It is boiling my friend – pesan dari balik tirai besi

Ki Ageng Similikithi

 

Hampir tengah malam ketika pesawat Biman Bangladesh Arline yang saya tumpangi mendarat di bandara Zia International Airport, Dhaka. Pertengahan delapan puluhan, lupa bulan dan tanggalnya. Jelas bukan musim panas. Hawa terasa sejuk merasuk badan meski saya memakai jaket kulit. Juga topi laken kesukaan saya. Topi laken selalu saya pakai saat bepergian. Hanya kesukaan semata mata. Saya baru sadar saat keluar dari imigrasi kalau lupa membawa scarf. Ini sebenarnya lebih penting. Padahal di Yogya saya selalu memakai scarf tipis warna biru atau kuning. Terutama saat memberi kuliah.

Sesudah lewat imigrasi dan pabean, saya bergegas keluar ke ruang penjemputan. Tak ada janji untuk dijemput. Pesan teleks yang saya terima di Yogya dari Jonathan, teman satu misi yang datang dari Washington, memberitahu agar saya langsung menghubungi counter hotel Sheraton. Ada pelayanan antar jemput. Tetapi agak terkejut ketika mengetahui tarip hotelnya, seratus tujuh puluh lima dolar semalam. Mahal untuk ukuran saat itu. Urung pesan hotel. Mau tukar dolar ke taka dulu. Beberapa counter tukar uang bersaing menawarkan jasanya. Saya menuju yang paling ujung. Diminta mengisi formulir dan tanda tangan. Kertasnya kumal seperti kertas buram. Saya hitung uang taka cepat cepat. Mau naik taksi ke kota cari hotel yang sedang taripnya.

Begitu keluar di ruang penjemputan, suasana terasa sesak dan hiruk pikuk. Banyak yang menawarkan taksi. Terkesan semrawut. Tiba tiba seseorang memanggil nama saya dari antara kerumunan orang. Terlihat Jonathan dengan kaos warna hijau melambaikan tangan. “Hi Ki”. Perawakannya yang tinggi dan wajah tampan seperti Pierce Brosnan, gampang sekali dikenali. Kami berpelukan akrab. Kami sudah kenal hampir sepuluh tahun, sering bersama dalam misi gabungan di banyak tempat, mulai dari Aceh, Padang, Kupang sampai Nepal. “Hi Jono, happy to meet you here”. Jono panggilan akrabnya, bilang kalau tinggal di Dhaka Midtown hotel. Saya sudah dipesankan kamar di sana. Kami menuju taksi, yang dibawa Jono dari hotel. Begitu mobil meninggalkan bandara, baru saya sadar kalau pulpen Parker saya, hadiah ulang tahun, ketinggalan saat tukar uang tadi. Tetapi malas mau turun lagi. Rasanya lega terbebas dari kerumunan orang.

Sampai di hotel sudah hampir jam satu pagi. Di daerah Gulshan. Kamarnya lumayan bagus. Saya bersebelahan dengan Jono di lantai 2. Tak sempat bicara banyak dengan dia. Terlalu capai. Dia datang pagi harinya. Katanya sudah ketemu James, anggota misi yang lain yang tinggal di Dhaka. James juga warga negara Amerika. Setahun terakhir tinggal di Dhaka, penanggung jawab proyek. Jono dan James bekerja untuk lembaga yang sama. Kami datang di Bangladesh untuk melakukan penilaian kesiapan menjadi anggota International Network for Rational Use of Drugs yang bersama sama kami bentuk. Masih ingat dulu kami bertiga membicarakan pertama kali usulannya saat makan malam di Korean Dragon Jakarta setahun sebelumnya. Jejaring internasional itu diresmikan setahun kemudian di Yogya, beranggotakan kelompok dari 4 negara di Asia dan 4 negara di Afrika.

