Ikhlas atau Pamrih

Wesiati Setyaningsih

 

Yang namanya menyumbang, memberikan sesuatu, beramal, atau apalah namanya, selalu disarankan untuk ikhlas. Tapi tak jarang yang namanya ‘ikhlas’ itu sendiri justru mengandung pamrih tertentu.

Kalau ada kotak yang harus kita isi, di kelurahan, di masjid, atau di tempat lain seperti tempat resepsi, katanya ‘seikhlasnya’. Tapi kalau nanti kita memasukkan kurang dari yang diharapkan, bisa jadi masalah juga.

Sebagai orang yang pernah bekerja di Kelurahan, saya tahu kalau ada kotak yang sudah ngejogrok di sana entah sejak kapan. Tapi melihat warnanya yang pudar, saya rasa kotak itu sudah eksis jauh sebelum kedatangan saya. Setelah pelayanan selesai, maka teman saya akan menunjuk ke kotak. Orang yang di depannya akan bertanya, “Berapa?”

Jawaban teman saya, “Mangga”. Maksudnya, terserah. Maka orang yang sudah mendapatkan pelayanan akan memasukkan seribu-dua ribu, ada juga yang lima ribu. Untung ketika saya masuk di Kelurahan, Pemkot Semarang sudah mencanangkan pelayanan prima dan mestinya urusan kotak ini sudah tidak ada lagi. Jadi ‘urusan kotak’ ini sudah tidak wajib lagi. Tapi karena dia masih ada di sana, tetap saja berlangsung.

ikhlas

Kalau saya yang membuatkan surat, saya bilang, “Bawa saja”. Karena aturannya memang sudah tidak usah mengisi kotak lagi. Tapi ada teman yang kesal dan akhirnya urusan pelayanan ini harus lewat dia, jadi dia yang menarik sumbangan dari warga. Saya senang saja karena berarti saya lepas dari ‘urusan kotak’ yang membuat saya jengah.

Di tempat resepsi pun ada kotak. Sama saja, kita bisa mengisi amplop dengan uang berapa saja lalu masukkan amplop ke kotak itu. Tapi kemarin ada kasus di mana yang punya kerja ngrasani dengan teman lain, “Masak nyumbang kok cuma segini, padahal dia orang kaya”. Walah. Berarti semua hidangan yang disajikan itu sudah ada hitungan harus balik berapa, dong?

Di masjid ada kotak juga. Sebenarnya berapapun besarnya tidak akan menjadi masalah. Tapi tetap saja ada himbauan, “kalau kamu mengisinya sedikit, maka Allah juga akan memberimu sedikit. Maka isilah yang banyak agar baliknya juga banyak”. Maka mereka yang mengisi sedikit akan malu karena buat Tuhan kok tega mengisi sedikit.

Suatu ketika saya menitipkan uang untuk seseorang, teman yang saya titipi bertanya, “minta didoakan apa oleh yang diberi nanti?”

Saya tercenung karena saya memang hanya ingin memberi. Tidak terlintas untuk minta didoakan karena pemberian saya. Rasanya kok saya sedang membeli doa kalau saya minta didoakan ini itu. Ini menurut saya. Kalau ada yang melakukannya dan memiliki dalilnya, itu sah saja.

Ada juga yang melakukan di waktu-waktu tertentu, misalnya di hari Jumat karena memang ada kepercayaan tentang keutamaan hari dan hari yang paling utama itu hari Jumat. Dengan demikian amalnya akan dilipatgandakan kalau dilakukan hari Jumat. Saya sendiri tidak terlalu berpegang pada hal ini, bukan apa-apa, karena saya sering lupa hari.

Selain hari Jumat, Ramadhan juga menjadi bulan yang ditunggu. Tidak munafik, bahkan saya dulu menunggu bulan Ramadhan untuk beramal agar saya mendapat pahala yang banyak. Siapa tahu bisa menyeimbangkan dosa saya yang sudah sangat banyak sehingga paling tidak kalau di neraka nanti tidak usah terlalu lama.

Maka tak heran kalau di bulan Ramadhan, infotainmen akan meliput kegiatan artis-artis mengajak anak yatim piatu untuk buka puasa bersama. Apakah mereka berharap akan mendapat manfaat dari kegiatan itu, atau sekedar berbaik hati pada anak yatim di bulan Ramadhan, itu bukan urusan saya. Yang jelas saya bersyukur bahwa saya bukan artis hingga kalau beramal tidak perlu diliput televisi segala.

Tapi itu dulu. Setelah berpikir bahwa amalan saya bisa mendapat kebaikan-kebaikan seperti : dikurangi dosa saya, mendapat kemudahan dalam hidup, atau bahkan uang yang saya keluarkan kembali dalam jumlah yang berlipat ganda, sekarang saya berpikir beda.

Entah kenapa sekarang saya tidak peduli lagi apakah apa yang saya berikan akan kembali dalam jumlah yang berlipat ganda atau tidak, apakah dosa saya akan dikurangi atau tidak, apakah akan melancarkan usaha saya atau tidak, atau bahkan akan diterima dengan baik atau tidak.

Kalaupun dalam hadist disebutkan tentang manfaat beramal, saya kira bukan berarti saya harus beramal hanya karena iming-iming manfaat yang akan saya terima lebih dulu. Membayangkan manfaat yang akan kita terima nanti, menurut saya itu sebuah pamrih tersembunyi. Kalau ingin memberi ya memberi saja, kapan saja dan untuk siapa saja. Tidak usah berharap duluan, tidak usah berpikir waktu yang utama untuk beramal.

sabar-dan-ikhlas

Sekarang sih saya berusaha meluruskan niat, kalau saya ingin memberi itu berarti saya hanya ingin memberi. Bukan ikhlas tapi berharap sesuatu yang yang sebenarnya pamrih juga, seperti : ingin diampuni dosa saya, biar masuk surga, atau bahkan agar apa yang saya keluarkan dikembalikan lagi dalam jumlah yang berlipat ganda. Ikhlas itu tidak berpikir atau mengharapkan hal lain, itu saja.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

25 Comments to "Ikhlas atau Pamrih"

  1. Lani  20 June, 2014 at 12:00

    Lani…hari ini terpaksa say goodbye buat kesebelasan Spanyol..kalah, mantan juara dunia 2010 harus pulang kampung, …bye bye Pique…bye bye Casilas…bye bye David Silva……..
    ++++++++++++

    DA : Spanyol kalah karo tim londo yo? Kapan tim Brazil tarung? Karo tim drmn? Walah2 dalah…….jd yg kamu gambol semakin wokeh ngono? Aku jd ingat JUPE……dia jg penggemar ngumpulin pemain bola hehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *