Aku, Parfum, Tikus dan Poli-tikus

Wendly Jebatu Marot

 

Kaca! Itu nama tempat kelahiranku. Kalau anda mencari di peta dunia pasti tak menemukannya. Peta Indonesia, peta provinsi NTT, bahkan peta Kabupaten Manggarai tidak kamu temukan suatu tempat yang bernama Kaca.

Satu-satunya peta yang mencantumkan nama Kaca itu adalah peta Kaca itu sendiri.

Karena itu aku tidak memberitahukan kepada anda di mana letaknya karena toh peta yang anda pegang tidak akan membantu menemukan kampungku yang bernama Kaca.

 

Aku pelan-pelan masuk Kota karena mengejar ilmu yang sampai saat ini aku belum menemukannya. Ilmu itu model apa aku tidak tahu, karena ada banyak ilmu. Ada ilmu hitam, ada ilmu putih, ada ilmu falak, ilmu alam, ilmu sosial.

Semuanya saya raba-raba saja deh termasuk ilmu hitam yaitu bagaimana menghitamkan muka anda dengan debu atau abu atau arak atau tinta jika anda bertingkah aneh dan terlalu sok jagoan menganggap orang kampung tidak tahu apa-apa.

 

Ok lah. Aku masuk kota, itu pun kota kecil bukan kota metropolitian. Kota yang terbesar yang aku singgahi hanya Dili itu pun karena kota negara walaupun besarnya tidak lebih besar dari Kupang yang pernah kulewati. Kupang hanya lewat, bukan singgah apa lagi tinggal.

 

Aku kuliah di kampung bernama Ledalero kemudian kerja juga di Kampung bernama Balibo…

 

Karena saking kampungnya, aku alergi dengan yang namanya parfum. Untuk kami orang kampung dulu, parfum itu adalah simbol kekotaan. Sampai ada ceritera bahwa untuk menyaingi orang Kota, ada orang kampung yang rela memakai sabun super busa dan menaruhnya di ketek saat pergi pesta.

Ketika terlalu semangat, sabun pun kontak dengan keringat maka terjadilah busa di ketek.. Ini fiktif tapi hanya mau tunjukkan betapa kampung jauh dari parfum.

 

Saking kampungnya aku, aku sering dipanggil orang kampung. Aku terima itu karena memang demikianlah kenyataannya. Tapi jangan sebut kampungan karena banyak orang mengaku kota tapi kampungan. Tapi entahlah. Terserah..

 

Dan sampailah aku pada suatu hari. Ketika lewat di rumah saudaraku di Kupang (ingat cuma lewat), beliau memberiku oleh-oleh seotol parfum bermerk. Dia membelinya di luar negeri tapi aku tidak tahu di mana. Dia keluar negeri kebetulan pergi berziarah ke tanah suci. Jadi dialah orang kampung yang pernah menginjak, Bandara Singapura, Tiwan, Yordania dan entah di mana lagi yang lain. Tanyakan sama saudaraku yang bernama Ogus Tengko.. hahaha sori kae. Terimakasih parfumnya.

 

Sejak itu aku mencoba melatih memakai parfum. Tapi aku tidak memakainya setiap hari. Aku hemat agar pemberian itu tidak lekas habis. Wanginya bukan main. Sampai-sampai ketika aku memakainya waktu ke kantor KBRI Dili, ada seorang Indonesia yang katanya dari Kota menanyakan perihal dari mana aku memperoleh parfum itu. Lalu aku menjawab iseng. Saya curi di toko besar di Taiwan..

 

Dia terkekeh lalu memperbaiki pertanyaannya. Amo beli parfum itu di mana?

Lalu aku menjawab sekaligus mempromosikan saudaraku itu.

Oh..parfum ini aku dapat dari kakakku dan dia membelinya di luar negeri Indonesia, tapi bukan Timor Leste.

 

Setelah itu, parfum itu menjadi penghuni rak lemari di kamarku..