Bangun pagi agak terperanjat saat membuka jendela. Burung gagak banya sekali di halaman dengan suara gaduh. Tak takut sama orang burung-burung ini. Di Jawa sudah banyak punah karena pestisida. Kalau adapun jika berkicau dianggap pertanda akan ada orang meninggal. Jika kicauan gagak ini benar pertanda kematian, pasti sudah habis penduduk Dhaka ini, karena begitu banyak burung gagak yang berkicau gaduh sepanjang hari. Saya sama Jono makan pagi di kafe di lantai dasar. Banyak tamu, sebagian orang asing. Sempat kenalan dengan seorang tamu pria yang kamarnya satu lantai dengan kami. John, orang Inggris, seorang insinyur yang sedang menangani proyek jalan di tepi kota Dhaka. Mantan dosen politeknik.

Mulai bicara dengan Jono mengenai misi kami di Dhaka. Jono dan James sudah merencanakan siapa siapa yang akan ditemui dalam misi ini. Kami menyepakati lembaga lembaga mana dan siapa siapa yang akan ditemui, untuk membahas rencana pembentukan jejaring internasional tadi. Ada seorang tokoh senior Bangladesh, seorang national professor, yang namanya kondang dan sangat berpengaruh di Bangladesh dan di tingkat internasional saat itu. Profesor Nurul Islam. Kami sepakat akan menemuinya walau mungkin dia tak banyak punya waktu dengan inisiatif ini. Keterlibatannya akan sangat berpengaruh di kemudian hari. Kebetulan saya pernah bertemu dengan dia saat di New Castle di tahun 1982.

Sesudah sarapan kami bertemu dengan James yang datang ke hotel. Rencana rinci misi selama di Dhaka semuanya pasti. Setelah misi di Dhaka, disepakati Jono terus ke Pakistan, saya dan James ke Nepal, diteruskan ke Indonesia. Jono nampaknya ingin menghindari menjalani misi bersama dengan James. Walau bekerja dalam organisasi yang sama, dua pribadi yang kontras. Jono pekerja ulet, berbahasa halus dan diplomatis. James agak angin-anginan dan semau gue. Seorang pekerja lapangan yang handal. Kalimat-kalimatnya selalu terbumbui dengan kata-kata yang bisa menusuk lawan bicara.

Hari pertama seharian mengunjungi berbagai lembaga baik sendiri sendiri atau berkelompok. Ada pengalaman yang lucu ketika saya berkunjung ke salah satu lembaga penelitian di Universitas Dhaka. Guru besar yang saya temui, nampak gelisah saat bertemu saya. Katanya pada saat yang sama dia punya janji menerima misi dari Washington. Saya jelaskan bahwa saya mewakili misi itu. Ketika membaca kartu nama saya, dia balik terperanjat. “Are you Ki? I do not expect you are still this young” Beberapa kali kami saling komunikasi lewat surat dan tilpon. Belum ada email saat itu. Kami bedua satu profesi, farmakologi, dan sama sama mendapatkan gelar doktor dari UK. Saya berkesempatan melihat-lihat fasilitas risetnya dan diskusi dengan beberapa peneliti yang sedang melakukan program doktor di bawah bimbingannya. Tahun-tahun kemudian kami bersahabat dekat dengan professor Chaudhury. Beberapa tahun kemudian dia menjadi presiden universitas Dhaka.

