It’s Not an Easy Journey (1): Shasqi dan Secangkir Kopi

Dian Nugraheni

 

Cinta sewangi kopi..

lalu,

 

Selamat pagi…..

Shasqi menggeliat, terbangun dari tidur malamnya yang tak panjang. Kemudian geliatnya terpatah sebelum terselesaikan, demi melihat seseorang tidur terbaring di ranjang yang sama dengannya. Dipejamkannya kembali matanya sesaat, mengundang ingatan yang harus diruntutkannya sejak semalam. Dalam otaknya berkelebat, di mana aku..? Persoalan kemudian adalah, mengapa aku tidur bersebelahan dengannya..? Quick question, and need a quick answer…

Dan pertanyaan singkat yang membutuhkan jawaban singkat itu segera terjawab dalam sekian detik saja. Yaa, perjalanan lintas benua, separuh lingkar bumi telah dilaluinya, membuatnya sering mendapati “syndrom bingung” dengan pertanyaan, “aku ada di mana” ketika dia tiba-tiba terbangun dari tidurnya.

Pelan, Shasqi melangkah ke kamar mandi, dan mandi pagi. Sesuatu yang selalu dilakukannya dengan disiplin, di mana pun dia berada, pada musim apa pun, bahkan di Winter yang beku. Bagi Shasqi, mandi pagi akan mengantar harinya yang diawali dengan kesegaran. Sensasi segar, itu yang mostly dia harapkan setiap saat.

Keluar dari kamar mandi, disaksikannya, teman tidurnya masih terlelap. Cukup mengejutkan dan membuat Shasqi tersenyum, Lelaki itu tidur dengan pakaian lengkap dia semalam, jins, kaos oblong, jaket tipis, plus scarf yang selalu melilit di lehernya, ketika dia keluar rumah. Tangannya bersedeku di dadanya seolah semalam dia kedinginan, sedangkan Shasqi harus bertahan dalam rasa gerah, dengan pendingin ruangan yang dipasang pada suhu 22’C.

Shasqi mendidihkan segelas air dengan menggunakan ketel elektrik yang tersedia di kamarnya, kemudian diseduhnya satu sachet kopi hitam yang sudah bercampur gula dengan takaran cukup manis. Duduk sambil mengangkat kaki di atas kursi tunggal di seberang ranjang, pelan dan sangat menikmati, diseruputnya kopi panasnya. Aroma kopi sejenak memabukkannya.

Aroma kopi itu.., mmm..,  kalau ungkapan memabukkan itu terlalu hiperbolis, maka, setidaknya, aroma kopi itu bisa menjadi sebuah clue, petunjuk, yang memancing rasanya untuk menelusuri sebuah jejak.

Clue tersebut, tertangkap indera penciumannya, kemudian menggiringnya, untuk menikmati sesuatu hal lain yang…benar-benar beraroma wangi kopi, tapi juga bercampur dengan aroma yang lain. Bahkan Shasqi meyakininya, bahwa wangi kopi ini sedikit bercampur dengan aroma Blueberry hutan yang biasa diambilnya di pegunungan ketika musim panas tiba….Yaa…, benar, perpaduan kedua aroma tersebut   itu yang menuntut jawab, di manakah dia pernah menemukan aroma tersebut.

Untuk melacak jejak itu, kembali diendusnya harum kopi panas di cangkir yang sedang dipegangnya. Aroma yang tertangkap itu, merambat mengaliri buluh nadinya, memberikan sensasi rasa romantis.

Shasqi memejamkan mata, dia melihat dirinya sendiri, berpelukan erat, bahkan sangat erat, dengan Lelaki itu, seperti tak mau kehilangan rasa yang tiba-tiba dihadirkan.

Wajar saja Shasqi merasa tak mau kehilangan rasa itu, rasa ketika dia berpelukan dengan sang Lelaki, karena sejak bertahun-tahun silam, Shasqi tak pernah lagi mampu merasainya, bahkan hanya untuk mengingat rasa itu, Shasqi tak lagi mampu.

Ya.., Shasqi tak tau lagi, bagaimana rasa-rasa indah itu pergi dari dirinya, apakah dia sengaja membunuhnya karena suatu alasan, ataukan kesibukan tiap hari yang membuatnya tak punya waktu luang bahkan hanya untuk membayangkannya, atau.., lebih tragisnya lagi, Shasqi memang tak pernah mendapatkannya selama ini…? 

Shasqi melangkah pelan mendekat menuju ranjang, meletakkan cangkir kopinya di meja di dekatnya, kemudian, jemarinya mengelus wajah sang Lelaki, yang pelan-pelan kemudian membuka matanya. Shasqi tersenyum, dengan mata, bibir, dan hatinya.

“Selamat pagi, Sayang…,” sapa Shasqi.

Sang Lelaki menangkap jemari Shasqi yang sedang memegangi wajahnya, menggenggamnya, dan menciumnya, “pagi, Shasqi…”

“Kopi…?” Shasqi menawarkan cangkir kopinya. Shasqi menarik tubuh sang Lelaki agar sedikit bersikap duduk tegak untuk bisa menyeruput kopi yang diangsurkannya.

Sang Lelaki tak menolak, diseruputnya kopi hitam panas itu, kemudian tersenyum, “hmm….”

Shasqi meletakkan gelas kopinya, kemudian dia merebahkan kepalanya dalam pelukan sang Lelaki.

“Come, baby….,” Sang Lelaki itu menggeserkan tubuhnya, memberi tempat untuk Shasqi agar berbaring di sebelahnya. Sejenak mereka berpelukan. Sunyi pagi membuat keduanya kembali terselubung rasa kantuk dan malas-malasan. Ahh, ini pasti hanya alasan yang dicari-cari…”Ha..ha..,” Shasqi tertawa sedikit, untuk dirinya sendiri.

“Kenapa ketawa, Sayang..?” tanya sang Lelaki yang memeluk dan membelai-belai kepalanya.

“Malas sekali kita ini…,” kata Shasqi.

“Ini kan liburanmu, Sayang…, kau harusnya bersenang-senang, kau berhak untuk mendapatkannya, setelah semua kerja keras yang sudah kau lakukan. Lagian, setelah liburan panjangmu berakhir, kau akan kembali menemui rutinitasmu yang benar-benar menguncimu hingga kau tak punya banyak waktu luang untuk bersenang-senang dengan dirimu sendiri, bukan begitu apa yang sudah kau ceritakan tentang hidupmu di sana..? Juga, sejak tiba di sini, kamu selalu mengeluh kalau kamu stress berat. Dari soal jalanan kota yang macet, ratusan motor yang semrawut di jalanan, makanan yang membuatmu sakit perut, hawa panas yang bikin gerah.., apa lagi, Sayang…? Ayolah, isi liburan panjangmu ini untuk bersenang-senang…”

Shasqi mengangguk pelan, sambil menyusupkan tangannya ke pinggang sang Lelaki, kemudian memeluknya lebih erat. Memejamkan matanya, agar bisa lebih menikmati moment demi moment yang sedang terjadi.

Sang Lelaki membalikkan tubuhnya, bibirnya menciumi Shasqi, pada dahinya, pipinya, sebelum akhirnya bibir-bibir mereka bertukar ciuman panjang. Shasqi tetap memeluk, mencengkeram tubuh sang Lelaki ketika mereka berciuman.

Pada ciuman-ciuman itu, ada sesuatu yang berbeda dari apa yang selama ini dikenal Shasqi. Lelaki itu melakukan ciuman demi ciuman dengan gerakan yang sangat detil, seksama.., mungkin sedetil ketika dia menuangkan pikiran dan imajinasinya ketika membuat karya seninya.

Shasqi membayangkan ketika Sang Lelaki itu sedang berkarya, menatah, mengukir, mencoret, mewarnai, memoles, membentuk dengan jemarinya… Seperti itu pula dia mencumbui Shasqi….

Dan, Shasqi pun adalah sosok yang suka sesuatu yang detil, rumit, runtut, sesuatu yang dilakukan satu per satu dengan seksama. Biasanya, dia akan merasa sangat puas bila baru saja menyelesaikan pekerjaan berat yang rumit dan menuntut konsentrasi tinggi untuk menyelesaikannya. Bahkan di kalangan teman-temannya, Shasqi terkenal sebagai workaholik, sekaligus sangat “masochist’ bila sedang mengerjakan sesuatu yang disukainya, harus selalu perfect….