Kebetulan aku didiagnosis sakit maag maka di rak yang sama aku taru biskuit gabin hadiah dari saudariku seasal dari Manggarai dan tinggal di Dili. Dia yang merawatku ketika aku jatuh sakit dan hampir mati.

 

Ini ceritera yang baik. Orang kampung kaca hampir saja meninggal di Kota Negara Timor Leste, DIli.

Tapi syukurlah tidak jadi dan aku bisa bekerja di kampung.

 

Di kamarku ada sebuah lemari kayu serba guna. Pakaian, buku, sabun yang belum terpakai dan segala perlengkapan lain kutaruh di situ. Tidak ketinggalan parfum dan biskuit gabin.

 

Di belakang kamar ada gudang dan juga garasi mobil, motor dan juga rumah tikus. Tiap malam tikus-tukus itu lomba lari di atas balkon kamarku dan aku sangat terganggu. Saking marahnya aku, suatu malam aku memasang jerat di kamar makan dengan umpan tulang ikan sisa makananku.

 

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Tikus terpancing dan masuk perangkap. Dia pun terkurung dalam jerat dari jaring kawat..

Tikus itu kumatikan. Lalu kupanggang. Lalu kuberi bumbu secukupnya dan lalu……..kuberi anjing. Senangnya anjingku sampai ekornya tak pernah berhenti bergoyang ketika bertemu aku. Malah tiap hari selalu membuntutiku walau aku di atas motor.

 

Solidaritas para tikus cukup besar juga. Setelah kematian rekan, mereka menjadi tambah liar. Mereka bukan hanya lari di atas balkon. Mereka masuk kamar makan dan memakan semua paun/roti untuk sarapan pagi kami.

Sampai pada malam tadi mereka menyerang markas gabinku di lemari. Tadi pagi aku melihat gabinku ludes. Pakaianku porak poranda dan sulit untuk dijelaskan. Kabel yang menghubungkan speaker dengan laptopku putus dimakannya.

 

Dan satu lagi…

 

Parfumku jatuh dan botolnya pecah berantakan. Hari ini kamarku wangi bukan main. Bukan karena aku menyemprotnya dengan parfum tapi karena keharuman parfum yang sudah timpah..

 

Aku tahu wangi itu akan segera hilang dan tikus merasa menang. Dan aku tahu dia tidak akan berhenti menyerangku. Ini adalah pembuka jalannya.

 

Maaf saudaraku yang di Kupang, parfum itu sudah ludes. Masih beruntung kakiku tidak tertikam pecahan botol…

 

Sambil mengumpulkan serpihan beling itu, aku merenung…

 

Mungkin tikus tidak merestuiku tidak pakai parfum.

Dia tahu aku dari kampung…

 

Biarkanlah harum dari dalam yang tercium orang. Aku lebih baik rajin mandi dari pada pakai parfum..

 

Harum parfum itu sementara dan akan lenyap usang seiring waktu..

 

Parfum adalah poli-tikus yang tebar pesona menjelang pesta demokrasi. Blusukan kepentingan dan situasional.. itulah poli-tikus.

 

Setelah perjuangannya sukses.. kebanyakan dari mereka yang menjadi tikus..

Bau seperti tikus dan lebih kampungan dari kami orang kampung..

 

Tikus arkhais…pake parfum mahal dari uang rakyat…

 

4 Comments to "Aku, Parfum, Tikus dan Poli-tikus"

  1. Dewi Murni  21 June, 2014 at 01:51

    Wah…sayang banget parfumnya tumpah akubat ulah tikus…

    Gpplah orang kampung pakai parfum import, tidak ada yang bakal curiga hehe…semua mengira bisa beli parfum karena hasil jerih payah bercocok tanam

  2. Lani  20 June, 2014 at 11:26

    Jadi ini crita tikus2 yg balas dendam…………krn salah satu sodara tikus kena jerat dan dibakar……jd BBQ tikus

  3. handokowidagdo  20 June, 2014 at 08:46

    Parfum memang untuk tikus.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.