setiap orang selalu ingin tampak cantik di foto, dengan ukuran kecantikan yang sudah ditentukan oleh pabrik-pabrik kosmetik dan fashion. Wajah harus mulus, rambut harus indah (kalau harus menutupi menutup rambutnya maka penutup rambut juga harus mempercantik wajahnya), tubuh harus langsing, dan seterusnya.

Ketika muncul sosial media yang bernama Facebook, semua orang berlomba menampilkan foto tercantiknya di wall Facebook mereka. Kalau kurang cantik, ada aplikasi yang bisa membuat mereka makin cantik. Semua orang ingin menunjukkan penampilan terbaiknya. Bahkan ada teman yang hampir tiap hari memasang foto di wall-nya dengan penampilan tercantiknya hari itu. Saya jengah.

Entah kenapa saya tidak kagum. Saya pikir saya iri karena saya tidak cantik dan malas mempercantik diri.  Tidak seperti mereka yang telaten memoles wajah dan pandai memilih kain terbagus dengan model terkini. Saya sendiri hanya memasang foto-foto yang memamerkan kegiatan yang sedang saya lakukan dan tempat-tempat yang saya kunjungi. Bukan wajah saya yang halus mulus (karena wajah saya penuh bekas jerawat) atau tubuh saya yang tambun. Karena tidak ada yang bisa saya bangggakan dari bentuk fisik saya.

Hingga suatu malam saya menemukan kecantikan yang sungguh berbeda. Ceritanya, seorang teman Facebook  meminta saya untuk ditambahkan sebagai teman beberapa waktu lalu. Saat itu juga saya setujui karena saya lihat namanya asli dengan foto diri. Satu indikasi bahwa dia berterus terang tentang dirinya pada siapapun yang berteman dengan dia di Facebook.

the true beauty

Begitu kami berteman, dia segera mengirim inbox dan mengatakan bahwa seorang teman merekomendasikan padanya untuk berteman dengan saya. Dia menceritakan bahwa dia pernah menderita kanker dan ingin menulis tentang perjalanannya selama pengobatan. Saya tertarik dan segera bersedia membantu apa saja yang dia butuhkan. Meski saya merasa saya belum layak dijuluki penulis karena baru punya satu buku, tapi apa salahnya kalau memang bisa membantu, pikir saya.

Dia menambahkan bahwa foto-foto dia selama selama pengobatan tersimpan lengkap di album dan saya bisa membukanya. Segera saya buka albumnya dan saya menemukan foto-fotonya saat di rumah sakit. Saya menyaksikan seorang perempuan dalam banyak foto.  Tapi berbeda dengan foto-foto teman-teman lain yang selalu menunjukkan bahwa dia cantik di foto mereka, kali ini saya melihat seseorang dalam kondisi yang ‘tidak cantik’.

Kalau ‘cantik’ yang disepakati banyak orang adalah dengan rambut panjang terurai dan wajah putih mulus, perempuan ini wajahnya menghitam dan rambutnya gundul. Di tangannya menempel selang infus, dia duduk atau tidur di dalam kamar rumah sakit. Beberapa sendirian, yang lain bersama perawat. Tapi yang jelas saya lihat dari semua foto yang ada, wajahnya tak pernah lepas dari senyum. Dia selalu tampak ceria.  Saya melihat sebuah kegembiraan dalam menghadapi sesuatu yang menurut orang lain ‘menakutkan’. Saya melihat kegagahan.

Hampir tiap hari dia menambahkan foto-foto yang diambil beberapa bulan sebelumnya, mungkin foto itu tercecer dan belum sempat dimasukkan album. Hingga suatu ketika saya melihat foto yang baru saja dia tambahkan, tertanggal bulan Februari 2014. Dia menulis,

             Seminggu di rumah, muka saya tambah gosong efek dari radiasi.

            Yang saya lihat adalah perempuan gundul dengan wajah menghitam, dan yang mengagumkan adalah, bibirnya tersenyum, matanya bersinar cerah. Tidak tampak kemuraman sedikitpun. Foto itu menampar wajah saya, menusuk dada saya dan segera muncul sebuah rasa yang bergelora. Ketika perempuan lain berusaha menampakkan wajah tercantik mereka yang halus mulus dan putih, rambutnya yang terurai indah atau jilbabnya yang dihias meriah, perempuan ini tidak.

Dia menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Dia berani menampakkan apa yang sedang terjadi pada dia dan tidak menutupi diri dengan apapun. Tiap orang yang melihat fotonya akan segera melihat dia apa adanya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Dia begitu jujur tentang keadaannya.

Detik itu juga saya merasa saya menemukan kecantikan yang sejati. Seorang perempuan dengan keberanian yang luar biasa untuk menjadi dirinya sendiri dan menerima apapun yang saat itu dia alami. Tidak ada ketakutan apapun yang membuat dia harus memoles diri agar tampak jauh lebih indah dari apa yang sedang terjadi.

***

Beberapa waktu lalu anak sulung saya berdandan di salon karena dia harus menghadiri pelepasan siswa SMA di tempat dia sekolah. Dia yang sehari-hari hampir tidak pernah berdandan selain memoleskan bedak, jadi tampak cantik. Dia sendiri gembira melihat wajahnya menjadi lebih cantik dari sebelumnya. Saya juga sependapat. Dia menggumam kagum,

“Aku jadi cantik ya..”