Maka, ketika ciuman bibir sang Lelaki ini dirasainya sebagai suatu hal yang dilakukan dengan detil, seksama, mengalir dengan sangat indah, tanpa terburu-buru, seperti waktu bisa sangat menunggu untuk mereka berdua…, Shasqi merasa sedikit demi sedikit terseret dalam irama yang sama dengan irama yang dimilikinya. 

Kesadarannya melayang..

Melayang..? Entahlah, melayang, atau dengan sengaja, ditanggalkannya…Dan Shasqi sedang menikmati sensasi mabuk ciuman ketika lagu Far From Heaven oleh Dream Theatertersenandung dari laptopnya. Sama dengan gerakan-gerakan cinta yang dilakukan sang Lelaki itu terhadap Shasqi, yang mengalir begitu lembut dan seksama…, lagu ini pun dialunkan dengan sangat seksama….

Perpaduan sempurna, antara irama gerak sang Lelaki, irama menanggapi dari Shasqi, dan irama lagu yang terdengar.

Kali ini, Shasqi menyisihkan jaket tipis dari tubuh sang Lelaki, lalu melepas scarf yang meliliti lehernya. Diendusnya kulit sang Lelaki, diurutkannya dengan melakukan langkah kecil dari mencium kening sang Lelaki.., kemudian pipi, hidung…leher…, lengan…, dada…, dan perut sang Lelaki. Hmmm…, inikah aroma sewangi kopi bercampur aroma manis buah Blueberry hutan musim panas yang sedari tadi menimbulkan tanda tanya dalam hatinya..? 

Shasqi, seperti kecanduan aroma kopi bercampur dengan wangi Blueberry hutan yang meremah dari tubuh sang Lelaki, kembali diendusnya permukaan kulit sang Lelaki., dihisapnya aroma tubuh itu dalam-dalam, kemudian sedikit demi sedikit dicubit-cubitnya tubuh sang Lelaki dengan bibir dan gigi geliginya.

Endusan Shasqi menghentakkan rasa romantisme sang Lelaki menjadi lebih tinggi, diraihnya Shasqi, dan dibenamkannya ke dasar ranjang bersprei putih itu, kemudian kembali ciuman demi ciuman bibir yang begitu panjang, mengalir bersama detik-detik yang berjalan begitu lembut..

Sekali lagi…seperti waktu begitu bersedia menunggu, menyaksikan, dan memberi lebih banyak detik demi detik ketika Shasqi bersama sang Lelaki itu.

Shasqi seperti merasa, yang entah apa…sebuah rasa yang dia inginkan untuk dilanjutkan.., seperti ketika dia kelelahan dan kepayahan, tapi dia tetap berusaha berjalan, untuk mencapai puncak ketika mendaki gunung berpuluh tahun lalu.. Terdengar suara keluh Shasqi mengalunkan nama sang Lelaki.., keluhan halus yang sangat menggairahkan.

Sang Lelaki menyentuh sedikit demi sedikit seluruh bagian tubuh Shasqi. Shasqi terpejam menahan rasa indah yang mengunci tubuh dan hatinya. Shasqi pun tak peduli ketika didapatinya kulit tubuhnya telah bertumpangan dengan kulit tubuh sang Lelaki.

Percintaan ini menunggu untuk dituntaskan…

Sang Lelaki, dengan gerakan dan attitude yang indah membuat Shasqi kian bagaikan seorang Penari, meliuk dan menjejak, melentikkan jemari tangan seturut musik yang kian merapat. Ketika kemudian Shasqi mengerutkan tubuhnya, menegang, seperti kucing kecil yang terancam untuk dimandikan di kubangan air.

“Why..?” tanya sang Lelaki, sedikit mengeluh.

Shasqi menggeleng. Tak punya jawaban lisan, Hanya pelukan eratnya yang menggelung sampai ke bawah punggung sang Lelaki.

“Say something, Shasqi, please…,” bisik sang Lelaki.

“I don’t know…, I just don’t want it…,” kata Shasqi pelan.

“Okay, you don’t want me…,” suara sang Lelaki sedikit luka, seperti ada yang mengikis lapisan bawah kulit arinya dan membuatnya sedikit berdarah.

“No.., it’s not about you.., that’s me… aku tak punya penjelasan.., tapi, rasanya aku nggak bisa.., maaf aku yaa…, please…?” pinta Shasqi.

