Copa Do Povo

Leo Sastrawijaya

 

“Sepak bola kami tidak di sana, tapi di sini … ” Kata Jeremias Pinto tersenyum lebar. Malam sudah larut, Sao Paulo sedikit mulai sepi, tetapi angin kering masih lumayan kencang menerbangkan debu dari sepetak lahan kering tanpa rumput yang terselip di sebuah wilayah kumuh di megapolitan Amerika Selatan itu.

“Bagi kami piala dunia sudah selesai, sudah mati, lihatlah rumah-rumah kami yang merana … ??? Sepak bola di sana bukan lagi sepak bola seperti yang kami mainkan, bukan lagi Jogo Bonito, ia hanya seperti permainan pada game komputer yang kita mainkan. Bergerak tanpa jiwa, dua puluh dua pemain yang ada di lapangan hanyalah para robot yang begerak dengan jiwa uang … “

pialadunia1

“Anda jauh-jauh datang ke Brasil untuk apa? Untuk menikmati Jogo Bonito?”

Aku mengangguk.

“Jika begitu anda akan segera mendapatkannya, di tanah lapang ini bukan di Maracana atau di manapun … Tunggulah anak-anak segera akan datang dan membawa kegembiraan. Sepak bola bagi kami adalah sebuah ritual, sesuatu yang kudus, sebuah riwayat kehidupan … “

Benar. Tidak berapa lama beberapa orang anak mulai datang berkumpul dan lampu-lampu mulai menyala di sekeliling “tanah lapang” tanpa rumput itu.

“Mereka anak-anak pinggiran, beberapa di antara mereka sudah tidak akan datang ke sini lagi. Mereka telah mati dalam program pembersihan kemarin … “

“Saya tahu, saya membacanya di media massa. Saya ikut sedih melihat mereka …” Kataku.

“Oh tidak. Mereka anak-anak yang beruntung … beruntung bisa pergi lebih cepat dari kami semua. Pada situasi kehidupan seperti yang kami alami, mendapat kesempatan untuk pergi terlebih dahulu merupakan keberuntungan bukan?”

Aku tersenyum dengan getir, Pinto menepuk-nepuk pundakku.

“Ayolah ikut kami bermain, lihat team sebelah kanan itu kekurangan anak, Neto tidak akan pernah datang lagi mungkin … ayolah. Lepas saja sepatumu.”

Aku masih ragu. Sudah beberapa tahun aku tidak bermain bola, tapi kemudian anak-anak di sebelah kanan menghampiriku … “Ayolah, kita bermain, menari Samba bersama kami. Kami tidak akan pernah menari dengan sempurna bila kurang satu saja orang di tim kami.”

Aku kemudian masuk, “Biasa bermain di mana?”, “Gelandang serang….”, “Oh, bagus, itu posisi Neto … kamu bisa menggantikanya teman.”

Lalu bola mulai menggelinding, berpindah dari satu kaki, ke kaki yang lain, mereka meliuk, melesat, berteriak, tertawa … akupun larut dalam kegembiraan itu. Aku ingat masa kecilku yang kuhabiskan di lapangan depan rumah, kini aku kembali ke masa itu, meski tidak lagi dengan Umar, Bobby, Karim, Abu kawan-kawan masa kecilku. Bola itu terus berlari, berputar, terbang, meluncur, kami memburu, menguasai, kehilangan, kemudian merebut lagi … keringat kami jatuh, jiwa kami kembali utuh dan larut.

“Gol hanyalah aksentuasi, dia tidak utama, yang penting bagaimana kita bersama bola, bersama team dan menari …” Kata Pinto lagi.

Ketika malam semakin larut kegairahan semakin memuncak, perlahan namun pasti aku melihat sayap-sayap mulai tumbuh pada tiap dari mereka yang bermain bola, akupun mereasakan ada sesuatu yang tumbuh di punggungku. Sayap-sayap itu kemudian berekembang sempurna menjadi seperti sayap-sayap burung Flamengo.

Kami kemudian tidak menjejaki tanah lagi, tetapi terbang dalam formasi tarian, kami adalah flamengo-flamengo muda yang terbang dalam kecerian sambil menari melintasi padang padang sabana, hutan-hutan perawan tanah Afrika, sementara di bawah sana Bengawan Okavango nampak gagah, mengalir merdeka, di mana setiap tetes yang tertinggal meninggalkan jejak kehijauan dan nyanyi fauna liar …

“Kita kembali ke asal kita … ” Kataku kepada Pinto.
“Apakah kamu juga berasal dari sini?”
“Ya, sebagian dariku adalah Afrika …”
“Selamat datang kembali ke kampung halaman kita kalau begitu …” Kata Pinto sambil menjabat tanganku.

pialadunia2

Aku terbang, menari, melupakan dimana garis gawang, menembusi awan putih di atas Bengawan Okavango yang cemerlang memantulkan sinar bulan jauh lebih penting dari semua angka statistik nan artifisial.

“Benar Pinto, biarkan Piala Dunia menjadi milik mereka, kita memiliki ini semua. Dan itu lebih dari cukup!”

 

7 Comments to "Copa Do Povo"

  1. J C  16 June, 2014 at 16:03

    Sepertinya memang demikian kontras situasi di Brazil sana…bener yo Dewi Aichi. Di satu sisi pesta pora dunia bergelimang duit World Cup, di sisi lain kemiskinan dan kriminalitas yang tinggi masih terjadi tiap hari…

  2. Dewi Aichi  13 June, 2014 at 11:31

    Lani……Brasil menang…aku ngga jagoin mana-mana kok, yang penting mana saja gol, aku ikut teriak golll haha…lha nonton sepak bola kan ramenya hanya kalau ada gol

  3. Lani  13 June, 2014 at 09:41

    Hah? Brazil kalah? Klu begitu prof. dr Pakem nangis gero2 iki………..

  4. [email protected]  13 June, 2014 at 09:03

    BRAZIL should LOSE to CROATIA last night…. damn you refereeeeee…..

  5. Dewi Aichi  12 June, 2014 at 21:51

    Pesta yang tidak lagi “party for all”..penguasanya sudah tak tersentuh.

  6. Lani  12 June, 2014 at 21:20

    Doea

  7. handokowidagdo  12 June, 2014 at 15:00

    Wah ini imajinasi yang luar biasa! Hidup Leo Pinto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.