Tapi kalimatnya itu segera ditutup dengan kalimat lain, “Ah, tapi kan ini ‘fake’. Bukan aku yang asli.”

Dalam hati saya tersenyum.  Dia menyadari bahwa kecantikan yang dia lihat saat itu sama sekali bukan dia. Kata ‘fake’ itu menyelinap dalam benak saya, menjelaskan kenapa saya tidak kagum pada foto-foto yang tampak sangat berusaha menunjukkan kecantikan mereka, karena semua itu palsu. Dan sepertinya kita memang sudah terbiasa melihat kepalsuan, juga menunjukkan kepalsuan.

Bukankan kita selalu begitu? Kita ingin tampak lebih indah dari yang sebenarnya. Lebih cantik, lebih langsing, lebih keren. Kebanyakan  orang tak peduli lagi bahwa jati dirinya terhapus karena ingin kelihatan cantik. Itu biasa. Sangat main stream. Bisa jadi karena mereka juga ingin menyenangkan orang lain yang ingin melihat yang indah-indah meski tidak lagi asli.

Beauty-is-imperfection

Maka ketika ada yang berani memperlihatkan dirinya yang sebenarnya, tanpa peduli apakah orang lain akan suka atau tidak,  itu menjadi hal yang sangat luar biasa. Keberanian seperti ini tidak dimiliki semua orang. Hanya mereka yang bangga menjadi diri sendiri saja yang punya nyali untuk menunjukkanya jati dirinya.

Akhirnya saya menyadari bahwa  kecantikan sejati adalah keberanian menunjukkan diri sendiri apa adanya.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

17 Comments to "Kecantikan Sejati"

  1. wesiatisetyaningsih  12 June, 2014 at 19:12

    mbak lani cantik. itsmi jugak. hahaha…

  2. Itsmi  12 June, 2014 at 18:43

    Gunawan, saya tidak tulis bahwa wanita yang kurang cantik tidak mempunyai inner beauty…., di luar itu saya juga tidak tau apa artinya inner beauty. Tolong terangkan sama saya apa artinya inner beauty bagimu ?

    Yang jelas bagi saya tidak ada wanita yang ideaal. Kecuali di novel novel dapur, kita bisa membacanya atau isterinya DJ, sorry Dj, bercanda hahahah

    Saya kira kita berdiskusi mengenai kecantikan tidak penting. Karena biasanya orang berreaksi bukan kecantikannya yang penting tapi kalau orangnya ramah, humoris, empatis dan lain lain atau untuk apa biar cantik tapi hatinya atau karakternya tidak baik ? kata kata orang yang mau menghibur…..tentu ada benarnya tapi dalam praktek lain lagi ceritanya…., baca komentar saya pada Jc.

    Juga kalau Gunawan tulis sudah 32 tahun nikah dan inner beauty nya hebat sampai tidak ada kata kata, apapun artinya, untuk saya yang penting Gunawan percaya apa yang di tulis.

    Karena untuk saya sulit menilainya. Tapi apa yang yang saya tahu kehidupan wanita di Indonesia tidak seindah seperti yang sering di tulis….. apalagi yang ekonominya tergantung pada suami….. dan di luar itu, banyak pria memakai agama untuk menindas isterinya…. juga di luar itu sudah banyak penelitian penelitian di Barat pada orang orang yang sudah berumur dimana pernikahannya sudah lebih dari 40 tahun… dimana mereka berkesimpulan bukan keindahan tetapi kebenciaan….. yang ada….

    Faktor yang penting, otak kita sudah terprogram melihat wanita yang cantik dan ini memberi pada pria sesuatu kick…

  3. Gunawan Prajogo  12 June, 2014 at 16:55

    Saya punya istri yang sudah mendampingi saya selama 32 tahun. Menurut saya wajahnya ‘good looking’ not beautiful. Tetapi inner beauty nya sulit di jabarkan dengan kata-kata. Ini bukan sekedar isapan jempol dari saya, tetapi banyak pujian langsung atau tidak langsung yang disampaikan kepadanya.

    Jadi kalau ada seseorang yang mengatakan inner beauty adalah bullshit. Saya kira yang mengatakan itu sebaiknya, introspeksi, melihat kaca di kamarnya dan pasti dia tidak mempunyai inner beauty. Salam

  4. Itsmi  12 June, 2014 at 11:46

    Pria yang mempunyai pasangan yang mukanya tidak cantik, itu pria yang Percaya dirinya kurang hahahahah

  5. Itsmi  12 June, 2014 at 11:44

    Wess, kulit hitam tidak relevan karena wanita tercantik di dunia dia wanita berkulit hitam. Juga menurut penelitian2 antara lain di majalah Playboy, pria tidak suka wanita yang kurus.

    Yang saya tahu, syarat utama dari kecantikan wajahnya simetris. Baca juga posting sebelumnya.

  6. Itsmi  12 June, 2014 at 11:36

    Alvina, Charles dan Camila mereka waktu mudah sudah berpacaran beberap tahun, lalu putus. Jadi sebelum Charles di Jodohkan sama Diana ( menurut berita berita yang saya baca di surat kabar dulu, mereka di jodohkan untuk turunan). Jadi Camila bukan wanita baru dalam hidupnya Charles. Jadi contohmu tidak masuk.

  7. Itsmi  12 June, 2014 at 11:33

    Jc : cantik itu relatif.

    Kalau kamu harus memilih 1 dari 10 wanita, kamu pilih mana, yang di matamu cantik atau yang tidak cantik ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *