Koleksi Prasasti, Jembatan Masa Lalu dengan Masa Kini

Bambang Priantono

 

Prasasti adalah suatu benda yang terbuat baik dari batu maupun lempengan logam, fungsinya sangat banyak, antara lain menjadi patok batas suatu wilayah, pidato raja ataupun penanda pembangunan suatu tempat, di samping berupa supata bila melanggar aturan tertentu.

Prasasti juga salah satu peninggalan sejarah tertulis yang abadi karena dipahat dan dapat bercerita tentang suatu kejadian di masa silam, sekaligus kita dapat mengetahui peristiwa serta dari jaman kapan prasasti itu dibuat.

museum01

museum02

Saya masih teringat ketika berkunjung ke Museum Nasional untuk kali pertama pada tahun 1993, koleksi prasastinya membuat saya terpesona. Saya banyak membaca tentang prasasti yang terserak di berbagai penjuru tanah air. Namun tentang lokasinya, saya kurang banyak paham sampai akhirnya saya baru tahu kalau sebagian prasasti berharga itu disimpan dengan rapi di Museum Nasional, Jakarta.

Beberapa waktu lalu, setelah 21 tahun kemudian, saya kembali berkesempatan berkunjung ke Museum Nasional, sekaligus mengkoneksikan memori saya dengan aneka batu bertulis yang tergeletak umumnya di selasar Gedung A. Saya amati prasasti demi prasasti itu, hingga dengan takjub menemukan prasasti-prasasti yang sering tertulis dalam buku sejarah.

Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti Telaga Batu
Prasasti Dinoyo
Prasasti Kanjuruhan
Prasasti Tugu
Prasasti Mulawarman
Prasasti Talang Tuo
Prasasti Ciaruteun

Serta masih banyak prasasti lainnya dengan periode bervariasi. Periode tertua tentu saja Prasasti Mulawarman yang diperkirakan dari abad ke-4 Masehi dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta hingga periode Majapahit yang berjarak 10 abad dengan Kerajaan Kutai Kuno.

Ragam aksara yang digunakan dalam setiap prasasti juga menjadi rujukan betapa dinamisnya suatu sistem penulisan dari masa ke masa. Mulai yang tertulis dalam bahasa Sansekerta hingga Melayu Kuno dan Jawa Kuno. Cerita tentang Taman Sriksetra yang termaktub dalam

Prasasti Talang Tuo, peringatan pembuatan arca Agastya pada Prasasti Kanjuruhan, kisah pembuatan saluran Sungai Candrabagha di Prasasti Tugu serta pemberian sedekah sebanyak 20.000 ekor sapi kepada para brahmana oleh Raja Mulawarman merupakan kisah-kisah yang dapat mengungkap isi dari prasasti-prasasti tersebut.

museum03

Dengan lebih kurang 141.000 koleksi yang di antaranya adalah prasasti, Museum Nasional Indonesia sudah barang tentu menjadi pusat rujukan dalam pembelajaran ilmu sejarah, sosiologi, antropologi hingga arkeologi yang vital dalam penelusuran sejarah Nusantara.

Semangat ‘Museum Collection, Make Connection’ tentu mencakup semua koleksi yang ada. Di samping arca, perhiasan, tulisan, prasasti mempunyai andil sangat besar. Selain sifatnya yang awet karena dipahat diatas batu atau lempengan, prasasti juga dapat dipelajari dari berbagai segi. Segi sejarah, segi budaya, segi kebahasaan hingga segi politiknya. Koleksi prasasti yang ada pada Museum Nasional Indonesia merupakan benang merah yang menghubungkan masa kini yakni kita dengan masa lalu yang diwakili oleh nenek moyang kita.

museum04

Museum Nasional menurut saya telah berupaya dengan sekuat tenaga untuk melakukan pelestarian serta terus menambah koleksinya, dengan cara memperoleh dari daerah-daerah maupun dari mancanegara di mana koleksi bersejarah asal Indonesia dibawa di sana khususnya pada masa penjajahan dulu. Pengoptimalan restorasi dalam hal ini saya fokus pada prasasti juga menjadi hal yang penting, dengan fasilitasnya yang kian lengkap, yakni dengan adanya Gedung B, saya percaya bahwa Museum Nasional akan terus berkembang dan tentunya prasasti-prasasti yang ada di selasar gedung lama berikut artifak lainnya akan lebih mudah ditangani.