Terpaksa adegan sedikit mendapat waktu untuk jeda, masing-masing menyadari bahwa degup jantung mereka terpacu menjadi lebih rapat. Kepala Shasqi tertumpang pada lengan kanan sang Lelaki yang sedang memeluknya. Dengan ujung-ujung jemarinya, Shasqi melukis jarum-jarum daun Cemara pada lengan kiri sang lelaki yang dipenuhi ukiran artistik berwarna dominan biru dan sedikit warna toska, lalu merah. Tatto di tubuh sang Lelaki ini sangat menarik buat Shasqi.

Puas melukis jarum-jarum daun Cemara, Shasqi menari-narikan ujung jemarinya, pelan, lembut, seperti ketika dia menggambar serbuk kecoklatan pada secangkir Coffee Latte dengan menggunakan ujung sendok kecil yang cukup pipih.

Sang Lelaki menarik nafas panjang dan berat, kemudian dia meraih Shasqi dalam pelukannya, menciumi ujung rambut Shasqi. Sang Lelaki tau, air mata Shasqi membasahi dadanya. “Aku tak akan memaksamu, Shasqi…, bukankah aku sudah berjanji sejak jauh-jauh hari ketika kau masih berada di negeri empat musimmu…?”

Lelaki itu kembali memeluk Shasqi erat. Dia kembali mencium bibir Shasqi, dengan gerakan yang detil, seksama, mengalir dengan sangat indah, tanpa terburu-buru, seperti waktu bisa sangat menunggu untuk mereka berdua…. 

Ciuman yang panjang dan memabukkan. Ciuman yang membuat Shasqi terpejam untuk menikmatinya. Ciuman yang mampu membuat Shasqi tertidur. Shasqi tertidur seperti bayi yang menyusu pada Ibunya begitu lama, sampai terkantuk dan terlena-lena, dan akhirnya benar-benar terlelap.

****

Dua malam bersama sang Lelaki, Shasqi kembali memeriksa jadwal perjalanannya yang sudah ditulis dengan detil dan rapih pada sebuah buku notes kecil. Di bukunya itu, tertulis tanggal, tempat tujuan, akan bertemu dengan siapa, dan bahkan beberapa alternatif tempat makan yang ingin dikunjunginya.

Sang Lelaki bertanya, “yakin, kau hanya butuh dua malam tinggal di kota ini..?”

Shasqi melirik lelaki di seberang meja di mana dia sedang duduk santai, “ya, Sayang…, aku akan bergerak terus ke timur, sampai menjelang habisnya liburanku, aku akan ke Bali, Lombok, lalu Flores. Nah.., Flores ini, boleh ya boleh tidak, tergantung apakah waktunya masih cukup, dan juga tergantung hal-hal lain.., mmmm.., entahlah soal ini.., aku belum bisa putusin…”

“Okay, aku tak bisa menahanmu di sini kan..? Ini sepenuhnya perjalananmu. Tapi kalau boleh bilang, aku masih ingin kamu ada di sini…,” kata sang Lelaki.

Shasqi terdiam sejenak, menyeruput kopinya yang sudah menghangat, dan menyulut sigaretnya dengan begitu saja. Matanya menerawang jauh seolah menimbang-nimbang sesuatu yang tak pasti.

“Aku juga ingin perpanjang stay di sini, tapi nanti nggak semua rencanaku bisa terpenuhi.., nggak setiap tahun aku pulang kan, maka waktu akan aku gunakan sebaik-baiknya. Mmm.., malah mungkin, kalau punya uang lebih, aku pilih jalan-jalan ke Eropa saja, nggak akan selalu pulang kampung begini…,” jelas Shasqi.

“Ya, Sayang…, mana bisa aku menangguhkanmu, kan..?” suara sang Lelaki tetap datar, meski Shasqi bisa menangkap nada sedikit kecewa dalam suara sang Lelaki.

“Ya, aku harus pergi nanti sore, mobil travel akan menjemputku jam 4 sore. Apakah kita bisa cari makan sekarang, Sayang..?”

“Sure…, pengen makan apa kali ini..? Gudeg lagi..? Soto..? sate, gado-gado…,” sang Lelaki bersuara menawarkan sederetan makanan.

