The Risk of Being Pegel is Unlimited Adventure (1)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Pagi-pagi aku udah bangun padahal semalaman tidur nggak bisa pules gara-gara udara gerah dan aku bagai sauna di malam buta. Ehh by the way busway ngapain sih bangun pagi??? Kan mau blusukan ke Krian nih?

Krian itu nama sebuah kota kecil yang tidak jauh dari Sepanjang atau Surabaya. Dan di sana ada sebuah Klenteng yang bikin penasaran berat untuk ditengok dan hari ini aku udeh janjian dengan Ms. Hana yang sama-sama hobi buat blusukan. Kita tinggal tidak terlalu jauh tapi pagi ini kita sepakat ketemu langsung di Klenteng. Dari tempatku naik 3x tapi jarak pendek, and the story goes ….

Aku pernah bilang selalu mumet sama angkot Surabaya kan??? Nah demi niatanku untuk pindah ke Surabaya maka aku harus tahu juga seluk beluk angkutan (di sini disebut Lyn) biar lebih asik saat harus bepergian tanpa mobil pribadi (aku jarang bawa itu mobil karena malah nggak bebas)

Yang aku amati, warga sini sikapnya masih penuh kesopanan masih ada rasa peduli atau dikenal guyup. Mereka itu selalu mengucap terima kasih, bertanya kalau kita kelihatan bingung or sumthing. Belum lagi ucapan ucapan basa basi lainnya yang di Jakarta nyaris hilang. Aku pribadi selalu belajar supaya aku selalu menghargai orang lain, walau aku bukan orang yang suka basa basi dan dalam situasi ini aku jelas bisa menerima semua ini dengan enjoy.

Salah satunya saat supir bertanya padaku lantaran dandananku tidak seperti umumnya anak Surabaya. Aku kan sok gaya ala crew HRC gitu deh! (Mangkanya ada kelompok sayap patah yang kerap menyindir aku sebagai si Glamour atau si Sok ini ono I don’t give a damn, males ngelayanin orang nyinyir dan otaknya pendek bak katak dalam tempurung)

Aku selalu duduk di depan saat naik Lyn, demi lebih lihat jalanan dan tentu sambil iseng ngerokok (ups!! I did it again). Supir selalu tertarik dengan apa yang aku pakai, contohnya “Mase? Itu apa yang pean pakai? Belinya di mana?”, Ujar Supir itu sambil melihat suspender dengan Pin kaleng HRC yang aku pakai.

“Ohh ini namanya suspender, kalo ini Pin atau bros. Ini sih aku dibawain temen yang pulang liburan”, Jawabku santai dan supirnya terlihat manggut-manggut seperti berniat membeli juga. Intinya beberapa kali naik angkot aku sering ditanya ini itu, baik supir atau sesama penumpang (andai aku duduk di belakang)

Pagi itu aku-lah yang justru banyak nanya kaya tamu, tentang how to get Krian. Supir pun menjamin aku tidak bakalan kesasar. Dan bener aja, dia bener-bener nunjukin Lyn yang aku harus naikin. Lyn warna tosca, kalau nggak salah berkode huruf ‘HI’ atau ‘HN’ asli I have no idea deh.

Aku duduk di belakang dengan tubuh keringetan membanjir, so damn hot! Tapi baru 1/2 perjalanan penumpang di depan turun dan yaiiiiyyy aku bisa pindah ke depan. Sejujurnya aku sangat menikmati perjalanan yang lumayan jauh tapi ditempuh tak lebih dari 30 Menit!! (Mungkin dari UKI ke Grogol ya) Di Jakarta? I think butuh 3,5 jam deh (orang sini kalau bilang, “Wah lumayan jauh deh sekitar 30 menit”. Artinya bagi orang Jakarta itu deket. Di Surabaya waktu tempuh 30 menit udah jauh banged)

Ternyata Lyn tidak melintasi Pasar Krian (area niaga) yang tepat banged di ujungnya ada Klenteng yang aku maksud. Aku harus turun di tikungan dan jalan sekitar 300 meter. Setiba di depan Klenteng ternyata Ms. Hana sudah ada di sana, beda 5 menit. Dan kita minta ijin dengan penjaganya yang ternyata ramah.

kelenteng krian (1)

Mau lihat-lihat atau foto-foto boleh-boleh saja syaratnya kita harus ijin sama Tuan Rumah. Siapakah?? Dia adanya di meja nomer 2 yaitu Kong Tek Cun Ong.

kelenteng krian (2)

Aku juga melakukan Ciam Si. Jadi pertama kita mengocok batang-batang bambu kecil, menyerupai sumpit berukuran sekitar 10 cm yang diletakkan di dalam sebuah wadah bambu yang berbentuk tabung, sambil mengucapkan permintaan atau pertanyaan.
Di setiap batang bambu tersebut sudah memiliki nomor yang sudah disesuaikan dengan jumlah kertas syair. Kemudian setelah didapatkan satu bambu bernomor tertentu, dilanjutkan dengan melempar dua keping kayu berbentuk setengah lingkaran dengan masing-masing sisinya harus berlainan.

Melempar dua keping kayu itu sebagai tanda meminta persetujuan dari dewa, apakah nomor tersebut sudah sesuai dengan orang itu atau belum. Jika hasil lemparan kedua keping kayu menunjukkan dua sisi yang sama, ia harus kembali mengocok batang bambu itu dan melempar keping kayu tersebut hingga mendapatkan hasil lemparan dua sisi berbeda.

Setiap kertas dalam ramalan Ciam Si ini, memiliki syair dan ramalan yang berbeda-beda, berupa peruntungan karier, jodoh, rezeki dan, kehidupan rumah tangga dan hasilnya ohhhh 85% bener deh hahaha. Melakukan Ciam si ini ya di depan meja Kong Tek Cun Ong.

kelenteng krian (3)

Untuk selanjutnya kita bebas memotret dan juga bertanya apa saja seputar yang ada di bangunan Klenteng itu. Bangunan inti dibangun sekitar tahun 1900an dan di kemudian hari dibuat aneka ruang tambahan. Di bagian Ruang Sembahyang banyak sekali ornamen cantik mengisi interior yang didominasi warna merah.

kelenteng krian (4)

Sungguh indah aneka detail yang ada, terawat dan tertata dengan baik dan di tiap meja doa ada deretan Patung Dewa berikut keluarganya.

kelenteng krian (5)

Menurut penjaganya, Patung Dewa itu pernah dicuri oknum tak bertanggung jawab dan aku yakin itu dijual pada kolektor barang antik. Patung itu umumnya dipesan langsung dari Cina.Gilak! Niat bener yak berbuat jahat demi dapet duit.

kelenteng krian (6)

Kini aku naik ke lantai dua yang terdapat ‘bordes’ di antaranya. Di lantai 2 kita akan berjumpa ruang yang cukup luas. Di bagian kanan ada 2 meja altar yang berisi Tri Nabi dan Dewi Kwan Im. Bila berminat melakukan meditasi maka tempatnya tepat di depan altar itu.

kelenteng krian (7)

Di sisi kiri adalah tempat untuk kursus Bahasa Mandarin bagi tua muda dan juga untuk berlatih Tari Salsa. Bagian kanan bawah agak ke belakang ada juga ruang untuk Karaoke. Artinya di Klenteng ini ada juga kegiatan di luar acara keagamaan. Hari Sabtu banyak umat yang datang untuk ber-karaoke lagu-lagu Mandarin.

Di lantai bordes ada pintu ke halaman belakang seperti teras dan di sana ada kolam berisi puluhan Ikan Koi. Di bagian sudut ada bangunan kecil tempat beraksinya ‘Dalang’ yang pada setiap Bulan Agustus awal akan show menampilkan pertunjukan Wayang Thi Thi.

kelenteng krian (8)

Wayang Thi Thi atau Wayang Cina mirip Wayang Golek tapi dengan boneka berbusana khas Cina namun ada juga yang menyerupai Wayang Kulit walau tetap dengan busana ala Cina.

Pertunjukan itu diadakan sebanyak 3x dalam sehari mulai Sore dan hanya satu hari saja, pertunjukan memakai Bahasa Indonesia.Nah penontonnya di mana?? Penontonnya bisa menyaksikan dari halaman depan Klenteng, noh nyang ditutup kaya toko.

kelenteng krian (10)

Dua patung Killin yang berada di pintu masuk nampak kokoh. Dalam legenda Cina dikenal ada binatang yang menjadi tunggangan para dewa. Binatang yang mendapat kepercayaan untuk mengantar para dewa ke mana pun mereka pergi itu bernama Kie Lin. Kie Lin ini merupakan binatang yang mewakili 18 binatang yang ada di dunia.

kelenteng krian (11)

Selain patung batu Kie Lin, yang bisa ditemui di depan pintu masuk sebuah klenteng atau beberapa tempat lainnya, patung Kie Lin juga bisa didapati di dalam klenteng. “Seperti yang diduduki Ji Lay Nan U Fuk atau Buddha-nya orang Cina. Jadi bukan Buddha India yang biasa disebut She Cia Moni Fuk. Kita mungkin akan lebih sering melihat penulisan saat ini adalah Kilin.

kelenteng krian (12)

Di halaman Klenteng yang tidak luas itu ada pintu besi antik dengan balkon kecil yang menjorok di atas sungai, entah dulunya ini buat apa.

kelenteng krian (13)

Kami ngobrol dengan asik bersama dua penjaga yang dengan ramah melayani pertanyaan kami. Bahkan obrolan juga sampai ke masakan Jengkol (Di Surabaya atau Jawa Timur, Jengkol tidak lazim) Kami juga ngobrol tentang Jakarta yang serba macet, mahal dan sibuk.

kelenteng krian (14)

Akhirnya kami memutuskan pulang, singkat tapi padat. Berdua Ms. Hana, aku kembali menelusuri deretan toko-toko di seputar Pasar Krian. Kami transit menikmati Es Kacang Hijau yang lezat di pinggir jalan, selanjutnya kita pulang dengan Mini Bus yang disebut Bison (Sejenis Metromini atau Kopaja warna Hijau Tua) bertarif IDR 6000, menuju Terminal Joyoboyo Surabaya.

Asli udara panasnya gila-gilaan. Aku berpisah dengan Ms. Hana di terminal Joyoboyo. Aku naik Lyn G dan duduk di depan dan ini dia yang rada rada bikin eneg di siang bolong. Harusnya di depan itu hanya 2 orang tapi di jam sibuk bertiga adalah wajar. Seorang bocah SMP gendut izin duduk di sebelahku, well mau ngelarang juga bukan mobilku kan? Dan “Breeeng” aroma kecut langsung membahana. Ehh itu belum seberapa!! Supirnya nih kayanya batuk akut ya! Tapi asik aja nyedot rokok kretek.

Akibatnya dia batuk-batuk dengan gonggongan dalam (kaya udah mau kehabisan napas atau mobil tua yang mati mesin dan distater lagi tapi nggak bisa) dan asik terus buang reak berlusin-lusin, in the midle of hot summer day pas aku kehausan pula! Grrrrrr

Reak di sebelah kananku dan kecut di sebelah kiriku, I feel blessed deh!!! Dan akhirnya aku sampai juga di depan komplek rumahku (jarak Joyoboyo ke Wiyung itu nggak jauh tapi bagaikan SUB – JKT) dan aku pun lari bagai babi ngepet menuju Circle K buat beli air dingin. Ditenggak plus buat nyiram muka.
To Be Continued

 

10 Comments to "The Risk of Being Pegel is Unlimited Adventure (1)"

  1. Lani  19 June, 2014 at 23:36

    AKI LURAH : jadi diingatkan dgn komentar JAMES…….apa ya padanan kata “pegel linu dan njarem” dlm boso Inggris?????? Sampai skrng ini belum ketemu je……….

  2. J C  19 June, 2014 at 21:36

    Enief, itu kalau di Semarang namanya wayang potehi…

    Mengenai ada satu bagian kelenteng yang menjorok ke sungai, aku rasa itu memang desain dan struktur seperti itu untuk mengakomodasi lalulintas air di jaman dulu yang aku sangat yakin perahu kecil dan besar, bahkan kapal bisa masuk jauh ke dalam kota dan berlayar di situ. Jadi itu semacam dermaga untuk akses dari perahu/kapal langsung ke kelenteng. Sama halnya di Semarang, banyak dokumentasi tertulis dan foto-foto kuno yang menyebutkan bahwa dulu kala, kapal-kapal besar bisa masuk sampai ke dalam kota Semarang. Melewati Kali Banjir Kanal, Kali Semarang, menyusuri Kali Kuping, di sekitaran Pekojan…

  3. Alvina VB  19 June, 2014 at 08:05

    Enief…pengalaman blusukan dirimu kok lucu2 seh…anyway..sorry nech telat absen, maklum lagi sibuuuuuk (sok sibuuuk padahal lagi sibuk memantau sepak bola juga…. he….he….lah org lagi pada meeting, yg punya kantor permisi je…mau lihat hasil pertandingan lewat BBBnya, lah gak ada yg protest mana pada nanya final score please…..he…..he…. Pegimane situ juga nonton bola kagak???

  4. Lani  18 June, 2014 at 12:56

    Reak di sebelah kananku dan kecut di sebelah kiriku, I feel blessed deh!!! Dan akhirnya aku sampai juga di depan komplek rumahku (jarak Joyoboyo ke Wiyung itu nggak jauh tapi bagaikan SUB – JKT) dan aku pun lari bagai babi ngepet menuju Circle K buat beli air dingin. Ditenggak plus buat nyiram muka.
    ++++++++++++++++++++

    ENIEF : hadoh, moco alinea bagian paling bawah, ikut eneg jadinya……nggilani!
    Tp diteruskan ngakak2 ktk kamu tuliskan “lari bagai babi ngepet menuju circle K buat beli air dingin”

    Klu aku sdh pasti semaput, kg kuat dgn udara panasnya neraka Surabaya.
    Mau tanya, itu wayang thi-thi apakah sama dgn wayang Potehi???????

    HAND : ms Hana nya malu2 kuciang…….

  5. Ivana  18 June, 2014 at 10:26

    Hahaha… jadi ngakak baca pengalaman naik bemo bak dalam sauna dgn aroma therapy.

  6. Tonny M S  18 June, 2014 at 10:24

    Enief, kamu sembayangi dewa Kong Tek Cun Ong nggak kuatir dimarahi JAT dan FPI ya? :p
    Apalagi pake Ciamsi segala :p

  7. James  18 June, 2014 at 09:53

    waduh diserobot Mas Handoko neh

  8. James  18 June, 2014 at 09:53

    1…..being Pegel Linu ….?

  9. handokowidagdo  18 June, 2014 at 09:52

    Eh…Ms Hana yang diceritakan kok tidak nongol ya? Apakah sudah dimakan naga atau kilin?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.