Kekasih Jin (5)

Ary Hana

 

Tepat 700 meter menuruni lereng utara 70 derajad ada sebuah gua batu. Asta kedua pernah membawaku ke sana bertahun lalu, untuk mengumpulkan jamur dan anak ular pendulum. Jamur yodipati namanya, berwarna ungu dan dipenuhi racun. Namun ampuh buat menangkal asap belerang dan asap bekas hutan terbakar. Bahkan membuat tubuh mati rasa. Sedang anak ular pendulum itu melingkar-lingkar membentuk semacam obat nyamuk bakar. Ditinggalkan induknya begitu saja ketika siang, dan dimangsa induk jantan kala malam datang. Aku ingin menuju ke sana, sekedar mengambil dua tiga genggam jamur yodipati.

forest-mushroom

Kuturuni tebing utara menggunakan sulur-suluran alas. Andai angin bertiup, akan mudah bagiku sampai ke gua batu itu dalam beberapa menit. Namun jelang siang begini, mana ada angin? Cuaca cerah, udara hangat. Satu jam kemudian baru aku sampai di pintu gua. Namun aku tak sendiri. Ada suara lain. Mirip sepasang manusia yang berbincang perlahan di dalam gua. Aku menguping.

“Aku sudah membunuhnya Mas, sungguh. Tapi aku tak sempat membuang mayatnya. Ada beberapa begal mendekati danau. Jadi kutinggalkan mayatnya di sana.” Suara lelaki pertama bernada tinggi melengking. Mirip histeris.

“Kau yakin dia sudah mati?” Suara lelaki kedua besar dan datar.

“Aku yakin Mas. Sumpah. Aku menggorok lehernya dengan parangku sendiri.”

“Tapi kenapa mayatnya menghilang? Tak ada bekasnya sama sekali, Dik!”

“Bisa jadi para begal itu membakarnya.” Aku menggeram menahan marah. Keempat Asta jelas bukan begal. Mereka anak muda sakti yang sanggup membumihanguskan dua lelaki di dalam sana dalam sekejap pandangan.

“Tak ada sisa-sisa kebakaran di dekat danau. Tak mungkin dia dibakar.”

“Mungkin mereka menguburnya, untuk menghilangkan bau busuk yang dipancarkan mayat itu.” Si suara melengking mencari alasan. Nadanya gugup.

“Bisa jadi. Tapi mungkin juga dia masih hidup, diselamatkan para begal tadi.”

Ada jeda panjang. Kebisuan yang mengerikan. Hingga si melengking bersuara. “Apa yang harus kita lakukan, Mas?” tanyanya panik.

“Mencari kebenaran. Apa dia sudah meninggal atau belum. Mungkin kita harus memburu begal Gunung Bulalas itu.”

Tubuhku gemetar saking marahnya. Kusembunyikan diriku di sela rumput tinggi ketika dua lelaki itu keluar gua. Ingin memastikan wajah mereka. Beberapa detik kemudian keduanya keluar dari gua. Dua lelaki tirus berambut gimbal. Ikat kepala dari berwarna merah membungkus batok lancip mereka. Benar-benar begal. Setelah kuyakin mereka menjauh, aku segera berlari. Menunggangi angin pertama yang kujumpai. Menuju rumah. Lupa sudah janjiku untuk tak pulang hari ini.

 

(bersambung)

 

9 Comments to "Kekasih Jin (5)"

  1. [email protected]  13 June, 2014 at 09:05

    lanjutannya dong….

  2. HennieTriana Oberst  12 June, 2014 at 10:19

    Serem ada bunuh-bunuhan.

  3. Lani  12 June, 2014 at 06:02

    AH : lo? malah ngilang meneh……..dr artikel pertemuanmu dgn Enief…….aku jd kepingin ketemu dirimu jg soale bs aku jadikan guru gimana caranya mendptkan energy spt kamu………….semangatmu itu lo, aku belum pernah ketemu, tp aku percaya dgn yg aku baca di artikel Enief

  4. ah  12 June, 2014 at 03:13

    pamit.. pamit, mlebu vihara sik. kekasih djin wis tobat

  5. Lani  12 June, 2014 at 00:29

    AKI LURAH : wakakakak…….ciaaaaaaaaat……..wuuuuuuuus……arep mabur nang endi?????

  6. J C  11 June, 2014 at 21:35

    Ciaaaatttt…wuuussss…

  7. Lani  11 June, 2014 at 11:53

    Waaaaaaah……….semakin bikin deg2-an………Al saling kejar2-an sama DJIN……….kkkk

  8. James  11 June, 2014 at 09:17

    2…..dibelakang Alvina lagi….memang jangan jadi Kekasih JIN…..karena nama saya ada JIN Kuno (Djin)……wkwkwk

  9. Alvina VB  11 June, 2014 at 09:03

    Ogah jadi kekasihnya Jin….kaburrrr dulu ya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.