Terbukti dengan beberapa artifak dan prasasti yang dibungkus untuk kepentingan renovasi. Ukiran pada prasasti dapat menghilang seiring dengan waktu, di samping faktor manusia yang kadang suka memegangnya. Kandungan garam pada tangan pengunjung dapat mengakibatkan kerusakan pada tulisan prasasti dan akibatnya, satu informasi sejarah yang penting dapat hilang dan tak terlacak lagi. Hanya sayang ada banyak prasasti koleksi yang tidak ada labelnya, atau labelnya sudah kusam sehingga perlu diperbarui lagi.

Virtual museum juga merupakan alternatif baru dalam menikmati barang-barang bernilai sejarah. Meski belum semua isi prasasti dapat diterjemahkan dengan sempurna karena memakan waktu dan tenaga, namun paling tidak untuk prasasti-prasasti yang sudah dapat dibaca dan diterjemahkan, dapat ditampilkan dalam ruang khusus prasasti dengan catatan yang lebih lengkap, serta bila memungkinkan dengan katalog khusus yang bisa diakses siapa saja. Semisalnya saja pada Gedung B disediakan fasilitas virtual museum dimana bila kita mengarahkan alat pada satu artefak atau prasasti, maka akan muncul penjelasan tentang kapan prasasti ini dibuat, siapa pembuatnya, apa isinya serta dari masa kapan. Bukan semata dari prasasti yang dikoleksi oleh Museum Nasional, namun juga memungkinkan prasasti yang berada ditempat lain serta mengurutkannya sesuai dengan periodenya. Dengan demikian kita akan semakin mawas diri dan respek dengan apa yang diwariskan para leluhur kita di masa silam.

museum05

Di usianya yang menginjak 236 tahun, Museum Nasional Indonesia selayaknya menjadi museum rujukan bagi siapa saja yang ingin memahami dan memperluas cakrawala pengetahuannya tentang sejarah kita. Bukan sekedar dalam bentuk riil, khususnya dalam mempelajari bahasa dalam prasasti, tapi juga dalam wujud virtual yang menjadikan penyajiannya makin apik dan kian diminati.

Sekali lagi, Museum Nasional Indonesia diharapkan semakin maju dengan fasilitas yang lebih baik, serta semakin banyak melakukan analisis dan penelitian khususnya terhadap prasasti yang menjadi koleksinya, dan semoga semakin hari Museum Nasional Indonesia semakin lengkap koleksinya. Sebagai warga masyarakat juga, kita harus memberi penghargaan setinggi-tinggi kepada museum kita karena tanpa keberadaannya, maka kita tidak akan pernah tahu masa silam kita. Sebagaimana ungkapan khas Bung Karno yakni, Jas Merah , Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Museum kita
Dari masa lalu untuk hari ini dan masa depan.

 

Bisa juga dibaca di: http://bambangpriantono.wordpress.com/2014/05/20/lomba-essai-museum-nasional-koleksi-prasasti-jembatan-masa-lalu-dengan-masa-kini/

 

About Bambang Priantono

kerA ngalaM tulen (Arek Malang) yang sangat mencintai Indonesia. Jebolan Universitas Airlangga Surabaya. Kecintaannya akan pendidika dan anak-anak membawanya sekarang berkarya di Sekolah Terpadu Pahoa, Tangerang. Artikel-artikelnya unik dan sebagian dalam bahasa Inggris, dengan alasan khusus, supaya lebih bergaung di dunia internasional melalui blognya dan BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

7 Comments to "Koleksi Prasasti, Jembatan Masa Lalu dengan Masa Kini"

  1. J C  16 June, 2014 at 16:07

    Masyarakat kita memang masih minim sekali minatnya untuk ke museum. Untungnya sedari kecil, anak-anak sudah kami biasakan untuk keluar masuk museum. Sebenarnya banyak sekali yang bisa kita pelajari dari sepotong rekaman masa lalu…

  2. djasMerahputih  14 June, 2014 at 08:58

    Artikel yang menarik mas Bambang,

    Museum nasional akankah berwujud museum virtual..?? Tentu akses masyarakat akan lebih mudah untuk mengetahui pesan-pesan sejarah serta bukti-bukti peninggalan masa lalu nusantara.

    Prasasti > mengabadikan peristiwa sejarah masa lalu.
    Prasasto > ……….??

    Salam,
    //djasMerahputih

  3. handokowidagdo  13 June, 2014 at 13:26

    Musium selalau menggugah gairahku. (Tapi 200 tahun lagi musium isinya koleksi SMS – prasasti dari abad 21, kali ya?)

  4. Alvina VB  13 June, 2014 at 12:42

    2, ngintilin mbak Lani…mana nich si James???

  5. Lani  13 June, 2014 at 11:33

    Satoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.