Ritual Upacara Bakar Batu

Bayu Amde Winata

 

Teriakan demi teriakan keluar dari mulut-mulut lelaki Papua, busur sudah ditarik, anak panah siap dilepaskan. Pihak lawan pun tidak mau kalah. Mata mereka dengan awas melihat lawan yang nantinya akan dilumpuhkan. Busur dan panah mereka pun sudah siap untuk dilepas. Suasana menjadi tegang. Akankah terjadi pertumpahan darah di sini? Eit, nanti dulu. Ini bukanlah perang suku. Ini hanyalah perang-perangan antar suku yang sengaja diciptakan dalam rangkaian upacara bakar batu.

UB 3

Upacara bakar batu adalah upacara tradisional bagi suku yang mendiami pegunungan tengah Papua. Upacara ini diadakan untuk menyambut tamu agung, pernikahan, kematian, dan juga perdamaian. Upacara ini adalah upacara sakral bagi masyarakat di pegunungan Tengah Papua. Upacara bakar batu kali ini berkaitan bertemakan perdamaian. Setelah “perang” suku, Kedua belah pihak yang bertikai berdamai dan mengadakan upacara.

UB 4

Di dalam upacara bakar batu, menu utamanya adalah babi. Nantinya babi ini akan dibakar bersama sayur-sayuran seperti hipere/ubi jalar, tirubug/daun ubi jalar. Sebelum memulai upacara bakar batu, terlebih dahulu disiapkan kayu bakar yang berfungsi sebagai bahan bakar dalam upacara. Para pemuda akan mencari kayu ke dalam hutan yang masih banyak terdapat di kawasan ini. Setelah kayu siap, sayur-sayuran akan datang. Sayuran ini di bawa oleh mace-mace.

UB 2

UB 9

Setelah semua bahan siap, upacara selanjutnya adalah pengorbanan babi. Di dalam acara ini, babi yang  disembelih tidak dengan menggunakan pisau, namun, dipanah terlebih dahulu. Yang memanah babi tersebut adalah bapak kepala suku.  Babi tersebut dipanah bukan diletakkan di tanah. Namun digendong oleh dua orang, mereka akan mengangkat babi ini. Setelah babi diangkat, kepala suku akan melepaskan panahnya tepat ke jantung babi.

UB 6

UB 7

Setelah mati, babi akan dikuliti dan dibersihkan. Selagi  dibersihkan, ada sebagian yang mempersiapkan batu yang akan digunakan. Batu ini akan dibakar terlebih dahulu, kayu yang sudah disiapkan tadi akan dibakar bersama dengan batu. Di dalam upacara bakar batu, memasak makanan bukan dibakar seperti kita bakar sate atau memanggang ayam. Akan tetapi, mereka memasak seperti di kukus. Dengan menggunakan penahan panas alami berupa alang-alang. Panas dari batu akan ditahan, panas inilah yang akan membuat sayuran dan daging ini menjadi matang.

UB 11

UB 12

Upacara bakar batu, dapat dikatakan sebagai upacara gotong-royong dan kebersamaan bagi masyarakat Pegunungan Tengah, kenapa? Semua pihak, baik itu pria maupun wanita akan terlibat di dalam upacara ini. Sembari menunggu batu menjadi panas. Sebagian mereka mempersiapkan tempat upacara bakar. Alang-alang disusun melingkar ke dalam lubang yang telah disiapkan. Alang-alang ini berfungsi sebagai filter penangkap panas. Setelah batu panas, maka batu akan dipindahkan ke lubang yang berisi alang-alang tersebut.

Bahan makanan pun disusun. Hipere/ubi jalar beserta tirubug/daun ubi jalar di susun di atas alang-alang. Di atasnya ditutupi alang-alang dan batu panas, lalu kembali hipere dan tirubug, Dan alang-alang lagi serta batu panas, begitu terus susunannya. sampai nantinya bagian atas adalah babi. Setelah semuanya terkumpul, bagian paling atas akan ditutup dengan alang-alang. Setelah ditutup, mereka akan menunggu masakan ini matang.

UB 8

UB 13

Setelah 90 menit, makanan ini akan matang. Bungkusan alang-alang ini akan dibongkar. Mereka akan membagi hasil masakan ini secara merata. Bagi masyarakat, saat pembagian ini adalah saat yang paling kritis. Sebisa mungkin mereka akan membagi hasil masakan ini secara merata. Jangan sampai tidak ada yang tidak kebagian, jika tidak kebagian akan menimbulkan masalah yang pelik ke depannya.

UB 14

UB 1

UB 5

 

About Bayu Amde Winata

Penggemar fotografi dan petualangan. Menuangkan pikiran dan apa yang dilihatnya dari seluruh Nusantara melalui jepretan-jepretannya. Bergaung ke seluruh dunia dengan lensa via BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

21 Comments to "Ritual Upacara Bakar Batu"

  1. bayu winata  22 June, 2014 at 01:13

    ariffani: makasi dek..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.