Malamnya kami memutuskan makan malam di hotel saja. Saya Jono dan John, insinyur dari Inggris itu. Mau keluar malas. Hawa dingin. Hotel di daerah Gulshan, jauh dari pusat perbelanjaan. Sebagian besar yang makan malam juga rombongan ekspat yang sedang melakukan misi di Bangladesh. Tak sengaja berkenalan dengan tiga orang tamu, dua pria dan satu wanita. Mereka insinyur-insinyur dari Moskow yang sedang mengerjakan proyek waduk. Nggak tahu waduk apa. Tak sempat cerita banyak. Bahasa Inggris mereka sangat terbatas. Satu orang bicara patah-patah. Pria yang lain kelihatannya suka bicara, tetapi tak menguasai bahasa Inggris. Wanitanya nampak pendiam walau tatap matanya terkesan tajam. Tak bicara bahasa Inggris. Dia berambut blonde, kulit mukanya begitu putih hampir memucat. Begitu cantik tetapi agak pucat, saya bayangkan seperti Putri Salju. John orang Inggris itu nampak antusias mau ngobrol sama mereka. Jono yang selalu kalem tak begitu antusias. Tetapi saya melihat wanita cantik ini nampaknya selalu mencuri pandang wajah Jono, yang memang tampan seperti bintang film. Kami hanya ngobrol sebentar. Saya dan Jono akan bicara tentang hasil kunjungan hari itu.

Jam sepuluh selesai menyimpulkan hasil diskusi hari itu, saya masuk kamar. Di langit-langit ada baling-baling atau kitiran besar. Bunyinya tak keras tetapi konsisten seperti mesin. Saya merebahkan diri di atas tempat tidur beralaskan kain katun putih. Tidur-tidur ayam. Tiba-tiba secara tak sadar saya menjerit keras sekali. Mimpi buruk. Seolah ada helikopter mendarat dengan orang orang berwajah seram bersenjata lengkap mau membunuh saya. Rupanya suara kitiran angin itu yang membuat saya mimpi buruk. Pintu kemudian diketok keras dari luar. Ternyata penjaga hotel dan Jono berdiri di muka pintu. “Are you OK?”. “Sorry I am having a nightmare”. Nampak tamu tamu dari Moskow juga kelihatan di luar. Mereka belum tidur, masih duduk duduk ngobrol di ruang duduk sebelah kamar saya.

Hampir jam sebelas saya masih membaca dokumen-dokumen yang saya bawa ketika tiba tiba listrik mati. Gelap gulita. Hening sekali. Hanya terdengar suara dengkur dari kamar John, sang insinyur itu. Beberapa saat kemudian terdengar suara gaduh dalam bahasa Rusia. Nggak tahu Putri Salju itu berkata kata lantang, hampir berteriak. Mungkin memanggil petugas hotel. Saya keluar dengan lampu lilin. Petugas hotel belum juga nampak. Rupanya ada aliran listrik yang nggak benar di hotel itu karena bangunan-bangunan sebelah masih terang benderang. Petugas hotel datang beberapa saat kemudian. Mencoba mencari sekering di lantai itu. Ada di sudut ruang duduk. Suara ketukan keras mencoba membuka kotak sekering membangunkan John dan Jono. Mereka ikut datang ke kamar duduk. Saya dan petugas hotel mencoba membuka dan memperbaiki sekering yang anjlog itu. Tak lama kemudian lampu menyala kembali.

“Spasibo. Thanks”. Sang Puteri Salju nampak lega mengucapkan terima kasih. Mereka sejenak berbicara dalam bahasa Rusia. Kemudian salah satu pria mengungkapkannya dalam bahasa Inggris. Mereka ingin mengundang minum wodka malam itu. John insinyur dan mantan dosen politeknik itu dengan antusias mengiyakan. Dia kembali ke kamar ambil wiskhy. Saya menatap Jono, dia agak ragu. Sekedar sopan santun kami bergabung di ruang duduk itu. Jono mengenakan kaos panjang dengan kerah tinggi. Nampak atletis tubuhnya. Tidak seperti kedua pria Rusia dan Inggris yang nampak gendut. Saya lupa nama mereka satu per satu. Jika tak salah ingat si wanita bernama Valentina. Mengingatkan nama astronot wanita pertama Uni Soviet Valentina Tereskhova di akhir tahun lima puluhan. Jelas astronot itu tak secantik Valentina si Puteri Salju ini.