Shasqi tertawa, berdiri, memeluk pinggang sang Lelaki, kemudian berjinjit untuk mencium bibirnya. Lelaki itu lumayan lebih tinggi dibanding dengan tubuhnya. Sang Lelaki sedikit merunduk, dan lagi-lagi, dengan seksama mengulum bibir Shasqi untuk dalam hitungan menit. Cukup lama…, dan lagi-lagi Shasqi merasa melayang terbang ke awan…

Sang Lelaki memeluknya dan berkata pelan dengan suaranya yang seksi, “jadi makan…? Atau terus berpelukan dan berciuman saja..?”

Shasqi memeluk perut Sang Lelaki erat, menempelkan pipinya di tubuh jangkung itu, “Ha..ha..ha.., berpelukan sambil makan, bisa gak..? Aku mau makan gado-gado saja.., kamu tau, aku sudah setengah vegetarian selama hidup dan tinggal di sana…, mblenger liat daging…,” kata Shasqi.

“Okay, aku ajak kamu makan gado-gado paling enak di sekitar sini, ya..,” sahut sang Lelaki pendek.

Setelah makan siang, keduanya kembali menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di teras kamar hotel, kembali menyeduh kopi entah cangkir ke berapa, menyulut sigaret entah batang ke berapa, dan Shasqi benar-benar ingin menikmati hidupnya selama liburan ini.

Jelang jam empat sore, Shasqi sudah siap dengan backpack yang telah dirapihkannya. Lumayan besar dan berat, tapi begitulah biasanya Shasqi melakukan perjalanan.

Sang Lelaki membawa Shasqi berdiri, dan memeluknya erat, menciumi kepalanya, dan dahinya, kemudian kembali memeluknya erat. Kembali Shasqi berjinjit, untuk meraih wajah sang Lelaki. Mereka kembali berciuman, panjang…

Tiba-tiba dada Shasqi terasa sesak, dipandangnya sang Lelaki, kemudian dipeluknya erat-erat, “Apakah kita akan jumpa lagi..?”

Sang Lelaki memandang Shasqi sedikit pilu, “hopefully….”

Ada rasa kesal, sedikit marah, dan kecewa dalam dada Shasqi. Tapi tak ada waktu lagi untuk mengatakan apa pun, apalagi memulai perdebatan. Shasqi sudah berjanji, perjalanan liburannya ini akan dia isi dengan apa yang dikata orang sebagai “having fun…”.., yaa, just fun.., maybe less, but will not more than fun.

Shasqi menunduk, memasang tas pinggangnya, sang Lelaki membantu membawakan ranselnya, mobil Travel telah datang menjemput.

Sekali lagi mereka berpelukan, “Okay, aku pergi yaa.., thanks banyak, everything…I don’t have any words to say, hanya…, amazing…”

Sang Lelaki tersenyum, sedikit pahit, mengangguk, dan bilang, “Aku juga, terimakasih banyak yaa.., more than amazing..”

Sebuah cerita pendek baru saja berlalu, lalu jeda menyuguhkan rasa kehilangan yang sunyi, sisa-sisa romantisme tetap tercium aromanya, wangi…sewangi kopi yang bercampur dengan aroma Blueberry hutan di musim panas….

Lalu selanjutnya adalah, rasa saling kehilangan, antara Shasqi dan sang Lelaki…

Salam Shasqi dan Secangkir Kopi,

cangkir kopi

Secangkir Kopinya Shasqi…

 

Dian Nugraheni,

Cursed Land, 3 Agustus 2013, jam 12.23 malam

(Sunyi di sini…)

 

5 Comments to "It’s Not an Easy Journey (1): Shasqi dan Secangkir Kopi"

  1. Lani  19 June, 2014 at 23:30

    AKI LURAH : Justru yg spt inilah………yg melebihi kemranyas dan kemronyos sampai gojos2…….bener opo bener? Yg spt ini bkn gregeten kang Anuuu…….kkk

  2. J C  19 June, 2014 at 21:41

    Artikel yang mild semriwing…jelas kesukaan Kang Anoew ini….

    Adegannya sudah lumayan semriwing, tapi belum kemranyas dan kemronyos…

  3. Lani  19 June, 2014 at 14:46

    Sampai besok……..mau ngorok dolo ya……….

  4. handokowidagdo  19 June, 2014 at 14:07

    Aku mau kopinya saja ah.

  5. Alvina VB  19 June, 2014 at 11:31

    Bacanya besok ya Dian…di sini dah over midnight

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *