[AMNESIA] Back to Future (8)

djas Merahputih

 

Sebuah serial, dongeng pengantar bobo siang

Dibacakan Lebih Nikmat

 

Cerita sebelumnya:

Tempat yang Tepat (1), Kunjungan Pertama (2), Pandangan Pertama (3), Sang Guru Favorit (4),

Kejutan Aneh (5), Perubahan Rencana (6), Jalan Keluar (7)

 

KUNJUNGAN SPESIAL

Para pengawal kerajaan lain terlihat heran melihat keceriaan kawan mereka Cakra, yang baru saja dipanggil menghadap oleh Sang Pangeran. Dengan langkah setengah berlari Cakra menghampiri rekan-rekannya dan mengabarkan kalau akhirnya ia berkesempatan untuk melihat sendiri kecantikan guru favorit di TK. Pelangi. Cakra berharap akan ada kesempatan untuk melihat, atau paling tidak bisa memandang foto beliau yang terpajang di ruang tunggu Kepala Sekolah. Rupanya Sang Pangeran memutuskan untuk bertukar peran saja dengan Cakra sehingga nantinya Cakralah yang menyamar sebagai Purba Kencana dan bertugas mengantarkan Rawira Wiru ke sekolah tersebut. Para pengawal lainnya hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. Sambil cekikikan berbisik seorang di antara mereka, berharap foto Guru Favorit tersebut sedang dipindahkan dan dibenahi saat Cakra berkunjung ke sekolah tersebut.

image001

Img01. Special Moment

Dengan sedikit mengerahkan aji Cembung Raga*, Ono dan Offo mempersiapkan penyamaran Sang Pangeran. Beliau kini telah berubah menjadi Dimas Cokro. Ia akan mengajar paruh waktu di TK. Pelangi, yang juga adalah tempat mengajar seorang Guru Favorit idola Sang Pangeran. Demikian pula Cakra telah siap dengan perannya sebagai Purba Kencana. Tak ketinggalan si kecil Rawira Wiru yang centil dengan gaun anehnya. Setelah nantinya resmi menjadi murid TK. Pelangi Rawira Wiru akan mendapatkan seragam khas sekolah tersebut. Khusus untuk si kecil ini Ono dan Offo menanamkan gajet kecil di dekat pita suara Rawira Wiru yang berfungsi sebagai translator disebabkan usianya yang belum mampu menyerap bahasa dari dimensi dunia berbeda. Sedangkan Sang Pangeran dan Cakra telah menyerap bahasa, seni, sejarah, kultur serta teknologi masyarakat Gentong Gadang beberapa hari setelah kedatangan pertama rombongan kerajaan dari Langit Kelima di tempat ini. Begitulah, segala sesuatu dipersiapkan secermat mungkin untuk sebuah kunjungan spesial ke TK. Pelangi.

*****

Ketiganya kini telah berada di ruang tunggu Kepala Sekolah. Ono dan Offo juga berada di dalam ruangan namun tentu saja dengan wujud transparannya. Cakra memperhatikan sekeliling ruangan mencari-cari letak foto Guru Favorit yang katanya terpajang di ruang tunggu tersebut. Benar juga, olok-olok para pengawal di istana tadi jadi kenyataan. Sudah tiga kali menjelajahi sudut ruangan namun ternyata foto yang dicari Cakra belum juga terlihat. Sang Pangeran menahan senyumnya mengetahui maksud Cakra alias Purba Kencana ini.

Rawira Wiru duduk di samping Purba dan akan dikenalkan sebagai Dian Anggrek Cemara. Sedangkan Dimas Cokro, samaran Sang Pangeran mengambil tempat duduk di kursi berbeda. Bapak Kepala Sekolah menghampiri ketiganya dan memberi salam. Setelah berbasa-basi sebentar Pak Tirta segera membahas fokus pertemuan mereka. Sepertinya beliau sedang terburu-buru.

Pak Tirta: “Kebetulan kalian berdua datang bersamaan. Hari ini waktu saya agak sempit berhubung akan menghadiri rapat di Balaikota. Mas Purba nanti akan ditemui oleh bagian administrasi untuk melengkapi dokumen dan adminstrasi lainnya. Semoga Adik Dian bisa segera memulai sekolahnya di tempat kami ini, yah..! Dan.., Dimas Cokro, seperti pembicaraan kita tempo hari dengan dibukanya kelas tambahan maka pihak sekolah memutuskan untuk menerima anda sebagai pengajar paruh waktu di tempat kami. Salah seorang guru akan meperkenalkan Dimas kepada murid-murid di setiap kelas yang ada.”

Purba dan Dimas Cokro : “Baik Pak Tirta, terima kasih “

Dimas Cokro : “Maaf, Pak Tirta, boleh tahu kapan kiranya saya dapat memulai tugas mengajar dan dalam bidang apa materi pendidikannya..? Saya tentu harus mempersiapkan materi tersebut. Bukan begitu, Pak? “

Pak Tirta: “Dimas benar, nanti akan disampaikan semuanya oleh salah seorang guru yang saya beri tugas untuk itu. Setelah diperkenalkan kepada murid-murid, Dimas akan diberi penjelasan tentang segala hal yang akan menjadi tugas Dimas nantinya. Maaf, berhubung keperluan menghadiri rapat tadi saya terpaksa meninggalkan anda lebih awal. Sampai ketemu, semoga segalanya berjalan lancar yah..!” Pak Tirta pamit dan memberikan salam lalu memanggil seorang staf administrasi untuk menemui mereka berdua.

Cakra yang masih penasaran dengan sosok Sang Guru Favorit mendapatkan penjelasan dari seorang staf tadi kalau foto tersebut akan diganti dengan foto berbeda. Walaupun bulan lalu Bu Guru Citra masih mendapatkan predikat sebagai guru favorit namun foto tersebut mulai terlihat lusuh sehingga akan digantikan dengan foto baru dengan pose berbeda pula. Untung saja guru yang ditunjuk bapak Kepala Sekolah untuk menemui dan mengantarkan Dimas Cokro adalah Citra sendiri. Walaupun hanya sepintas tapi cukup untuk memuaskan rasa penasaran Cakra terhadap sosok istimewa yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.

Bu Guru Citra menjemput Dimas Cokro yang nampak sedikit terkejut, untuk kemudian diperkenalkan kepada seluruh murid-murid pada lima kelas berbeda dalam lingkup TK. Pelangi. Kepada Dimas Cokro juga ditunjukkan ruang kelas yang akan digunakan nantinya. Kelas tambahan akan dimulai minggu depan, seminggu setelah lima kelas lainnya dimulai. Setelah selesai meninjau ruang kelas dan perkenalan singkat dengan para murid, Dimas Cokro dan Bu Guru Citra kembali ke ruangan semula. Purba dan adiknya Dian sudah tidak terlihat lagi, rupanya mereka baru saja berpamitan dan akan segera memulai aktifitas sekolahnya seminggu ke depan.

Sementara itu, Dimas Cokro terlihat sangat menikmati perjalanan singkat di sekeliling sekolah tadi. Wajah Beliau begitu sumringah, namun tetap berusaha disembunyikan. Ono dan Offo kembali cekikikan di sudut ruangan. Bu Guru Citra beranjak sebentar mengambil setumpuk dokumen yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh Pak Tirta. Setelah itu ia kembali duduk di ruang tunggu Kepala Sekolah tepat di depan kursi Dimas Cokro dan kemudian menjelaskan secara detail tugas-tugas yang akan dibebankan kepada Guru Baru ini.

image002

Img02. Terkesima

Ono dan Offo terus cekikikan memperhatikan sikap Dimas Cokro yang hampir tak berkedip memperhatikan penjelasan Bu Guru Citra. Mereka berdua menduga, bukan penjelasannya yang jadi fokus perhatian Sang Pangeran, melainkan gerak-gerik dan senyum ramah Bu Guru Citralah yang telah menghipnotis jiwa muda haus pengalaman tersebut. Di lain pihak, Bu Guru Citra sendiri sadar sepenuhnya dan telah terbiasa dengan tatapan terkesima orang lain, seperti halnya tatapan Dimas Cokro.

Bu Guru Citra nampaknya tertarik dengan nama lengkap Dimas Cokro yang tertera dalam dokumen tersebut. Di sana tertulis, Dimas Cokro Kencana Wahyu Samudera, sebuah nama yang unik. Citra kemudian berkelakar dengan menanyakan kepada Dimas Cokro, nantinya murid-murid akan memanggilnya dengan nama yang mana. Dimas, Cokro, Kencana, Wahyu atau Samudera? Walapun sedikit gugup Dimas Cokro memaksakan untuk tersenyum dan menyarankan agar dipanggil Pak Cokro saja. Bu Guru Citra pun setuju dan tidak mempermasalahkannya.

*****

Sang Pangeran tiba di Istananya dengan perasaan lega. Semuanya berjalan lancar dan penuh kesan. Demikian pula dengan Cakra, pengawal yang telah berhasil menebus rasa penasarannya. Ono dan Offo juga merasa senang, telah menunaikan tugasnya dengan sempurna. Untung saja Bapak Kepala Sekolah sedang terburu-buru sehingga tidak terlalu menghiraukan kemungkinan perbedaan Purba dan Dimas Cokro dengan sosok keduanya saat datang pertama kali ke sekolah tersebut dengan penyamaran berbeda.

Para Biq Xu juga terlihat senang dan melakukan ritual kecil sebagai rasa syukur atas kegembiraan Sang Pangeran di hari istimewa itu. Tak ketinggalan Ketiweuy, ayam jantan kesayangan Beliau, beberapa kali mengepakkan sayap disertai lengkingan kokok merdunya. Seisi Istana terasa meriah dan riuh larut dalam suasana bahagia.

image003

Img03. Menunggu

Namun, satu-satunya masalah yang kini masih mengganggu Sang Pangeran adalah waktu seminggu yang dirasakan terlampau lama untuk kembali bertemu dengan sosok Sang Guru Favorit TK. Pelangi. Waktu seakan berjalan begitu lambat. Malam hening mengalir perlahan dan dihabiskan dengan mengenang detik demi detik berjuta kebahagiaan di hari itu. Tak terasa malampun semakin larut, Sang Pangeran akhirnya tertidur di pembaringan dengan sebuah rembulan kecil yang masih tergenggam erat di tangannya.

 

(Bersambung)

——————————————————–

Catatan Penulis:

“aji Cembung Raga à membuat orang-orang akan melihat sebuah objek seolah-olah menjadi lebih tinggi dan lebih besar dari benda aslinya”

 

Salam Nusantara,

//djasMerahputih

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "[AMNESIA] Back to Future (8)"

  1. djasMerahputih  18 June, 2014 at 09:45

    Mba Dewi… sepertinya permintaan agar terlihat seperti Dian Sastro bukan hal sulit untuk Ono dan Offo.
    Sekarang aja kan udah ngga beda jauh…. (Uang recehnya dongg..!) ha ha ha…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.