Ketiga tamu dari Moskow itu dan John begitu antusias ngobrol sambil minum wodka. Dengan sopan saya bilang kalau tak biasa minum. Saya minum juice yang saya beli sore tadi. Juga buah jeruk yang saya beli di pasar saya keluarkan. Seperti pesta kecil kecilan. Mereka mengeluarkan caviar. Pembicaraan mereka terutama mengenai perubahan yang sedang terjadi di Uni Soviet. Tentang glastnost dan perestroika. Begitu berapi api salah satu pria itu bercerita dengan gerakan gerakan tubuh yang lucu. Perubahan besar akan terjadi sesaat lagi di Uni Soviet. Tak akan ada lagi Uni Soviet. “It is boiling my friend”. Berkali kali dia bilang, it is boiling, sambil kedua tangannya dibulatkan di depan dada dan tubuhnya berputar ke arah kiri. It is boiling. Kata kata itu yang saya ingat sampai sekarang. Kadang-kadang terdengar seperti it is bowling. John nampak begitu terlarut dengan obrolan mereka. Di akhir kata it is boiling, selalu diikuti derai tawa mereka berempat. Nggak tahu apa yang diketawakan. Saya ikut tertawa karena seperti mendengar it is bowling.

E013469

Jono nampak tenang. Hanya minum sedikit. Saya tahu perilaku dia. Tak pernah mau bercanda urakan gaya bohemian. Juga tak sedikitpun memberikan reaksi walau Valentina mencoba menarik perhatiannya berkali-kali. Jono pria puritan. Istrinya Tina, jelita seperti bintang pemain film the Devil Wears Prada. Lewat tengah malam ketiga pria itu dan Valentina sudah setengah mabuk. Jono nampak tidak tenang, pengin mundur. Ketika Valentina duduk mepet ke arah Jono dan menawarkan wodka, Jono menghindar “I am crashed”. Dia pamit masuk kamar. Valentina beralih bersandar dan mendesak saya mencicipi wodka. Saya mencoba menolak halus. Tetapi akhirnya minum juga walau hanya seteguk. Setiap minum alkohol kepala saya rasanya berputar-putar, tak dapat konsentrasi. Itu yang saya rasakan saat itu. Tak banyak bisa mengikuti pembicaraan dan gelak tawa mereka lagi. Masih terdengar juga. It is boiling. It is bowling. Sementara saya lihat John nampak asyik benar bicara dengan Valentina, jarak bicara begitu dekat. Lewat jam satu malam, perut saya rasa nggak enak, mual. Ada alasan pamit. “My stomach is boiling”. Dari dalam kamar saya masih mendengar gelak dan tawa mereka. Obrolannya sudah tak karuan, kadang Inggris, kadang Rusia, sering campur.

boiling

Paginya saya dan Jono makan pagi di kafe. Dia bilang agar menghindari acara tak terencana dan obrolan tak karuan semalam. John bergabung kemudian. Saya berkelakar, awas agen-agen Uni Soviet sering menjebak dengan wanita. Dengan enaknya si John yang usianya sudah lewat setengah abad itu menjawab. Itu yang saya tunggu, sampai jam dua pagi kok jebakan itu tak pernah dipasang. Saya dan Jono masih umur pertengahan tiga puluhan. Setiap kali pergi jauh yang kami ingat hanya anak sama isteri. Mana sempat mau mikir orang lain. Si John, ini orang sudah mau pensiun, malah menggebu cari perangkap. Edan, mungkin puber kedua. Saat ini kadang saya berpikir dengan sedikit kecewa, kok dulu nggak memanfaatkan kesempatan itu ya. Kapan lagi, kesempatan tak akan datang dua kali. Mungkin juga John berpikir begitu saat itu. Sudah lewat lebih dua puluh tahun. Tak guna disesali.

Esok malamnya kami bertiga, Jono, James dan saya ada acara makan malam di American club. Club ini bersebelahan dengan kedutaan Uni Soviet. Juga di daerah Gulshan atau Dalmonde. Kami bertemu ketiga tamu dari Moskow dan John di lantai bawah. Lebih baik pergi sendiri sendiri. Salah salah bisa dapat kesulitan nanti kalau kelihatan menyolok beramai ramai.

Peristiwa sudah lewat lebih dua puluh tahun. Yang paling saya ingat hanya ungkapan ‘It is boiling my friend”. Pesan singkat dari balik tirai besi.

Salam damai
Ki Ageng Similikithi

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

9 Comments to "It is boiling my friend – pesan dari balik tirai besi"

  1. handokowidagdo  18 June, 2014 at 08:08

    Ki, dua LSM besar (bahkan terbesar di dunia) adalah BRAC dan Grameen Bank. Masih ada lagi PROSECA yang juga amat besar. Bahkan saat Bank Dunia rapat dengan pemerintah, biasanya BRAC ikut serta sebagai bagian yang mewakili Bangladesh. Prof Yunus adalah dosen saya.

    Wah…. jangan-jangan suatu saat saya akan jadi cantrik/mahasiswanya Ki Ageng nih. Soalnya, semua kolega Panjenengan adalah dosen saya.

  2. Ki Ageng Similikithi  18 June, 2014 at 05:15

    Terima kasih komentar komentarnya. Kita selalu terbawa berita negatif tentang Bangladesh di media internasional. Tetapi jika sempat ke sana banyak hal menarik yang bisa ditemui. Banyak program yang menarik.

    Ada dua LSM besar di Bangladesh, namanya lupa, sulit diingat, yang bergerak dalam pembangunan dan pengentasan kemiskinan melalui kredit mikro. Saya sempat bertemu dengan pendirinya yakni Prof. Yunus. Ketika beliau bicara panjang lebar mengenai organisasi dan gerakannya, membuat saya terkagum kagum. Komentar saya, jika yang anda ceritakan benar adanya, anda seharusnya menerima hadiah Nobel. Kira2 lima belas tahun kemudian dia menerima hadiah Nobel. Dia tokoh karismatik yang memberi inspirasi bagi para aktifis yang bergerak dalam pengembangan masyarakat.

    Bangladesh punya banyak sumber gas. Tetapi tidak dieksploitasi. Sebagian besar diusahakan secara mikro oleh masyarakat. Juga salah satu negara di dunia yang kredit luar negrinya sangat kecil
    Salam damai

  3. awesome  17 June, 2014 at 11:30

    tulisan Ki selalu menarik, selalu …
    thank you for sharing

  4. Lani  17 June, 2014 at 00:07

    KI LURAH : plg yg ada dlm pikiranmu, knp semriwingnya cm sedikit ya???? Mbok-yao ditambah gitu kkkkk………kebaca to yg ada dlm pikiranmu……….

    Baca artikel ini, membawa pikiranku balik bbrp tahun yl………Bangladesh……….Dhaka…….aaaah, untung batal pergi!

  5. handokowidagdo  16 June, 2014 at 19:22

    Kalau Ki datang ke Dhaka sebagai konsultan, saya 8 bulan di Dhaka, tepatnya di Savar sebagai mahasiswa. Kalau Prof Nurul Islam dan Dr Chaudhury adalah rekan kerja Ki, beliau berdua adalah dosen saya. Kalau Ki menginap di hotel di Ghulsan, saya sering ke Ghulsan untuk cari warnet murah, meski sambungannya gak terlalu bagus (awal tahun 2000).

  6. J C  16 June, 2014 at 16:13

    Membaca cerita pak Ki Ageng selalu asik sekali. Banyak bumbunya. Bumbu international connections, bumbu tempat-tempat eksotis, bumbu sedikit “semriwing”, bumbu kocak…dan banyak lagi jenis bumbunya…

  7. Lani  16 June, 2014 at 10:15

    Kalau James bisa bilang panas…….aku tambahin panas menggelegak……..mungkin persis bak di neraka?

  8. James  16 June, 2014 at 09:49

    doea……panas….

  9. djasMerahputih  16 June, 2014 at 09:35

    Satoe: Pesan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *