Dollyisme: Pro-Kontra Sengit, Rumit dan Mengenakkan

Rusdian Malik

 

Berani tutup Dolly, PSK apresiasi Risma. Hormati aksi penutupan dolly, PKS libur dua hari, eh.

Bantu aparat, laskar unyu kirim 50 orang ke lokasi penutupan Dolly. Dan masih gak jelas siapa dan motiv apa para laskar ini? Entah mereka agen PKS, agen mantan PSK, mau nangkapin PSK, mau nyari PSK, mau jadi PSK, yang jelas sepertinya mereka lillahi ta’ala banget, eh.

dolly03

Gaji bisnis PSK Dolly ternyata lebih toge dari gaji kamu. Makanya, adanya penolakan bukan sekedar kekhawatiran dibatasi urusan selangkangan, tapi juga urusan pendapatan.

Aksi heroik Risma menuai banjir dukungan, lalu apakah PDI-P juga berani bersikap heroik? Ini kesempatan bagi partai ini membersihkan dirinya dari tudingan sebagai pro maksiat, pro-salib dan pro-perihal kontra agama blablabla.

Kata sensei Moammar Emka; Dolly dan lokalisasi sejenisnya bukan satu-satunya dan tidak seberapa dibanding prostitusi terselubung di mana-mana tempat yang angkanya sudah mewabah luar biasa hingga mencapai tiga-empat juta.

Kata dia lagi, kalau hanya pemberian duit agar tobat jadi PSK itu tak cukup jitu, makanya, itu didukung para ahli pikir agar dialihkan ke usaha-usaha kreatif nan etik lain-lain semoga jitu. Sebab, banyak pula yang katanya insaf dan diberi usaha dan sudah tua-tua, eh malah balik lagi. Apalagi yang masih muda-muda.

dolly02

Lebih adil, ya jangan disalahkan para wanitanya. Mereka hanya menawarkan jasa, bukan memaksa. Salahkan juga para lelaki pelanggannya, hidung belangnya, mereka juga sama, bahkan lebih durjana, datang, menelanjangi, ngecrot, bayar, dan pergi seakan tanpa dosa. Sebab, wanitanya lebih berat ujiannya; dikucilkan, dieksploitasi, belum termasuk hamil, keguguran, resiko kesehatan, dan seakan tak layak punya tempat lagi di dunia orang-orang yang sok bermoral. Demikianlah dipahami kenapa mereka bersikukuh menolak, karena itulah rumah mereka.

dolly01

Jika urusan penggusuran lokalisasi, maka parpol dan ormas pun menemukan momen kampanye pencitraan. Dan yang beraksi ke lokalisasi pun ramai. Akhirnya tak jelas lagi siapa, dan untuk apa mereka ke lokalisasi. Bukan hanya PKS dan para laskar unyu, juga orang dari PPP, PKB, GOLKAR, NASDEM, HANURA, PDI, GERINDRA, PBB, PAN, PD, NU, HTI, MUHAMMADIYAH, SYI’I, Supir truck, ABG gatel, PNS, direktur, pengangguran, pengusaha, mahasiswa, para duda blablabla lainya, yang tak jelas lagi apakah mereka ke lokalisasi mau dakwah, ceramah, sensus, jualan, atau malah bener-bener nyetor sperma adanya.

yang penting tetap kita hormati sisi kemanusian siapapun, meski ia PSK sekalipun. Dan saya berijtihad dengan pilihan tetap menyayangi bu Risma.

We Lup U all.

EmmmmmmuAch!!!

 

About Rusdian Malik

Dia adalah Pesbuker asal Kalimantan Selatan kelahiran 1985. Pria penggemar acara stand up comedy ini adalah alumnus pesantren yang cukup terkenal di Kalimantan Selatan, yakni Pondok Pesantren Al-falah Banjarbaru.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "Dollyisme: Pro-Kontra Sengit, Rumit dan Mengenakkan"

  1. rusdian malik  21 June, 2014 at 16:39

    he-he-he, dan sudah terbit sambungan tulisan ini di facebook, “Masih tentang Dollywood: Dolly vs FPI”. Bagi yg sdh berkawan silahkan disimak eaaa. emmmuach!!!!!!

  2. arrifani  21 June, 2014 at 15:42

    “Gaji bisnis PSK Dolly ternyata lebih toge dari gaji kamu. Makanya, adanya penolakan bukan sekedar kekhawatiran dibatasi urusan selangkangan, tapi juga urusan pendapatan.”

    setuju sama yang ini…

  3. Lani  21 June, 2014 at 06:42

    PAK RUSDIAN MALIK : ngguyu meneh………kkk

  4. Dewi Murni  21 June, 2014 at 02:03

    Sudah ditutup dengan damai…..sekarang tinggal berdoa, semoga para wanita penghuni rumah Dolly segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, masih banyak jalan dan banyak pekerjaan yang baik.

  5. rusdian malik  20 June, 2014 at 13:08

    hehehehe… ya makanya gitu-gitu deh pro kontra cro koncrotnya.

  6. Lani  19 June, 2014 at 23:14

    AKI LURAH : nah, rak tenan to……….ada yg bikin gulung koming, nibo tangi sampai kalimatnya ditebalkan…………lurah sudrun

  7. J C  19 June, 2014 at 21:43

    Ngakak gulung koming baca kalimat ini:

    Mereka hanya menawarkan jasa, bukan memaksa. Salahkan juga para lelaki pelanggannya, hidung belangnya, mereka juga sama, bahkan lebih durjana, datang, menelanjangi, ngecrot, bayar, dan pergi seakan tanpa dosa

    huahahahaha…

  8. Lani  19 June, 2014 at 14:45

    Ya, aku setuju dgn ibu walikota

  9. handokowidagdo  19 June, 2014 at 14:03

    Perhatian utama seharusnya pada para perempuan harapan itu, bukan pada mucikari, germo dan mereka yang sok suci.

  10. Alvina VB  19 June, 2014 at 11:30

    Saya setuju dgn ibu Risma kl masalah Dolly

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *